Enam Langkah Disiplin Berpikir yang Perlu Dilakukan Sebelum Mengambil Keputusan

Partaigelora.id-Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Gunawan mengatakan, sebuah keputusan strategis sangat dipengaruhi oleh mindset atau pola pikir seseorang secara sadar, walaupun hal itu terkadang tidak disadari.

“Baik dalam jangan  pendek dan jangka panjang, dalam kehidupan sehari-hari, berkeluarga, dalam karir, bahkan dalam politik, bahkan lebih jauh lagi scopenya,” kata Gunawan dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian dengan tema Strategi Transformasi Pola Pikir, Selasa (3/3/2026).

Menurut dia, keputusan strategi yang dilakukan secara sadar dalam aktivitas sehari-hari tersebut, dibagai menjadi dua masalah. Pertama dibuat secara sadar dan kedua dibuat secara tidak sadar.

Keputusan tersebut berada di ruang konsolidasi internal yang bersifat life skill (keterampilan hidup) dan bersifat cognitive abilities activation (aktivasi kemampuan kognitif), sehingga diperlukan peningkatan kualitas pribadi sebagai sarana pengambil keputusan strategis dalam hidup masing-masing.

“Ketika banyak keputusan-keputusan yang hadir tanpa kita sadari, karena arsitektur mindset ini tiga lapisan penguatan. Pertama, penguatan kesadaran psikologis yang akan terus kita bangun. Kedua, disiplin berpikir yang terus kita latih dan ketiga menajamkan integritas arah perjuangan kita,” katanya.

Coach Gunawan, sapaan akrabnya, mengatakan, ketiga lapisan penguatan midset ini harus dilakukan secara konsisten, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif atau menjadi kontrapduktif.

“Kecerdasan seseorang itu bisa hilang 80%, ketika negatif emosi itu hadir.  Jadi mengambil keputusan ketika kita emosi. Apakah hal ini berdampak atau tidak,  maka kita harus disiplin berpikirnya dan dilakukan secara konsisten. Sehingga kita punya keyakinan 100% untuk menentukan dan menajamkan arah perjuangan kita,” ujarnya.

Karena itu, kata dia, cita-cita pribadi harus selaras dengan cita-cita partai itu agar mempunyai nilai atau value.

“Makanya dalam program ini, kita melakukan penguatan kesadaran psikologis, disiplin berpikir dan menajamkan integritas arah perjuangan,” katanya.

Coach Gunawan mengatakan, kekuasaan tidak bisa merubah karakter, jika dilihat dari kacamata psikologi kepemimpinan (leadership), sebaliknya justru akan memperbesar karakter seseorang.

“Nah, di level pimpinan inti, persoalan jarang bersifat teknis. Justru bisa jadi musuh terbesar bukan pada kompetitor, masalah di psychological stability (stabilitas psikologis). Psychological stability ini yang mempunyai peranan sangat penting ketika orang memberikan atau mengambil keputusan,” katanya.

Misalnya, ketika ada seorang pemimpin zalim, itu disebabkan karena kekuasannya dia menjadi zalim, tetapi karena sifat kezaliman tersebut sudah ada dalam dirinya, jauh hari sebelum dia berkuasa.

“Makanya kita diberikan materi Tazkiyatun Nafs, oleh Ketua Harian kita Syeikh Rofi Munawar agar kita terus menerus melakukan detoksifikasi psikologis untuk menghilangkan karakter-karakter negative kita,” katanya.

Sehingga diharapkan dapat ketenangan hati, batin, menjadi orang ramah, begitu diberikan kekuasaan dia tetap tenang dan tidak menjadi zalim, anti kritik atau bersikap defensif yang cukup tinggi.

Coach Gunawan mengatakan, secara psikologis kekuasaan itu dapat memperbesar karakter seorang pemimpin secara positif dan negatif. Karena itu, setiap pemimpin diingatkan agar selalu menjaga karakter positifnya agar tidak menjadi pemimpin tiran.

Ia menegaskan, seorang yang mengambil keputusan strategis, tidak hanya pemimpin akan berdampak penjang, tidak hanya mempengaruhi dirinya, tetapi juga orang lain.

“Dan selama ini keputusan-keputusan dalam hidup kita justru banyak yang kontraproduktif dengan cita-cita kita. Dan itu dampak panjangnya,” ujar Coach Gunawan.

Karena itu, setiap manusia perlu betul-betul mengamplifikasi langkahnya agar sesuai pada tujuan sebelum mengambil sebuah keputusan. Setidaknya ada enam langkah disiplin berpikir yang harus dilakukan.

