Partaigelora.id-Program ideologi suatu partai bagi para kader dan fungsionarisnya menjadi hal sangat penting.Sebab, dengan program. adanya ideologi, maka kader dan fungsionaris partai dapat mengetahui tujuan partai tersebut.
“Pendalaman ideologi dalam satu partai bagi para kader dan fungsionarisnya menja penting. Karena orang tidak bisa sekedar ikut dalam semua kendaraan yang tidak paham tujuan dia ke mana,” kata TB Dedi Miing Gumelar, Ketua DPP Koordinator Bidang (Korbid) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia.
Hal itu disampaikan TB Dedi Miing Gumelar di sela-sela Kaderisasi Ideologisasi di Gelora Media Center (GMC), Jakarta pada Sabtu (25/10/2025).
Kaderisasi Ideologi ini diikuti Korbid Komunikasi, Korbid Pengelolaan Pejabat Publik, Korbid Organisasi Sayap, Korbid Keumatan dan Mahkamah Partai.
Menurut Miing, dengan adanya program Ideologi, sehingga kader dan fungsionaris dapat meengetahui tujuan Partai Gelora.
“Kita punya visi ke depan menjadi negara adidaya atau superpower dunia. Karena itu, Indonesia di mata dunia menjadi penting untuk memiliki posisi yang kuat,” ujarnya.
Visi untuk menjadikan Indonesia Superpower baru, kata Miing, bisa diwujudkan apabila diisi oleh orang-orang yang memiliki kapasitas, tidak cukup diisi oleh sosok pengetahuan akademis saja.
“Jadi ini satu yang harus dijalankan dengan misi yang diisi oleh orang-orang yang memiliki kapasitas yang cukup dengan bekal, bukan hanya pegetahuan dalam konteks akademik, tetatpi juga jiwa,” katanya.
“Dan pengisian jiwa inilah dilakukan melalui ideologi kepartaian itu (Program Kaderisasi Ideologi). Saya kira ini, sesuatu yang bagus dan perlu terus dilanjutkan,” sambungnya.
Ketua Koordinator Pelaksana Partai Gelora Rofi’ Munawar mengatakan, kader dan fungsionaris Partai Gelora yang mengikuti Program Ideologisasi akan mendapatkan materi tentang roadpmap menuju Superpower Baru.
“Materi tentang roapmap menuju superpower baru ini penting. Karena inilah kira-kira yang ingin dicapai partai Gelora Indonesia ke depan, ” kata Rofi’.
Partai Gelora, lanjut dia, akan menjadi Indonesia sebagai Superpower dunia apabila diberi kesempatan untuk memimpin negara ini.
“Ketika Partai Gelora memimpin negara dan itu perlu internalisasi di kalangan pengurus dan kadernya terlebih dahulu, sebelum nantinya akan disampaikan ke luar” katanya.
Materi ini diberikan juga dalam rangka membangun komunikaai yang baik antara Partai Gekota dengan seluruh konstituen.
“Sehingga Partai Gelora Indonesia akan menjadi partai yang layak mendapatkan penerimaan publik yang signifikan di Pemilu 2029 nanti,” tegas Rofi’ Munawar.
Ketua Korbid Pengelolaan Pejabat Publik Jadi Mulyadi mengatakan, Program Kaderisasi Ide memberikan pencerahan, serta semangat bagi kader dan fungsionaris.
“Ini acara yang luar biasa memberikan pencerahan semangat baru bagi kita. Acara ini harus terus disosiisasi kepada seluruh kader sampai struktur terkecil. Kita terus semangat membangun Gelora, membangun Indonesia,” kata Hadi Mulyadi.
Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia memperingati hari ulang tahunnya yang ke-6 pada Senin, 28 Oktober 2025.
Dalam momentum ini, Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah, menyampaikan pesan reflektif kepada seluruh pengurus dan kader di seluruh Indonesia untuk terus memperkuat konsolidasi dan semangat kebangsaan.
“Para sahabat temen-temen pengurus dan kader Partai Gelora. Tanpa terasa hari ini tanggal 28 0ktober 2025, partai kita sudah berusia enam tahun,” kata Fahri Hamzah, Selasa (28/10/2025).
Menurut Fahri, selama enam tahun sudah kita meniti perjalanan bersama, memperkuat diri, merapatkan barisan, mematangkan wawasan, menuju kemampuan untuk mengambil amanah kepemimpinan.
Ia menegaskan, meski perjalanan politik Partai Gelora penuh dinamika, semangat solidaritas dan komitmen terhadap cita-cita besar bangsa tidak pernah surut.
