JAKARTA – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia membentuk lima bidang baru yang diisi semuanya oleh kaum perempuan. Hal itu dilakukan Partai Gelora Indonesia untuk memberi ruang bagi perempuan politisi untuk eksis dan mengaktualisasi perannya.
“Kabid diisi perempuan semua, karena berdasarkan kompetisi yang bersangkutan dan Gelora berikan ruang bagi calon politisi perempuan untuk eksis dan mengaktualisasikan perannya,” kata Mahfuz Sidik dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (2/8/2020).
Pembentukan lima bidang baru tersebut diresmikan secara langsung oleh Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta di Jakarta, Selasa (1/9/2020). Peresmian tersebut juga dihadiri oleh Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik dan Bendahara Umum Achmad Rilyadi.
Mahfuz mengatakan, dengan bertambahnya lima bidang baru tersebut, maka jumlah bidang di Dewan Pempinan Nasional (DPN) sekarang berjumlah 20 bidang. Partai Gelora, lanjutnya, masih akan membentuk bidang-bidang baru dan merekrut orang-orang muda untuk menjadi pengurus.
“Pesan Ketum (Anis Matta, red) yang penting punya kepercayaan diri. Ada tiga syarat penting, mau bekerja, mau belajar dan mau berkorban. Syarat itu tidak hanya di pusat, tapi juga di kepengurusan daerah dan alhamduillah banyak orang-orang muda yang mengisi,” katanya.
Adapun lima bidang baru tersebut, Ketua Bidang Perempuan Ratih Sanggarwati, Ketua Bidang Jaringan dan Kerjasama Lembaga Mia Ratu Ratna Damayani, Ketua Bidang Pengembangan UMKM dan Ekonomi Keluarga Srie Wulandarie, Ketua Bidang Pelayanan Masyarakat Styandari Hakim, serta Ketua Bidang Olahraga, Hobbi dan Gaya Hidup Kumalasari Kartini.
Ketua Bidang Olahraga, Hobbi dan Gaya Hidup Kumalasari Kartini mengatakan, sebagai ketua bidang ia telah menyusun kegiatan yang bersifat massal untuk mengenalkan Partai Gelora,
“Kalau olahraga bersifat massal itu seperti bersepeda, lari, gerak jalan dan senam aroebik, kalau hobi kuliner , traveling, sementara kalau gaya hidup kita kampanye kesehatan. Pelaksanaan program ini untuk membangun ketertarikan kepada Partai Gelora,” kata Kumalasari.
KARIMUN – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mendukung pasangan ARAH (Aunur Rafiq-Anwar Hasyim) Bakal Calon (Balon) Bupati Karimun-Wakil Bupati Karimun di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Karimun 2020.
Hal tersebut dikatakan Rezekila Azizah pengurus DPD partai Gelora Kabupaten Karimun usai menyerahkan surat dukungan politik ke Aunur Rafiq, Selasa (1/9/2020) sore.
“Pengalaman dalam pemerintahan, menjadi pilihan utama jajaran Gelora Indonesia menjatuhkan pilihan kepada pasangan Petahana ini,” kata Rezekila Azizah.
Menurut Rezekila Azizah, Partai Gelora telah melihat pemerintahan yang dipimpin Aunur Rafiq dan Anwar Hasyim dapat menuntaskan program walau dimasa sulit pandemi saat ini.
“Dalam waktu tiga tahun lebih kedepan kita lebih melihat maslahatnya kepada Petahana untuk menuntaskan program-program yang telah dibuat di periode pertama memimpin. Pengalaman bertahan dalam masa yang sulit seperti pandemi dan banyaknya regulasi yang sepertinya menggerus otonomi oleh pemerintah pusat akan riskan diberikan kepada yang belum berpengalaman menjadi eksekutif,” ungkapnya.
Partai Gelora Indonesia juga melihat tidak sedikit yang telah dikerjakan pasangan Aunur Rafiq dan Anwar Hasyim di tanah Bumi Berazam Kabuparten Karimun.
“Banyak sekali sebenarnya yang telah dibuat oleh Pasangan ARAH dalam periode pertama memimpin. Tentunya yang sudah baik tetap dipertahankan bahkan ditingkatkan, dan yang masih kurang disana sini agar dapat dituntaskan,” jelasnya.
