Category: Gelora Terkini

Partai Gelora: Demokrasi Adalah Kesepakatan Berbangsa yang Wajib Dijaga Umat Islam

Partaigelora.id–Ketua Divisi Kajian Pemikiran Politik Islam DPP Partai Gelora, Abdul Rochim, menegaskan bahwa sistem demokrasi yang dianut Indonesia tidak bertentangan dengan prinsip agama. Sebaliknya, demokrasi merupakan bentuk kesepakatan kolektif (uqud) berbangsa yang wajib dipatuhi dan dijaga oleh setiap Muslim.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Keislaman bertajuk ‘Islam, Demokrasi, dan Kunci Kejayaan Masa Depan Indonesia’ pada  Jumat (28/8/2026) malam.

Dalam pemaparannya, Abdul Rochim menyoroti pentingnya membedakan antara Islam sebagai wahyu yang mutlak, dan politik Islam sebagai realitas sejarah.

Ia menjelaskan bahwa sejarah politik umat Islam—dari masa Khulafaur Rasyidin hingga era kekhalifahan setelahnya—selalu diwarnai oleh dinamika dan interaksi antara nilai agama dengan realitas zaman.

“Kalau kita bicara tentang politik Islam, itu adalah pertemuan antara wahyu sebagai petunjuk dengan ruang realitas beserta segala dinamikanya. Islam sebagai agama sangat terbuka terhadap berbagai macam sistem politik, selama tujuannya tercapai,” jelas Rochim.

Mengutip ulama klasik Ibnu Qayyim terkait konsep siyasah syar’iyyah (politik Islam), Rochim menegaskan bahwa sistem tata kelola pemerintahan yang sah dalam pandangan agama adalah kebijakan yang mendekatkan masyarakat pada kemaslahatan (kebaikan) dan menjauhkan dari kemafsadatan (kerusakan).

Dalam konteks keindonesiaan, sistem demokrasi dinilai paling relevan untuk mewujudkan kemaslahatan tersebut.

Sebab, dmokrasi bukanlah agama, melainkan akumulasi pengalaman umat manusia dalam mengelola kekuasaan dan interaksi sosial.

“Kita dalam konteks bernegara di Indonesia bersepakat menjadikan demokrasi sebagai sistem. Kesepakatan ini adalah kontrak di antara warga negara. Sebagai seorang Muslim, kita diperintahkan oleh agama untuk berkomitmen terhadap kesepakatan yang sudah dibuat, sebagaimana firman Allah: Aufu bil ‘uqud (Penuhilah janji-janji/kesepakatan),” tegasnya.

Lebih lanjut, Rochim memaparkan bahwa demokrasi memberikan ruang yang setara bagi seluruh pemeluk agama di Indonesia untuk menjalankan keyakinannya dengan maksimal.

Karena demokrasi melindungi hak individu, kebebasan berekspresi, serta berperan penting dalam mencegah konflik antar-suku maupun antar-agama.

Baca juga:

Melalui sistem demokrasi yang disepakati bersama ini, setiap warga negara, termasuk umat Islam, diberikan ruang konstitusional untuk memperjuangkan nilai-nilai fundamental keagamaan seperti keadilan, kesetaraan, dan pemenuhan hak-hak masyarakat luas.

Sehingga ia mengingatkan pentingnya mengedepankan kemaslahatan bersama di atas idealisme kelompok atau mazhab, menjadi kunci kejayaan masa depan Indonesia.  

Rochim menjelaskan bahwa sistem demokrasi memberikan perlindungan konstitusional terhadap lima pokok kemaslahatan dasar manusia (maqashid syariah).

Yaitu itu perlindungan terhadap agama (hifzh ad-din), jiwa (hifzh an-nafs), akal (hifzh al-‘aql), kehormatan (hifzh al-‘irdh), dan harta benda (hifzh al-mal).

Menurutnya, dalam masyarakat plural seperti Indonesia, setiap kelompok keagamaan maupun mazhab tentu memiliki idealisme masing-masing.

Namun, jika setiap pihak memaksakan idealismenya untuk mendominasi tanpa memikirkan ruang realitas, hal itu justru memicu konflik horizontal yang dapat merusak kemaslahatan yang jauh lebih besar.

“Realitas itu sering kali tidak ideal. Untuk mencapai kemaslahatan bersama, setiap pihak perlu mendiskon sebagian idealismenya. Di sinilah pentingnya sinergi dan kompromi agar kita tidak mengorbankan maslahat yang lebih besar demi imajinasi idealisme yang dipaksakan,” ujar Rochim.

Ia mencontohkan berbagai konflik di kawasan Middle East  (Timur Tengah) di mana pemaksaan kehendak antar-mazhab justru menghancurkan stabilitas negara serta merenggut keamanan, pendidikan, dan hak-hak dasar warga.

Pada dasarnya, kata Roochim, Islam memiliki nilai- nilai universal sangat adaptif terhadap perkembangan tatanan global maupun sistem tata kelola baru.

Namun, ia menekankan bahwa urusan politik dan tata kelola bernegara masuk dalam kategori adiyat atau muamalah yang hukum asalnya berpatokan pada pencapaian substansi (iltifat ilal ma’ani).

“Islam tidak membatasi bentuk sistem politik secara kaku. Teks syariat itu terbatas (mutanahiyah), sedangkan realitas dinamika manusia tidak pernah terbatas (ghair mutanahiyah). Apapun sistem politik atau tatanan global baru yang ditawarkan kelak, selama ia membawa kemaslahatan yang lebih besar, menjamin kesetaraan tanpa memandang suku dan ras, serta melindungi hak-hak dasar manusia, maka Islam sangat terbuka (ahlan wa sahlan),” ujar Rochim.

Rochim menjelaskan bahwa politik pada hakikatnya adalah sarana mulia untuk mengoreksi kezaliman dan mewujudkan kemaslahatan publik, sebagaimana yang dicontohkan dalam rekam jejak kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

“Jika politik itu kotor, tidak mungkin Nabi Muhammad SAW melibatkan diri secara langsung dalam aktivitas politik, diplomasi, dan pengelolaan negara. Yang bermasalah atau kotor itu adalah perilaku oknum manusianya, bukan sistem atau aktivitas politiknya,” tegasnya.

Ia menggambarkan bahwa dalam mengambil keputusan politik, seorang pemimpin kerap berada pada posisi dilematis yang mewajibkannya mengorbankan satu hal kecil demi menyelamatkan hal yang jauh lebih besar—layaknya tindakan medis amputasi untuk menyelamatkan nyawa pasien.

Sementara pngamat yang hanya melihat dari satu sudut pandang kerap menilai tindakan tersebut kejam, tanpa memahami gambaran holistik kemaslahatan yang sedang diperjuangkan.

Lebih jauh, ia mengajak kader dan simpatisan untuk mampu membedakan antara hal yang bersifat muqaddas (suci dan fundamental) dengan hal yang bersifat muqaddar (hasil pemikiran manusia yang patut dihormati).

Menurutnya, nilai-nilai dasar seperti keadilan, pemenuhan hak, dan penghapusan kezaliman adalah sesuatu yang muqaddas.

Sementara itu, gagasan, format sistem pemerintahan, maupun strategi politik merupakan muqaddar yang bisa dikritisi, disaring, disesuaikan, atau dikembangkan (developed) sesuai kebutuhan zaman.

Rochim mengimbau pengurus dan simpatisan Partai Gelora agar senantiasa mendudukkan perbedaan pandangan politik secara bijak.

Dalam konteks kehidupan berdemokrasi, perbedaan keyakinan atau pandangan harus dipisahkan dari wilayah sikap.