“Apapun yang terjadi, enam tahun kita telah membuktikan kita solid dan terus melangkah, naik tangga, turun tangga, menuju cita-cita Indonesia menjadi super power baru, arah baru Indonesia,” ujar Fahri.
Partai Gelora yang didirikan pada 28 Oktober 2019 itu, lanjut Fahri yang juga menjabat Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), lahir dengan semangat menghadirkan arah baru politik Indonesia, yakni memperkuat persatuan nasional dan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan global baru.
“Semoga kita terus bisa berjalan bersama, membawa Partai Gelombang Rakyat Indonesia ke depan,” tutup Fahri Hamzah.
Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menghadiri silaturahmi dan konsolidasi struktur partai se-Jawa Timur (Jatim) di Excotel Design Hotel Surabaya, Jawa Timur, Jumat (24/10/2025) malam.
Anis Matta berpesan kepada semua kader agar dalam berpolitik harus betul-betul diniatkan ibadah.
“Orang yang berpolitik niat ibadah dengan yang tidak, pasti akan ketahuan hasilnya,” kata Anis Matta.
Menurut dia, berpolitik membutuhkan niat yang benar sebagai fondasi. Namun, niat yang benar saja tidak cukup.
Berpolitik juga butuh ideologi. Tanpa ideologi, berpolitik—sekalipun dengan niat yang benar—bisa mentok karena kehilangan arah jalan.
Niat itu, kata Anis Matta, penting, karena hal ini yang membedakan orang yang masuk politik dengan niat ibadah dan orang yang masuk politik bukan dengan niat ibadah.
“Nanti akan merugi, kenapa? Karena tidak semua yang ingin kita perjuangkan atau kita raih bisa kita dapat,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI ini.
Ia menjelaskan, pergerakan politik harus banyak berkorban untuk mendapat apa yang dinginkan.
Namun apa yang diinginkan tersebut, kadang-kadang belum tentu baik untuk diri sendiri dan partai.
Jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, lanjutnya, maka harus sadar bahwa itu belum tentu buruk bagi kita.
Dengan demikian, persoalan-persoalan seperti ini, kalau orang dari awal tidak clear dengan dirinya sendiri, maka akan punya banyak perjalanan politik yang sulit.
“Lalu, apa yang mau kita pikirkan tentang Partai Gelora ini?”
Pertanyaan ini, mengarah pada ideologi, karena ideologilah yang bisa menjawab mengapa kita ada di Gelora.
Karena itu, jika niatnya adalah ibadah, maka sudah benar, dan tahap berikutnya adalah apa yang akan dibuat.
Ketua Umum Partai Gelora ini menegaskan, bahwa Ideologi, penting bagi partai politik. Sebab, semua pikiran manusia dibimbing oleh pikiran-pikirannya dan tidak bisa melakukan sesuatu diluar apa yang dia pikirkan.
Pikiran adalah penciptaan pertama, tindakan adalah penciptaan kedua. Jadi jika mempelajari perilaku orang agar bisa dipahami, maka pelajari cara mereka berfikir.
“Jika kita mempelajari bagaimana cara mereka berfikir tentunya kita memahami kira-kira apa yang dia lakukan, karena mereka pasti dibimbing oleh pikiran-pikirannya,” ujarnya.
Sehingga tidak perlu heran apabila melihat banyak orang cepat mentok dalam dan mati langkah dalam politik, karena pada dasarnya dalam dirinya tidak memiliki ideologi.
“Sebab, hal besar yang akan diperjuangkan itu tidak ada. Jadi yang dimaksud dengan ideologi itu adalah satu kerangka berpikir yang mengatur tata kelola hidup manusia ke depan,” katanya.
Kerangka berpikir dan tata kelola kehidupan ini bukan sekedar agenda-agenda saja, tetapi secara keseluruhannya merupakan suatu perjuangan.
“Supaya ideologi ini kuat maka kita memberikan wawasan-wawasan untuk menguatkan ideologi itu,” pungkasnya.
Ketua DPW Partai Gelora Jawa Timur Misbakhul Munir mengaku bersyukur pelaksanaan konsolidasi stuktur Partai Gelora seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur berjalan sukses.
“Kami bersyukur sekali, pelaksanaannya bisa dihadiri langsung oleh Ketua Umum Pak Anis Matta. Ini jadi satu kesempatan langkah, mengingatkan kembali nilai ideologisasi,” kata Gus Misbah, sapaan akrab Misbakhul Munir.
