Category: Gelora Terkini

Polemik PD III, Mahfuz Sidik: Dunia Menanti Kabar Terbaru Serangan Amerika ke Iran, Jadi atau Tidak?

Partaigelora.id-Ketua Komisi I DPR 2010-2016 Mahfuz Sidik mengatakan, dunia saat ini menantikan kepastian rencana serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran, apakah benar-benar terjadi atau tidak. Karena serangan tersebut, berpotensi memicu terjadinya perang dunia (PD) III.

“Masalah ini sangat aktual menjadi perbicangan banyak pihak, yang sering dinanti adalah kabar terbaru dari situasi ini, yaitu serangan Amerika ke Iran yang berpotensi memicu terjadinya perang dunia ketiga,” kata Mahfuz Sidik.

Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Serangan ke Iran: Benarkah Ambang Pintu Perang Dunia III, Jumat (20/2/2026) malam.

Menurut Mahfuz, Iran masuk di dalam tujuh negara yang harus dihancurkan, dilumpuhkan secara politik dan militer untuk kepentingan mewujudkan Israel sebagai kekuatan paling besar dan penjamin kepentingan Barat di kawasan Timur Tengah (Timteng).

Hal itu terungkap dalam dokumen yang dibocorkan mantan Penglima Nato Jenderal Wesley Clark, bahwa Gedung Putih mengagendakan untuk melancarkan perang militer terhadap tujuh negara dalam 5 tahun pasca serangan 11 September 2001 ke AS.

“Secara definitif negara yang disebut itu adalah Irak, Suriah, Libanon, Libya, Somalia, Sudan, dan Iran. Ini tujuh negara yang dalam dokumen itu sebagaii target dari perang secara militer,” ungkap Mahfuz.

Mahfuz menilai dari tujuh negara yang belum bisa dilumpuhkan secara militer dan politik, saat ini tinggal Iran saja. Enam negara lainnya sudah bisa dikuasai, bahkan situasi negaranya nyaris porak poranda seperti Libya dan Suriah.

Dokumen tersebut, saat ini dilanjutkan oleh Presiden AS Donald Trump. Trump akan menggunakan berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya menyerang Iran.

Trump menganggap Iran sebagai pendukung terorisme global, sehingga AS mengumandangkan ‘global war terrorism’, yang disebutnya sebagai pendekatan baru di era perang dingin.

Dokumen lainnya, yang dijadikan dasar Trump untuk menyerang Iran adalah dokumen yang disusun oleh satu tim politisi senior, advisor senior di Washington DC untuk Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu.

“Dokumen tersebut, mereposisi peta Timur Tengah dan menjadikan Israel sebagai kekuatan paling dominan di Timur Tengah. Dan Iran sebagai ‘the last stone of the region’, sebagai batu terakhir yang masih menjulang kokoh di kawasan Timur Tengah, yang menjadi ancaman bagi Israel,” katanya.

Mahfuz menilai strategi yang dijalankan Trump tersebut, menjadi tantangan dan ancaman besar bagi dunia. Sebab, Iran berbeda dengan enam negara yang telah dilumpuhkan AS sebelumnya.

“Iran ini punya nuklir, punya rudal balistik, pasukan garda revolusinya sangat kuat dekat dengan Rusia dan China yang siap untuk membantu Iran. Iran juga menguasai Selat Hormuz, kalau ditutup jalur distribusi dunia akan terganggu,” ujarnya.

Bahkan Iran mengancam akan menyerang seluruh pangkalan militer AS di Timteng. Belum lagi Iran juga didukung kelompok poros perawanan di Timteng seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza, Palestina.

“Amerika dan Israel sedang berhadap-hadapan dengan Iran hari demi hari. Mereka sedang menghitung kapan dimulai peperangan. Jika mereka nekat, maka bisa dipastikan serangan Amerika dan Israel ke Iran ini akan menjadi pemantik bagi terjadinya perang dunia ketiga,” tegasnya.

Ia menegaskan, publik AS juga semakin sadar bahwa kebijakan politik Amerika di bawah kepemimpinan Trump saat ini merupakan refleksi dari kepentingan Israel, bukan kepentingan Amerika, sehingga tidak memiliki legitimasi secara politik.

“Nah, apa yang harus dilakukan Indonesia? Saya kira Indonesia harus mengkalkulasi secara hati-hati, tidak boleh terjebak dalam politik aliansi. Kemudian memitigasi resiko,jika perang ini betul-betul terjadi. Karena salah satu faktornya kita masih punya ketergantungan terhadap impor minyak,” pungkasnya.

Partai Gelora Ajak Umat Islam Kedepankan Toleransi Apabila Terjadi Perbedaan Penetapan Awal Ramadan agar Tidak Ada Perselisihan

Partaigelora.id-Ketua Pusat Kajian Strategis DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia KH  Ahmad Mudzoffar Jufri, Lc, MA mengatakan, fenomena perbedaan awal puasa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H pada 2026 ini, dapat dipastikan akan kembali terjadi.

Karena itu, umat Islam diharapkan bisa menyikapi perbedaan tersebut, dengan prinsip tolerasi agar tidak terjadi perselisihan di dalam tubuh umat Islam.

“Mengapa ini selalu terulang berkali-kali, karena metode atau mengikuti mazhab tentang rukyah atau hisab global. Jadi selama rukyah atau hisab global itu digunakan, maka hampir pasti 99,9% akan terjadi perbedaan dalam mengawali puasa Ramadan dan Idul Fitri,” kata KH Ahmad Mudzoffar.

Hal itu disampaikan KH Ahmad Mudzoffar dalam Kajian Pengembangan Wawasan Keislaman dengan tema ‘Menyikapi Perbedaan Awal Puasa  & Hari Raya’ di Jakarta, Jumat (13/2/2026) malam.

Dalam mengawali puasa Ramadan pada 1447 H ini, menurut Muzhoffar, umat Islam ada yang memulai pada Rabu, 18 Pebruari dan ada pula yang baru mulai Kamis, 19 Pebruari 2026.

“Potensi perbedaan juga akan terjadi dalam berhari raya, kemungkinan terjadi perbedaan dalam menetapkan hari raya. Idul Fitri itu ada yang tanggal  20 Maret hari Jumat dan ada yang hari Sabtu, 21 Maret 2026,” ujarnya.

Ia mengatakan, perbedaan dalam mengawali Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri itu, karena masalah prinsip dan non prinsip, serta masalah usul atau furuk.

