Partaigelora.id-Wakil Ketua Umum Partai Gelomvbang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengatakan, bahwa dunia sekarang dipenuhi disrupsi akibat perang dan konflik, sehingga memberikan ketidakpastian kepada banyak orang di seluruh dunia.
Hal itu tentu saja memberikan tantangan kepada Indonesia, dan perlu tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk menghadapinya. Sehingga dapat menciptakan peluang besar untuk melakukan perubahan yang fundamental.
“Pak Prabowo (Presiden Prabowo Subianto) ini adalah orang yang punya latar unik dalam sejarah Indonesia, salah satunya adalah confidence-nya yang berlebihan di saat bangsa ini mengalami defisit kepercayaan diri,” kata Fahri Hamzah dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).
Peryataan tersebut, disampaikan Fahri Hamzah yang juga Wakil Menteri (Wamen) Perumahan dan Kawasaan Permukiman (PKP) RI dalam Kajian Pengembangan Kebangsaan Bagian-8 yang digelar secara pada Jumat (10/4/2026) malam.
Menurut dia, deposit kepercayaan diri bangsa Indonesia saat ini sangat lemah, akibat terlalu lama dininabobokan sebagai bangsa lemah, dianggap bukan bangsa petarung dan tidak punya keinginan untuk maju.
“Ini akibat narasi yang kita kembangkan sendiri, kita dijajah 350 tahun. Narasi ini telah melemahkan kita sebagai bangsa, bahwa Indonesia bukan penguasa dunia, tetapi bangsa yang dijajah,” katanya.
Padahal Indonesia adalah termasuk salah satu negara asal muasal dari peradaban tua dunia seperti halnya Persia (Iran), Turki dan lain-lain yang menjadi penguasa dunia selama ribuan tahun.
“Makanya sekarang ada upaya untuk menulis kembali sejarah Indonesia yang dilakulan oleh Pak Fadli Zon (Menteri Kebudayaan). Indonesia rupaya termasuk salah satu negara asal muasal dari peradaban tua, yang dibuktikan oleh artefak-artefek sejarah yang ditemukan. Kita ini adalah peradaban tua,” ujarnya.
Fahri berharap seluruh pemimpin introspeksi dan memiliki kepercayaan diri atau confindence yang tinggi seperti halnya Presiden Prabowo Subianto.
“Presiden mengatakan ini waktu kita, ini kesempatan kita. Di mana ada krisis, di situ ada peluang. Beliau mengingatkan, kalau di Selat Hormuz, Iran hanya mengendalikan 30% dari sumber minyak dan perdagangan dunia. Tetapi Indonesia dengan Selat-selatnya, mengendalikan 70% dari produk-produk dunia,” ungkap dia.
Artinya, posisi strategis Indonesia jauh lebih besar dan jauh lebih kuat di masa yang akan datang, dibandingkan dengan negara lain, serta memiliki banyak peluang untuk dikembangkan.
Sehingga para elite nasional diharapkan tidak secara terus menerus mengembangkan narasi perpecahan dan polarisasi di masyarakat yang bisa menjurus pada perpecahan bangsa.
“Saya sangat terharu dengan rakyat Iran yang mendukung para pemimpinnya. Para pemimpinnya juga mampu menggerakkan masyarakat ke depan meski di embargo puluhan tahun. Ketika satu pemimpinnya pergi sudah ada yang langsung menggantikan. Dan ditingkat bawah, rakyatnya itu turun ke jalan, memberikan dukungan sampai hari ini. Ini mengharukan,”katanya.
Karena itu, di tengah ketidakpastian situasi geoplitik global sekarang diperlukan kebersamaan yang kuat dan menyatukan seluruh komponen bangsa.
“Inilah yang menyebabkan kita memerlukan persatuan, kita memerlukan narasi persatuan, narasi kenbersamaan,” katanya.
Lalu, diperlukan juga untuk mengatur cara kerja kelembagaan di pusat dan daerah, dengan membangun kekompakan lintas sektoral, serta kekompakan kolektif semua komponen bangsa.
Selanjutnya adalah ikut membersamai pemimpin Indonesia yang punya keinginan menjadikan Indonesia sebagai negara Superpower baru, serta ikut serta menjaga ketertiban dunia dan mewujudkan negara Palestina.
“Jika melihat pergerakan Indonesia di kancah politik global sekarang di bawah kepimpinan Pak Prabowo. Ini satu pertanda, bahwa kita ingin juga untuk menjadi kekuatan atau super power baru. Wajar kalau suatu hari Indonesia memimpin dunia,” kata Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini.
Fahri menambahkan Presiden Prabowo memiliki kesamaan dengan Partai Gelora dalam hal narasi gelombang sejarah dan arah baru Indonesia ke depan.
“Pak Prabowo menggunakan kata-kata konsensus, sementara Pak Ketum kita (Anis Matta) menggunakan kata-kata gelombang dalam menuliskan sejarah Indonesia yang dibagi dalam tiga gelombang. Tetapi memang kata konsensus dengan gelombang itu bisa memiliki makna yang sama,” katanya.
Konsensus pertama yang disampaikan Presiden Prabowo diperlambangkan oleh peristiwa Sumpah Pemuda 1928, sementara gelombang pertama yang ditulis Anis Matta dalam bukunya tentang menjadi Republik.
Konsensus kedua, yaitu lahirnya Pancasila dan UUD 1945, sementara dalam buku gelombang kedua adalah fase menjadi negara modern yang kuat.
Sedangkan konsensus ketiga adalah gelombang ketiga yang ditulis Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta menjadikan Indonesia sebagai negara Superpower baru.
“Apa yang dilakukan Presiden Prabowo sekarang ini adalah membebaskan Indonesia dari ketidakmandirian, Membangun kemandirian pangan, kemandirian energi, hilirisasi, industrialisasi, dan membangun basis Indonesia digital., termasuk teknologi militer dan sebagainya. Kemudian memmpersiapkan sumber daya manusia Indonesia untuk menjadi sumber daya yang kuat, yang bisa mengusung tema Indonesia Superpower Baru tadi,” pungkasnya.

No comments