Partaigelora.id-Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Gunawan mengatakan, bahwa kejadian dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia berkaitan dengan paradoks pertumbuhan yang diawali dengan ketegangan produktif.
Maka ketika berbicara mengenai ketegangan produktif, tentu saja tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang area-area yang tidak disadari atau blind spot dalam diri setiap orang.
Sebab, hal itu ternyata sangat mempengaruhi terhadap cara pandang seseorang dalam memimpin, baik itu memimpin diri sendiri, keluarga, masyarakat, organisasi, perusahaan dan lain-lain.
Dalam Kajian Pengembangan Wawasan dengan tema ‘The Paradox of Growth’, pada Selasa (12/5/2026) malam, Gunawan mengatakan, apabila productivity stretch (peningkatan produktivitas) seseorang untuk bertumbuh terlalu lama di zona nyaman, maka diperlukan stretching zone (zona peregangan).
“Zona stretching yang masuk dalam bahasan kita adalah sebagai ketegangan produktif. Kenapa ada ketegangan di sana? Karena di situ memang ada ketegangan secara kognitif. Dimana dalam diri kita ada perang pemikiran, perang batin dan ruang kontemplasi,” kata Coach Gunawan, sapaan akrabnya.
Ia mengatakan, situasi tersebut terkadang dipaksakan oleh keadaan, sehingga membuat tidak nyaman untuk melakukan sesuatu, akibat adanya growth mindset (pola pikir pertumbuhan).
“Jadi paradoks pertumbuhan, itu berubah bukan berarti kehilangan. Bertahan bukan berarti stagnan. Ketika berbicara tentang growth mindset dan ‘Paradox of Growth’, maka saat kognitif yang terus bertumbuh itu mempunyai fleksibilitas dalam mengambil strategi cara untuk mencapai sebuah cita-cita,” katanya.
Tetapi ia mengingatkan, bahwa seseorang yang sering kali mendapatkan kesuksesan dan sangat mapan, justru menjadi salah satu yang paling rentan mengalami paradoks pertumbuhan ini.
“Contohnya begini, siapa yang tidak kenal dengan handpone Nokia di era 90-2.000 an yang menjadi raja teknologi digital, tetapi dalam waktu sangat cepat ambruk bisnisnya,” ujar Coach Gunawan.
Sebab, Nokia masih berpikir, bahwa cara yang digunakan masih sangat efektif untuk meraih kemenangan, padahal situasi dan dunia berubah dengan cepat.
“Artinya ketika kita meraih kemenangan dan terbukti dalam hidup menolong kita, itu hanya sampai di titik ini. Tetapi untuk titik selanjutnya justru akan menjadi tiket kekalahan kita,” katanya.
Sehingga ketika seseorang mengalami ketegangan produktif, Coach Gunawan justru menyarankan untuk memperluas zona nyaman.
Bukan sebaliknya ke luar dari zona nyaman, sebab pada dasarnya semua orang tidak suka yang tidak nyaman basically secara psychologic.
“Saya mau memberikan sebuah ilustrasi tentang paradoks pertumbuhan ini. Saya mengilustrasikan dengan sebuah kapal. Dimana anatomi kapal itu adalalah kepemimpinan, atau anatomi dalam diri kita,” ujarnya.
Ia menyebutnya pertama sebagai layar atau semacam haluan cara berkomunikasi, taktik dan metode operasional. Layar ini bersifat responsif terhadap arah angin, karena tanpa layar adaptif, kapal tidak bergerak.
“Nah, yang kedua adalah dimensi yang tidak terlihat, ada wilayah yang tersembunyi, yaitu yang namanya lunas. Lunas itu bukan selesai kita membayar sesuatu lunas. Pengertian kosakata lunas di sini adalah keel,” katanya.
Menurut dia, jika keel ini dalam sebuah kapal, maka adalah bagian dari struktur utama kapal.
Bisa jadi hal itu sebuah kayu yang sangat kuat atau besi yang sangat kokoh yang menjadi kerangka utama, pondasi utama sebuah kapal.
“Jika digambarkan sebuah value adalah nilai inti (core value). Itu bisa jadi komitmen, atau kejujuran yang menjadi jati diri kita. Dan lunas berfungsi sebagai stability, area penjaga keseimbangan. Jadi lunas itu adanya di bawah tersembunyi, berupa nilai-nilai identitas kita,” katanya.
Sementara layar dalam diri setiap manusia itu, disebut sebagai external behavior (perilaku eksternal).
“Dimana dia bisa terlihat, dia bisa terdengar. Tetapi lunas ini adalah inti dari yang kita sebut sebagai value, basic value,” katanya.