Tidak hanya dukungan seremonial, Partai Gelora Indonesia juga akan memaksimalkan kerja, khususnya kampanye yang cerdas dan santun ke masyarakat untuk memenangkan pasangan ARAH.
“Saat ini kita akan jadi jembatan kemasyarakat lewat kampanye-kampanye positif, mesosialisasikan keberhasilan program-program petahana dengan bahasa yang santun dan elegan,” tutupnya.
SUKOHARJO – Bakal pasangan calon Joko Santoso – Wiwaha Aji Santosa (Joswi) mendapat rekomendasi dari Partai Gelora dalam kontestasi Pilkada Sukoharjo 2020.
Rekomendasi itu diberikan langsung Ketua DPW Partai Gelora Jawa Tengah, Ahmadi, Selasa (1/9/2020).
Ahmadi mengatakan partai besutan Anis Matta tak ingin ketinggalan dalam momentum pilkada.
“Sejak awal, struktural partai sudah berkomunikasi dengan pasangan Joswi,” katanya.
Dengan pemberian rekomendasi ini, tutur Ahmadi, kader Partai Gelora bakal all out untuk memenangkan pasangan Joswi dalam Pilkada Sukoharjo 2020.
Partai Gelora sendiri merupakan partai yang baru saja disahkan secara resmi oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada awal Juni ini.
Kendati partai baru, semangat para kader partai yang tersebar di setiap kecamatan tak bisa dianggap enteng.
“Masyarakat butuh figur potensial yang memiliki komitmen untuk melakukan perubahan.” ucapnya.
“Sosok figur potensial itu ada dalam pasangan Joswi,” imbuhnya.
Selain Partai Gelora, ada lima partai politik non parlemen lainnya yang menyatakan dukungan kepada Joswi.
Wiwaha mengapresi dukungan yang diberikan kepada partai politik non parlemen tersebut.
Dia melihat hal ini merupakan bentuk gerakan dari masyarakat yang menginginkan perubahan.
“Ini menunjukan adanya gelombang masyarakat yang menginginkan adanya perubahan,” tandasnya.
JAKARTA – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat sebanyak 100 dokter meninggal dunia sejak pandemi virus corona (Covid-19) menghantam Indonesia lima bulan terakhir. Berdasarkan laporan IDI, seluruh dokter tersebut telah dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.
“Mari kita berdoa agar para dokter dan tenaga kesehatan yang wafat dalam perjuangan menghadapi Covid-19 diterima sebagai syahid di sisi Allah SWT,” kata Anis Matta, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia dalam keterangannya, Selasa (1/9/2020).
Menurut Anis, meninggalnya 100 dokter ini harus menjadi momentum dan perhatian semua dalam penanganan Covid-19. Sebab, dokter adalah profesi dan keahlian dengan investasi waktu dan biaya yang sangat mahal. Apalagi sampai pada keahlian spesialis tertentu.
“Sudah 100 orang dokter meninggal dunia akibat Covid-19. Jadi kita ini kehilangan makna strategis, bukan hanya pada penanganan Covid-19, melainkan juga kekuatan sektor kesehatan kita,” katanya.
Kata Anis, 100 dokter tersebut juga berasal dari berbagai daerah, dengan tingkat keahlian dan senioritas yang tentu dibutuhkan bagi pengembangan kesehatan di Indonesia. Bahkan sebagian dokter juga mengajar di berbagai fakultas kedokteran dan lembaga pendidikan kesehatan.
“Sehingga kehilangan ini juga berdampak bagi pendidikan kedokteran kita. Tidak ada waktu lagi. Semua pihak harus serius melihat pandemi dan dampak strategis yang ditimbulkannya,” ujar Anis Matta.
Anis Matta menegaskan, kehilangan dokter dan tenaga kesehatan bisa berujung pada lumpuhnya sistem kesehatan kita. “Dan kita berdoa agar Allah segera memberi kita jalan keluar dari krisis ini melalui ilmu pengetahuan. Amin,” katanya.
