Inilah Lima Syarat Seseorang yang Ingin Mengemban Mandat Kepemimpinan untuk Memakmurkan Bumi

Partaigelora.id– Ketua Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Rofi’ Munawar mengatakan, Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) yang dilakukan pada Selasa setiap bulannya, telah menyelesaikan pembahasan dua tema besar.

Yakni pertama adalah meluruskan niat perjuangan politik sebagai ibadah. Kedua iman sebagai  fondasi perjuangan perjuangan politik , dimana titik tolak dari perjuangan tersebut adalah ideologis keimanan.

“Tema yang ketiga ini menyambung dengan tema pertama dan kedua, bahwa Amanah amanah kekhalifahan atau amanah kepemimpinan di bumi adalah tanggungjawab sejarah,” kata Rofi’ Munawar di Jakarta.

Hal itu disampaikan nya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) dengan tema ‘Amanah Kekhilafahan (Kepemimpinan di Bumi dan Tanggungjawab Sejarah, Selasa (24/2/2026).

“Karena niat di dalam perjuangan politik ini adalah dalam rangka menunaikan ibadah kepada Allah SWT,  maka melaksanakan mandat khilafah atau mandat kepemimpinan untuk memakmurkan bumi ini adalah bentuk ibadah kita kepada Allah SWT juga,” katanya.

Artinya, mandat kepemimpinan untuk memakmurkan bumi ini, adalah ibadah sepertinya melaksanakan ibadah lain seperti salat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa,   menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

“Itu semuanya adalah ibadah-ibadah dalam rangka memenuhi tugas kita sebagai manusia di hadapan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Begitupula dengan amanah kepemimpinan atau amanah kekhilafaan untuk memakmurkan bumi,” ujarnya.

Menurut Rofi’, Allah SWT telah berfirman di dalam Surat Al Baqarah ayat 30,”Dan ingatlah  ketika Tuhanmu Muhammad mengatakan kepada para malaikat. Sesungguhnya kami menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi”.

“Sebagai pemimpin, makhluk yang diberikan tugas untuk memakmurkan bumi, melakukan kepemimpinan di muka bumi. Maka orang-orang yang terjun di dalam proses kepemimpinan, pekerjaan-pekerjaan atau aktivitas-aktivitas masalah kepemimpinan, dia ini sedang melakukan ibadah kepada Allah SWT,” jelasnya.

Sehingga perjuangan politik dapat dikatakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari ibadah seorang mukmin kepada Allah SWT.  Inilah yang disebut dengan amanah kekhilafahan atau Amanah kepemimpinan yang dimandatkan oleh Allah SWT kepada manusia.

Jika melihat tanggungjawab sejarah, lanjut dia, manusia pertama yang diberi mandat untuk menjadi khalifah di muka bumi adalah Nabi Adam AS.

Karena itu, apabila seseorang diberikan mandat kepemimpinan sekarang, berarti sedang melanjutkan mata rantai kepemimpinan, mata rantai kekhilafahan untuk memakmurkan bumi.

“Itulah yang saya maksud sebagai sebuah tanggung jawab Sejarah, maka tanggungjawabkita sebagai pemimpin adalah kepada Allah SWT dari orang pertama Nabi Adam hingga sampai ke kita sekarang,” paparnya.

Rofi’ berpandangan ada lima syarat bagi orang yang ingin mengemban kepemimpinan atau amanah  kekhalifahan untuk memakmurkan bumi.

Syarat pertama adalah integritas yang terkait dengan tazkiyatun nafs, yakni integritas spiritual atau integritas kepribadian, sehingga dia layak untuk bisa mengemban amanah kepemimpinan dalam level manapun dan bisa memimpin orang dalam jumlah banyak.

“Integritas spiritual penting, karena seorang pemimpin harus membersihkan diri dan mensucikan jiwa secara berkesinambungan dengan melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya,” ujar Rofi’.

Tujuannya adalah memperbaiki aspek spiritualitas di dalam dirinya agar seorang pemimpin atau kader melakukan pengembangan kapasitas spiritualnya.

Dengan ketaatannya dalam beribadah, maka diharapkan hal itu menjadi sebuah energi spiritual untuk menjaga integritas spiritualnya. Dan itu sebabnya kalau kita lihat di dalam Sejarah.