Kemudian, karena perbedaan tersebut, maka di internal umat Islam dapat saling bertolerasi, serta memahami hakikat perbedaan itu dan faktor-faktor menjadi penyebabnya.

“Jadi mengapa ada yang berpendapat A dan ada yang berpendapat B. Jika kita ingin agar supaya bersikap toleran,  maka kita harus ini harus mencoba untuk memahami sudut pandang, pola pikir, pemahaman, dan pemikiran masing-masing mazhab,” katanya.

Kesalahan selama ini, adalah akibat tidak memahami masalah-masalah yang bersifat furu’iyah dalam hal-hal yang non prinsip, hingga menimbulkan perselisihan diantara umat Islam.

“Sebagian pihak ketika menyikapi pendapat atau pandangan pihak lain lain dengan tidak berusaha untuk memahami sudut pandang pola pikir dan pemikiran alasan yang dimiliki oleh pihak lain itu. Mengapa kok dia berpendapat begitu? tanyanya.

Selama ini, apabila terjadi perbedaan dalam menyikapi perbedaan awal puasa dan hari raya, semangatnya adalah menolak atau membantah kelompok lain. “Biasanya yang mempersepsikan tersebut, berpendapatkalau orang lain salah,” katanya.

Ia berharap agar para tokoh umat Islam secara bersama-sama mencapai titik temu, sehingga setiap mengawali Ramadan atau mengakhirinya dengan Idul Fitri selalu bersama-sama.

“Jadi ada kebersamaan  by design, bukan by accident, karena memang ada banyak faktor atau  variabel dalam menentukan awal Ramadan dan awal Syawal,” jelasnya.

Dimana posisi hilal secara umum dalam penetapan puasa Ramadan dan  Idul Fitri, adalah melihat peredaran bulan.

“Hilal itu mengacu pada kalender hijriah, dimana peredaran hilal itu, peredaran bulan qamariah.  

Sementara kalau untuk kalender masehi itu penetapannya didasarkan kepada peredaran matahari,” jelasnya.

Terkait posisi bulan yang tidak bisa disepakati, KH Muzhoffar mengatakan, karena berkaitan dengan beberapa mazhab dan kriteria.

 “Jadi metode penetapan penetapan awal bulan qamariah, awal bulan hijriah itu ternyata banyak sekali metodanya,” KH Muzhoffar.

Pertama adalah metode rukyatul hilal, yakni dengan melakukan pengamatan atau pemantauan untuk bisa melihat hilal bulan sabit itu, apakah di atas ufuk pada akhir bulan hijriah yang berjalan seperti sekarang.

“Misalnya diakhir bulan bulan Syakban itu, hari Selasa, 17 Pebruari, pada saat matahari terbenam itu apakah hilal sudah bisa dilihat lihat atau tidak,” katanya.

Kedua adalah dengan metode hisab, yakni menggunakan ilmu falak  dan ilmu astronomi. Sebab, peredaran bulan dan peredaran matahari sudah dapat diketahui atau diperkirakan secara tepat, karena ilmu astronomi sekarang sudah canggih.

“Jadi perbedaan itu terjadi bukan sekedar perbedaan antar mazhab. Yang satu menggunakan mazhab rukyah dan yang lain menggunakan mazhab hisab. Tapi faktor utamanya adalah standar dan kriteria,” katanya.

Standar dan kriteria, sesama pengikut mazhab hisab pun, ungkap KH Muzhoffar, juga bisa berbeda terkait munculnya hilal diatas ufuk, dimana bulan baru itu ditandai dengan wujudul hilal.

“Pada saat nanti Insya Allah pada pekan depan hari Selasa tanggal 29 Syakban bertepatan tanggal 17 Februari 2026 akan ada sidang isbat menerima laporan laporan kegiatan rukyatul hilal. Jadi kegiatan memantau dan mengamati,” katanya.

JIka hilal sudah bisa dilihat, maka bulan Ramadan sudah bisa dilihat dan awal puasa bisa dimulai. Namun, apabila belum terlihat, maka hilalnya digenapkan menjadi 30 hari pada bulan Syahban, serta awal puasa mulai dilakukan pada esok harinya lagi. “Jadi gitu. Nah, itu kalau rukyah,” katanya.

Sementara hisab itu adalah bahwa bulan baru itu ditandai dengan matahari terbenam pada 29 Syakban, dan bulan itu sudah lahir atau sudah muncul, sudah wujud. Artinya sudah berada di atas ufuk.

“Jadi kalau masih di bawahnya, itu, berarti dikatakan bulan belum lahir, bulan belum wujud. Jadi  bulan baru belum terjadi. Nanti seluruh ahli hisab, ahli falak dan ahli astronomi menetapkan pada tanggal 29 Syakban bertepatan saat matahari terbenam.  Posisi hilal itudi seluruh wilayah Indonesia itu masih berada di bawah ufuk. Jadi jauh di bawah ufuk, artinya ihlal belum lahir,” katanya.

Ia menilai ada faktor lain yang membuat perbedaan terjadi adalah  belum wujud sama sekali, belum lahir sama sekali, di wilayah Indonesia bahkan mungkin di Asia Tenggara.

Hal itu, karena yang digunakan adalah mazhab bahwa penetapan awal bulan didasarkan kepada pemantauan atau posisi hilal di satu wilayah seperti di Indonesia yang lokal sifatnya.

Namun, apabila penetapan awal bulan didasarkan pada kalender global atau rukyah global, maka akan terjadi perbedaan, meskipun samamenggunakan hisab. Bedanya satu menggunakan hisab lokal, satu lagi menggunakan hisab global.

“Rukyah global itu maksudnya adalah di belahan bumi manapun terbukti hilal sudah terlihat, maka umat Islam di seluruh dunia itu harus mengikuti,” katanya.

Sementara menyangkut, soal penggunaan metode hisal lokal, standar atau kriteria yang digunakan juga berbeda-beda.

“Misalkan hilal pada saat matahari terbenam di akhir bulan tanggal 29 bulan Syakban seperti sekarang misalnya, pada saat matahari terbenam posisi hilal sudah berada di atas ufuk, di atas horizon dengan ketinggian tertentu yang memungkinkan sudah bisa dilihat, istilahnya imkan rukyah.

Sedangkan yang lainnya berpendapat bahwa bulan baru ditandai bukan dengan posisi hilal yang sudah tinggi dengan tingkat ketinggian yang memungkinkan bisa dilihat,” katanya.