Dalam kesempatan ini, Ketua Umum Partai Gelora Indonesia menyampaikan apresiasinya kepada para jurnalis yang tidak mengenal lelah dalam mewartakan penanganan pandemi Covid-19, meskipun nyawa mereka juga terancam.
“Ternyata benar yang saya dengar, jurnalis tak kenal kata libur. Perang dan bencana pun ditembus untuk menghasilkan berita terbaik kepada publik. Kami mengapreasiasi tugas para jurnalis, salam kami untuk rekan-rekan jurnalis di seluruh Indonesia,” tandas Anis Matta.
JAKARTA – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar pelatihan ‘Mastering Youtube#2 , Edit Video Datangkan Uang’ bagi kader dan masyarakat umum. Pelatihan sesi-2 yang digelar secara daring ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta pada Sabtu (29/8/2020).
Pelatihan Mastering Youtube#2 ini berbicara mengenai cara membuat video yang menarik mulai dari ide atau gagasan, serta optimasi di Youtube.
Sehingga konten video yang dibuat tidak hanya mendatangkan viewers, tapi juga membuat penonton betah dan mendatangkan pundi-pundi uang. Apabila konten yang dibuat tidak menarik, maka tidak akan menghasilkan apa-apa
Program ini bertujuan untuk mencetak sebanyak mungkin juru bicara yang akan mensosialisasikan ide dan gagasan Partai Gelora seluas dan sesegera mungkin di era audio visual.
Sebelumnya pada sesi-1, dilakukan pelatihan dasar untuk memproduksi konten visual, peserta dari perwakilan seluruh struktur DPW dan bidang-bidang di DPN Partai Gelora Indonesia mendapat pengetahuan dasar tentang perencanaan, produksi dan optimasi konten Youtube.
Menghadirkan pembicara Budi Putra, ex CEO Jakarta Post Digital, yang kini menjadi Country Manager Collabs Asia di Indonesia. Pembicara lain Endy Kurniawan, Ferry Ardian dan Aditya Mahfuzha yang memiliki pengalaman melakukan perencanaan dan pengelolaan kanal Youtube untuk beragam segmen.
Pada sesi-2 mengenai ‘Mastering Youtube#2 , Edit Video Datangkan Uang’ menghadirkan narasumber Kahfi Karsadinata, Cinematographer dan still photographer dan Anjar Zarkasi, Video Editor dan Youtube Optimizer.
Kahfi Karsadinata mengatakan, untuk membuat konten berupa video atau film perlu dilakukan perencanaan yang matang, mulai dari pre produksi, produksi dan pos produksi. Pre produksi adalah membahas ide yang akan dituangkan dalam bentuk script atau cerita, bisa berasal dari kisah nyata, pengalaman pribadi atau cerita lain.
“Biasanya pre poduksi ini membutuhkan waktu enam bulan untuk membuat script, pemilihan tempat, penyetingan warna, visualnya, perannya semua sudah tergambarkan, sehingga bisa langsung masuk produksi,” kata Kahfi.
Sehingga ketika proses produksi, semua sudah sesuai dengan alur cerita atau script yang sudah digambarkan, tidak ada lagi permasalahan yang seharusnya ada ditahap pre produksi dimasukkan ke produksi.
“Bagian produksi itu simple, tinggal shooting saja. Sehingga bagaimana secara produksi agar produksi tidak lama, maka pre poduksi yang kita buat harus matang,” katanya.
Setelah proses produksi selesai, tahap selanjutnya pos produksi, yakni mempromosikan film atau konten yang akan luncurkan (launching) atau ditayangkan.
“Promosinya harus menarik, bisa iklan di televisi, media cetak atau online, satu bulan sebelum ditayangkan. Promosi juga bisa dilakukan dengan mengefektifkan media sosial kita di Youtube, Facebook, Twitter dan Instagram,” kata Cinematographer film nasional dan luar negeri ini.
Sementara Anjar Zarkasi mengatakan, untuk membuat konten yang perlu diperhatikan adalah membuat alur cerita dalam sebuah gambaran kecil, yang bisa disusun dari potongan kertas kecil-kecil, kemudian diberikan visual detik per detik.