“Pikiran dan keyakinan adalah hak masing-masing yang tidak bisa dipaksakan. Namun dalam wilayah sikap, Islam mengajarkan kita untuk wajib berlaku adil (‘adl) dan berbuat baik (ihsan) kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang berbeda pandangan politik. Dengan kedewasaan bersikap dan keterbukaan gagasan inilah, kita dapat bersama-sama menghadirkan tata kelola bangsa yang lebih inklusif dan berkemajuan,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Ketua Divisi Kajian Pemikiran Politik Islam DPP Partai Gelora ini menyampaikan seruan terbuka kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak lagi bersikap apatis atau sekadar ‘mengutuk kegelapan’.

Ia mengajak masyarakat menyalakan lilin perubahan dengan mengambil bagian secara konstruktif dalam perjuangan politik nasional demi membangun masa depan Indonesia yang lebih kokoh dan berkeadilan.

Sentil Pengendalian Karhutla, Partai Gelora: Tak Perlu Menhut Kalau Cuma Urus Pemadaman

Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menyampaikan kritik pedas terhadap kinerja Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni yang dinilai tidak paham dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan.

Partai Gelora menilai Menteri Kehutanan lamban dalam penanganan dini karhutla, bahkan Menhut terkesan tidak mengetahui bagaimana cara mencegah terjadinya karhutla agar tidak melebar kemana-mana, seperti mencegah terjadinya banjir bandang di Pulau Sumatera beberapa waktu lalu.

Sebab, musim kemarau sudah dimulai pada bulan April dan puncaknya pada Agustus 2026, dimana Indonesia mengalami fenomena El-Nino Godzila, cuaca sangat ekstrem, sehingga mudah sekali untuk melihat titik apinya ada di mana saja.

Sehingga mitigasi pencegahan karhutla sejatinya tidak membutuhkan skema yang rumit, karena sudah diketahui, apalagi saat ini sudah didukung teknologi canggih dan satelit yang bisa mendeteksi titik-titik api atau hospot dimana saja.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, luas lahan terbakar sudah mencapai 38.310,89 hektar sejak awal tahun ini hingga Juni 2026.

Kobaran api ini terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, hingga Riau.

“Kalau umpamanya sesudah kebakaran, ya itu cuma perlu pemadam kebakaran, tidak perlu seorang Menteri Kehutanan,” sindir Rully Syumanda, Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP Partai Gelora dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2028).

Hal itu disampaikan Rully Syumanda dalam Gelora Talks bertajuk ‘ Siapa yang Harus Bertanggung-jawab Atas Kahutla? Dibakar, Terbakar atau Dibakar? yang tayang dikanal YouTube Gelora TV pada Kamis (27/8/2026) malam.

Dalam diskusi yang dipandu Ketua Koordinator Bidang Kebijakan Publik Sarah Handayani, Rully mengatakan, sebagai Menhut, Raja Juli Antoni, seharusnya bisa merespon cepat, karena titik-titik apinya sudah muncul dan sudah diketahui di mana saja melalui satelit.

Bukan sebaliknya, menunggu titik-titik api tersebut semakin membesar dan cakupan wilayah hutan yang terbakar semakin meluas, hingga menimbulkan dampak masif terhadap kesehatan, lingkungan, dan ekonomi, serta protes dari negera tetangga.

Rully menyesalkan sikap Menhut yang terkesan menunggu dan baru bertindak setelah ada arahan dan perintah dari Presiden Prabowo Subianto yang turun langsung mengatasi bencana karhutla tersebut.

Menurutnya, siklus tahunan karhutla, bahkan juga banjir sebenarnya sudah memiliki pola yang terprediksi, terutama saat memasuki fase El Nino.

Baca juga:

Rully menilai teknologi untuk mendeteksi ancaman karhutla—seperti penginderaan Satelit NOAA—sudah tersedia sejak puluhan tahun lalu.

Menhut seharusnya bisa memanfaatkan data penginderaan jauh secara real-time untuk melakukan tindakan pencegahan dini, ketimbang menunggu bencana membesar.

“Teknologinya sudah tersedia sejak tahun 1982. Harusnya sekarang jauh lebih canggih. Gampang sekali melihat titik api ada di mana, hari ini ada satu, besok tiga, dikonsesi siapa. Seharusnya menteri langsung panggil dan beri teguran keras pemilik konsesinya saat itu juga,” tegasnya.

Selain menyoroti lemahnya respon cepat, ia juga mengkritik motivasi di balik pembiaran titik api yang kerap dilakukan demi efisiensi biaya pembukaan lahan (land clearing) berbiaya murah.

Ia menilai motivasi utama di balik tindakan ini adalah efisiensi biaya pembukaan lahan oleh pemegang izin konsesi, tanpa memedulikan dampak kerugian sosial dan ekonomi masyarakat luas.

“Dampak dari pembiaran tersebut terbukti merugi hingga ribuan triliun rupiah dan merusak aktivitas ekonomi masyarakat luas. Orang tidak bisa bekerja, warung tutup, penerbangan terganggu, hingga negara tetangga menghujat kita. Bank Dunia bahkan mencatat kerugian Indonesia akibat karhutla pada 2015 saja mencapai Rp221 triliun,” ujarnya.

Mantan aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) ini menggarisbawahi peran penting masyarakat dalam mengawal proses hukum terhadap para pelanggar agar penanganan isu lingkungan tetap konsisten dan tidak meredup saat musim kemarau berakhir.

“Pak Prabowo itu kan sebetulnya bagus dalam masalah penegakan hukumnya. Ini momen bagi beliau untuk untuk membuktikan dan memberikan denda sebesar-besarnya kepada perusahaan konsesi pembakar hutan dan lahan,” katanya.

Presiden Prabowo perlu meniru cara Malaysia dalam pengelolaan pemanfaatan hutan untuk konsensi dengan menerapkan sistem kawasan. Dimana perusahaan harus bertanggung jawab atas konsensi yang telah diberikan.

“Nah ketika terjadi kebakaran, maka pemilik konsensi yang harus bertanggungjawab. Mau dia yang bakar atau orang lain, masa bodoh yang harus bertanggungjawab ya perusahaan yang mendapat konsesi. Jadi perusahaan yang betul-betul harus menjaga wilayah konsesinya,” kata Rully.

Karena melihat penegakan hukum di Indonesia lemah, kata Rully, kemudian banyak perusahaan Malaysia dan Singapura yang berbondong-bondong ke Indonesia pada 2007-2008 mencari lahan konsesi antara lain untuk perkebunan sawit dan lain-lain.

“Dan banyak sekali perusahaan-perusahaan itu pada akhirnya melakukan pembakaran hutan di Indonesia. Kita nggak bisa menyebut satu persatu, kalau saya sebutkan satu persatu bisa berderet sampai 100 panjangnya,” ungkap Rully.

Karena itu, Rully mendorong agar pemerintah membebankan seluruh biaya operasional pemadaman karhutla secara langsung kepada para pemegang izin konsesi yang terbukti lalai, memanfaatkan bukti ilmiah lintasan data satelit agar tidak ada celah bagi pelaku untuk menghindar.

“Artinya seluruh effort (upaya) yang dilakukan oleh pemerintah pada saat ini untuk melakukan penagihan dalam melakukan pemadaman hutan kepada para pemilik konsesi. Tagih saja kepada mereka,” tegasnya.

Lebih lanjut, Rully menambahkan, pentingnya mengubah paradigma dalam memandang kawasan hutan saat ini.

Dimana masyarakat dan pemangku kepentingan harus melihat hutan tidak sekadar sebagai objek komoditas kayu, melainkan kawasan bernilai ekologis yang memberikan manfaat berkelanjutan tanpa harus ditebang.