Partaigelora.id- Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah berharap seluruh kader Partai Gelora dapat memahami konsep ‘Wawasan Kebangsaan’.
Yakni konsep bagaimana melihat secara utuh dengan berbagai komponennya antara lain Pancasila, Undang-undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.
Hal itu disampaikan Fahri Hamzah saat menyampaikan materi tentang Wawasan Kebangsaan kepada fungsionaris Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Jumat (24/10/2025) malam.
“Kita teringat tentang Wawasan Kebangsaan di masa lalu, ada materi wajib di sekolah, namanya Pendidikan Moral Pancasila (PMP), serta untuk pegawai yang mau lulus dan mahasiswa baru ada Penataran P4,” kata Fahri Hamzah.
Kemudian pada era Reformasi, PMP dan Penataran P4 (Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dihapuskan, dan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan.Empat Pilar Kebangsaan itu, adalah Pancasila, UUD 145, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ikan.
“Jadi Wawasan Kebangsaan itu, adalah konsep dalam rangka kita melihat sesuatu yang disebut sebagai bangsa sebagai yang bernama bangsa Indonesia,” ujar Fahri.
Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menilai pilar-pilar kebangsaan secara umum dapat dilihat sebagai bangsa, negara, sistem politik, perekonomian dan sistem sosial budayanya.
“Jadi Wawasan Kebangsaan itu, istilahnya mengenal bangsa Indonesia dalam berbagai aspeknya yang kompleks. Dan kita harus memiliki pemahaman yang kuat dan matang soal ini,” katanya.
Wakil Menteri (Wamen) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI ini mengatakan, untuk memahami Wawasan Kebangsaan diharuskan mengerti mengenai sejarah Bangsa Indonesia.
“Kita harus membaca sejarah Bangsa Indonesia sebelumnya dan melihat masa depannya dengan modal yang kita punya,” katanya.
Sejarah-sejarah tersebut, lanjut Fahri, telah ditulis oleh Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta dalam buku berjudul Gelombang Kesatu Indonesia, Gelombang Kedua Indonesia dan Gelombang Ketiga Indonesia.
“Bacaan tentang sejarah bangsa Indonesia ini penting agar kita tidak mengalami kebingungan di tengah jalan dalam menentukan arah Indonesia ke depan,” katanya.
Sehingga tema tentang sejarah, menurut Fahri, wajib disampaikan kepada seluruh komponen bangsa, termasuk kader Partai Gelora.
“Agar tidak membosankan tema sejarah ini harus disampaika semenarik mungkin dengan berbagai sekuel tentang Bangsa Indonesia, termasuk gangguan-gangguan yang dialaminya,” pungkas Fahri Hamzah.
Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta meluncurkan Fordika, Forum Dedikasi Kemanusiaan di Jakarta, Minggu (19/10/2025).
Menurut Anis Matta, kemampuan memberi itu bukan sekadar soal kapasitas finansial. “Tetapi itu lebih dari kapasitas mental, kapasitas spiritual. Memberi itu adalah ajaran semua agama, karena menyangkut core kemanusiaan kita,” kata Anis Matta.
Karena itu, memberi adalah cara untuk menciptakan kohesi sosial. Selain itu, kohesi adalah rahmat yang paling besar bagi satu masyarakat.
“Kalau kita membangun masyarakat yang suka memberi masyarakat kebajikan, maka efeknya yang pertama dalam perubahan sosial adalah menciptakan kerekatan,” ujarnya.
Belajar memberi, kata Anis Matta, akan menumbuhkan sifat altruisme secara sosial di dalam agama.
Dimana orang yang memberi dalam keadaan kaya dan orang yang memberi dalam keadaan miskin pahalanya beda.
Bahkan apabila dilihat dari jumlah yang diberikannya beda, pahala yang didapat juga tetap beda.
“Yang memberi dalam keadaan miskin itu lebih besar pahalanya daripada yang memberi dalam keadaan kaya.,” katanya.
Memberi dalam keadaan kaya, lanjutnya, ada kelayakan memberi kepada orang lain.
“Tapi kalau orang memberi dalam keadaan miskin, alasannya (kondisinya pun tidak layak untuk memberi), berarti itu menunjukkan sesuatu yang lain,” ujar Anis Matta.
“Apa yng lain itu, kapasitas spiritual, bahwa faktor materi tidak menjadi faktor stress dalam kehidupan kita,” sambungnya.
