Kunci Utama Pelaku Usaha dalam Bertahan dan Tumbuh di Tengah Krisis Ekonomi

Partaigelora.id— Di tengah dinamika ekonomi global dan nasional yang memicu penurunan daya beli masyarakat serta tingginya ketidakpastian pasar, para pelaku usaha dituntut untuk merombak strategi bisnisnya.

Kunci utama untuk tetap bertahan bukan sekadar mengejar angka penjualan (omset), melainkan bagaimana menjaga ketersediaan uang tunai (cash flow) dan melakukan efisiensi operasional secara ketat.

Hal tersebut menjadi benang merah dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kewirausahaan bertema ‘Strategi Bisnis Dalam Kondisi Sulit’ yang digelar secara dari disiarkan secara langsung di kanal YouTube Gelora TV pada Selasa (3/11/2026) malam.

Dalam kajian yang dipandu Ketua DPP Korbid Ekonomi dan Bisnis Partai Gelora Muhammad Zuhrif Hudaya dan Wakil Ketua DPP Korbid Ekonomi dan Bisnis Arifin Wicaksano ini membahas mengenai ‘Cash is King! Cara Efektif Mengelola Keuangan & Menemukan Peluang Usaha Saat Sulit’.

Wakil Ketua DPP Korbid Ekonomi dan Bisnis Partai Gelora Arifin Wicaksono mengungkapkan bahwa sejarah mencatat mayoritas pengusaha dan pimpinan bisnis sukses lahir dari tempaan krisis masa lalu.

Menurutnya, pelaku usaha perlu mengadopsi filosofi mentalitas burung elang saat menghadapi badai.

“Ketika badai dan angin kencang datang, hewan-hewan lain memilih bersembunyi. Namun, burung elang justru terbang menyongsong badai, menunggangi pusaran angin kencang untuk membawa dirinya melesat lebih tinggi ke puncak,” ujar Arifin.

Ia menegaskan bahwa krisis ekonomi tidak boleh dihadapi dengan keputusasaan, melainkan disikapi secara optimis dengan mendesain ulang sistem bisnis agar lebih tangguh.

Arifin mengatakan, ada tiga tahapan krusial dalam menghadapi masa sulit yang disarankan untuk pengusaha dalam menavigasi bisnis di tengah kondisi pelik saat ini.

Pertama survive atau bertahan, yakni dengam memastikan fundamental keamanan keuangan dan ketersediaan kas perusahaan benar-benar aman sebelum melangkah lebih jauh.

Kedua adapt atau beradaptasi, yakni dengan menyesuaikan model bisnis dengan dinamika rantai pasok, perubahan perilaku konsumen ke ranah online, serta adopsi teknologi terkini seperti Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI).

Baca juga:

Kedua growth atau bertumbuh, yakni dengan memanfaatkan daya ungkit krisis untuk berekspansi. Pertumbuhan hanya boleh dilakukan jika fondasi survive dan adapt sudah kokoh.

Sebelum menentukan langkah strategis, pelaku usaha diimbau untuk mawas diri dan melakukan evaluasi objektif dengan membaca financial terhadap kondisi kesehatan keuangan perusahaannya.

Terdapat lima indikator utama yang wajib diperiksa secara berkala:

  • Omset Realistis: Membedakan antara omset riil dan “omset semu” yang berpotensi tergerus oleh retur atau piutang macet.
  • Gross Profit & COGS/HPP: Menghitung margin laba kotor secara presisi berbasis harga jual, serta memantau realisasi Harga Pokok Penjualan (HPP) di lapangan agar tidak melenceng dari anggaran.
  • Arus Kas (Cash Flow): Menjaga ketersediaan uang tunai sebagai “darah” perusahaan. Sebuah usaha yang secara pembukuan mengalami kerugian masih dapat terus beroperasi selama arus kasnya tetap terjaga.
  • Pengelolaan Utang: Menghindari pola berbahaya seperti menarik utang baru hanya untuk membayar bunga utang lama.

Dalam kesempatan ini, Arifin juga menekankan bahwa uang tunai merupakan indikator vital keselamatan bisnis.