Yakni bulan baru sudah masuk ketika pada saat matahari terbenam di ufuk barat pada akhir bulan berjalan, dimana posisi hilal sudah lahir, sudah wujud, sudah ada di atas ufuk, seberapun tingkat ketinggiannya.

“Itu yang biasa diistilahkan hisab hakiki wujudul hilal, yang juga punya argumentasi masing-masing. Kalau kita perdebatkan nggak akan ada ujungnya,” katanya.

Diantara penganut hisab, kata dia, dalam menetapkan awal bulan dengan hisab murni itu juga berbeda, karena memiliki parameter, standar, dan  kriteria wujudul hilal masing-masing.

Keberadaan hilal di atas ufuk, seberapapapun tingkat ketinggiannya itu sudah menandai bulan baru meskipun baru setengah derajat atau satu  derajat yang mustahil bisa dilihat.

“Itu sudah bulan baru. Jadi hilal sudah bisa dilihat meski antara sesama hisab berbeda. Jadi hisab wujudul hilal, hisab imkan rukyah,” katanya.

Karena itu, alam menentukan awal bulan, negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia memberlakukan standar, parameter dan kriteria Mabims yang disepakati pada 2021. Yaitu kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

“Kriterianya ditandai ketika matahari terbenam di akhir bulan berjalan, yaitu di akhir bulan Syakban seperti sekarang. Posisi hilal sudah berada di atas ufuk, di atas horizon dengan ketinggian 3 derajat. Tingginya hilal di atas ufuk atau horizon 3 derajat dan elongasi atau jarak antara matahari dan dan bulan itu, elongasi 6,4,” jelasnya.

KH Muzhofar yakin, bahwa awal Ramadan wujud hilalnya belum terlihat pada 29 Syakban. Sehingga awal puasa bukan hari Rabu, 18 Pebruari, melainkan pada Kamis, 19 Pebruari. Namun, ruang perbedaan dalam penetapan awal puasa dimungkinkan, karena ada perbedaan penggunaan metode hisab dan rukyah, serta madzab.

Ia berharap umat Islam di seluruh dunia, tidak hanya di Indonesia dapat menyikapi perbedaan tersebut, dengan prinsip tolerasi agar tidak terjadi perselisihan di dalam tubuh umat Islam.

Coach Gunawan: Mindset adalah Mesin Kepemimpinan dalam Mengambil Keputusan

Partaigelora.id-Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rahmat (Gelora) Indonesia Coach Gunawan mengatakan, mindset adalah mesin kepemimpinan setiap manusia. 

Karena, mindset yang mengontrol dan menentukan setiap tindakan manusia dalam mengambil keputusan.

Hasil dari keputusan ini yang menentukan aktivitas setiap manusia sehari-hari, baik dalam ranah individu, keluarga, masyarakat, korporasi, negara, bahkan peradaban.

Hal itu disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian Internal Architecture Mindset Series dengan tema ‘Menjaga Ulang Mesin Kepemimpinan di Jakarta, Selasa (10/2/2026) malam.

“Kenapa mindset disebut mesin kepemimpinan. Kita bedah dalam tiga tahap, pertama learning, kedua unlearning dan ketiga realearning,” kata Coach Gunawan.

Dalam psikologi modern, menurut Coach Gunawan, tiga tahap tersebut yang menempa ulang setiap manusia dalam  posisi apapun di masyarakat, bisnis, pekerjaan dan lain-lain.

Tiga tahap tersebut, yang bisa mempertajam, memperkuat dan meningkatkan mesin kepemimpinan seseorang.

“Ternyata pola pikir yang tanpa kita sadari, telah membentuk kepribadian kita, membentuk cara berpikir. Dan tanpa disadari, kalau sudah menjadi sistem yang kita sebut sebagai internal architecture mindset,” ujarnya.

Lalu, ketika ada respon dari luar secara otomatis, melakukan respon berdasarkan mindset awal yang sudah terbentuk di dalam diri seseorang.

Permasalahannya adalah mesin yang menggerakkan semua aktivitas kognitif, afektif dan psikomotorik ini, kadang-kadang sudah terbentuk saat usia remaja.

“Jadi ketika kita mengambil respon di masa lalu, dengan situasi saat ini, itu berbeda. Kenapa demikian, karena manual book atau buku panduan dalam diri kita,” katanya.

Sebab, dalam pembelajaran di jenjang pendidikan mulai dari SD hingga pendidikan tinggi di masa lalu, terutama pada era 2000-an, tidak diajarkan cara menggunakan otak.

“Jadi manual book kita tidak diajarkan menggunakan brain atau otak. Itu bahkan disebut asing bagi usia kita, yang masuk baby boomers,” katanya.

Artinya, sebuah pola pikir itu terbentuk karena akumulasi stimulus yang berulang-ulang, kemudian menjadi menetap, karena reflek dari respon tersebut.

Sehingga ketika membicarakan konsep growth mindset (pola pikir bertumbuh) dan fixed mindset (pola pikir tetap), maka fixed mindset itu tidak selalu negatif dalam manual book of our brand atau buku penggunaan otak.

“Sebab, brain never stop learning itu dimana otak  setiap detik harus terus belajar, terus menyerap informasi dan menyimpan informasi. Otak itu menerima sinyal apapun,” katanya.

Semua informasi itu, kemudian masuk ke panca indera baik mata, pendengaran dan penciuman. Kemudian semua informasi tersebut, diolah menjadi ilmu pengetahuan.

“Jadi otak itu mempermudah segala sesuatunya menjadi mudah, sehingga sehingga disimpulkan sama dia. Kalau istilah ilmiahnya di, delete (menghapus) , distort (distorsi) and generalize (generalisasi),” ujarnya.

Proses ini, lanjut Coach Gunawan, mengalami empat proses yang dikenal dengan istilah IACD.

“I-nya identifikasi, A-nya analzye, C-nya Komparatif dan D-nya dicision,” jelasnya. 

Namun, terkadang informasi masuk tidak melalui empat proses, tapi di filter atau di bypass organ dalam otak yang disingkat ras (reticulate activating system) langsung masuk pikiran bawah sadar.

“Di proses dicision inilah sebagai value, dimana hasil indentifikasi kemudian dianalisa dan dibandingkan. Tapi bukan membandingkan informasi di luar, otak selalu membandingkan informasi baru dengan memori yang sudah ada sebelumnya,” jelas Coach Gunawan.

Setelah itu, menjadi kesimpulan baru bersama kesimpulan lama yang pada akhirnya menjadi pola menetap yang disebut mindset dengan keyakinan dan persepsi tertentu.