“Hutan tidak boleh lagi ditempatkan sekadar sebagai objek komoditas kayu, melainkan harus memberikan nilai manfaat nyata bagi masyarakat sekitar tanpa harus menebangnya,” pungkas Rully.

Wamenlu Anis Matta: OKI Harus Menuntut Israel Atas Kejahatan Kemanusiaan dan Terorisme

Partaigelora.id-Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Muhammad Anis Matta, mewakili Pemerintah Indonesia (RI) dalam Konferensi Tingkat Menteri (KTM) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah, Arab Saudi, Kamis (27/8/2026), mendesak agar aksi kekerasan para pemukim ilegal Israel di wilayah Palestina dinyatakan tindakan terorisme.

Anis Matta mengungkapkan, saat perhatian dunia teralihkan oleh perang regional di jantung Dunia Islam, yaitu perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sejak Februari 2026, Israel memanfaatkan hal itu dengan lebih banyak melakukan kejahatan kemanusiaan dan tindakan terorisme di banyak negara, termasuk di Palestina.

“Baik dengan membunuh lebih banyak saudara kita di Palestina maupun saudara kita di Lebanon, Suriah, dan Iran; melanggar kesucian Masjid Al Aqsa; dan atau memperluas permukiman ilegal dan merebut lebih banyak tanah Palestina,” sebut Anis Matta dalam pernyataannya yang disampaikan dalam sesi konferensi, Kamis.

Karenanya, lanjut Anis Matta, dalam pernyataannya, OKI harus menuntut akuntabilitas Israel atas segala kejahatan kemanusiaan dan tindakan terorisme yang dilakukannya itu.

“Organisasi ini harus terus bekerja dengan segala kemampuan dan mekanisme yang dimiliki untuk menuntut akuntabilitas Israel atas kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan, serta mengategorikan tindakan kekerasan para pemukim ilegal sebagai tindakan terorisme,” ungkap Anis Matta.

KTM Luar Biasa ke-23 OKI digelar untuk memilih Sekretaris Jenderal OKI serta merespons berbagai perkembangan terkini di dunia Islam, termasuk situasi di Palestina serta dinamika geopolitik yang berlarut dan meluas dari perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pertemuan ini, negara-negara anggota OKI sepakat memilih Ismail Ould Cheikh Ahmed dari Mauritania, sebagai Sekretaris Jenderal OKI untuk periode 2026-2031.

Sebelumnya, pada KTM Luar Biasa ke-22 OKI pada Januari 2026, negara-negara anggota OKI sepakat mengecam upaya pembentukan negara Somaliland dengan menyebutnya sebagai upaya memecah-belah kedaulatan Somalia yang adalah negara anggota OKI dan memperkuat dukungan terhadap eksistensi negara Israel.

Baca juga:

Anis Matta menyatakan, OKI tidak akan dapat membangun wibawanya maupun alasan keberadaannya hanya berdasarkan pernyataan dan kecaman, tetapi juga harus melalui tindakan nyata dan upaya berkelanjutan di lapangan.

“Hanya tindakan nyata yang menunjukkan ketulusan niat dan arah yang akan dapat menguatkan OKI,” tegas Anis Matta.

Indonesia merupakan salah satu negara pendiri OKI dan aktif memperjuangkan kemerdekaan Palestina yang saat ini masih berada dalam penjajahan Israel. Perjuangan Indonesia ini sejalan dengan UUD 1945, yang menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Dalam sejumlah kesempatan, Anis Matta juga menyebut bahwa mendukung perjuangan kemerdekaan Palesstina adalah kewajiban agama dan meluas lagi sebagai tanggung jawab kemanusiaan.

Baca juga:

Bertemunya Dua Peringatan Maulid dan Kemerdekaan RI ke-81 pada Agustus 2026 Merupakan Momentum Istimewa

Partaigelora.id-Ketua Bidang Syiar & Dakwah DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, KH. Muhith M. Ishaq, Lc, M.A mengatakan,  bertemunya dua kebahagiaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-81 pada bulan Agustus 2026 ini merupakan momentum istimewa.

“Baik Maulid maupun Kemerdekaan adalah suasana bahagia. Kedua peristiwa ini menyatukan dua suasana kebahagiaan dan keceriaan yang patut disyukuri oleh seluruh bangsa Indonesia dan kaum Musliminm,”  kata KH. Muhith M. Ishaq, Lc, M.A.

Hal itu disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan  bertajuk  ‘Refleksi Maulid Nabi & Makna Kemerdekaan’ yang digelar pada Selasa (25/8/2026) malam.

Menurut KH. Muhith, kemerdekaan adalah rahmat berharga dari Allah SWT yang memungkinkan terlaksananya berbagai amal saleh dan kebaikan.

“Nikmat kemerdekaan harus kita syukuri sebagai rahmat yang sangat berharga. Tanpa kemerdekaan, ada banyak kebaikan dan amal saleh yang tertunda, sebagaimana yang dialami saudara-saudara kita di Palestina dan Gaza hari ini,” ujar KH. Muhith.

Ia mengatakan,  perjuangan memerdekakan suatu bangsa dan umat manusia memiliki nilai yang sangat agung di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW, lanjut dia, membawa misi kemerdekaan hakiki bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin) melalui beberapa tahapan utama.

Pertama tauhid, yakni mmbebaskan manusia dari penyembahan sesama makhluk, berhala, dan hawa nafsu untuk hanya menyembah Al-Khaliq (Allah SWT).

Kedua keadilan sosial & jalan terang, yaitu mengeluarkan umat dari kegelapan (minadz dzulumati ilan nur) menuju keadilan Islam serta kelapangan hidup dunia dan akhirat.

Ketiga edukasi & pembelajaran (masyarakat berpengetahuan), yaitu dimana perubahan dunia diawali dengan narasi dan ilmu pengetahuan (surah Al-Alaq: 1–5), bukan sekadar materi atau sembako.

“Memerdekakan manusia secara hakiki adalah dengan menjadikan mereka masyarakat terdidik (educate society),” katanya.

Baca juga:

Artinya, kemerdekaan hakiki suatu bangsa tidak sekadar diukur dari kebebasan fisik, melainkan dari keberhasilan membangun masyarakat berilmu dan berpengetahuan (educate society) serta kemampuan menjaga kedaulatan negara.

“Perubahan besar peradaban dunia yang dipelopori Rasulullah SAW tidak dimulai dengan kekuatan militer atau pembagian materi semata, melainkan melalui penguatan narasi dan edukasi sebagaimana diwahyukan dalam Surah Al-Alaq. Memanusiakan manusia yang sesungguhnya adalah dengan membuat manusia itu berilmu,” tegasnya.

Karena itu, perjuangan dalam meletakkan nilai-nilai kebaikan membutuhkan kesabaran, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam membina masyarakat Madinah dan Mekkah. Hingga pada mereka terbuka  dan berbondong-bondong menerima Islam.

Sehingga ia meneladani perjalanan dakwah Rasulullah SAW yang mengalami lompatan eksponensial ketika berpindah dari Makkah ke Madinah karena tersedianya kebebasan dan ruang kemerdekaan.

“Artinya setiap perjuangan narasi dan gagasan yang konsisten pada akhirnya akan membuahkan hasil dan memanusiakan manusia secara utuh,” Ketua Bidang Syiar & Dakwah DPP Partai Gelora ini.

KH. Muhith  menegaskan,  bahwa kemerdekaan berpikir dan tradisi ilmu merupakan landasan utama dalam menjaga kedaulatan bangsa serta membebaskan masyarakat dari keterbelakangan.