Namun, untuk mengubah arah kapal tersebut, diperlukan layar yang akan mengubah arah kapal, sehingga kapal bisa bermanuver di dalam samudera atau di dalam kehidupan sehari-hari.
“Tapi kalau layarnya tidak bergerak, dan kapalnya diam saja, bisa salah arah. Nah, banyak orang justru terperangkap di sini, karena mengasumsikan bahwa layar kita ini bagaikan jadi lunas,” katanya.
Apabila lunas tersebut diganti, maka kapal tersebut harus diganti dan semua strukturnya dihancurkan.
Artinya, ganti lunas itu berarti ganti kapal. Sedangkan layar itu tidak akan mengubah kapal, karena yang diubah hanya arahnya.
“Lalu, kenapa manusia banyak yang justru against change atau melawan perubahan, karena ada manusia yang tidak nyaman dengan perubahan. Kenapa ada manusia kok sudah tahu harus berubah, tapi kok sulit gitu? Karena otak kita itu selalu menjaga keamanan dan kenyamanan,” paparnya.
Faktor Penyebab Tak Mau Berubah
Menurut Coach Gunawan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Pertama adalah mind trap atau jebakan pikiran.
Karena ketika mengubah cara dalam bekerja, penampilan ada kekuatiran atau ketakutan kehilangan jatidiri, otoritas atau reputasi.
“Ada resistensi identitas. Kalau saya berubah kira-kira orang lain melihat saya bagaimana? Jangan-jangan saya dianggap tidak konsisten. Kita tidak bisa berubah itu, karena ada keinginan yang tersembunyi,” ujar Wasekjen Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora ini.
Padahal resistensi identitas ini, kata dia, tidak berpengaruh pada masalah otoritas atau reputasi seseorang, dan hanya menjadi keyakinan yang tidak memberdayakan.
“Tetapi ketika berorganisasi ini barulah kita berbicara tentang reputasi, apalagi saat melibatkan publik. Misalnya saat dia harus mengambil keputusan yang sangat tegas, tapi dibilang tidak cocok melakukan gaya direktif, karena komunikasinya penuh empati dan narasinya bagus. Nah, ini resistensi dalam organisasi bisa resistensi identitas atau jati diri,” paparnya.
Faktor kedua adalah resistensi kompetensi. Hal ini berkaitan dengan pengalaman sukses di masa lalu yang berkaitan dengan skill, kemampuan tertentu atau kompetensi tertentu.
“Dia malas untuk mempelajari sesuatu yang baru, karena belum tentu sukses. Ada keengganan untuk memulai sesuatu yang baru, yang belum ada jejak kesuksesan di masa lalu. Dia memasukkan kesuksesan itu di dalam portofolio sejarah perjalanan hidupnya. Tapi pertanyaannya, apakah dunia itu tetap selalu sama?” tanya Coach Gunawan.
Ia mengatakan, realitas eksternal di sekeliling setiap orang, tentu saja mengalami perubahan yang signifikan, karena berkaitan dengan kelincahan kognitif (cognitive flexibilities) dan kesadaran dari dalam.
“Ketika kita sukses, berhasil, menang, dan bisa melampaui achievement yang kita tuju. Maka prefrontal kortex kita dibanjiri dopamine (hormon bahagia). Perasaan kita jadi nyaman, menjadi superior, bahagia. Wah, I get it. I nail it. Saya bisa, saya mampu dan terbukti. Tetapi tiba-tiba ada satu cerita simpangan hidup, patahan hidup, di mana misalkan cara ini sudah tidak bisa pakai lagi,” ujarnya.
Sebab, dunia sudah berubah, sehingga harus terus belajar untuk menggunakan cara yang baru, berganti haluan, dan tidak bisa menggunakan cara lama lagi.
“Memulai sesuatu ini penuh dengan tekanan secara indirect, secara tidak langsung, kita ditekan oleh keadaan. Ketika proses tekanan itu hadir, itulah saya sebut sebagai ketegangan produktif,” katanya.
Ketika ada ketegangan produktif ini, lanjutnya, maka andrenalin seseorang bisa naik dan akan terjadi kelelahan dan stres yang cepat, karena akan ada perubahan yang tidak dari zona zaman sebelumnya.
“Makanya kita hati-hati, kalau kita mendengar kawan kita, pimpinan kita atau siapapun di antara kita yang dulu, saya begini, dulu begini dan dulu begitu. Kita jangan sampai terjebak oleh nostalgia dan pengalaman masa lalu,” katanya.
Hikmahnya, adalah bukan value dalam konteks peristiwa yang didapat, tetapi resistensi kompetensi berkaitan dengan belajar hal-hal yang baru.
Faktor ketiga adalah resistensi loyalitas. Dimana hal ini terjadi pada organisasi yang sudah sangat mapan.