“Kumpulan kesimpulan ini dimulai ketika masih bayi, dan berulang mendapat kesimpulan baru saat beranjak remaja hingga menjadi baby boomers. Mindset ini kita yang menentukan, yang tentunya setiap orang berbeda-beda,” katanya.

Namun, karena mindset ini adalah sistem keyakinan, maka orang kerap membuat kesimpulan atau persepsi berdasarkan pengalaman dirinya sendiri.

“Contoh makan krupuk pakai sambal nggak sakit perut, tapi kalau makan krupuk nggak pakai sambel sakit perut. Itu persepsi saja, dari keyakinan dia,” katanya. 

Apabila persepsi tersebut, adalah sebuah keyakinan yang negatif, akan tertanam di dalam otak dan alam bawah sadar seseorang tersebut, menjadi mindset.

“Masalah ini dalam organisasi modern, kita kenal dengan gejala ego sektoral. Orang-orang begini kalau dikritik biasanya defense, dan kalau diberi saran merasa diserang.  Wilayah kognitifnya merasa diserang, dan afeksinya melakukan filter melalui organ ras tadi,” jelasnya.

Karena itu, kata Coach Gunawan, dibutuhkan penalaran bukan sekedar perasaan atau pengalaman, sehingga mendapatkan pemahaman. 

“Jadi dari penalaran ini muncul pemahaman. Inilah mindset yang kita harapkan, karena kita punya seperangkat pola pikir, yang bukan otomatis saja,” pungkas Coach Gunawan.

Partai Gelora akan Giatkan Pendidikan Kewarganegaraan kepada Masyarakat Supaya Paham Hak dan Kewajiban sebagai Warga Negara

Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia akan menggiatkan pendidikan kebangsaan atau pendidikan kewarganegaraan (civic education) kepada masyarakat.

Karena dalam negara demokrasi, ciri masyarakat demokratis adalah mereka yang mampu memahami, serta mengerti hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kebangsaan Bagian ke-6; yang diselenggarakan DPP Partai Gelora, Jumat (6/2/2026) malam.

“Kita perlu menggiatkan pendidikan kebangsaan atau di banyak negara disebut pendidikan kewarganegaraan atau civic education. Agar kita mengerti hak-hak dan kewajibannya sebagai warga negara, ” kata Fahri Hamzah.

Dari pemahaman terhadap hak dan kewajiban itu, menurut Fahri, akan membuat masyarakat secara aktif berpartisipasi untuk kebaikan kolektif.

“Negara demokrasi itu, mengasumsikan masyarakatnya tidak masa bodoh. Tetapi dia harus konsen, peduli dan peka terhadap apa yang terjadi di masyarakatnya,” ujar Fahri.

Bahkan agama, kata Fahri, juga meminta semua pemeluknya untuk peduli kepada sesama.

Sebab, jika tidak peduli, maka mereka dianggap bukan bagian dari umat atau golongannya.

Hal ini tentu saja merupakan bentuk dari kepedulian sosial, serta tanggungjawab seseorang sebagai bagian dari anggota kelompok, masyarakat atau bangsa.

“Itu sebabnya, Partai Gelora mengaktifkan kajian-kajian seperti ini, termasuk kajian tentang kesadaran untuk menjadi bagian dari masyarakat global,” katanya.

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (RI) ini mengatakan, kajian kebangsaan atau kewarganegaraan, menyangkut soal sejarah bangsa Indonesia, falsafah negara (Pancasila), serta ketatanegaraan dan pemerintahan yang dipengaruhi sistem politik.

“Supaya kita tahu apa yang terjadi sekarang ini di dalam keseharian kita. Dan kita sering berhadapan dengan orang yang tidak paham soal iti.” katanya.

Karena itu, ia berharap agar masyarakat, khususnya fungsionaris dan kader Partai Gelora menjadi bagian orang yang paham masalah-masalah kebangsaan.

“Makanya saya sering mengkritik politisi, anggota dewan dan pejabat yang tidak bisa memisahkan, mana yang disebut prilaku sistem, dan mana prilaku individual,” ungkap dia.

Padahal, itu dua hal berbeda, antara prilaku sistem dan prilaku individual atau pribadi.

“Mereka ini kesulitan membaca gambar-gambar besar, terjebak melihat gambar-gambar kecil. Makanya mereka sibuk mengurusi hal yang kecil-kecil saja,” katanya.

Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menegaskan, bahwa situasi tersebut menyebabkan orang-orang Indonesia sulit keluar dari persoalannya.

“Korupsinya berulang-ulang terjadi, masalah kemiskinan tidak pernah tuntas dan sebagainya. Itu kenapa, karena kita terbiasa melihat gambar kecil, bukan gambar besar. Sehingga kita tidak tahu cara keluar dari masalah,” tegasnga.

Karena itu, seluruh komponen bangsa harus punya kemampuan untuk membaca gambar besar dari sistem pemerintahan, ketatanegaraan dan politik Indonesia secara bersamaan.

“Supaya kita mengerti, apa yang sedang terjadi. Kenapa kita bisa sampai di sini, dan
kita akan kemana ke depan ini. Ini konsekuensi dari sistem pemerintahan, politik dan demokrasi kita sekarang,” pungkas Fahri Hamzah.

Fungsionaris dan Kader Partai Gelora Diajak Luruskan Kembali Niat Perjuangan Politik

Partaigelora.id- Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Rofi’ Munawar mengajak fungsionaris dan kader Partai Gelora untuk meluruskan kembali niat dalam perjuangan politik.

Sebab, dalam perjuangan politik itu terdapat banyak fitnah, jebakan dan godaan. Sehingga perjuangan politik oti dianggap ibadah yang paling afdal.

Karena apabila tidak dapat mengendalikan syahwat politik, maka orang tersebut akan terjerembab dalam berbagai macam persoalan menyangkut dirinya.

“Makanya Pak Ketum (Anis Matta) mengatakan, bahwa orang tidak akan bisa melakukan sesuatu yang lebih besar, kalau dengan dirinya sendiri belum selesai,” kata Rofi’ Munawar.

Hal itu disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) dengan tema ‘Meluruskan Niat Perjuangan Politik’, Selasa (3/2/2026) malam.

Rofi’ mengatakan, di lapangan godaan politik begitu luar biasa, bukan hanya sekedar syahwat politik saja. Tetapi juga ada anggapan, bahwa image politik itu kotor.

“Karena itu niat kita harus ibadah. Karena sesungguhnya Allah SWT menjadikan manusia itu sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah yang dimaksud adalah melaksanakan tugas kepemimpinan untuk memakmurkan bumi,” katanya.