Anis Matta mengibaratkan, orang miskin yang suka memberi itu seperti memiliki bungker di dalam jiwanya.
“Dia punya bunker di dalam jiwanya, sehingga membuat kita semuanya terus berbahagia, tidak stress karena tekanan material dan tetap bisa memberi dalam keadaan yang paling sulit,” katanya.
Ia menilai orang yang suka memberi akan menciptakan kesehatan mental individu yang baik.
“Jadi satu amal yang diberikan akan menumbuhkan relasi bukan dalam pengertoan finansial, tetapi menumbuhkan sisi kesehatan mental individu,” tandasnya.
“Jadi memberi juga merupakan sarana menciptakan kohesi sosial. Lewat memberi, kita pun membangun kesehatan mental di tingkat individu,” pungkasnya.
Peluncuran Fordika ini dihadiri fungsionaris Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gelora, antara lain Ketua DPP Korbid Penggalangan Triwisaksana, Ketua Korbid Kebijakan Publik Sarah Handayani, serta Ketua DPP Korbid Kebudayaan & Kesenian Deddy Mizwar.
Lalu, Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP Partai Gelora Rully Syumanda, Ketua Bidang Pendidikan Rohmani, serta Ketua Bidang Perempuan Gelora DPP Partai Gelora.
Partaigelora.id-Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfuz Sidik menegaskan, bahwa pemerintah Republik Indonesia (RI) dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo telah mengambil langkah lompatan yang sangat kuat dalam diplomasi politik internasional.
“Yakni terlibat dalam penyelesaian konflik Palestina. Bahkan Trump memuji-muji peran Presiden Prabowo,” kata Mahfuz Sidik dalam Forum Pengembangan Wawasan dengan Tema ‘Memahami Politik Global’, di Jakarta, Jumat (17/10/2025) malam.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto hadir dalam peristiwa bersejarah penyelesaian konflik antara Palestina-Israel, yakni penandatanganan Perjanjian Damai yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Sharm el-Sheikh, Mesir (13/10/2025),
“Sebagai negara muslim terbesar bersama negara Timur Tengah dan Turki, Pak Prabowo memahami betul kepentingan Indonesia dalam geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah,” katanya.
Sehingga Indonesia saat ini memiliki posisi tawar dan mulai bisa mewarnai agenda kesepakatan di dalam politik global.
“Dan bagaimana nantinya Indonesia bisa terus mewarnai agenda kesepakatan di dalam politik global baru, dimana proposal politiknya dapat diakomodasi,” katanya.
Ketua Komisi I DPR 2010-2016 ini optimistis peran Indonesia dalam diplomasi politik internasional akan semakin meningkat dibawah kemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Kenapa tiba-tiba Indonesia sekarang ini mengambil langkah lompatan yang sangat kuat dalam diplomasi politik internasional, karena Pak Prabowo itu realis,” ujarnya.
Mahfuz menilai Presiden Prabowo memiliki kecenderungan menganut ‘Mazhab Realis’ dalam teori global politik, serta upaya kerja sama antar negara, dimana kepentingan kolektif bangsa selalu diutamakan.
“Mazhab Realis itu melihat kehidupan politik dan politik global ini sebagai power game, sebagai permainan kekuasaan. Karena ini permainan kekuasaan, maka setiap negara harus tahu apa kepentingannya dan harus tahu apa kepentingan orang lain,” katanya.
“Lalu, kalau tercapai akan dapat apa kalau enggak tercapai bagaimana cara menyelesaikannya. Inilah yang disebut realis, ‘ imbuhnya.
Negara Palestina
Dalam kesempatan ini, Sekjen Partai Gelora Mahfuz Sidik berharap Presiden Prabowo Subianto bisa terus mendorong terwujudnya negara Palestina merdeka.
Sebab, hal ini merupakan amanat dari konstitusi untuk menghapuskan penjajahan di muka bumi.
Palestina saat ini menjadi satu-satunya bangsa di dunia yang belum merdeka hingga sekarang, dan warganya di Gaza menjadi korban genosida atau pembantaian zionis Israel.
“Kalau kita berbicara tentang proposal perdamaian, maka sesuatu yang menggembirakan dan memberikan jaminan akan masa depan negara Palestina merdeka,” kata Mahfuz.
Kendati begitu, Mahfuz mengingatkan bahwa proposal perdamaian yang digagas Presiden AS Donald Trump tersebut, tidak secara eksplisit menyebutkan tentang negara Palestina Merdeka.
