Partaigelora.id-Ketua Koordinator Pelaksana Harian Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Rofi Munawar, memberikan pemaparan mendalam terkait pengelolaan ego dan nafsu politik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (tazkiyatun nafs) dengan tema ‘Cara Mengelola Ego & Nafsu Politik’ pada Selasa ( 7/7/2026) malam.
Dalam paparannya, Rofi’ mengatakan, nafsu politik pada dasarnya bersifat netral dan alami, karena politik dipandang sebagai bagian integral dari ibadah. Sehingga ikhtiar utamanya bukan mematikan nafsu politik, melainkan mengelolanya agar terarah menuju kemaslahatan.
Ia menegaskan bahwa keberadaan nafsu politik merupakan hal yang alami dan netral, namun membutuhkan landasan spiritual agar tidak terjerumus dalam kesombongan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Menurut Rofi’, menjauhi dunia politik hanya karena takut tidak bisa mengendalikan nafsu adalah langkah yang kurang tepat. Bagi Partai Gelora, aktivitas politik merupakan bagian tak terpisahkan dari pengabdian dan ibadah kepada Allah SWT.
“Nafsu politik itu sebuah keniscayaan. Yang terpenting bukan mematikan nafsu tersebut, melainkan bagaimana mengelolanya agar tetap terarah, memiliki arah dan tujuan yang benar, serta membawa kemaslahatan besar,” ujar Rofii.
Dalam kajian tersebut, Rofii membagikan lima langkah strategis untuk mengelola ego dan nafsu politik bagi para kader dan pejuang politik.
Pertama menjadikan takwa sebagai pijakan operasional, kedua meniatkan politik sebagai upaya perbaikan (islah), ketiga melakukan muhasabah berkelanjutan, keempat memilihara kebersamaan dan sikap egaliter, serta menjaga keheningan hati Nurani.
Menjadikan takwa sebagai pijakan operasional adalah takwa yang berfungsi membingkai nafsu agar tetap berada pada jalur kebaikan dan menjauhi penyimpangan, sekaligus menjadi kunci datangnya pertolongan Allah dalam perjuangan politik.
Sedangkan meniatkan politik sebagai upaya perbaikan (islah) adalah meneladani misi para nabi, setiap jabatan, popularitas, dan capaian politik harus dimaksimalkan untuk memperluas jangkauan kebaikan di tengah masyarakat.
Sementara melakukan muhasabah berkelanjutan bertujuan agar pemimpin politik harus membuka diri terhadap evaluasi dan nasihat, baik saat mengalami kegagalan maupun saat meraih keberhasilan, guna menghindari sifat merasa paling benar.
Lalu, memelihara kebersamaan dan sikap egaliter adalah menjaga hubungan erat dengan seluruh elemen perjuangan dan masyarakat.
Rofi’ mengingatkan bahwa kepemimpinan layaknya anggota tubuh, di mana posisi atas tidak akan bisa berdiri tegak tanpa penopang di bawahnya.
Terakhir, menjaga keheningan hati Nurani dimaksudkan agar mengingat kekuasaan itu memiliki sifat adiktif, hati yang khusyuk menjadi benteng utama agar politisi tidak dikuasai oleh rasa rakus dan ketidakpuasan.
Rofi’ juga menyinggung perihal ambisi politik yang kerap dinilai negatif. Menurutnya, ambisi dan dorongan untuk berkuasa adalah hal yang sah selama ditujukan untuk merealisasikan cita-cita politik yang baik.
Namun, garis batasnya terletak pada ketakwaan dan kontrol diri agar ambisi tersebut tidak melampaui batas (thughyan).
Ketua Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelora ini menilai nafsu politik pada dasarnya mengalami dinamika yang progresivitas.
Karena pertama memiliki sifat dasar progresif: Nafsu politik memiliki daya dorong alami yang terus menuntut peningkatan (ambisi, posisi, kekuasaan). Jika tidak dibingkai nilai agama, sifat progresif ini berubah menjadi destruktif.
Kedua merupakan bentuk manifestasi penyimpangan seperti nafsu yang tidak terkendali mewujud dalam dua ranah utama, yaitu ucaapan berupa pernyataan yang takabur, manipulatif, merendahkan orang lain, atau menyebar narasi rasis/divisif, serta tindakan seperti penyalahgunaan wewenang, penyimpangan kebijakan, korupsi, hingga tindakan otoriter.
Karena itu, agama sebagai rem utama dari ego dan nafsu politik tersebut: Dimana agama melalui mekanisme takwa—yakni kewaspadaan dan kehati-hatian (muraqabah)—menjadi satu-satunya instrumen yang mampu menyentuh akar masalah di dalam hati nurani.
“Tanpa ketakwaan yang aktif, seorang politisi akan kehilangan kepekaan moral (moral compass), sehingga tindakan yang melampaui batas (thughyan) tidak lagi dipersepsikan sebagai sebuah penyimpangan, melainkan pembenaran atas nama kekuasaan,” katanya.
Melalui kajian tazkiyatun nafs ini, Partai Gelora berharap seluruh kadernya dapat terus meningkatkan kapasitas spiritual di tengah dinamika perjuangan politik nasional.
Sehingga setiap langkah politik yang diambil senantiasa berlandaskan nilai-nilai ibadah dan kemanfaatan bagi bangsa.
Sebab ambisi dan keinginan berkuasa adalah hal yang sah sebagai bentuk dorongan determinasi dalam perjuangan. Ambisi berubah menjadi destructive ketika melampaui batas (thughyan).
“Jadi seorang pemimpin dapat mengenali batas tersebut melalui tingkat kepekaan ketakwaan dan nuraninya sendiri, terutama saat menyadari bahwa tindakan atau ucapannya mulai merugikan serta merendahkan orang lain,” pungkas Rofi’