Ia menjelaskan bahwa Allah SWT membekali setiap manusia dengan perangkat verdas berupa pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran (al-fu’ad) sebagaimana tercantum dalam Surah An-Nahl ayat 78. Potensi inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.

“Setiap manusia dilahirkan tanpa pengetahuan, namun diberikan pendengaran, penglihatan, dan akal agar belajar serta bersyukur. Kemerdekaan yang hakiki adalah saat perangkat cerdas ini digunakan untuk menyerap pengetahuan dan membangun tradisi ilmiah sebelum mengambil keputusan,” ujar KH. Muhith.

Ia mengingatkan bahaya mengambil kebijakan atau tindakan tanpa didasari ilmu pengetahuan (wala takfu ma laisa laka bihi ‘ilm).

Sehingga keputusan yang diambil secara asal-asalan hanya akan membawa ketidakpastian dan kekacauan dalam kehidupan berbangsa.

Sebab, makna kemerdekaan terutama bagi generasi muda adalah menekankan pentingnya ruang kebebasan untuk tumbuh dan berinovasi.

“Anak muda sedang dalam masa pertumbuhan potensi dan semangat. Tanpa ruang kemerdekaan, potensi itu tidak akan tumbuh maksimal—seperti pohon besar yang dipaksa tumbuh di pot kecil. Dakwah dan kemajuan bangsa sangat membutuhkan kebebasan berpendapat, berkumpul, dan berkreasi,” jelasnya.

KH. Muhith mengajak seluruh kader Partai Gelora dan elemen bangsa untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi dan HUT RI ke-81 sebagai momentum menguatkan wawasan kebangsaan serta memperjuangkan kemajuan Indonesia berbasis ilmu pengetahuan.

Ia meminyta  seluruh kader Partai Gelora dan umat Islam untuk tidak berkecil hati dalam memperjuangkan narasi kebaikan dan ilmu pengetahuan bagi kemajuan bangsa.

“Sebagaimana Rasulullah SAW yang membina masyarakat Madinah hingga akhirnya berdampak luas dan diterima secara berbondong-bondong, perjuangan berbasis gagasan dan ilmu akan membuahkan hasil. Mari kita isi kemerdekaan Indonesia dengan mengambil spirit perjuangan Rasulullah SAW untuk membangun bangsa yang berdaulat, beradab, dan berkemajuan,” pungkasnya.

Fahri Hamzah Soroti Pentingnya Seni Mengelola Negara dan Kepemimpinan Lintas Generasi di Era AI

Partaigelora.id-Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah, menekankan bahwa pengelolaan negara di era disrupsi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menuntut pemahaman mendalam tentang statecraft atau seni mengelola negara serta visi kepemimpinan yang berorientasi lintas generasi.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam Kajian Wawasan Kebangsaan bertajuk “Memahami Statecraft: Mengelola Negara di Era AI”  pada Jumat (21/8/2026) malam.

Fahri menjelaskan bahwa statecraft merupakan keahlian komprehensif seorang pemimpin untuk mengorkestrasi seluruh elemen bangsa—mulai dari rakyat, wilayah, hingga struktur kekuasaan dan pemerintahan. Menurutnya, konsep ini erat kaitannya dengan nilai kenegarawanan (statesmanship).

“Politisi hanya berpikir tentang pemilu berikutnya, sementara kalau negarawan berpikir tentang generasi berikutnya,” ujar Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini.

Ia mengingatkan agar para elite dan penyelenggara negara tidak terjebak dalam pragmatisme politik jangka pendek yang sekadar berorientasi pada akumulasi kekuasaan (power), melainkan harus mengedepankan basis ilmu pengetahuan dan gagasan dalam setiap pengambilan keputusan.

Fahri menilai kehadiran AI merupakan peluang besar apabila dikelola oleh kepemimpinan yang berkapasitas intelektual tinggi.

Namun, pemanfaatan AI harus ditujukan secara terarah untuk perbaikan ekonomi, pelayanan kekuasaan yang ramah, dan kesejahteraan publik, serta menjadikan Indonesia sebagai kekuatan global.

“Menghadapi era AI, kemudahan akses teknologi harus diimbangi dengan kapasitas intelektual manusia. AI harus diarahkan untuk mendukung kesejahteraan publik, perbaikan ekonomi, dan tata kelola kekuasaan yang berkeadilan,” katanya.

Karena itu, perlunya arah baru kepemimpinan nasional yang memadukan ilmu pengetahuan dan kekuasaan untuk menjadikan Indonesia sebagai game changer sekaligus kekuatan adidaya (superpower) baru di era kecerdasan buatan.

Fahri menyatakan bahwa dengan modal geografis yang luas, populasi besar, status sebagai negara demokrasi terbesar ketiga, serta populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki modalitas lengkap untuk tampil memimpin di panggung dunia.

Baca juga:

Namun, potensi ini memerlukan penguatan pada sektor teknologi, militer, dan ekonomi, termasuk di dalamnya penguasaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI)

“Indonesia harus menjadi game changer yang terlibat lebih jauh dalam dinamika global. Kita harus bersiap dengan membangun kekuatan teknologi, militer, dan ekonomi ke depan,” tegas Fahri.

Fahri mengajak masyarakat untuk tidak bersikap pesimistis, serta publik tidak perlu khawatir  mengenai ancaman hilangnya lapangan pekerjaan akibat AI.

Menurutnya, manusia adalah ciptaan terbaik (ahsanu taqwim) yang menciptakan teknologi tersebut, sehingga manusia pula yang harus mengendalikannya.

Ia menilai AI justru berpotensi membebaskan manusia dari beban eksploitasi kerja kapitalistik yang berlebihan. Sebab, manusia kerap bekerja terlalu keras mengorbankan waktu, keluarga, dan lingkungan, tapi hasilnya minim

Karena itu, Fahri memprediksi pola kerja manusia ke depan memang akan bergeser, namun hal itu bukan berarti menghilangkan peran manusia seutuhnya.

“Tetapi kita tidak boleh menjadi budak mesin, melainkan mesin yang harus kita pekerjakan untuk kepentingan umat manusia,” katanya.

AI, lanjut dia,  bisa dimanfaatkan untuk menciptakan keadilan, merawat bumi, serta memberi ruang lebih luas bagi manusia untuk berkarya dan memakmurkan kehidupan secara positif.

Ia menekankan kunci utama menghadapi era baru ini adalah peningkatan kapasitas keilmuan secara berkelanjutan agar manusia tetap memegang kendali penuh atas arah teknologi.

Fahri menyoroti pergeseran batas-batas negara tradisional di ruang digital. Dimana  batas teritorial menjadi kabur, karena publik bertransformasi menjadi warga negara global.

Mereka masuk dalam ekosistem platform yang kerap digerakkan oleh algoritma pencipta konflik demi keuntungan pribadi, kelompok atau golongan tertentu yang berbasis pada penyebaran informasi yang keliru atau menyesatkan.

Untuk membentengi bangsa dari polarisasi digital, ia mendorong anak muda Indonesia menguasai keterampilan teknis tingkat tinggi, seperti coding dan perancangan algoritma lokal yang berakar pada nilai komunal, empati, dan gotong royong.

Pada prinsipnya, kata Fahri, Indonesia memilliki fondasi sejarah kuat yang bisa digunakan untuk membentengi bangsa di era disrupsi digital saat ini.

Fondasi sejarah Indonesia dibangun dalam dua generasi, yakni generasi pertama (fondasi narasi) dan generasi kedua (fondasi pembangunan kelembagaan).