“Dalam 20 poin proposal perjanjian damai, tidak ada klausul yang secara eksplisit menyebutkan Negara Palestina Merdeka. Palestina dianggap hanya sebagai community, bukan state. Sementara Israel dikatakan state,” ujarnya.
Sehingga pemerintah Indonesia harus memastikan, bahwa ujung dari proposal perjanjian damai ini adalah terwujudnya negara Palestina Merdeka.
“Negara Palestina merdeka harus masuk di dalam proses pembicaraan ini, dan tidak berhenti pada masalah rekonstruksi Gaza saja. Tapi PBB harus mengakui negara Palestina Merdeka,” pungkasnya.
Partaigelora.id-Pusat Pengembangan Wawasan DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mulai kegiatan kajian pengembangan wawasan bagi para fungsionaris di Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) se-Indonesia pada Jumat (10/10/2025).
Kegiatan yang digelar setiap Jumat malam ini menghadirkan tema-tema kebangsaan, geopolitik, keislaman dan lain-lain.Pada kajian pertama, Forum Pengembangan Wawasan mengambil tema ‘Islam yang Kita Pahami’, yang disampaikan oleh KH Ahmad Mudzoffar, Lc, MA, Ketua Pusat Kajian Strategis DPP Partai Gelora.
Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelora Rofi’ Munawar saat membuka acara tersebut, mengatakan, kegiatan kajian tersebut akan dilakukan secara rutin setiap pekan.
Kegiatan kajian tersebut, merupakan program dari Pusat Pengembangan Wawasan, yang diketahui KH Musyaffa Ahmad Rahim.
“Kegiatan ini akan kita buat rutin. Insya allah ke depan akan ada kajian wawasan kebangsaan, kajian wawasan geopolitik, begitu seterusnya. Mudah-mudahan diberikan kemudaan untuk melaksanakan ini,” kata Rofi’ Munawar, Jumat (10/10/2025).
Menurut Rofi’, kegiatan ini merupakan salah satu program untuk memperkenalkan Partai Gelora ke masyarakat dan memberikan wawasan kepada para kadernya.
“Ini salah program Partai Gelora untuk memperkenalkan siapa partai ini, di depan para kadernya yang barangkali semuanya belum mengerti atau masyarakat umum,” ujarnya.
Sedangkan KH Ahmad Mudzoffar, Lc, MA dalam paparannya mengatakan, bahwa forum ini menjadi wadah berbagi ilmu, pengalaman, serta menjadi motivasi bersama dalam pengembangan wawasan di Partai Gelora.
“Tema kajian kita adalah tentang wawasan keislaman. Bahwa Islam adalah panduan dalam mengelola kehidupan kita,” kata KH Ahmad Muzhoffar.
Menurut dia, semua manusia yang ber-Tuhan atau tidak akan mati, serta berakhir kehidupannya di dunia dan berlanjut di akhirat pasca kematian.
Sebagai agama ‘rahmatan lil alamin, kata Mudzoffar, Islam telah memberikan Al Qur’an dan Hadist memberikan panduan untuk menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
“Tapi terkandang kita juga masih bingung, versi Islam siapa yang paling benar ketika terjadi perbedaan dalam pemahaman. Bagaimana kita menyikapinya, tentunya kita kembalikan ke Al Qur’an dan Hadist, tidak perlu dipertentangkan, karena ini soal penafsiran pemahaman saja. Sehingga di Islam dikenal ada empat madzab,, yakni Madzab Maliki, Hanafi, Safi’i dan Hambali. Perbedaan akan terus ada,” pungkasnya.
Partaigelora.id-Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mengadakan kegiatan pembekalan Kaderisasi Ideologisasi bagi pengurus dan kader Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jakarta, Minggu (5/10/2025).
Kegiatan tersebut, digelar di Koordinator Bidang (Korbid) Kaderisasi DPP Partai Gelora Indonesia, di Gelora Media Center (GMC), Jakarta.
“Ideologisasi adalah mutlak bagi Partai Gelora Indonesia,” tegas Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik usai memberikan pembekalan ideologisasi, Minggu (5/10/2025).
Menurut Mahfuz, kegiatan Ideologisasi yang digelar Partai Gelora diperuntukkan setiap jenjang struktur kepengurusan baik di DPP, DPW dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD), serta Dwan Pimpinan Cabang (DPC).
“Pada Minggu ini, peserta ideologisasi adalah jajaran pengurus dan kader DPW Partai Gelora Indonesia Jakarta,” ujar Mahfuz.