“Ini pengalaman saya membuat film pariwisata Sumbawa Barat, saya tidak ada uang, tidak ada proposal. Saya datang ke dinas, cuman bawa potongan kertas kecil yang menggambar alur cerita. Nah, disitu saya sampaikan jika pantai kita, tarian kita indah banyak orang yang tidak tahu. Ini yang kita sampaikan, sehingga saya dapat project,” kata Anjar.
Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah saat melakukan video editing, gambar yang akan disusun harus diambil secara detil dengan berbagai angle, terutama dalam pemilihan tempat. Sehingga saat diberikan video effect tidak akan menggangu fokus dan perhatian penonton, sehingga pesan penting yang akan disampaikan bisa tercapai.
“Audionya juga jangan sampai pecah, kalau terlalu pelan juga berbahaya, tiba-tiba ganti audio karena tidak stabil, waduh bisa hancur HP orang.
Perlu distabilkan ke yang paling keras, jangan sampai 0 atau merah. Audionya bisa rusak,” katanya.
Setelah semuanya selesai, selanjutnya mengaploud konten yang dibuat di Youtube dengan membuat deskripsi dan caption yang menarik, menggambarkan mengenai konten tersebut, serta membuat highlight video yang akan ditampikan sekitar 15 detik sebelum melihat pada video utama.
“Agar menarik warna harus cerah, isi video harus berbeda dari yang lain dan harus ikonik,” pungkas Alumnus Institute Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.
Sekretaris Jendaral Partai Gelora Mahfuz Sidik mengatakan konten di Youtube sendiri tidak harus berupa kampanye ‘hard politics’ tapi disesuaikan dengan kekhasan talent ataupun kekhasan wilayah seperti tips, edukasi, hiburan dan inspirasi.
Pelatihan secara daring akan terus berlanjut dengan tema-tema yang bertujuan meningkatkan literasi digital para anggota dan pengurus Partai Gelora di seluruh Indonesia.
“Sebagai partai politik yang paling anyar lahir, Partai Gelora agresif melakukan kampanye secara digital. Partai Gelora masuk ke fase pengembangan, menargetkan rekrutmen jutaan anggota melalui website dan aplikasi. Rekrutmen secara offline dan online,” kata Mahfuz dalam keterangannya, Senin (31/8/2020).
Salah satu residu dari meluasnya penggunaan media sosial adalah ruahnya berbagai informasi yang kemudian melahirkan generasi malas berpikir. Karena saringan tak mampu lagi menahan arus informasi, maka akal sehat – yang awalnya bahkan hanya mencerna informasi pada permukaannya saja – kemudian benar-benar tumpul. Bayangkan yang harus pengguna Facebook lakukan jika harus mengikuti anjuran Divisi Humas Polri: “Saring sebelum sharing” ketika membaca 100 unggahan di tautan laman Facebook miliknya dalam sehari. Apakah dia harus melakukan cek silang a la redaktur dengan berbagai laman media lainnya, atau dia harus selalu menanyakan : “Apakah ini benar, siapa sumbernya, dari mana datanya, apakah valid?” dan lainnya kepada pengunggah? Seratus kali per hari untuk setiap unggahan yang dia baca? Yang bener aja.
Tapi, sebetulnya, kata James Ball dalam Post Truth (Biteback, 2017), salah satu ciri hoax adalah ‘grabby, easy to understand, easy to share’. Gampang didapat. Gampang dipahami dan gampang dibagikan. Dan kemudian salah. Mengapa? Karena hoax dikreasi memang untuk meng-entertain yang pendek berfikirnya. Siapa mereka? Publik yang malas baca, yang diperparah lagi, pemalas baca yang menikmati penumpulan akal kronis di media sosial dan platform berbagi seperti chat messenger. Jadi, sensor pertama yang perlu dipunya untuk menyortir hoaks adalah kemampuan logika dan bahasa. Mengapa di Indonesia hoax subur? Karena skor Indonesia di kompetensi logical thinking (yang didapat dari kemampuan matematik) dan semantik-linguistik (yang diasah dari kegemaran baca) ada di posisi ke-62 dari 70 negara yang disurvei (Ari Kuncoro, Guru Besar FEB UI, Kompas, 12 Januari 2018).