Generasi pertama Era Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, Muhammad dan Natsir meletakkan kekuatan narasi, ideologi Pancasila, konstitusi UUD 1945, dan konsolidasi bangsa.

Sedangkan gnerasi kedua melakukan pmbangunan kelembagaan negara dan birokrasi yang teruji tangguh melewati berbagai transisi politik hingga era reformasi dan pemilu demokratis 1999 di era B.J. Habibie.

Kendati begitu, Fahri mengingatkan bahwa kunci keberhasilan negara melintasi disrupsi zaman di era digital ini berada pada perpaduan utuh antara kekuasaan (power) dan kapasitas intelektual (ilmu).

“Kekuasaan tanpa ilmu sangat berbahaya, sedangkan ilmu tanpa kekuasaan menjadi lemah dan tidak berdaya. Masa depan Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang bertindak layaknya philosopher king—memiliki otoritas kekuasaan yang efektif sekaligus kebijaksanaan berbasis ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Menutup paparannya, Fahri menggarisbawahi kriteria kepemimpinan yang relevan menghadapi disrupsi masa depan, yakni integrasi antara kapasitas intelektual dan otoritas kekuasaan—serupa konsep philosopher king.

“Kekuasaan itu hanya ada dua sisi: power dan ilmu. Ke depan, dua hal ini tidak boleh terpisah. Kita tidak ingin orang berkuasa tapi tidak berilmu, atau orang berilmu tapi lemah tanpa kekuasaan. Kekuasaan tanpa ilmu akan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa dan kemanusiaan,” pungkasnya.

Anis Matta Peringatkan Asia Terancam Krisis Energi Akibat Perang Hibrida

Partaigelora.id– Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Muhammad Anis Matta memperingatkan potensi krisis energi dan tekanan ekonomi yang dapat melanda Asia akibat eskalasi perang hibrida global, terutama konflik yang berlangsung di Eropa dan Timur Tengah (Tengah)

Hal itu disampaikan Anis saat memberikan orasi geopolitik dalam Muktamar V Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (21/8/2026).

Menurut Anis, konstelasi geopolitik global telah memasuki fase yang disebutnya sebagai ‘Perang Dunia Ketiga dalam wajah baru’.

antara kekuatan besar tidak lagi berlangsung secara langsung, tetapi melalui perang hibrida yang memanfaatkan instrumen ekonomi, siber, teknologi, hingga blokade geografis.

“Ciri perang hibrida ini adalah menciptakan masalah bagi musuh agar seluruh sumber dayanya habis dan runtuh dengan sendirinya. Dampaknya tidak terbatas pada negara yang bertikai, tetapi meluas secara regional dan global,” ujar Anis.

Salah satu risiko terbesar yang disoroti Anis adalah terganggunya ketahanan energi Asia. Konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz dinilai dapat memengaruhi distribusi minyak dunia.

Anis mengatakan Asia menjadi kawasan yang paling rentan karena merupakan pusat industri dan memiliki populasi besar, sementara kebutuhan energinya masih bergantung pada impor.

“Celakanya, hampir seluruh minyak dari Timur Tengah diekspor ke Asia. Tiongkok mengimpor lebih dari 16 juta barel per hari, dan Indonesia mengimpor sekitar satu juta barel per hari. Jika pasokan dari Teluk terganggu akibat serangan militer atau blokade, Asia adalah kawasan yang paling menderita,” tegasnya.

Menurut Anis, gangguan pasokan minyak dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia melalui peningkatan subsidi energi dan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selain itu, sektor manufaktur juga berisiko terdampak karena bergantung pada pasokan energi dan pasar ekspor.

“Kita mendapatkan masalah yang tidak kita ciptakan, tetapi harus membayar ongkosnya. Krisis ini bersifat sistemik, berlarut, dan akan menempatkan posisi pemerintah di banyak negara semakin sulit jika tidak ada antisipasi sejak dini,” jelas Anis.

Menghadapi ketidakpastian geopolitik tersebut, Anis menekankan pentingnya menjaga stabilitas politik, ekonomi, dan sosial di dalam negeri.

Stabilitas tersebut dinilai dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk menarik arus investasi ketika negara lain menghadapi ketidakpastian.

“Jika kita bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang aman dan tenang di tengah hawa perang global ini, saya percaya modal dan hal-hal baik akan mengalir ke tempat kita,” pungkasnya.

Partai Gelora: Kejujuran adalah Pilar Integritas Politik dan Peradaban, serta Beri Ketenangan Batin

Partaigelora.id- Ketua Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Rofi’ Munawar, menegaskan bahwa kejujuran merupakan pilar utama integritas politik sekaligus fondasi esensial untuk membangun tata kelola bangsa yang bermartabat.

Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) bertema ‘Kejujuran Pilar Integritas Politik’, Selasa (18/8/2026) malam.

Rofi’ menjelaskan, di momentum pascaperingatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-81, bangsa Indonesia membutuhkan perlindungan moral dari ancaman pemimpin yang tidak jujur.

Mengutip penegasan Al-Qur’an (QS. At-Taubah: 119) serta telaah ulama Ibn al-Qayyim, ia memaparkan tiga ciri utama insan yang jujur.

“Yakni tidak pernah mentoleransi pelanggaran janji, enggan bersahabat dengan pendusta, serta senantiasa memelihara kesungguhan (al-jiddiyyah) dalam situasi apapun,” kata Rofi’ Munawar.

Menurut Rofi’, terdapat enam poin penting kejujuran sebagai pilar integritas politik, antara lain daya dorong niat spiritual yang benar;  karakter otentik, bukan sekadar pencitraan;  objektivitas pelaporan lapangan (Anti-ABS);  memandang hakikat politik sebagai amanah; kejujuran berbasis pengetahuan (bukan keluguan); dan keberanian menyelesaikan persoalan besar.

Daya dorong niat spiritual yang benar maksudnya adalah berpolitik berakar pada motif tertinggi, yaitu ibadah kepada Allah SWT (QS. Al-An’am: 162–163).

“Politik yang jujur setara dengan salat yang khusyuk karena keduanya berpijak pada pertanggungjawaban vertikal kepada Sang Pencipta,” katanya.

Adapun karakter otentik, bukan sekadar pencitraan adalah kejujuran harus menjadi watak yang melekat dan berkesinambungan, bukan instrumen kampanye musiman.

“Karakter inilah yang melahirkan komitmen dan loyalitas pejuang politik hingga akhir hayat (QS. Al-Ahzab: 23) demi membawa Indonesia menjadi kekuatan baru dunia,” katanya.

Sedangkan objektivitas pelaporan lapangan (Anti-ABS), adalah kejujuran dalam memaparkan data lapangan sangat krusial untuk menghasilkan evaluasi yang presisi serta alokasi sumber daya yang tepat, sebagaimana ketepatan laporan burung Hud-Hud kepada Nabi Sulaiman.

Baca juga:

“Jadi ada upaya mnolak budaya manipulasi laporan atau Asal Bapak Senang (ABS) merupakan indikator kesehatan mental dan spiritual kepemimpinan,” ujarnya.

Sementara memandang hakikat politik sebagai amanah, dimana kekuasaan adalah kewajiban agama yang besar (min a’zhami wajibatiddin).

Rofi’ mengingatkan bahaya figur Ruwaibidah—orang bodoh yang memegang urusan publik tanpa kapasitas sehingga hanya memperkeruh situasi dan menambah permusuhan.

Selanjutnya, kejujuran berbasis pengetahuan (bukan keluguan), merupakan integritas politik yang menuntut kecerdasan hukum dan etika agar pejabat publik mampu secara tegas menolak apa yang bukan menjadi haknya serta tidak mudah terjebak dalam skema manipulatif.