Sekjen Partai Gelora ini menegaskan, Kaderisasi Ideologisasi tingkat dasar seluruh fungsionaris di semua tingkatan merupakan bagian dari langlah konsolidasi organisasi.
“Partai Gelora menyadari bahwa Ideoligisasi bagian dari Program Kaderisasi yang merupakan satu syarat mutlak bagi terwujudnya satu organisasi yang solid, militan dan punya visi yang kuat,” katanya.
Hal ini tentunya menjadi spirit dan cita-cita perjuangan seluruh kader dan pengurus Partai Gelora. “Kami berharap bahwa acara ini direspon dan dikikuti secara maksimal oleh seluruh pengurus mulai dari pusat, provinsi, kabupaten/kota dan nanti pada akhirnya sampai tingkat kecamatan,” katanya.
Ketua Korbid Kaderisasi DPW Partai Gelora Jakarta Musyawir Dahlan mengatakan, seluruh kader mendapatkan pemahaman baru mengenai cara mencari solusi dalam mengatasi krisisi saat ini.
“Acara ideologisasi pada hari ini, makin membuat kita menjadi kader-kader partai gelora yang mantap dan berkelas. Dengan adanya materi ini kita dapat mencari solusi atas krisis yang dihadapi oleh bangsa. Kita mampu mencari dan menemukan acara jalan untuk kemajuan bangsa kita kedepan,” kata Musyawir Dahlan.
Ketua DPW Partai Gelora Jakarta Hazem Anis Matta menegaskan, kegiatan Ideologisasi ini makin menambah kepercayaan kader Partai Gelora di Jakarta untuk meraih kemenangan di Pemilu 2029.
“Jika Partai Gelora Jakarta, ditanya apakah siap menjawab amanah dan cita-cita yang dititipkan kepada Partai Gelor? Maka jawabannya ada tujuh. Siap, siap, siap, siap, siap, siap dan siap,” tegas Hazem.
Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar ‘Bimtek I Aleg 2025’ bagi 73 Anggota Legislatif (Aleg) DPRD Kabupaten/Kota dan Provinsi dari Partai Gelora di Hotel Grandkemang, Jakarta pada Kamis-Minggu, 2-5 Oktober 2025.
Bimtek dengan tema ‘Membangun Efektivitas Fungsi Aleg dalam Kerja Kedewanan dan Kerja Partai’ ini dibuka oleh Ketua DPP Koordinator Pelaksana Harian Partai Gelora Rofi’ Munawar, Kamis (2/10/2025) malam.
Rofi Munawar menggantikan Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta yang tengah menunaikan tugas negara sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, melakukan kunjungan kerja ke Aljazair, Libya dan Bosnia Herzegovina untuk membuka Bimtek tersebut.
Bimtek I Aleg 2025, selain dihadiri para Aleg juga dihadiri Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah sekaligus Wakil Menteri (Wamen) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Mahfuz Sidik, serta para ketua bidang koordinasi.
Ketua DPP Koordinator Pelaksana Harian Partai Gelora Rofi’ Munawar mengatakan, selama tiga hari pelaksanaan bimbingan teknis (Bimtek), para Aleg akan mendapatkan berbagai materi strategis mengenai peran dan fungsi kedewanan, serta kerja partai.
“Para Aleg ini merupakan juru bicara yang paling sah untuk menyampaikan visi-misi dan narasi Partai Gelora ke masyarakat, karena keberadaan mereka di parlemen,” kata Rofi’ Munawar.
Karena itu, menurut dia, sebagai Aleg dan juru bicara Partai Gelora, maka mereka harus memiliki kompetensi dan integritas yang akan dinilai masyarakat.
“Penilaian masyarakat inilah yang akan menjadikan Partai Gelora ini, layak dipilih atau tidak pada Pemilu 2029,” katanya.
Sehingga Aleg ini ibaratnya, adalah etalase Partai Gelora yang akan menjadikan rakyat tertarik atau tidak untuk memberikan suaranya pada Pemilu 2029 kepada Partai Gelora.
“Ini tentu bukan pekerjaan mudah, karena kita masih disebut sebagai partai 0,8 persen. Tapi kita optimis, bapak/ibu bisa membalikkan 0,8 persen menjadi 8,0 persen, ” ujar Rofi’ Munawar.
Ia mengingatkan, para Aleg Partai Gelora untuk menjaga etika dan prilakunya, sehingga tidak menimbulkan kegaduan dan sorotan negatif di masyarakat.