Ketika di negara lain informasi melimpah – terutama menjalar melalui media elektronik – bisa diolah menjadi penerawangan ide, olah data, membaca gejala, membuat program dan proyeksi skenario serta pengambilan keputusan, di Indonesia yang terjadi adalah penumpukan kerak dan kotoran. Menyumbat dan muncratlah jadi informasi tak penting yang sebagiannya rekayasa dan kebohongan. Sebagai informasi, pengguna internet di Indonesia ‘mantengin’ gawai rata-rata 8 jam 51 menit per hari (!). Data Hootsuite Januari 2018 itu mencatat Indonesia di peringkat ke 4 dunia, hanya kalah oleh Thailand, Filipina dan Brazil. Sementara Singapura hanya 7 jam per hari, USA hanya 6:30 dan Jepang 4:12. Negara-negara maju lain dibawah 5 jam. Publik yang berjam-jam di depan gawai ini kemudian dengan mudahnya jadi target. Apa misalnya? Warganet bisa menjadi objek pembodohan politik dan iklan komersial.
Pada 23 Juni 2016, jam 10 malam, masyarakat Inggris masih meyakini bahwa negerinya tak akan keluar dari Uni Eropa. Opsi Remain vs Leave (Brexit) masih ketat dengan posisi 52:48. Polling di semua media utama dan media sosial membagikan hasil serupa. Esoknya menjelang subuh, Poundsterling jatuh dan bursa saham Inggris rontok demi opsi Leave yang unggul. Belakangan, setelah investigasi, perekayasa opini termasuk hackers dari Rusia ada dibalik ini semua. Informasi tak benar dikirim dari ruangan pengap, warnet dan kafe-kafe di berbagai negara ke hadapan gawai milik publik menjelma jadi kebenaran artifisial, membuat semua pihak meyakininya. Bagi warga Inggris, ini informasi biasa. Tapi bagi pemerintah Cameron ini membuatnya over-confidence, lengah, kemudian kalah. Di Inggris yang kritis dan logis, pembohongan ini tak bisa dihindari. Apalagi di Indonesia yang pengguna telpon pintarnya tunduk pada perintah “Darurat! Sebarkan jika kamu peduli!” dari seorang yang tak dia kenal.
PONTIANAK – Pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Sambas, DPW Partai Gelora Indonesia Kalimantan Barat menyatakan dukungannya kepada Pasangan Heroaldi-Rubaeti sebagai bakal calon Bupati dan bakal calon Wakil Bupati Sambas dengan menyerahkan SK Dukungan DPW Partai Gelora Kalbar pada Sabtu, 29 Agustus 2020 di Pontianak.
“Partai Gelora telah melakukan pendalaman terhadap semua paslon, dengan tujuan mencari sosok terbaik yang akan membawa Sambas melesat dengan potensinya.
Dan Pasangan Hero-Rubaeti adalah yang kami rasa cocok untuk mengemban amanah tersebut,” ujar Muslih, Ketua DPW Gelora Kalbar, Minggu (30/08/2020).
Dalam kesempatan itu, Heroaldi atau yang sering dipanggil Bang Hero menyampaikan rasa terimakasih atas kepercayaan Partai Gelora terhadap dirinya untuk ikut dalam Kontestasi Pilkada Sambas Desember 2020 mendatang.
“Saya menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada Partai Gelora yang telah memberikan kepercayaan untuk Pasangan Heroaldi-Rubaeti dalam Pilkada Sambas.
Kami percaya, bahwa dengan semangat kebersamaan baik itu Partai Pengusung ataupun Pendukung yang tergabung dalam Tim Pemenangan nanti, maka tidak mustahil kemenangan itu akan kita raih, “ujarnya di hadapan fungsionaris Partai Gelora Kalbar.
Muslih, Ketua DPW Gelora Kalbar juga menyampaikan bahwa Partai Gelora baik itu ditingkat Wilayah atau Kab/Kota akan all out ikut dalam pemenangan Hero-Rubaeti
“Ini akan menjadi semangat bagi kami untuk melakukan pemanasan menghadapi 2024 mendatang, kami akan secara penuh ikut memenangkan pasangan ini mulai dari tingkat wilayah hingga kecamatan.