“Kalau kita lihat para pemimpin sebelum mereka menjadi pemimpin besar di dalam bidang apapun, misalkan para nabi dan rasul, maka pertama-tama yang mereka bangun adalah kapasitas spiritualnya. Maka Ketika berhadapan dengan hal-hal yang tidak mudah untuk dihadapi, mereka bisa dengan mudah menghadapi karena memiliki energi spiritual itu,” katanya.

Syarat kedua adalah lebih kepada masalah teknis , yakni menjaga penyimpangan di tujuh anggota badan. Seperti mata, telinga, lisan, tangan, kaki, perut dan syahwat (kemaluan).

“Mengapa? Karena tujuh inilah yang akan menjadi eksekutor, yang mengekskekusi kebijakan-kebijakan kita. Jadi kebijakan seorang pemimpin itu akan dieksekusi oleh sekurang-kurangnya tujuh anggota badan ini . Jangan sampai ada penyimpangan yang akan akan mengotori integritas kepribadiannya,” jelas Rofi’.

Sebab, di politik itu akan banyak godaannya, sehingga menjaga penyimpangan tujuh anggota badan merupakan hal penting. Jika bisa menjaga dari penyimpangan, maka akan dapat memperkuat dan memperkokoh kepemimpinan seseorang pada level apapun.

“Oleh karena itu, para pemimpin itu jangan bosan-bosan mendengar, perbanyak   mendengar, bukan mendahulukan banyak berkata. Pemimpin yang banyak berkata itu, karena dia sedang menutupi kelemahan dirinya,” tandas Rofi’.

Pemimpin seperti itu, tidak pernah bisa objektif terhadap dirinya, dan butuh bantuan orang untuk mengetahui kekurangannya, karena dia merasa seolah-olah mengetahui segala-galanya.

“Karena itu, seorang pemimpin  harus mengendalikan kata-katanya, lisannya. Jangan sampai  akan menyulitkan langkah-langkah kita ke depan. Sekarang ini ada jejak digital akan diungkap orang, manakah yang kita katakana dulu, bertentangan dengan sikap yng kita lakukan. Jadi tazkiyatun nafsnya itu di situ,” urainya.

Syarat ketiga adalah kompetensi atau kemampuan. Sebab, tidak semua orang diberikan kemampuan untuk memimpin atau mengemban amanah tertentu.

“Seorang pemimpin itu tahu tentang kadar dirinya, kalau tidak mampu di situ ya jangan ngoyoh. Karena ketika diberi amanah dia pasti tidak mampu dan melakukan tindakan-tindakan yang bisa men-downgrade dirinya pada akhirnya diketahui, kalau dia  enggak mampu di situ,” katanya.

Tetapi ada juga orang yang mampu menjadi pemimpin, tetapi menghindari mandat kepemimpinan untuk memakmurkan bumi, karena takut mengemban amanah.

“Bagaimana amanah itu kok bisa disia-siakan. Ketika amanah itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu datangnya hari kiamat. Makna lainnya itu adalah tunggu datangnya kehancuran,” ujarnya.

Karena tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah munculnya para pemimpin yang sebetulnya dia tidak mampu menjadi pemimpin. Pada akhirnya dia kemudian tidak mampu  di dalam mengelola kepemimpinannya.

“Karena ketika ada orang mampu menjadi pemimpin tertentu , dia tidak melakukannya, malah menghindar. Saya khawatir ini  bagian dari idatul amanah, bagian dari menyia-nyiakan amanah,” katanya.

Sebab, kepemimpinan itu harus identik dengan keadilan. Apabila kepemimpinan itu tidak identik dengan keadilan, maka akan identik dengan kezaliman.

Syarat keempat adalah seorang pemimpin ketika mengemban amanah, harus mampu menyampaikan amanat tersebut kepada rakyat. “Ketika kalian memimpin orang, pimpinlah dengan adil, tidak boleh ada nepotisme.,” katanya.

Syarat kelima adalah seolah pemimpin harus selalu berusaha untuk bertakwa dan menjaga rasa takutnya kepada Allah SWT.

“Orang takwa itu bisa bersalah, bedanya ketika orang takwa itu bersalah, dia tahu persis bagaimana cara memperbaiki kesalahannya. Dia tahu persis bagaimana, dia harus bergerak secepat mungkin untuk bisa mengatasi dan memperbaiki kesalahannya. Jadi, orang bertakwa itu adalah orang yang tidak pernah nyaman dengan kesalahan,” pungkasnya.

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X