Fungsionaris dan Kader Partai Gelora Dapat Pembekalan ‘Internal Architecture Mindset’ agar Fondasi Kemampuan Berpikirnya Kuat

Partaigelora.id-Fungsionaris dan kader Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mulai mendapatkan materi mengenai ‘Internal Architecture Mindset’ sebagai fondasi kerangka berpikir dalam mengambil sebuah keputusan.

Materi tersebut diberikan dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian yang disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gelora Gunawan, Selasa (19/1/2026) malam.

“Ada satu kalimat menarik yang disampaikan Pak Ketum kita (Anis Matta), bahwa Al Qur’an itu diturunkan di Timur Tengah, tetapi cara berpikirnya justru dipakai di Barat saat ini. That’s why,” kata Gunawan.

Sehingga Barat saat ini memimpin peradaban dunia, karena menggunakan cara berpikir yang ada di dalam Al Qur’an, sementara hal itu malah ditinggalkan dunia Islam

“Fondasi tentang cara berpikir ini yang akan kita pelajari. Serial Internal Architecture Mindset, kurang lebih ada 4 episode,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Coach Gunawan ini mengatakan, ibarat membangun sebuah gedung, perlu didahului dengan peletakan baru pertama atau maket (desain arsitek). 

“Nah, gedung itu tentunya sudah selesai di pikiran sang arsitek. Jadi ruang penciptaan manusia itu, adalah pikiran,” katanya.

Selanjutnya pikiran tersebut, akan membawa pengaruh dan membentuk kepemimpinan (leadership) seseorang.

“Itulah kenapa Nabi kita, Muhammad SAW berhasil mengubah masyarakat jahiliyah di Mekkah dengan dakwah 13 tahun dan 10 tahun di Madinah, karena ada transformasi pikiran untuk mengubah karakter/watak masyarakat jahiliyah,” katanya.

Karena itu, menurutnya, pikiran bisa mengubah karakter atau watak seseorang, tetapi tetap diperlukan pengetahuan atau ilmu.

“Transformasi pikiran ini yang akan membuat budaya organisasi kita, menjadi organisasi berbudaya yang berpengetahuan dan berwawasan,” katanya.

Coach Gunawan mengungkapkan, Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta telah mendesain mengenai tingkatan kerangka berpikir manusia.

Yakni kerangka berpkir daya serap, daya analisa, daya konstruksi dan daya cipta. Keempat daya pikir tersebut, mewakili kerangka berpikir makro dan mikro, serta berpikir strategis dan taktis.

“Jadi di sini bukan tentang bagaimana memperbaiki organisasi, masyarakat atau lingkungan. Tetapi kita fokus pada Architecture Mindset yang ada di dalam diri kita,” katanya.

Ketika mendengar kata ”mindset’ atau pola pikir, maka otak manusia tidak pernah berhenti menyerap informasi setiap detik dan menghasilkan kumpulan kesimpulan.

“Kesimpulan dari kerja otak kita ini, yang kita jadikan sebuah pijakan dalam mengambil suatu keputusan, dalam kehidupan kita,” katanya.

Sehingga dapat dikatakan, bahwa mindset adalah sistem keyakinan dan persepsi yang merupakan gabungan dari empat hal, yakni pengalaman, penularan, penalaran dan pemahaman. 

“Kita sering mendengar, bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Ini salah kaprah dan harus kita luruskan. Guru terbaik itu, bukan pengalaman, tetapi pengetahuan. Karena pengetahuan adalah gabungan pengalaman, penularan, penalaran dan pemahaman,” tegasnya.

Menurut Coach Gunawan, mindset terbentuk karena ada komunikasi dan internalisasi kognisi, yang kemudian menimbulkan respon yang menetap hingga menjadi fondasi.

“Jadi fondasi itu adalah kesimpulan-kesimpulan yang tertanam, sehingga membentuk pola pikir seseorang,” katanya.

Pola pikir itu, lanjutnya, dibagi dalam tiga periode, yakni pertama periode 0-7 tahun, kedua 8-14 tahun dan 15-21 tahun, dimana pertumbuhannya bisa cepat atau lambat.

“Jadi anatomi mindset ini bukan pelatihan motivasi, tapi ativasi kognisi. Kalau kita bingung, berarti program ini berhasil, karena bingung adalah tanda otak kita berproses atau bereaksi,” ktanya.

Coach Gunawan menjelaskan bahwa kemampuan berpikir (thinking skill) seseorang menjadi rendah akibat tidak diajarkan bagaimana cara menggunakan ‘otak’.

Sebab, kurikulum pembelajaran di sekolah-sakolah Indonesia tidak mengajarkan, berbeda dengan sekolah-sekolah di Amerika, Eropa, bahkan China.

“Di kita ini mindset atau pola pikirnya tidak berubah meski telah menempu pendidikan S1, S2 dan S3. Kalau di Barat, masalah mindset itu sudah selesai di SMA,” jelasnya.

Kemampuan berpikir di Barat, lanjut dia, telah diajarkan sejak dini ketika anak mulai sekolah dijenjang SD-SMA. 

“Pelajaran di kita yang diajarkan itu hafalan, bukan thinking skill, karena itu aplikasinya, terkadang tidak sesuai kehendak. Tentu kita ingat ketika belajar Bahasa Indonesia, guru selalu mengajarkan ‘Ini Budi, Ini Kakak Budi dan ketika ada pertanyaan sudah ada jawabannya dan tidak boleh keluar konteks yang sudah ada. Jadi konstruksi berpikir kita tidak terlatih,” katanya.

Hal itu, akhirnya berdampak pada kreativitas anak-anak dan menjadi tidak kreatif dalam kehidupan seseorang sehari-hari ketika sudah dewasa.

Hierarki tentang klarifikasi dan kemampuan manusia berpikir ini disebut sebagai taksonomi, antara lain creative thinking. 

“Jadi inilah yang ingin kita perbaiki bersama-sama  tentang cara menggunakan otak kita, cara berpikir kita, pembelajaran cara berpikir. Tapi jangan seolah-olah berpikir, bahwa kita ini produk gagal dari sistem pendidikan kita. Insya Allah dengan pendekatan empiris berdasarkan Al Qur’an kita akan memperbaiki kecerdasan dan struktur berpikir kita menjadi semakin baik,” pungkasnya. 

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X