Meskipun sebagai Partai baru, justru itu akan menjadi semangat bagi kami memanaskan mesin-mesin partai di daerah, terutama Sambas,” tukasnya.
Tahun ini, negara kita memasuki usia kemerdekaannya yang ke-75 pada tanggal 17 Agustus 2020. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi negara kita, karena masih dapat mempertahankan kedaulatannya selama hampir ¾ abad. Momen ini juga menjadi tantangan bagi negara kita dalam menapaki arah serta nasibnya kedepan. Indonesia di masa mendatang hendaknya menjadi suatu negara yang dapat menghargai perbedaan, saling menaruh simpati antar sesama saudara sebangsa setanah air, dan juga dapat terbuka dalam kehidupan bermasyarakatnya, namun, hal ini masih menjadi PR bagi perjalanan bangsa kita kedepannya.
Selama 75 tahun berdirinya Indonesia, kerap kali kita diterpa ancaman internal terhadap keutuhan serta kedaulatan negara kita. Mengutip perkataan bapak bangsa kita, Soekarno, beliau mengatakan bahwa perjuangan kita akan lebih sulit ketimbang dirinya, karena akan melawan bangsa kita sendiri, tidak seperti pada masa beliau yang berjuang melawan para penjajah. Bersandar pada realita yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini, nampaknya Soekarno telah menyadari bahwa sedari awal ancaman internal yang akan dihadapi bangsa dan negaranya kelak yakni kemajemukan yang dapat berujung pada ancaman disintegrasi bangsa.
Maraknya upaya pemecah-belahan bangsa karena masyarakat kita masih terpaku akan rasa etnosentrisme dan primordialisme yang sangat kuat antar kelompok sosial. Dua hal tersebut seakan menjadi luka terhadap upaya persatuan yang hendak diraih dan juga dipertahankan oleh para pendahulu kita. Dalam dinamika kehidupan di masyarakat, anggota suatu kelompok sosial mempunyai kecenderungan untuk menganggap bahwa segala sesuatu yang dimiliki kelompoknya merupakan sesuatu yang terbaik dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh kelompok lain, hal ini dapat dikategorikan etnosentrisme (Soekanto dan Sulistyowati, 2015: 106-107). Etnosentrisme yang kuat juga disertai dengan stereotip, yakni anggapan yang bersifat negatif terhadap suatu objek atau hal tertentu. Jika dibiarkan berlarut-larut, hal tersebut dapat menciptakan suatu konflik horizontal.
Fenomena masyarakat Indonesia masih melekat dengan konsep “dominasi”, dengan berbagai macam istilah yang melekat didalamnya, seperti “mayoritas-minoritas” ataupun juga “penduduk asli-pendatang”. Contoh yang paling dekat yakni pada kasus penutupan serta persekusi terhadap pendirian Gereja (BBC, 2019). Tidak menutup sebelah mata, rentetan aksi persekusi dan penolakan atas berdirinya tempat ibadah di negara kita tidak hanya terjadi bagi umat Kristiani saja, namun juga terhadap agama dan juga golongan lainnya. Selagi masih adanya aturan dominasi kelompok mayoritas yang mengikat–baik dalam pemaksaan nilai, norma, serta agama–terhadap kelompok minoritas, maka hal ini menyebabkan siklus tiada henti dalam wujud intoleransi. Ada pula contoh kasus lainnya yaitu mengenai polemik terkait dugaan adanya simbol “salib” yang terdapat pada tema logo HUT RI ke-75 (CNNIndonesia, 2020). Tidak sedikit pihak yang berpikiran negatif terhadap konsep logo HUT RI ke-75 yang dianggap sebagai wujud “kristenisasi” dan lain sebagainya. Hal-hal tersebutlah yang menciptakan suatu sumbu pendek dan mudah sekali dibakar oleh beberapa pihak untuk dapat memecah-belah persatuan tanpa berpikir kritis terlebih dahulu. Senada dengan penjelasan sebelumnya bahwa fenomena ini erat dengan iklim sosial-budaya masyarakat Indonesia yang sarat akan etnosentrisme dan juga primordialisme.