Menurut dia, tugas untuk memakmurkan bumi antara lain adalah terjun ke dunia politik untuk melaksnakan mandat atau amanah kepemimpinan.

“Inilah yang harus kita pahami, bahwa kita terlibat dalam perjuangan politik, kebetulan lewat Partai Gelora, karena kita mendapatkan mandat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT,” ujarnya.

Dalam melaksanakan mandat itu, lanjut dia, Partai Gelora memiliki visi-miai antara lain membangun masyarakat yang religius dan berpengetahuan.

“Religius itu, masyarakat yang memiliki energi spiritual yang baik. Dan berpengetahuan berarti memiliki energi intelektual atau pemikiran. Inilah dua energi yang kita perlukan,” katanya.

Energi spiritual akan menentukan arah yang akan dicapai, sedangkan energi Intekektual akan menentukan langkah yang akan ditempuh.

“Sekali lagi, tazkiyatun nafs ini akan memberikan guidance kepada kita. Sebab, Tazkiyatun nafs adalah pembersihan hati penyucian jiwa agar kita benar-benar memiliki kesiapan,” katanya.

Artinya, ketika hati dan jiwa sudah dibersihkan, maka hal itu adalah bagian dari niat dalam perjuangan politik.

Ketika sudah melakukan niat dalam ibadah politik, seseorang akan mendapatkan kekuatan, memiliki kesabaran dan daya tahan untuk menghadapi berbagai rintangan.

“Ini mesti kita ketahui supaya kita memiliki kewaspadaan dan kehati-hatian agar ibadah politik kita tidak tercederai,” katanya.

Rofi’ berharap para fungsionaris dan kader Partai Gelora tidak terjangkiti empat penyakit hati, yakni penyakit kemunafikan, kedustaan, ria dan pengkhianatan agar niat dalam perjuangan politiknya sesuai arah dan tujuan.

“Kalau kita kena empat penyakit ini, pasti perjuangan politik kita akan berantakan. Niat kita harus terbebas dari empat penyakit ini,” tegasnya.

Ia menambahkan agar perjuangan politik tidak tercederai, maka perlu dibentengi secara spiritual. 

Sebab, dalam perjuangannya dipastikan  akan mengalami berbagai macam dinamika politik. 

“Karena itu, niat itu penting  dan kita harus berusaha terus menjaga niat. Saya kira pesan pentingnya adalah bahwa energi spiritual harus ada di dalam perjuangan politik,” pungkasnya. 

Partai Gelora Gelar FGD Pengembangan Keislaman, Kebangsaan dan Geopolitik 

Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar Forum Group Discussion Pusat (FGD) Pengembangan Wawasan Keislaman Kebangsaan dan Geopolitik.

FGD tersebut digelar untuk memperdalam materi-materi Pengembangan Wawasan Keislaman, Kebangsaan dan Geopolitik sesuai konteks saat ini. 

Diketahui, Partai Gelora telah memberikan tiga materi tersebut, kepada para fungsionaris dan kadernya dalam rangka meningkatkan kualitas mereka menjadi masyarakat berpengetahuan.

Materi Pengembangan Pengembangan Wawasan Keislaman, Kebangsaan dan Geopolitik diagendakan setiap pekannya secara bergiliran pada hari Jumat.

Materi tentang Keislaman disampaikan Ketua Pusat Kajian Strategis DPP Partai Gelora KH Ahmad Mudzofar. Sedangkan materi Kebangsaan disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah. Sedangkan materi Geopolitik disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Gelora Mahfuz Sidik. 

Wakil Ketua Korbid Kaderisasi DPP Partai Gelora Abdul Rahman mengatakan, penyelenggaraan FGD untuk mendapatkan materi apa yang akan disampaikan dalam kajian Pengembangan Wawasan, baik itu Keislaman, Kebangsaan dan Geopolitk. 

“Soal materi Keislaman misalnya, ini kita mendapatkan satu pencerahan yang sangat luar biasa, bahwa materi-materi Keislaman yang harus kita sampaikan adalah materi-materi yang sesuai dengan konteksnya,” kata Abdul Rahman.

Sehingga nilai-nilai Islam dapat dipahami dengan mudah sesuai konteks, zaman, tempat dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa menjadi solusi baik baik untuk individu masyarakat, maupun negara.

“Karena kita ingin materi-materi dari Partai Gelora yang disampaikan dari sisi Keislaman itu memiliki impact yang kuat di tengah-tengah masyarakat. Sehingga muncul kedewasaan dalam melaksanakan Islam dan membela negara,” katanya.

Menurut dia, antara Islam dan nasionalisme bisa menjadi sebuah kekuatan di dalam sebuah negara seperti Indonesia, yang akan menjadi nilai moral yang kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sedangkan Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Kebijakan Publik DPP Partai Gelora Sarah Handayani mengatakan, materi Wawasan Kebangsaan ini, merupakan hal yang sangat substansial untuk seluruh fungsionaris, kader dan juga masyarakat Indonesia

“Agar bisa memahami jati dirinya dan kemudian memahami sejarah, sosiologi, geografi. Sehingga tahu posisinya sebagai warga negara dan memahami sejarah masa lalu,” kata Sarah Handayani. 

Dengan memliki pemahaman mengenai Wawasan Kebangsaan, maka setiap fungsionaris dan kader Partai Gelora bisa memberikan kontribusi dalam membangun bangsa sekarang dan masa depan. 

Sementara Ketua Korbid Luar Negeri Henwira Halim mengatakan, Partai Gelora selalu menekan kepada fungsionaris dan kader Partai Gelora agar memiliki awareness dan pemahaman masalah geopolitik.

“Karena dalam membuat kebijakan dan juga dalam membangun negara kita, kita juga harus paham bahwa yang namanya hidup bernegra itu tidak bisa lepas dari negara-negara lain, ” kata Henwira. 

Sehingga sebagai bangsa harus paham, bagaimana mengaruhi gelombang geopolitik  supaya bisa memaksimalkan keunggulan dan meminimalkan bangsa Indonesia. 

“Supaya kita bisa mewujudkan kepentingan nasional kita, dan itu memang harus dipahami oleh semua kader dan fungsionaris Partai Gelora, karena semua kader dan fungsionaris ini akan  ikut serta untuk memberikan kontribusi,” katanya.

Dengan mendapatkan materi Wawasan Geopolitik, maka setiap fungsionaris dan kader Partai Gelora dapat memberikan  kontribusinya melalui pemikiran, masukan dan berbagai macam ide.