Terakhir menyelesaikan persoalan besar, yakni kejujuran sejati bermuara pada keberanian mengambil keputusan besar dan menuntaskan persoalan bangsa, karena sandaran utamanya semata-mata adalah pertanggungjawaban kepada Allah SWT.

Rofi’ mencontohkan keberhasilan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dalam tempo singkat berhasil menuntaskan masalah kemakmuran dan ketimpangan sosial berkat kepemimpinan yang berakar pada kejujuran spiritual.

Ketenangan Batin

Dalam kesempatan ini, Ketua Koordinator Pelaksana Harian Partai Gelora Rofi’ Munawar kemudian membedah berbagai realitas praktis dan dilema moral yang kerap dihadapi para pejuang politik di lapangan.

“Ada tiga aspek krusial, yakni pengelolaan keikhlasan di tengah kebutuhan duniawi, mitos kejujuran sebagai ‘bumerang’ karier, serta dimensi ketenangan batin seorang politisi,” ujar Rofi’ Munawar.

Menurut dia, para pejuang politik di lapangan perlu mentransformasikan niat (mukhlisin ke mukhlasin) ketika mulai terjun ke dunia politik.

“Memperoleh nafkah melalui jalur aktivisme maupun kursi legislatif adalah hal yang manusiawi dan sah secara syariat. Namun, kader dituntut menempuh upgrade motif secara berkala—bergerak dari mukhlisin (fase terus membenahi keikhlasan) menuju mukhlasin (tahap kemurnian orientasi demi kemaslahatan umat),” ujarnya.

Sehingga ketika dihadapkan pada fenomena antara legitimasi versus citra palsu misalkan, dapatmenepis anggapan bahwa kejujuran tidak akan mematikan karier.

“Pengakuan atas kekeliruan secara kesatria yang dibarengi perbaikan konkret justru melahirkan legitimasi jangka panjang. Mengutip kaidah Imam Al-Ghazali, akhlak adalah fondasi utama, sementara kekuasaan berfungsi sebagai penjaganya,” jelas  Rofi’ Munawar.

Karena itu, ketika dilihat dalam dimensi ketenangan batin (thuma’ninah), maka integritas berkaitan erat dengan kesehatan jiwa.

“Praktik jujur melahirkan ketenteraman mental di tengah kerasnya dinamika politik, sedangkan manipulasi data dan citra secara konstan memicu kegelisahan serta degradasi moral,” katanya.

Ia mengajak seluruh elemen kader dan masyarakat untuk tidak sekadar mengutuk kegelapan, melainkan aktif menyalakan lilin perubahan demi masa depan Indonesia.

“Yakni perubahan peradaban melalui kerja politik yang bersih, berani, dan berorientasi jangka Panjang,” pungkasnya.

Mahfuz Sidik: Pakta Makkah Berpotensi Jadi Poros Baru Negara Muslim dan Ubah Tatanan Global Baru

Partaigelora.id– Aliansi pertahanan Pakta Makkah yang ditandatangani oleh Saudi Arabia, Pakistan, dan Turki pada Jumat, 7 Agustus 2026 berpotensi besar menjadi kekuatan global baru, serta tatanan geopolitik baru bagi negara-negara muslim.

Apalagi perjanjian ini juga menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

Hal itu disampaijkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang (Gelora) Indonesia, Mahfuz Sidik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik Global bertajuk ‘Kunci Perdamaian Teluk? Menganalisis Dampak Pakta Makkah’ pada Jumat (14/8/2026) malam.

“Aliansi Pakta Makkah sebagai instrumen geopolitik baru yang berpotensi mengubah peta kekuatan kawasan Teluk Persia, Timur Tengah dan sekitarnya,” kata Mahfuz Sidik.

Menurut dia, Pakta Makkah bisa saja membuka pintu bagi anggota baru negara-negara muslim lainnya seperti Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), bahkan Iran.

“Tetapi Saudi Arabia, Turki, dan Pakistan akan sangat berhati-hati serta tidak terburu-buru membuka pintu bagi anggota baru,” katanya.

Analis Dunia Islam dan Timur Tengah (Timteng) ini menilai Saudi Arabia, Turki, dan Pakistan sebagai negara pendiiri aliansi akan memprioritaskan konsolidasi internal, daripada mendahulukan untuk menerima anggota baru.

“Sebab, mereka harus memastikan aliansi tiga negara ini menjadi poros yang solid dan teruji terlebih dahulu sebagai instrumen geopolitik penghenti konflik,” jelas Mahfuz.

Ia menguraikan, bahwa kompetisi peran kawasan yang sempat terjadi antara Saudi Arabia dan UEA dalam satu dekade terakhir, menjadi salah satu dinamika yang membuat proses perluasan anggota bersifat bertahap.

Namun, jika Pakta Makkah ini sukses memfasilitasi penghentian perang dan mengamankan pelayaran maritim di titik krusial (seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb), pintu bagi negara lain seperti Qatar, Mesir, UEA atau bahkan Iran sangat mungkin terbuka di masa depan.

Baca juga:

Aliansi ini, kata lanjut Mahfuz, menggabungkan keunggulan strategis dari tiga kekuatan besar Yakni Saudi Arabia dengan kekuatan finansial dan energi,.

Lalu, Pakistan sebagai satu-satunya negara berpenduduk mayoritas muslim pemilik senjata nuklir, serta Turki yang memiliki kekuatan militer konvensional terbesar kedua di NATO.

Ketua Komisi I DPR 2010-2017 ini menegaskan, lahirnya Pakta Makkah merupakan simbol lahirnya tatanan dunia baru,  serta berakhirnya tatanan dunia lama yang dipimpin  Amerika Serikat (AS) dan kekuatan Barat.

“Pemilihan Makkah sebagai lokasi penandatanganan oleh Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) mengirimkan pesan kuat bahwa pakta ini dirancang sebagai payung keamanan independen bagi negara-negara muslim tanpa ketergantungan pada kekuasaan asing,” tegasnya..

Mahfuz menekankan pentingnya pemerintah Indonesia untuk terus mencermati perkembangan aliansi ini berdasarkan tiga aspek, yakni aspek implikasi, geopolitik dan keamanan, serta ekonomi dan energi.

Ditinjau  dari aspek implikasi, Aliansi Pakta Makkah ini membawa dapat dampak strategis bagi Indonesia, karena Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Sedangkan apabila dilihat dari aspek geopolitik dan keamanan, maka terbukanya peluang kerja sama atau keikutsertaan Indonesia di dalam aliansi ini, jika aliansi tersebut terbukti efektif melindungi kawasan.

Sementara jika dilihat dari aspek ekonomi dan energi, maka stabilitas kawasan Asia Barat dan Asia Selatan sangat penting bagi keberlangsungan pasokan energi dan perdagangan RI , sehingga ini akan langsung memengaruhi kerja sama antar-kawasan.

Amerika Serikat sendiri pada prinsipnya, memberikan sinyal positif dengan memandang aliansi ini sebagai bentuk burden sharing (pembagian beban keamanan), yang sekaligus dapat menjadi exit strategy tanpa kehilangan muka (losing face).

Iran juga merespon Aliansi Pakta Mekkah secara moderat dan terbuka, serta menganggapnya sebagai cikal bakal kerja sama keamanan independen tanpa campur tangan asing seperti Amerika Serikat.

“Pakta Makkah hanya ditolak Israel dan India saja. Israel memandang pakta ini sebagai penghalang ekspansi militer sekaligus ancaman eksistensial, sementara India merasa daya penangkal Pakistan semakin menguat di tengah sengketa perbatasan kedua negara,” katanya.