“Tiga sumber utama arus kas perusahaan—yaitu dari operasional (Operating Cash Flow), pinjaman (Financing Cash Flow), dan investasi (Investing Cash Flow)—harus dikelola secara hati-hati, dengan memprioritaskan arus kas operasional yang positif.” katanya.

Selain itu, di tengah tekanan inflasi, volatilitas kurs, dan potensi tuntutan kenaikan biaya operasional, strategi cost efficiency (efisiensi biaya) menjadi modal utama daya saing.

“Siapa yang mampu beroperasi dengan biaya terendah di industrinya, dialah yang akan mampu bertahan dan memenangkan persaingan di masa sulit,” katanya.

Langkah Taktis Operasional

Sementera itu Ketua DPP Korbid Ekonomi dan Bisnis Partai Gelora Muhammad Zuhrif Hudaya berharap agar pengusaha dapat mengambil langkah taktis operasional, menghindari jebakan ekspansi di masa krisis, serta cara membaca peluang dari keluhan konsumen.

Di masa krisis, banyak pengusaha terjebak dengan meluncurkan produk baru atau merek baru ketika produk lama mulai mengalami penurunan omset.

Menurut dia, langkah ini justru berbahaya karena menyedot energi, biaya, dan sumber daya besar tanpa kepastian hasil.

“Jangan memasuki samudra baru yang kita tidak pernah tahu apakah isinya ikan hiu atau buaya. Jauh lebih baik mengoptimalkan dan mengadaptasi model bisnis yang sudah ada (existing), lalu merampingkan beban-bebannya,” jelasnya.

Selain itu, pengusaha diingatkan untuk benar-benar mendengarkan keluhan pasar secara objektif dan menghindari pengeluaran yang tidak berhubungan langsung dengan kebutuhan pasar, seperti mengadakan kegiatan seremonial yang boros.

Ia menilai menambah networking atau sekadar memperluas pertemanan bisnis tidak akan berdampak besar jika tidak dieksekusi melalui kolaborasi.

“Kolaborasi yang efektif adalah melibatkan analisis SWOT, di mana kelemahan internal sebuah perusahaan ditutupi oleh kekuatan atau kompetensi dari mitra lain yang saling melengkapi. Semakin banyak pihak yang bisa diajak berkolaborasi secara sehat, semakin tinggi pula daya tahan bisnis tersebut,” ujarnya.

Sedangkan menyangkut upaya dalam menghadapi badai krisis, neburut dia, seorang pemimpin dalam perusahaan dituntut ketegasan.

Namun, pemimpin diingatkan untuk menghindari gaya manajemen berbasis emosi atau kemarahan (the angry management) yang justru memicu kepanikan di kalangan karyawan.

“Kepemimpinan di masa sulit harus didasarkan pada data yang objektif, perhitungan yang matang, organisasi yang ramping, serta disiplin evaluasi kinerja yang ketat,” katanya.

Arifin Wicksono menambahkan, peluang emas di tengah krisis selalu lahir dari keluhan dan kesulitan orang lain (seperti masalah kesehatan, kendala rantai pasok, dan lain-lain)

Namun, keluhan tersebut harus disaring menggunakan data, semakin besar, konsisten, dan panjang durasi keluhan masalah tersebut di masyarakat, semakin besar pula peluang bisnis yang bisa diciptakan untuk memberikan solusi.

Ia menegaskan, bahwa mentalitas pengusaha di tengah situasi sulit harus bisa melalui tahapan yang sistematis.

“Kunci utamnya survive (bertahan), adapt (beradaptasi), Focus pada Pasar), collaborative (kolaboratif), dan growth (bertumbuh secara otomatis setelah fondasi aman),” katanya.

Diharapkan dengan mematuhi prinsip-prinsip keuangan yang disiplin—khususnya menjaga likuiditas kas (cash is king) dan melakukan efisiensi operasional—para pelaku usaha tidak hanya mampu bertahan melewati badai krisis, tetapi juga keluar sebagai pemenang di garis akhir.

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X