Organisasi ini biasanya mengutamakan tradisi atau senioritas yang dilakukan secara turun temurun, sehingga menjadi jati diri.
“Akhirnya menjadi lunas, padahal itu harusnya layar. Tetapi karena terus diulang dan dijadikan ritual, menyebabkan kita menjadi resistensi loyalitas,” katanya.
Ketika tradisi itu akan diubah, ada semacam perasaan bersalah kepada organisasi, senior dan lain-lain.
“Itu adalah kebiasaan yang akhirnya jadi keyakinan, jadi identitas dan jadi akar terdalam yang men-driven kita. Padahal dunia berubah, landscape-nya semua berubah dan perubahan yang sangat cepat ini menimbulkan ketidakpastian,” katanya.
Ketidakpastian ini disertai dengan kompleksitas, dimana perubahannya tidak bisa berdiri sendiri. Baik di dunia perusahaan, psikologi modern, bahkan dalam kebijakan bernegara sekalipun.
“Kita akhirnya terjebak dalam dua kesalahan berpikir tentang pertumbuhan. Pertama sebuah keyakinan komunal, karena digaungkan di mana-mana dan mempengaruhi dari internal diri kita,” katanya.
Kedua adalah logical fallacy atau sesat pikir yang menganjurkan agar tetap menjadi diri sendiri atau konsisten dalam menjaga kemurnian dan keaslian dirinya. “Tetapi pertanyaannya yang dijaga itu nilainya atau caranya?”.
“Jadi kesalahan berpikirnya ada dua. Kalau saya berubah, seolah-olah berubah jati dirinya. Atau yang kedua, seolah-olah kalau kita berubah, kita tidak istigamah, tidak menjaga pakem dari nilai-nilai yang kita yakini. Akhirnya keduanya ini saling mengunci,” sambungnya.
Pada akhirnya, orang tersebut tidak bergerak ke mana-mana, dan hanya di situ-situ saja karena dia mengembangkan atau memunculkan narasi kedikjayaan masa lalu di dalam dirinya.
Karena itu, ada tiga prinsip yang harus direnungkan. Pertama lunas itu bukan seluruh kapal, dimana penyampaiannya bisa disesuaikan dengan relevansi dan kebutuhan. Minimal menjadi pemimpin untuk diri sendiri dan keluarga.
Prinsip kedua adalah kapal yang terlalu lama bersandar akan berlumut, akibat pemimpin tersebut tidak berubah dalam waktu sekian lama.
“Jadi yang kita sebut sebagai perubahan, yang kita jaga itu lunasnya bukan, layarnya,” tegas Coach Gunawan.
Prinsip ketiga adalah kontraintuitif. Dia dianggap orang yang paling tahu, paling jelas jati dirinya, dan paling berani melakukan perubahan. Prinisp dan keyakinannya sangat kuat untuk berubah.
“Pemimpin atau seseorang yang sangat kuat memegang lunasnya, memegang core value-nya, dia akan menjadi orang yang paling berani. Dia pemimpin yang paling berani mengarungi lautan. Kenapa? Karena kokoh, konstruksi tulang rangkanya sangat kuat dan bisa mengarungi lautan. Tapi kalau konstruksinya lemah, jangankan mengarungi lautan, baru berlayar beberapa lama dengan kecepatan berapa knot mungkin sudah retak lunasnya. Kena karang, kena badai dan seterusnya,” jelas dia.
Coach Gunawan berharap seluruh kader Partai Gelora dapat memegang prinsip ‘hold the principle, hold the core so tigh’ atau ‘pegang teguh prinsipnya, jaga inti (nilai dasar) tersebut dengan sangat erat’ akan dapat melalui ketegangan produktif.
“Ini prinsip saya. Ketika memegang yang prinsip kuat dan memegang cara sama kuatnya, itu saya bilang adalah kontradiktif yang sering disebut paradok flexibility. Jadi paradok fleksibilitas, adalah hanya kapal dengan lunas yang kuat yang berani masuk ke perairian dalam,” tegasnya.
Hal ini merupakan pertumbuhan, bukanlah pergantian identitas, melainkan penguatan kapasitas yang membuat cita-cita makin cepat karena pondasinya kokoh.
“Pesan saya hati-hati dengan kenyamanan yang menyamar sebagai lunas. Sebab, Tidak semua yang kita pertahankan itu lunas.. Tidak semua yang kita pertahankan itu nilai-nilai dasar. Tidak semua yang kita jaga itu juga bisa jadi nilai inti kita. Jangan sampai karena sudah terbiasa melakukan sesuatu akan menjadi jati diri yang bukan sesungguhnya atau jati diri palsu,” pungkasnya.

No comments