Partaigelora.id-Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rahmat (Gelora) Indonesia Coach Gunawan mengatakan, mindset adalah mesin kepemimpinan setiap manusia.
Karena, mindset yang mengontrol dan menentukan setiap tindakan manusia dalam mengambil keputusan.
Hasil dari keputusan ini yang menentukan aktivitas setiap manusia sehari-hari, baik dalam ranah individu, keluarga, masyarakat, korporasi, negara, bahkan peradaban.
Hal itu disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian Internal Architecture Mindset Series dengan tema ‘Menjaga Ulang Mesin Kepemimpinan di Jakarta, Selasa (10/2/2026) malam.
“Kenapa mindset disebut mesin kepemimpinan. Kita bedah dalam tiga tahap, pertama learning, kedua unlearning dan ketiga realearning,” kata Coach Gunawan.
Dalam psikologi modern, menurut Coach Gunawan, tiga tahap tersebut yang menempa ulang setiap manusia dalam posisi apapun di masyarakat, bisnis, pekerjaan dan lain-lain.
Tiga tahap tersebut, yang bisa mempertajam, memperkuat dan meningkatkan mesin kepemimpinan seseorang.
“Ternyata pola pikir yang tanpa kita sadari, telah membentuk kepribadian kita, membentuk cara berpikir. Dan tanpa disadari, kalau sudah menjadi sistem yang kita sebut sebagai internal architecture mindset,” ujarnya.
Lalu, ketika ada respon dari luar secara otomatis, melakukan respon berdasarkan mindset awal yang sudah terbentuk di dalam diri seseorang.
Permasalahannya adalah mesin yang menggerakkan semua aktivitas kognitif, afektif dan psikomotorik ini, kadang-kadang sudah terbentuk saat usia remaja.
“Jadi ketika kita mengambil respon di masa lalu, dengan situasi saat ini, itu berbeda. Kenapa demikian, karena manual book atau buku panduan dalam diri kita,” katanya.
Sebab, dalam pembelajaran di jenjang pendidikan mulai dari SD hingga pendidikan tinggi di masa lalu, terutama pada era 2000-an, tidak diajarkan cara menggunakan otak.
“Jadi manual book kita tidak diajarkan menggunakan brain atau otak. Itu bahkan disebut asing bagi usia kita, yang masuk baby boomers,” katanya.
Artinya, sebuah pola pikir itu terbentuk karena akumulasi stimulus yang berulang-ulang, kemudian menjadi menetap, karena reflek dari respon tersebut.
Sehingga ketika membicarakan konsep growth mindset (pola pikir bertumbuh) dan fixed mindset (pola pikir tetap), maka fixed mindset itu tidak selalu negatif dalam manual book of our brand atau buku penggunaan otak.
“Sebab, brain never stop learning itu dimana otak setiap detik harus terus belajar, terus menyerap informasi dan menyimpan informasi. Otak itu menerima sinyal apapun,” katanya.
Semua informasi itu, kemudian masuk ke panca indera baik mata, pendengaran dan penciuman. Kemudian semua informasi tersebut, diolah menjadi ilmu pengetahuan.
“Jadi otak itu mempermudah segala sesuatunya menjadi mudah, sehingga sehingga disimpulkan sama dia. Kalau istilah ilmiahnya di, delete (menghapus) , distort (distorsi) and generalize (generalisasi),” ujarnya.
Proses ini, lanjut Coach Gunawan, mengalami empat proses yang dikenal dengan istilah IACD.
“I-nya identifikasi, A-nya analzye, C-nya Komparatif dan D-nya dicision,” jelasnya.
Namun, terkadang informasi masuk tidak melalui empat proses, tapi di filter atau di bypass organ dalam otak yang disingkat ras (reticulate activating system) langsung masuk pikiran bawah sadar.
“Di proses dicision inilah sebagai value, dimana hasil indentifikasi kemudian dianalisa dan dibandingkan. Tapi bukan membandingkan informasi di luar, otak selalu membandingkan informasi baru dengan memori yang sudah ada sebelumnya,” jelas Coach Gunawan.
Setelah itu, menjadi kesimpulan baru bersama kesimpulan lama yang pada akhirnya menjadi pola menetap yang disebut mindset dengan keyakinan dan persepsi tertentu.
“Kumpulan kesimpulan ini dimulai ketika masih bayi, dan berulang mendapat kesimpulan baru saat beranjak remaja hingga menjadi baby boomers. Mindset ini kita yang menentukan, yang tentunya setiap orang berbeda-beda,” katanya.
Namun, karena mindset ini adalah sistem keyakinan, maka orang kerap membuat kesimpulan atau persepsi berdasarkan pengalaman dirinya sendiri.
“Contoh makan krupuk pakai sambal nggak sakit perut, tapi kalau makan krupuk nggak pakai sambel sakit perut. Itu persepsi saja, dari keyakinan dia,” katanya.
Apabila persepsi tersebut, adalah sebuah keyakinan yang negatif, akan tertanam di dalam otak dan alam bawah sadar seseorang tersebut, menjadi mindset.
“Masalah ini dalam organisasi modern, kita kenal dengan gejala ego sektoral. Orang-orang begini kalau dikritik biasanya defense, dan kalau diberi saran merasa diserang. Wilayah kognitifnya merasa diserang, dan afeksinya melakukan filter melalui organ ras tadi,” jelasnya.
Karena itu, kata Coach Gunawan, dibutuhkan penalaran bukan sekedar perasaan atau pengalaman, sehingga mendapatkan pemahaman.
“Jadi dari penalaran ini muncul pemahaman. Inilah mindset yang kita harapkan, karena kita punya seperangkat pola pikir, yang bukan otomatis saja,” pungkas Coach Gunawan.

No comments