Terlepas dari hal itu, Mahfuz menilai Pakta Makkah dapat mendorong lahirnya berbagai kesepatakan seperti penghentian seluruh serangan militer AS dan Israel, serta penarikan pasukan dari Selat Hormuz.

Kemudian dapat mendorong pembukaan penuh Selat Hormuz untuk kebebasan navigasi oleh Iran dan Oman.

Terakhir mendorong komitmen berkelanjutan Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, pencabutan sanksi ekonomi atas Iran serta pencairan aset yang dibekukan.

Aliansi pertahanan Pakta Makkah, menurutnya, harus berhasil mendorong terjadinya kesepakatan tersebut, apabila gagal maka potensi eskalasi konflik yang lebih luas dan melibatkan kekuatan global lainnya dikhawatirkan tidak terhindarkan

Sebab, Iran telah menyatakan sikapnya, bersiap melanjutkan blokade Selat Hormuz hingga akhir periode pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai bentuk political leverage untuk menjatuhkan posisi tawar AS.

“Diplomasi Pakta Makkah punya waktu sekitar 75 hari sampai 10 September 2026 atau menjelang Pemilu Sela AS pada November 2026.  Kalau gagal meredakan konflik AS-Iran, kawasan Timur Tengah dikhawatirkan akan memasuki eskalasi baru yang melibatkan kekuatan global yang lebih besar (great powers),” pungkasnya.

Pemimpin Sejati Tidak Dituntut Jadi Sosok Sempurna, Tapi Punya Kesadaran Diri untuk Terus Bertumbuh

Partaigelora.id-Pemimpin sejati tidak dituntut untuk menjadi sosok yang sempurna, melainkan figur yang memiliki kesadaran diri (self-awareness) dan berkomitmen untuk terus bertumbuh. Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi DPP Partai Gelora, Coach Gunawan.

Dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian, Batch 10 — The Integrated Leader: Bukan Sempurna, Tapi Sadar dan Terus Bertumbuh pada Selasa (11/8/2026) malam, Coach Gunawan  menekankan pentingnya kecerdasan kontekstual di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, dinamis, dan penuh ketidakpastian (VUCA dan BANI).

Dalam pemaparannya, Coach Gunawan menjelaskan metafora kepemimpinan ibarat sebuah kapal yang mengarungi samudra. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu membedakan antara ‘lunas’ dan ‘layar’.

“Lunas adalah fondasi dasar kapal yang mewakili nilai, prinsip, dan integritas yang tidak boleh berubah. Sedangkan layar adalah kelincahan kognitif (cognitive flexibility) yang harus dapat disesuaikan mengikuti arah angin agar kapal bisa mencapai tujuan,” ujar Coach Gunawan.

Ia menyoroti empat jebakan psikologis (leadership traps) yang kerap menghambat efektivitas kepemimpinan dan pertumbuhan organisasi.

Hal ini, kata Coach Gunawan, berulang kali ia  sampaikan untuk menjadi pengingat agar tidak masuk perangkap dalam jebakan kepemimpinan.

Pertama adalah jebakan topeng (The Mask Trap). Yakni kecenderungan pemimpin untuk enggan mengakui keterbatasan diri karena takut integritasnya diragukan.

Coach Gunawan mengambil contoh kasus kegagalan startup Theranos di AS sebagai dampak fatal dari kebohongan dan overclaim akibat takut berkata jujur. “Untuk itu saya mengajak para pemimpin untuk tampil otentik dan apa adanya,” ujar dia.

Kedua jebakan menunda (Procrastination Trap). Yakni sikap menahan tindakan demi menunggu kondisi, momentum, atau suasana hati (mood) yang dianggap sempurna.

“Tundalah pekerjaan menunda-nunda. Perbaikan dan evaluasi tidak akan pernah ada jika eksekusi tidak pernah dimulai,” tegasnya.

Ketiga jbakan cermin (Mirror Trap). Yakni ksalahan mengukur kapasitas diri dengan standar ideal orang lain (comparative delusion).

Baca juga:

Hal ini brkaca pada kisah Nabi Daud AS saat berhadapan dengan Jalut, pemimpin diajak untuk tidak berfokus pada kelebihan pihak lain atau kelemahan diri, melainkan memaksimalkan sumber daya yang ada di tangan.

Keempat jebakan merasa selesai (Finish Trap). Yakni skap menutup diri dari saran dan metode baru karena merasa sudah berpengalaman atau pakar.

“Padahal pmimpin hebat seperti atlet dunia Roger Federer (atlet tenis) justru terus memperbarui diri agar tetap relevan dan bertumbuh,” katanya.

Karena itu, Coach Gunawan mengingatkan bahwa dalam kepemimpinan tidak ada istilah stagnan. Berdasarkan hukum The Law of the Lid, sebuah organisasi tidak akan pernah berkembang melebihi pertumbuhan pemimpinnya.

“Pilihan kepemimpinan hanya ada dua: grow or decline (bangkit atau lumpuh). Oleh karena itu, mari melepaskan topeng, fokus pada eksekusi, dan terus menaikkan standar kapasitas diri bersama-sama,” katanya.

Kemimpinan yang Otentik

Dalam kesempatan ini, Wasekjen Bidang Komunikasi Organisasi Partai Gelora Coach Gunawan menegaskan, pentingnya kepemimpinan yang otentik bagi seorang pemimpin.

Sebab, alasan mendasar adalah  seorang pemimpin wajib memiliki kerendahan hati intelektual (epistemic humility) serta keberanian untuk jujur pada keterbatasan diri.

Ia menilai bahwa pemimpin sejati tidak didefinisikan dari ketiadaan cela, melainkan dari keberaniannya untuk terus belajar (never stop to learn) dan menerima kenyataan tanpa dibayangi ego.

Coach Gunawan mengataka, bahwa pelajaran adaptasi dari Roger Federer, kisah legenda tenis dunia di puncak kejayaannnya  berani melakukan perombakan pada teknik pukulan forehand-nya—sebuah langkah berisiko tinggi bagi atlet profesional senior, patut dijadikan contoh sebagai seorang pemimpin sejati

“Saat ditanya mengapa ia merombak pukulan yang justru membawanya meraih belasan gelar juara dunia, Federer menjawab ringkas: ‘Saya ingin bertahan lebih lama menjadi juara, karena para pemain muda mulai mempelajari pola memukul saya,’” ungkap Coach Gunawan.

Menurutnya, hal ini adalah bentuk nyata dari sikap qabilut taghyir (hati yang siap berubah). Federer mengubah metode demi relevansi, tanpa mengubah tujuan utamanya untuk menang.

Lalu, muncul pertanyaan kritis mengenai dampak psikologis, bahwa dirinya sebenarnya menutup-nutupi kelemahan demi citra diri sempurna.

Coach Gunawan membedakan dua bentuk dampak negatif saat emosi dan keterbatasan dipendam: penyakit fisik akibat pikiran (psikosomatik) dan ledakan emosi tak terkontrol (abreaction).

“Menutupi kekurangan hanya menambah beban di pundak. Sebaliknya, saat kita jujur dan terbuka, kita sedang menaikkan social currency (nilai sosial) kita sebagai pemimpin yang otentik,” terangnya.

Ia kemudian mencontohkan pemimpin sejati lainnya seperti keberanian pendiri Alibaba, Jack Ma, yang tak ragu mengakui keterbatasan fisiknya di hadapan publik.

“Sikap tersebut justru mengundang penghormatan dan membebaskan dirinya dari beban citra palsu,” katanya.