“Sebab, kita juga akan mengalami dampak dari percaturan geopolitik itu, seperti dikatakan oleh  Ketua Umum kita ita Pak Anis Matta. Jangan sampai kita menjadi collateral demage dari pertarungan geopolitik global,” pungkas Henwira Halim.

Mau Jadi Partai Gen Z, Partai Gelora Gelar Konsolidasi Generasi Muda

Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar Konsolidasi Pemuda DPP Partai Gelora Indonesia,  bertempat di Gelora Media Centre (GMC) di kawasan Kuningan, Jakarta, Selatan, Sabtu (31/1/2026). 

Konsolidasi ini digelar dengan kesadaran penuh atas bonus demografi dan tantangan Indonesia ke depan menjelang Indonesia Emas 2045.

Konsolidasi ini dihadiri Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta, Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Triwisaksana, serta para Generasi Muda Partai Gelora.

Konsolidasi ini menegaskan tentang positioning dan arah yang mesti dituju oleh para pemuda di Partai Gelora Indonesia.

Sebab, hal ini bukan sekadar bicara soal politik praktis. Ini tentang energi dan tantangan zaman untuk menghadirkan perubahan bagi seluruh bangsa Indonesia.

“Sumber energi yang sangat besar bagi satu bangsa yang datang dari hadiah adalah bonus demografi. Bonus demografi ini hanya terjadi biasanya beberapa ratus tahun,” kata Anis Matta. 

Menurut Anis Matta, Indonesia akan mengalami bonus demografi tersebut, dimana jumlah populasi generasi mudanya lebih banyak dari generasi tua. 

“Satu bangsa mencapai puncak pencapaiannya itu, adalah apabila komposisi demografi nya didominasi oleh orang-orang muda,” ujar Anis Matta.

Ketua Korbid Penggalangan DPP Partai Gelora Triwisaksana mengatakan, Partai Gelora patut bersyukur bahwa fungsionaris dan kader Partai Gelora didominasi kaum muda.

“Generasi muda di Partai Gelora ini, adalah milik kita bersama. Ada sisi masa depannya, langkah  harapan dan ekspektasi nya ke depan. Kita berharap Partai Gelora di-imagekan sebagai Partai Gen Z,” kata Triwisaksana.

Wakil Ketua Korbid Komunikasi DPP Partai Gelora Sarah Az-Zahra mengungkapkan, bahwa generasi muda pada Pemilu 2029 akan mendominasi. Sehingga suara mereka sangat potensial bagi Partai Gelora.

“Jadi kira-kira 63-73 persen dari datanya 2029 itu, adalah Gen Z dan millenial,” ungkap Sarah Az-Zahra.

Ketua Bidang Regulasi, Riset dan Strategi DPP Partai Gelora Dzubyan Nur Rahman mengatakan, bahwa dengan besarnya jumlah generasi muda saat ini, diharapkan dapat memberikan dampak bagi perkembangan Partai Gelora yang punya mimpi dan visi menjadikan Indonesia Lima Besar Dunia. 

“Jadi sebenarnya kita ini  mau kasih impact apa? Bukan sebaliknya, kita mau dapat apa dari Partai Gelora, ” kata Dzubyan Nur Rahman.

Jana Achmad Nugraha, fungsionaris Partai Gelora menambahkan, bahwa Partai Gelora adalah satu-satunya partai yang memiliki narasi kuat mengenai Arah Baru Indonesia sebagai Superpower baru dunia.

“Partai Gelora memang terbukti kuat dalam narasi dibandingkan partai lain,” tegas Jana Achmad Nugraha.

Karena itu, Ketua Bidang Pengembangan dan Jaringan DPP Partai Gelora Syahrul Santian berharap agar Partai Gelora memiliki kader generasi muda dalam jumlah yang banyak mengkar hingga tempat pemungutan suara (TPS).

Hal ini penting untuk menjaga perolehan suara Partai Gelora pada Pemilu 2029 tidak curi atau hilang, dan berpindah ke partai lain, karena kurangnya memiliki saksi seperti pada Pemilu 2024 lalu.

“Makanya tema konsolidasi kita hari ini adalah ‘Generasi Muda Gelora, Energi dan Harmoni untuk Membangun Bangsa’,” pungkas Mushab A Robbani, Ketua Bidang Pemuda DPP Partai Gelora.

Mahfuz Sidik Ingatkan PD III Tinggal Menunggu Waktu, Indonesia Perlu Siapkan Ketahanan Nasionalnya

Partaigelora.id-Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfuz Sidik mengingatkan, bahwa perang nuklir atau perang dunia (PD) III tinggal menunggu waktu, apabila ketegangan global saat ini terus berlanjut.

“Perang nuklir saat ini tinggal ada pemantiknya saja, dunia sedang menunggu satu pemicu lagi. Kita tidak tahu, tapi kita tentu berharap bahwa dunia akan tetap baik-baik saja,” kata Mahfuz Sidik di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Apakah Kita Menuju Perang Dunia III’, pada Jumat (30/1/2026) malam.

Menurut dia, ada tiga titik hotspot yang bisa menjadi pemicu perang nuklir atau PD III saat ini.

Pertama adalah konflik Rusia dengan Ukraina, kedua konflik Amerika Serikat (AS) dengan China dan ketiga konflik Israel dengan Iran.

“Dalam konflik Israel-Iran ini, Israel dibackup penuh oleh pemerintahan Presiden Amerika Donald Trump. Dan situasinya sekarang semakin memanas,” katanya.

AS, lanjut, Mahfuz sudah mengerahkan armada besar militernya dengan didukung kapal induk USS Abraham Lincoln menuju Selat Hormuz, untuk menyerang Iran.

“Trump secara terbuka berkali-kali mengatakan akan menyerang Iran dan armada lautnya sudah dikerahkan ke Selat Hormuz. Jika diserang, maka Iran akan melakukan pembalasan,” ujarnya.

Ketua Komisi I DPR RI 2010-2016 ini berharap agar Trump yang juga seorang pebisnis tersebut, dapat
mengkalkulasi ulang rencana untuk menyerang Iran, karena akan menimbulkan perang dalam skala besar.

“Kita ketahui, bahwa ini Iran punya senjata nuklir. Dan senjata nuklir Iran, akan digunakan apabila mereka terdesak. Karena itu, kita harap Trump menggunakan kalkulasinya sebagai pebisnis, bahwa perang dunia tidak akan dimenangkan siapapun, tapi justru merugikan,” katanya.