Saya mempunyai impian bahwa kelak saya dapat hidup di negeri ini tanpa dilanda rasa ketakutan dan prasangka buruk terhadap teman terdekat saya. Saya membayangkan bahwa kelak saya dapat duduk bersama dengan semua saudara setanah air tanpa memikirkan identitas yang berbeda-beda, hanya ada satu identitas, yakni “Indonesia”, tanpa memandang latar belakangnya, baik itu Jawa, Sunda, Batak, Asmat, Cina Peranakan, Kulit Hitam/Putih, Islam, Kristen, Hindu, Budha, bahkan aliran kepercayaan apapun.
Sesuai dengan ketetapan yang diatur dalam UUD 1945 pasal 28E ayat 1, pasal 28I ayat 1-5, dan juga pasal 29 diterangkan bahwa kita mendapatkan jaminan untuk dapat beragama dan meyakini sesuatu tanpa mendapatkan persekusi dan juga perlakuan diskriminatif, sebab, pada dasarnya hal tersebut merupakan hak dasar manusia Indonesia yang harusnya juga dapat “dijamin” oleh negara.
Terakhir, menyambung perkataan Bapak Presiden Indonesia, yakni Joko Widodo, dalam Pidato Kenegaraan-Nya pada Sidang Tahunan MPR sekaligus Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, beliau tak lupa berpesan untuk menjaga persatuan bangsa di kala pandemi ini. Jangan pernah merasa dirinya paling benar sendiri, paling beragama, dan paling Pancasilais. Karena semua keragaman dan kemajemukan yang sudah menjadi takdir bangsa kita, hendaknya menjadi suatu pemberdayaan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.
Di usianya yang sudah sejauh ini, Indonesia akan menyongsong suatu masa, dimana kita akan genap berusia satu abad. Untuk mencapai titik tersebut, apa yang harus kita persiapkan untuk masa depan bangsa selanjutnya? Jawabannya adalah kita harus tetap memperkuat konsolidasi nasional bangsa, menjaga toleransi tinggi yang telah menjadi nilai luhur bangsa. Jauh sebelum negara ini terbentuk, leluhur dan nenek moyang kita telah melandaskan suatu kearifan lokal dalam wujud akulturasi, toleransi, serta amalgamasi. Jangan sampai hal tersebut dirusak oleh segelintir pihak untuk mencapai kepentingan yang bersifat pragmatis.
Kemerdekaan ialah milik semua rakyat Indonesia, dahulu, kini, sampai seterusnya, selama hayat dikandung badan. Dirgahayu Indonesiaku.
Oleh Yonathan Anugerah El Pohan – Pemenang Lomba Karya Tulis/ Blog Gelora Kemerdekaan Indonesia 2020 Periode 1
BANTUL – Meski belum memiliki kursi di parlemen, namun Partai Gelora Indonesia akan ambil bagian dalam perhelatan Pilbup Bantul 2020. Sebab salah satu fungsi partai politik adalah turut menentukan arah pembangunan, dan salah satunya dengan cara memilih kepala daerah terbaik.
Bertolak dari latar belakang ini, DPD Partai Gelora Indonesia Bantul memberikan dukungan kepada pasangan Abdul Halim Muslih – Joko Purnomo (AHM-JP) sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati pada Pilbup Bantul 2020.
Deklarasi dukungan digelar dengan format ramah tamah secara lesehan di papringan tepi kali opak Nyamplung Srimulyo Piyungan, Kamis (27/8/2020). Deklarasi ini turut menghadirkan pasangan AHM-JP, kader dan simpatisan Partai Gelora serta warga sekitar.
Ketua DPD Partai Gelora Bantul Dida Adiyudha memastikan karakter pasangan AHM-JP diibaratkan seperti pohon pisang. Yang seluruh bagiannya bermanfaat, dapat tumbuh di semua tempat dan selalu meninggalkan tunas. Menjadi alasan Partai Gelora Bantul memberikan dukungan kepada pasangan ini.
“Karakter ini sesuai dengan semangat milenial yang diusung partai gelora,” jelas Dida.