“Kenapa perlu enam langkah disiplin berpikir? Why? Karena pada dasarnya manusia itu punya dua ego ketika dia mau mengambil keputusan,” katanya.

Pertama dalam hal sifat leadership atau kepemimpinannnya, dimana seorang pemimpin jangan mudah tersinggung ketika dikritik, bahkan dilecehkan. Hal ini menjadi tantangan sendiri bai seorang pemimpin.

“Seperti dikatakan Ketum kita Ustadz Anis Matta, bahwa pujian sanjungan itu tidak akan membuat kita masuk surga pun. Sebaliknya dengan cacian hinaan bahkan kezaliman yang kita alami tidak akan membuat kita masuk neraka. Yang membuat kita masuk surga adalah amal-amal terbaik kita,” katanya.

Artinya, dia memiliki ego defensif atau dalam istilah modern adalah defend mechanism, yang akan membuat jiwanya sangat rapuh, karena tergantung pada pujian dan cacian, serta memutuskan sesuatu demi citra diri.

“Seharusnya kita itu ego strategis stabil dalam kritik, mendengar tanpa merasa terancam, memutuskan demi arah jangka panjang dan keputusan yang matang. Nah,kita berharap kita memperkuat sisi ego strategis, bukan ego defensif,” katanya.

Untuk menumbuhkan ego strategis ini, lanjut dia, perlu dilatih dalam pergaulan sehari-hari, meskipun yang bersangkutan memiliki pengetahuan yang tinggi.

“Disinilah kita butuh jeda kognitif, kalau kita tidak punya, yang muncul ego defensi. Sehingga apapun keputusannya akan bersifat reaktif,” ujarnya.

Ia menilai enam langkah disiplin berpikir ini, bukan untuk memperlambat menunda keputusan. Justru akan dapat membuat keputusan yang lebih cepat menuju cita-cita.

“Kalau ada sebab, pasti ada akibat. Kalau ada aks,  pasti ada reaksi. Respon yang disebut dengan hukum stimulus. Kalau aksinya sama terus-menerus, maka otomatis nanti responnya juga otomatis,” katanya.

Ketika terlalu sering mendapatkan respon yang sama berulang, maka responnya menjadi menetap, dan mindset adalah stimulus yang berulang itu, tanpa jeda, tanpa kesadaran, tanpa awareness.

“Tetapi ketika kita dalam keadaan sadar, maka kita sedang melakukan investasi kognitif jangka panjang. Dalam keadaan sadar ini, yang membuat ada jeda kognitif, sehingga kita bisa membuat keputusan strategis,” katanya.

Pertama yang harus dilakukan adalah mendefinisikan masalah bukan gejala, karena selama ini terbiasa dengan satu struktur pola berpikir, sehingga perlu membedakan masalah dan gejala.

“Ibarat kita tiba-tiba seorang sakit kepala pada siang hari, padahal paginya aman-aman saja. Apa yang dilakukan si orang itu? Dia pergi ke apotek, dia beli obat anti nyeri. Yang diobati itu apanya, itu gejalanya. Sementara dia pusing karena dimarahin sama bos, sehingga gangguannya lebih bersifat psikosomatik, bukan karena patologis ,” katanya.

Kedua bisa membedakan atau kemampuan dalam mengidentifikasi masalah. Sehingga dapat diketahui mana persepsi dan perasaan.

Sedangkan yang ketiga adalah sadari emosi yang sedang aktif saat itu, dan pastikan mengambil keputusan apa yang dipikirkan, bukan dirasakan.

Keempat melakukan uji perspektif. Misalkan keputusan diambil hari ini, bagaimana dampaknya ketika dalam waktu tiga bulan atau lima tahun dan seterusnya.

Kelima cek keselarasan visi dan nilai. Maksudnya adalah ketika telah mengambil sebuah keputusan, maka dilakukan pengecekan keselasan antara visi dan nilai.

Apakah keputusan tersebut dilakukan dengan penuh keyakinan atau keraguan,  selaras dengan nilai agama, nilai keluarga, atau nilai organisasi dan lain-lain.

Keenam menghitung konsekuensi terburuknya (the worst thing). “Jadi, itu yang disebut disiplin berpikir atau jeda kognitif, enam langkah berpikir. Sebab, keputusan buruk sering lahir bukan karena kurang cerdas, tetapi karena kurang disiplin berpikir.,” pungkasnya.

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X