Coach Gunawan berpandangan ada tiga kunci untuk penguatan bagi para pemimpin untuk memperkuat kapasitas internal (lead yourself):

Pertama adalah seorang pemimpin harus bisa membedakan antara Epistemic humility (Kerendahan Hati) dengan Rendah Diri  (Epistemic Humility vs Rendah Diri).

“Rendah diri membuat seseorang pasif dan minder (“pendapat saya pasti salah”). Sementara kerendahan hati intelektual membuat pemimpin berani berpendapat sekaligus berani direvisi dan dikritik,” katanya.

Kedua adalah teknik pertanyaan dalam memimpin. Dimana menghindari sikap otoriter dengan membiasakan bertanya daripada memberi perintah baku.

“Pertanyaan seperti “Kapan kira-kira target ini bisa diselesaikan?” akan melahirkan komitmen internal pada tim,” jelasnya.

Ketiga penerimaan diri (Self-Acceptance). Dimana untuk menegaskan, bahwa perbedaan antara menyerah dan menerima (acceptance).

Menyerah berarti menyalahkan keadaan, sedangkan self-acceptance adalah menyadari kenyataan sebagai pijakan untuk mengambil ikhtiar terbaik.

“Dalam kamus seorang leader, tidak ada kata gagal yang ada hanyalah umpan balik (there is no failure, only feedback). Kadang kita menang, kadang kita belajar dan bertumbuh,” tutup Coach Gunawan.

Power Sharing Instrumen Sah Wujudkan Kemaslahatan Umat, Bukan Bagi-bagi Kekuasaan Secara Pragmatis

Partaigelora.id-Konsep pembagian kekuasaan (power sharing) dalam ranah politik, terutama dalam politik modern seperti sekarang kerap dipandang oleh sebagian masyarakat sebagai praktik bagi-bagi kekuasaan yang pragmatis.

Namun, dari sudut pandang pemikiran politik Islam dan Maqasid Syariah (tujuan-tujuan syariat), pembagian peran dan otoritas politik sesungguhnya merupakan instrumen yang sah, transparan, dan esensial demi mewujudkan kemaslahatan umat masyarakat.

Dalam Kajian Pengembangan Wawasan Keislaman dengan tema ‘Memahami Power Sharing & Distribusi Kekuasaan Politik dalam Islam: Perspektif Maqasid Syariah’ pada Jumat (7/8/2026) malam, Ketua Divisi Kajian Pemikiran Poliik Islam DPP Partai Gelora Abdul Rochim mengatakan, bahwa Islam memandang distribusi kekuasaan, melalui perbandingan antara fikih klasik dan realitas tatanan bernegara modern, penegakan hukum, hingga peran strategis ulama.

“Tetapi sekarang ada pergeseran dari konteks klasik ke sistem modern. Dalam konteks klasik, sosok pemimpin adalah tunggal yang memegang seluruh otoritas (eksekutif, hukum, dan militer) dengan syarat kriteria individu yang sangat tinggi (seperti tingkatan mujtahid). Sementara dalam politik modern, kepemimpinan bergerak sebagai kerja tim (teamwork) dan institusi yang terdistribusi ke berbagai lembaga negara dengan batas masa jabatan yang jelas,” kata Abdul Rochim.

Karena itu, ia menegaskan, bahwa menilai politik hari ini hanya dari kacamata klasik dinilai kurang relevan. Sebab, pembagian kekuasaan dalam sistem politik modern adalah keniscayaan manajemen negara demi menjamin efisiensi dan transparansi.

Namun, dalam pemikiran politik Islam, Al-Qur’an dan Hadist tetap menjadi inspirasi power sharing secara eksplisit tidak disebut, tetapi semangat berbagi peran dan otoritas terpancar kuat dalam narasi sejarah Islam.

Seperti prinsip musyawarah, bahwa pengambilan keputusan strategis di dalam Islam, tidak dilakukan secara otoriter, tetapi  melihat pandangan mayoritas.

“Teladan ini ditunjukkan Rasulullah SAW (Nabi Muhammad) saat menerima pandangan mayoritas sahabat terkait lokasi pertempuran dalam Perang Uhud, misalnya,” kata dia.

Lalu, soal meritokasi dan penugasan, Rasullah  SAW kerap mendistribusikan tugas kepemimpinan berdasarkan kapasitas dan kompetensi objektif, bukan karena faktoor senioritas seperti menunjuk Amr bin Ash memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat para sahabat senior.

Baca juga:

Kemudian inspirasi kisah di dalam Al-Qur’an, yakni kisah Nabi Yusuf AS yang diberi wewenang mengelola krisis ekonomi Mesir, serta transisi kepemimpinan pada masa Nabi Daud AS, yang mengisyaratkan bahwa alokasi peran strategis demi kemaslahatan umum adalah praktik yang diakui dalam sejarah kenabian.

Sehingga  power sharing dalam pemikiran Islam merupakan instrumen yang sah, transparan, dan esensial demi mewujudkan kemaslahatan masyarakat.

“Dalam pandangan ulama Maqasid Syariah seperti Syaikh Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur, salah satu tujuan utama dari keberadaan syariat dan tata kelola pemerintahan adalah Intizamu Amril Ummah—terwujudnya keteraturan dan stabilitas urusan masyarakat,” ujar Abdul Rochim.

Ketua Divisi Kajian Pemikiran Poliik Islam DPP Partai Gelora ini berpandangan, bahwa pembagian kekuasan dalam politik modern melalui koalisi atau kerja sama antar-entitas, pembagian peran dan tugas di dalam pemerintahan merupakan konsekuensi logis.

“Pembagian ini bukan bentuk ketamakan, melainkan instrumen legal untuk mengimplementasikan gagasan, mewujudkan keadilan, serta mengelola sumber daya publik secara bersama-sama,” tegasnya.

Hal itu dilakukan apabila pembagian kekuasaan didasari oleh visi perbaikan, nilai integritas, dan kapasitas kepemimpinan.

Sehingga power sharing menjadi mekanisme penting dalam menjaga keseimbangan politik serta memastikan roda tata kelola negara berjalan secara adil dan stabil.

Kendati begitu Abdul Rochim meluruskan bahwa Islam tidak menganut sistem teokrasi absolut yang menganggap keputusan pemimpin sebagai sabda Tuhan. Dimana keputusan politik (siyasah) diajalankan secara rasional dan ijtihadi.

Terkait penyalahgunaan kekuasaan seperti korupsi, Islam menuntut keadilan secara proporsional, bahwa penyimpangan adalah tanggung jawab individu pelaku, bukan alasan membongkar seluruh sistem.

“Masyarakat harus kritis terhadap penyimpangan, namun tetap objektif mengapresiasi capaian positif pemerintah,” pinta Abdul Rochim.

Ia berharap ulama ditempatkan sebagai tulang punggung pembangunan dalam menjaga kerukunan bangsa, sekaligus berperabn sebagai penjaga moralitas masyarakat publik.

“Saya ingin mengakhiri kajian ini dengan imbauan agar tidak menjadikan agama sebagai alat politik pemecah belah. Persatuan dan kerukunan bangsa diibaratkan seperti kaca—jika retak atau pecah, akan sangat sulit dipulihkan kembali,” katanya.

Oleh karena itu, kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan untuk merawat keutuhan berbangsa dan bernegara. Sebab, mengorbankan persatuan bangsa melalui narasi pembelahan keagamaan memiliki risiko yang terlalu mahal.

“Di Indonesia, agama memegang peran sentral sebagai salah satu ikatan sosial terkuat. Ulama dan tokoh agama berfungsi menjaga moralitas publik, mengukuhkan ikatan kemanusiaan, serta merawat harmoni sosial,” pungkasnya.

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X