Mahfuz menegaskan, perang ini, akan menyeret negara-negara lain yang memiliki senjata nuklir selain Iran, AS dan Israel seperti Prancis, Rusia, China, Pakistan, India dan Korea Utara.

Ia lantas menyampaikan simulasi dan dampaknya bagi umat manusia apabila perang nuklir benar-benar terjadi.

“Perang nuklir mungkin berlangsung cepat, tapi efeknya akan ada kerusakan total dunia. Akan terjadi bencana kelaparan di seluruh dunia, bisa dialami 4 miliar manusia di bumi,” katanya.

Mahfuz mengatakan, meskipun Indonesia tidak secara langsung mengalami perang nuklir atau PD III, tetapi efek dari dampak tersebut, adalah mengalami perubahan iklim yang hebat.

“Ancamannya adalah kelaparan secara global. Kita harus bisa memastikan ketahanan nasional kita bisa survive. Lalu, ketahanan apa paling dibutuhkan?” tanya Mahfuz.

Adapun ketahanan nasional (national resilience) yang diperlukan oleh suatu negara, termasuk Indonesia adalah ketahanan pangan, ketahanan energi dan ketahanan sumber daya air.

“Pangan tidak boleh impor lagi, harus swasembada untuk kebutuhannya. Soal energi harus juga bisa dipenuhi, tidak bergantung negara lain, dan bisa mengembangkan energi alternatif. Sementara soal air, jangan berpikir nanti gampang ketika terjadi perang dunia III, karena sumber air banyak yang tercemar. Dan Indonesia harus punya kemampuan water resilence (ketahanan air)-nya, ” jelas Mahfuz.

Sekjen Partai Gelora ini menilai pemerintah perlu fokus untuk memastikan dan menjamin tiga aspek ketahanan nasional dalam pembangunannya pada situasi sekarang.

Hal ini akan tercapai apabila pengelolaan pemerintahan semakin terdesentralisasi, bukan sebaliknya tersentralisasi.

Sebab, apabila model pemerintahan yang terlalu kuat tersentralisasi dalam situasi krisis sistemik seperti sekarang, maka negara tersebut, akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi.

“Daerah-daerah akan sangat bergantung kepada pusat, karena tidak memiliki inovasi sendiri. Dan alhamdulillah, Indonesia sudah menetapkan otonomi daerah, dan ada desentralisasi meski belum maksimal,” pungkas Mahfuz.

Anis Matta Ingatkan 2026 akan Jadi Tahun yang Berat Bagi Indonesia

Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta mengingatkan, bahwa dampak dari ketidakpastian
geopolitik global saat ini akan mempengaruhi situasi politik nasional.

“Penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengawali satu situasi yang bisa kita katakan, bahwa tatanan dunia lama benar-benar sudah berakhir,” kata Anis Matta dalam keterangannya, Senin (26/1/2026).

Hal itu disampaikan Anis Matta saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi DPP & DPW Partai Gelora dengan tema ‘Siaga Gelora untuk Indonesia’ yang digelar secara daring, Sabtu (24/1/2026) malam.

Menurut Anis Matta, PBB sebagai institusi global dan organisasi multilateral lainnya sudah berakhir, dan tidak ada lagi hukum internasional.

“Akan ada satu kondisi tidak terkendali, kekecewaan dan tidak ada penyelesaian yang sistematis. Ujung-ujungnya akan terjadi perang dunia,” ujar Anis Matta.

Dalam proses transisi global ini, lanjut Anis Matta, Amerika Serikat (AS) selaku negara adidaya memberlakukan doktrin baru untuk melindungi keamanan nasionalnya.

“AS ingin mengontrol seluruh benua Amerika, dan wilayah-wilayah lain di dunia agar jalur logistik dan investasi mereka lancar,” katanya.

Rencana penguasaan Greenland, kata Wamenlu Anis Matta, adalah upaya untuk mengeluarkan Rusia dan pengaruhnya dari kawasan tersebut, serta menghambat investasi China.

“Tata kelola dunia yang dulu berbasis pada aturan, sekarang sudah tidak ada aturan, tidak ada hukum internasional,” katanya.

Anis Matta memprediksi bakal terjadi kekacauan di seluruh kawasan yang bertujuan untuk mendistabilisasi dan merusak iklim investasi China yang masif di berbagai negara.

“Saya kira bagian terakhir sasaran upaya mendistabilisasi ini adalah kawasan Asia Tenggara dan disini ada 10 negara, termasuk Indonesia. Konflik antara Kamboja-Thailand, itu perbatasan dengan China itu baru permulaan,” katanya.

Karena itu, ia menilai tahun 2026 akan menjadi tahun yang sangat berat bagi Indonesia, menjadi tahun pendalaman konflik kawasan.

“Tetapi kalau kita melihat peta Indonesia, maka sesungguhnya masa depan kita adalah Dunia Islam, umat Islam-nya mencapai 2 milyar jiwa,” katanya.

Anis Matta mengatakan, volume perdagangan Indonesia dengan Dunia Islam, lebih besar dibandingkan dengan China, Eropa dan Amerika.

“Karena itu keterlibatan kita dengan Dunia Islam ini, menjadi sangat penting, termasuk ikut menyelesaikan konflik Somalia-Somaliland,, karena wilayah itu bagian dari distribusi, ” katanya.

Keterlibatan Indonesia dalam Badan Perdamaian Gaza yang digagas Presiden AS Donald Trump, menurut dia, dalam rangka mencegah konflik Palestina-Israel yang bisa memicu ekskalasi perang dunia.

“Perang 12 hari antara Iran-Israel kemarin, kita sudah kuatir bisa memicu perang yang lebih besar, karena dua-duanya punya nuklir. Iran kita ketahui dekat Pakistan dan Rusia yang juga punya nuklir,” katanya.

Selain ingin cepat memerdekakan Palestina dan menghentikan genosida, keikutsertaan Indonesia dalam badan tersebut, juga untuk memaksa Israel agar taat aturan dan tidak meningkatkan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

“Situasi yang tidak terkendali di Palestina dan Timur Tengah bisa menjadi faktor pemicu perang dunia yang jauh lebih signifikan daripada perang ydi Ukraina,” katanya.

Sehingga keterlibatan Indonesia dalam badan tersebut, menjadi kebijakan yang strategis, yakni untuk mengubah zona konflik, menjadi zona pembangunan.