Bakal Calon Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan Partai Gelora. Dukungan ini akan menjadi tambahan modal untuk menghadapi Pilbup Bantul 2020. Setelah sebelumnya PAN, PBB dan Demokrat juga mendeklarasikan dukungan.
Khusus untuk Partai Gelora Indonesia yang kadernya dikenal kreatif dan inovatif, akan menjadi mitra yang strategis untuk pemerintah daerah. Karena inovasi akan menjadi kunci bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Generasi muda yang kreatif dan inovatif akan menjadi penentu kemajuan daerah,” tegas Halim yang akan maju pada Pilbup Bantul 2020.
JAKARTA – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Haris Yuliana menilai Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil merupakan kepala daerah yang berhasil melakukan penanganan pandemi Covid-19 di Jawa Barat.
Karena itu, keberhasilan Ridwan Kamil perlu dicontoh oleh kepala daerah lain dalam upaya penanganan Covid-19 di daerahnya. Terbukti di Jabar kini sudah tidak ada lagi zona merah Covid-19, dan menekan jumlah penyebaran dan angka masyarakat yang terpapar virus Corona.
“Kang Emil (Ridwan Kamil, red) ini satu-satunya kepala daerah yang berani menjadi relawan uji vaksin Covid-19. Apa yang dilakukan Ridwan menjawab keraguan masyarakat di tengah pro kontra soal vaksin. Partai Gelora mengapresiasi dan memberikan support penuh,” kata Haris dalam keterangan, Rabu (26/8/2020).
Pada Selasa (25/8/2020), Ketua DPW Gelora Indonesia Jabar Haris Yuliana dan jajaranya melakukan silaturahmi ke Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Gedung Pakuan Bandung, Jabar.
Partai Gelora menilai kinerja Emil dalam penanganan Covid-19 di Jabar sudah sangat maksimal. Emil tidak hanya menunjukkan kinerjanya dalam kebijakan, tetapi juga sikap pribadinya dalam penanganan Covid-19 dengan menjadi relawan uji vaksin Corona.
“Kang Emil dari sisi kerja dan sikap pribadinya patut kita apresiasi, semua pihak harus mendukung, bukan justru memberikan kritik yang tidak membangun. Jawa Barat sudah tidak ada lagi zona merah,” kata Ketua DPW Partai Gelora Jabar ini.
Dalam kesempatan itu, Haris melaporkan keberadaan Partai Gelora sebagai partai baru kepada pembina politik di Jawa Barat, Ridwan Kamil.
“Sebagai partai politik baru, Partai Gelora memperkenalkan keberadaanya kepada pembina politik di Jawa Barat, Kang Emil selaku Gubernur. Kita sowan dan kita nyatakan, kesiapan Partai Gelora untuk mendukung seluruh program pembangunan di Jawa Barat,” katanya.
Artinya, Partai Gelora siap berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jabar untuk mewujudkan Jabar ‘Juara Lahir Batin’.
“Kita siap berkolaborasi dalam ruang-ruang strategis dengan pemprov Jabar dalam rangka mewujudkan Jabar juara lahir batin. Tentu, hal ini dalam rangka ikhtiar untuk mewujudkan Indonesia menjadi 5 besar kekuatan dunia,” tegas Haris.
Menanggapi hal ini, Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyambut silahturahmi Ketua DPW Partai Gelora Indonesia Haris Yuliana dan jajaranya.
Emil berharap sebagai partai terbuka, Partai Gelora yang menyatakan diri sebagai partai digital bisa optimalkan keberadaan media sosial (medsos) untuk melakukan perekrutan secara massif dan militansi, terutama para milineal.
Hal itu perlu dilakukan dalam sarana penyampaian aspirasi dan eksistensi sebagai partai digital.
“Sebagai partai yang terbuka, media sosial menjadi platform yang perlu dimaksimalkan secara masif. Selain media sosial, militansipun menjadi poin penting dalam keberlangsungan partai ke depan,” kata Emil
Emil juga berharap Partai Gelora bisa ikut serta dalam mewujudkan program Jabar ‘Juara Lahir Batin’.
“Harapannya, dengan adanya partai ini dapat turut serta dalam mewujudkan Jabar ‘Juara Lahir Batin’,” Emil.