“Sekarang ada ketidakpercayaan masyarakat terhadap anggota legislatif, khususnya di pusat. Untuk membangkitkan kembali kepercayaan ini, maka kader Partai Gelora di parlemen harus benar-benar bisa menjelaskan fungsinya sebagai anggota legislatif baik dari sisi kapasitas, kompetensi dan integritas, “katanya.
Garda Terdepan
Sementara itu, Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta melalui video yang ditayangkan di sela-sela pembukaan acara Bimtek I Aleg 2025 menyampaikan beberapa arahan.
“Saudara-saudara semuanya adalah buah dari perjuangan Partai Gelora dalam Pemilu 2024, yang pertama kali diikuti oleh partai yang lahir tahun 2019 ini,” kata Anis Matta.
Ia menilai Aleg Partai Gelora di DPRD Kabupaten/Kota dan Provinsi saat ini menjadi garda terdepan perjuangan Partai Gelora.
“Karena itu, saudara-saudara harus memahami falsafah buah. Saudara adalah buah dari perjuangan Partai Gelora, maka saudara harus melahirkan buah-buah baru,” katanya.
Dengan menguasai dan melahirkan buah-buah baru, maka Aleg di DPRD akan menjadi tulang punggung bagi Partai Gelora di Pemilu 2029.
“Insya Allah pada Pemilu kedua pada tahun 2029 nanti, Partai Gelora akan meraih kemenangan dan kesuksesan,” katanya.
Anis Matta mengatakan, pentingnya para Aleg sebagai juru bicara Partai Gelora untuk mengetahui lebih mendalam mengenai ideologi yang tengah diperjuangkan, dimana berawal dari kesadaran sejarah bangsa Indonesia.
“Kita sudah melewati dua gelombang besar sejarah, pertama gelombang menjadi Indonesia dan gelombang kedua adalah gelombang menjadi negara bangsa yang kuat dan modern,” kata Wamenlu RI ini.
Anis Matta mengatakan, dua gelombang sejarah ini sudah berhasil dilewati dan Indonesia akan segera memasuki gelombang ketiga sejarah.
‘Kita akan memasuki gelombang ketiga dalam sejarah Indonesia yaitu menjadi salah satu kekuatan utama dunia,” ujarnya.
Saat ini, lanjut Anis Matta, sudah muncul adanya kesadaran geopolitik yang bisa dijadikan momentum bagi Indonesia untuk berperan lebih besar lagi dalam tatanan global, karena dunia tengah memasuki siklus perubahan dari tatanan lama menuju tatanan baru.
“Usia satu gelombang atau tatanan itu, 80 tahun. Dan kita kemarin menyaksikan Sidang Umum PBB, isu Palestina mendominasi perbincangan. Itu artinya, dunia sedang memasuki siklus perubahan besar,” katanya.
Artinya, dalam waktu dekat akan terjadi perubahan besar dalam tatanan global. Sehingga tatanan lama tidak bisa dipertahankan lagi.
“Kita lihat PBB tidak bisa berbuat apa-apa melihat pembantaian di Palestina dan menimbulkan satu pertanyaan besar? Apakah ini masih bisa dipertahankan,” tandasnya.
“Saya sudah menulis hal ini dalam buku ‘Gelombang Ketiga’ yang saya tulis tahun 2013. Semua saya prediksi ini akan terjadi, maka Partai Gelora saya harap bisa membawa Indonesia pada kepemimpinan dunia di massa akan datang,” imbuhnya.
Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menambahkan, bahwa perjalanan demokrasi yang dilalui Indonesia sangat panjang dan berliku. Sebab, para pendiri bangsa, meletakkan Indonesia berdiri di atas fondasi demokrasi.
“Kita berulang kali jatuh dalam otoritarianisme, tetapi selalu kembali bangkit dengan tuntutan kebebasan. Kita sedang menjalani transisi yang lama, bahkan sangat lama, untuk menegaskan diri sebagai negara demokrasi. Partai Gelora akan tegak pada jalan ini,” kata Fahri Hamzah.
Partai Gelora, partai yang lahir dari intelektual dan kaum pemikir daripada modal. Karenanya, kata Fahri, Partai Gelora akan membuktikan dirinya bakal menjelma menjadi partai besar, meskipun tidak di dukung para pengusaha.
“Kami percaya, partai intelektual pun bisa besar, sebab inilah jalan demokrasi yang sesungguhnya. Dan jika ada yang masih meragukan jalan demokrasi, lihatlah bagaimana Prabowo mendirikan partai, membangun institusi sipil, dan menegaskan diri melalui pemilu. Itulah bukti sahih bahwa demokrasi adalah jalan satu-satunya untuk merebut dan mengelola kekuasaan secara bermartabat,” pungkasnya.