“Saya tekankan di sini bahwa ini akan menjadi tahun yang berat bagi kita semuanya. Tapi kita di Partai Gelora ini harus mempunyai menyadari dan kita memiliki narasi yang kuat, bahwa tidak semua tantangan itu adalah tantangan. Bisa jadi itu adalah peluang, dan tidak semua peluang itu adalah peluang, bisa jadi itu adalah jebakan. Sehingga kita harus menyiapkan diri menghadapi goncangan-goncangan yang akan datang,” pungkas Anis Matta.

Rapat Koordinasi DPP-DPW Partai Gelora ini, selain dihadiri Anis Matta juga dihadiri Wakil Ketua Umum. Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, serta fungsionaris DPP dan pimpinan DPW Partai Gelora se-Indonesia.

Menuju Indonesia Emas 2045, Menghapus Sekat antara Korporasi, Akademisi dan Kompetensi

Partaigelora.id-Di tengah hiruk-pikuk transformasi digital dan volatilitas ekonomi global, Indonesia dihadapkan pada satu pertanyaan fundamental:

Sejauh mana kualitas modal manusia kita mampu menopang ambisi menjadi kekuatan ekonomi dunia pada 2045?

Sebagai praktisi yang bergelut di dunia Human Capital, saya melihat adanya tantangan yang belum sepenuhnya tuntas, yakni sinkronisasi antara dunia pendidikan, standar kompetensi, dan kebutuhan nyata industri.Paradoks Kompetensi dan Budaya Kerja Seringkali terjadi paradoks di mana angka pengangguran terdidik masih ada, sementara di sisi lain, korporasi besar kesulitan mendapatkan talenta yang “siap pakai”.

Pengalaman kami baru-baru ini saat memberikan pelatihan untuk PT Jasa Marga (Persero) Tbk. menunjukkan bahwa perusahaan sekelas BUMN pun terus berinvestasi besar pada re-skilling.

Hal ini membuktikan bahwa ijazah saja tidak lagi cukup; industri membutuhkan individu yang memiliki fleksibilitas kognitif dan ketajaman eksekusi.Namun, kompetensi teknis hanyalah satu sisi mata uang.

Dalam industri dengan risiko tinggi seperti penerbangan, kami di HR Academy berkolaborasi dengan Lion Group untuk memperkuat Budaya Kerja (People Culture) yang diintegrasikan dengan aspek K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).

Kami menekankan bahwa budaya kerja bukan sekadar slogan, melainkan perilaku kolektif yang memastikan keselamatan nyawa dan keberlangsungan operasional. Budaya kerja yang kuat adalah benteng pertahanan terakhir sebuah organisasi dalam menghadapi krisis.

Pilar Nilai “COMPETENT” dan Solusi Custom bagi Industri Pengembangan SDM di HR Academy harus berpijak pada pilar nilai COMPETENT yang kami junjung tinggi: Community, People, Impact, Excellence, Inclusion, dan Engagement.

Nilai-nilai ini bukan sekadar filosofi, melainkan kompas dalam setiap program unggulan kami, termasuk Corporate In-House Training.

Melalui nilai-nilai ini, kami memberikan layanan secara Custom untuk memastikan setiap solusi yang diberikan benar-benar selaras dengan kebutuhan unik dan spesifik organisasi, baik di sektor infrastruktur, transportasi, hingga jasa keuangan.

Untuk memastikan nilai-nilai ini dapat diakses secara inklusif oleh setiap praktisi, kami menyediakan fleksibilitas metode pembelajaran melalui berbagai jalur: Kelas Online, Kelas Offline, Kelas Malam, hingga Kelas Weekend maupun Kelas Reguler.

Kami percaya bahwa proses belajar tidak boleh terhenti oleh sekat waktu kerja. Kami juga menghadirkan sertifikasi berjenjang yang menjadi standar baru bagi profesionalitas HR: Certified Human Capital Officer (CHCO):

Untuk level Staff.Certified Human Resources Specialist (CHRS): Standar kompetensi level Supervisor.Certified Human Resources Assistant Manager (CHRAM):

Kompetensi strategis level Assistant Manager.Certified Human Resources Profesional (CHRP):

Kompetensi strategis level ManagerCertified Human Capital General Manager (CHCGM): Tata kelola tingkat tinggi untuk level General Manager.

Dekonstruksi Silo dan Ekspansi Daerah Kolaborasi kami bersama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merupakan upaya dekonstruksi silo antara teori kampus dan praktik lapangan.

Kita perlu memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya lulus sebagai penonton, melainkan sebagai pemain yang memiliki pola pikir budaya kerja profesional.

Jembatan ini harus dibangun lebih luas, itulah alasan strategis di balik peresmian HR Academy Marketing Office di Surakarta di Bulan Januari tanggal 16, 2026.

Kami ingin memastikan bahwa standar kompetensi nasional tidak hanya terpusat di ibu kota, tetapi menyentuh talenta-talenta di daerah agar pertumbuhan ekonomi menjadi lebih merata.

Impact Bagi Masa Depan: Indonesia Harus Berani Berinvestasi pada Manusia Ke depan, Indonesia harus mengambil langkah berani untuk menempatkan pembangunan SDM di atas segala-galanya.

Tantangan middle-income trap hanya bisa dipatahkan jika kita memiliki angkatan kerja yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan budaya kerja yang unggul.

Dampak yang diharapkan bukan sekadar angka produktivitas, melainkan kedaulatan talenta lokal di tengah gempuran tenaga kerja asing di era globalisasi.

Kita memerlukan orkestrasi yang apik antara kebijakan pemerintah, kurikulum pendidikan, dan strategi pengembangan SDM di korporasi.

Jika ketiga pilar ini bergerak serentak dengan nilai-nilai Excellence dan Impact, maka Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar utopia, melainkan sebuah kepastian sejarah.

Langkah kami menggandeng korporasi besar seperti Jasa Marga dan Lion Group, serta institusi pendidikan seperti UMS, adalah pesan kuat bagi seluruh pemangku kepentingan: sudah saatnya kita berhenti berjalan sendiri-sendiri.

Investasi pada manusia, penguatan budaya kerja, dan pencapaian standar kompetensi yang customized adalah investasi dengan return tertinggi bagi bangsa.

Masa depan Indonesia tidak terletak pada kekayaan alam yang terkandung di buminya, melainkan pada kompetensi dan budaya unggul manusia yang mengelolanya.

Coach Wulan (Sri Wulandari) EPC,ACC, S.Ip., MBA)

Ketua Bidang UMKM & Wirausaha DPP Partai Gelora/Founder dan CEO HR Academy Indonesia

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X