Partaigelora.id-Ketua Pusat Kajian Strategis DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia KH Ahmad Mudzofar Jufri LC, MA mengatakan, bahwa Kajian Wawasan Keislaman dalam rangka menata pemahaman tentang pemikiran Islam di dalam masyarakat, terutama menjadi orang saleh.
“Seseorang dikatakan baik selama ini parameternya atau tolak ukurnya selalu diakur dengan kebaikan atau kesalehan ritual seperti shalatnya, puasanya, tilawah Qur’annya atau amal ibadah lain. Padahal tidak hanya itu, ” kata KH Mudzofar dalam Kajian Pengembangan Wawasan Keislaman dengan tema ‘Parameter Kesalehan, Jum’at (23/1/2026) malam.
Menurut dia, orang rajin beribadah memang bisa dikatakan kalau yang bersangkutan adalah orang saleh. Sebab, hal itu adalah bagian dari parameter kesalehan.
Namun, ada parameter kesalehan lain yang menjadi tolok ukur, bukan hanya masalah ibadahya. Yaitu kesalehan dalam aktivitas sosial.
“Ibadah-ibadah yang bersifat ritual, memang harus kita penuhi. Tetapi parameter lainnya adalah aktivitas sosialnya, dan dia orang amanah,” kata dia.
Artinya, kesalehan itu harus dilihat dari konteksnya. Persepsi kesalehan seorang suami, tentu berbeda dengan seorang istri, ayah atau ibu.
Bahkan kesalehan di dalam perusahaan negara, konteksnya juga akan berbeda antara karyawan dengan direktur, atau rakyat dengan presiden misalnya.
“Jadi kesalehan sosial itu, kesalehan apa? Kriteria, standar dan parameternya adalah kaitannya dalam posisi status amanah,” ujarnya.
Kesalehan sosial, lanjut KH Mudzofar, karena seseorang itu memiliki kebaikan sosial, kebaikan hati dan kebaikan akhlak.
“Bisa juga diartikan kalau seorang muslim yang baik itu, membuat nyaman orang lain, atau tidak menggangu tetangganya misalkan,” katanya.
Hal itu penting, karena meskipun yang bersangkutan ahli ibadah dan rajin bersedekah, tetapi karena suka menyakiti hati tetangganya.
Maka amal ibadah dan kebaikannya, seolah-olah tertutup oleh keburukannya dalam konteks sosial, yaitu buruk sikapnya kepada tetangga.
“Usaha untuk memperbaiki hubungan yang retak antara teman, saudara atau yang lain, itu harus diperbaiki. Kalau ada berseteru didamaikan. Karena mendamaikan pihak-pihak berseteru itu, bisa mengungguli pahala ibadah-ibadah ritual. Menjaga hubungan persaudaraan itu sangat penting, itu juga bagian dari kesalehan,” jelasnya.
Sebab, putusnya silahturahmi atau hubungan persaudaraan, sama halnya ‘menggunting atau merusak agama.
“Upaya perdamaian, penyatuan di tengah perpecahan umat dan bangsa, karena polarisasi yang dashyat direkatkan kembali hubungan antar pihak tersebut, adalah bentuk kebaikan yang luar biasa sekali. Jadi melihat kesalehan seseorang itu jangan dilihat karena ibadah ritual saja, tetapi parameter kebaikan dari sisi lainnya juga harus dlihat,” katanya.
Ketua Pusat Kajian Strategis DPP Partai Gelora menambahkan, disatu sisi ada orang-orang ibadah ritual kurang atau lemah, tetapi disisi lain memiliki kebaikan yang tidak dimilikinoleh orang yang ahli ibadah.
“Kalau ada orang seperti itu, jangan langsung dihakimi, dianggap kurang saleh, tetapi ternyata amal sosialnya MasyaAllah,” jelasnya.
“Jadi kesalehan yang kita bicarakan ini adalah parameter kesalehan terkait dalam konteks dan amanah,” pungkas KH Mudzofar.

No comments