Partaigelora.id-Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta berbagai perspektif tentang diplomasi dan tantangannya ke depan di forum “Youth Diplomacy: Muhammadiyah Diplomats as Catalyst of Global Change”, yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (26/9/2025).
“Saya sampaikan bahwa diplomasi saat ini tak lagi sama dengan semua pelajaran diplomasi yang sebelumnya jamak dipelajari,” kata Anis Matta dalam keterangannya, Minggu (28/9/2025).
Menurut dia, dinamika geopolitik global sekarang sedang memasuki masa perubahan tatanan global. Dimana fase tatanan lama mati, tetapi tatanan baru belum lahir. “Gejolak dan krisis menjadi penanda situasi ini,” katanya.
Karenanya, dibutuhkan diplomat ulung yang punya kemampuan berpikir untuk memahami proses yang sedang berlangsung di balik layar agar diplomasi memberikan posisi tawar yang tepat.
“Saya menggunakan analogi dan sebutan ‘Diplomasi Dapur’ sebagai gambaran tantangan diplomasi saat ini dan masa mendatang,” ujar Anis Matta.
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia ini juga menjadikan proses lahirnya Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan sebagai contoh kemampuan berpikir dan diplomasi ini.
“Beliau adalah diplomat yang luar biasa. Beliau menyaksikan Khalifah Ustmani akan runtuh dan mulai berpikir dan mencari celah apa yang bisa dilakukan dalam periode seperti itu. Lalu, beliau mendirikan Muhammadiyah,” katanya.
Sebab, peran diplomat yang paling pokok adalah menghadapi pergulatan pemikiran yang sedang berlangsung seperti yang terjadi sekarang ini, adalah adanya tarik ulur pergulatan pemikiran.
“Jadi kalau kita mau belajar tentang teknik diplomasi, maka kita harus memahami prosesnya, karena proses inilah yang akan berlangsung lama dan ada tarik ulur untuk menghasilkan tatanan baru,” katanya.
Anis Matta yang merupakan Pakar Geopolitik Global ini menegaskan, bahwa tantangan diplomasi sekarang dan masa mendatang seperti yang ia sampaikan diatas adalah membutuhkan kemampuan ‘Diplomasi Dapur’.
“Kalau anda datang ke restoran yang dilihat pertma kali adalah menunya. Kita punya kebebasan untuk memilih menu yang kita inginkan. Tapi yang menentukan menu adalah orang-orang restorannya. Artinya yang menentukan pilihan kita itu, adalah orang-orang di dapur,” jelasnya.
Sehingga sebagai seorang diplomat, agar mengerti ‘rahasia dapur’ yang dikelola, maka diperlukan kemampuan untuk mengetahui cara berpikir orang-orang yang berada di dapur tersebut.
“Sehingga sebelum belajar diplomasi, belajarlah dulu cara orang berpikir yang ada di dapur tersebut. Karena jika kita bicara dalam satu negara dan ingin menyakinkan orang untuk mendukung arah yang kita mau, maka kita harus mengerti ‘dapur pemikiran’ pengambilan keputusan negara itu,” ungkapnya.
Selain itu, seorang diplomat juga harus mempunyai tingkat kepercayaan diri (confidance) yang tinggi dan memiliki kemampuan intelektualitas dalam berdiplomasi.
“Manakala confidance kita kuat dan punya intelektualitas. Ketika lawan menatap mata kita, kita tidak akan gugup dan semua kosakata tidak akan hilang,” tegasnya.
Pelajaran mengenai teknik berdiplomasi ini, menurut Anis Matta, tidak serta merta berdiri sendiri, tapi saling terkait antara satu pelajaran dan pelajaran yang lain.
“Tapi yang paling pokok yang anda perlu pelajari dalam diplomasi terlebih dahulu adalah kita ini mau menyakinkan orang untuk apa?” pungkas Wamenlu RI Urusan Dunia Islam ini.
Youth Diplomacy Forum yang diselengaran IMM bekerja sama dengan OIC Youth Indonesia ini adalah kegiatan pelatihan dasar diplomasi bagi kader-kader muda Muhammadiyah.
Kegiatan yang dihadiri 75 peserta ini digelar pada 26-28 September 2025 di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta.
Peserta kegiatan ini adalah mahasiswa IMM dari seluruh Indonesia, juga hadir mahasiswa dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA), Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS).