Mahfuz Sidik Minta Indonesia Belajar Banyak dari Konflik di Timteng

Partaigelora.id-Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfuz Sidik meminta Indonesia belajar banyak dari peristiwa konflik di Timur Tengah (Timteng), perang antara  Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) saat ini.

Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Iran sebagai Game Changer’ di Jakarta, Jumat (13/3/2026) petang.

“Kita harus belajar banyak dari peristiwa perang ini. Bahwa Amerika dan Israel ini adalah dua kekuatan dunia yang sama sekali tidak bisa dipercaya,” tegas Mahfuz Sidik.

Menurut dia, Amerika dan Israel telah mempertontonkan kepada dunia bagaimana mereka mengkhianati lawan negosiasi mereka. Padahal perundingan tersebut, belum selesai dan tidak pernah dinyatakan gagal.

“Bahkan mediator Menteri Luar Negeri Oman mengatakan ada perkembangan positif yang baik. Dimana Iran bersedia tunduk pada aturan internasional terkait dengan program nuklir,” katanya.

Namun, tak berselang lama, secara sepihak kemudian Israel menyerang Iran dan Amerika tanpa basa-basi ikut mendukung dan terlibat dalam gempuran berikutnya.

“Ini adalah warning bagi semua negara, negara-negara di Teluk, termasuk juga negara muslim besar seperti Indonesia,” katanya.

Ketua Komisi I DPR 2010-2017 ini menegaskan, bahwa perang di kawasan Timteng saat ini menimbulkan keguncangan dan bencana secara hebat bagi negara-negara Teluk.

“Ekonomi negara-negara Teluk yang dikenal sebagai negara petrodollar, ternyata kekuatan ekonominya, fondasi ekonominya sangat sangat rentan. Berbeda dengan Iran,” katanya.

Mahfuz mengatakan, perang ini juga membuat prospek masa depan Perjanjian Abraham Accord, dimana normalisasi hubungan negara-negara di kawasan Timteng dengan Israel akan semakin suram.

Bahkan keberadaan Board of Peace (BoP) yang dibentuk Presiden AS Donald Trump, dimana Indonesia menjadi salah satu anggotanya juga akan semakin ‘absurd’.

“Orang tidak tahu apa sebeneranya rencana Trump (Presiden AS Donald Trump) untuk Gaza dan Palestina. Karena untuk persoalan Iran saja ini,  masih banyak PR yang harus diselesaikan,” katanya.

Ia menilai dalam konflik di Timteng ini, ada peluang penggunaan senjata nuklir dalam perang ini sangat terbuka.

Karena dalam dua pekan perang sejak, Sabtu 28 Pebruari 2026, Israel dan Amerika dalam posisi terdesak, kalah dari Iran.

“Ketika perang di Gaza lawan sayap militer Hamas saja, Israel telah menjadikan Gaza sebagai laboratorium persenjataan militer baru. Sehingga banyak jenis bom yang tidak pernah dipakai Amerika dan Israel di tempat-tempat yang lain digunakan di Gaza,” ungkapnya.

Israel dan Amerika, lanjut dia, tidak peduli korbannya adalah rakyat sipil Gaza yang mencapai 70 ribu jiwa, dimana hampir 60 ribu yang tewas adalah perempuan, anak-anak dan balita.

Begitu pula korban jiwa di Iran,  dimana ketika Amerika merudal SD di Minab dengan Tomahawk yang menewaskan 165 pelajar dan guru pada hari pertama serangan. Artinya, genosida yang terjadi di Gaza, bisa terjadi di Iran yang dilakukan Israel dan Amerika.

“Kalau situasi itu, tindakan itu bisa dilakukan oleh Israel di Gaza, maka sangat mungkin Israel akan melakkukan serangan nuklir ke Iran, karena secara militer kemampuan militer Iran  melampaui kemampuan militer sayap Hamas. Probalitasnya sangat tinggi,” ujarnya.

Di tengah kepanikan sekarang, Amerika bisa saja mendukung langkah Israel untuk menggunakan senjata nuklirnya untuk mengebom Iran.

Apabila hal itu terjadi, maka ekskalasi perang tidak hanya di kawasan Timteng saja, tetapi akan menjadi perang dunia (PD) III.

Mahfuz mengatakan, ancaman Trump yang akan melakukan aksi pemboman lebih keras dan lebih luas, serta meminta Iran bertekuk lutut, menjadi sinyalemen bahwa Amerika siap  menggunakan senjata canggih mereka yang memiliki daya kerusakannya tinggi, seperti nuklir.

“Kita tentu tidak mengharapkan itu, kita berharap Amerika masih waras. Jika tidak ingin Israel menggunakan senjata nuklirnya, maka negara-negara pemilik nuklir seperti Rusia, China, termasuk Pakistan dan Korea Utara, yang bisa ikut mencegah tindakan sepihak dari Israel yang didukung Amerika itu,” katanya.

Ia berpandangan, bahwa perang Iran dengan Israel dan Amerika akan menjadi perang berlarut. Sebab, Iran menggunakan strategi perang asimetris, bukan untuk memenangkan pertarungan.

“Tetapi target Iran adalah bagaimana menguras energi, menguras kemampuan finnasial, dan lebih jauh lagi adalah menguras kemauan atau motivasi militer Israel dan Amerika bertarung dalam jangka waktu yang panjang. Iran ingin membangkrutkan Amerika dan Israel,” katanya.

Karena itu, banyak pengamat yang menilai, bahwa Iran sangat cerdik dalam menerapkan strategi perang. Iran sengaja menyerang pangkalan dan aset militer Amerika di negara-negara Teluk.

“Kapasitas militer Iran terus menunjukkan peningkatan yang komprehensif, meskipun Instalansi mliternya dihancurkan. Ini yang tidak terprediksi intelejen Amerika dan Israel. Iran semakin teruji dan semakin tidak tergoyahkan, walaupun bombardir secara masif dan pemimpin tertinggi mereka gugur (Ayatollah Ali Khamenei) dalam pertempuran itu,” pungkasnya.

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X