Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 Nopember 1912 lalu, memiliki visi besar yang jauh melampaui zamannya.
Hal itu disampaikan Anis Matta saat menyampaikan ucapan Milad 109 Persyarikatan Muhammadiyah di Jakarta, Kamis (18/11/2021).
“Muhammadiyah lahir dari gagasan memajukan umat melalui amal usaha terutama di bidang pendidikan yang mencerahkan dan kesehatan yang memberdayakan. Visi besar KHAhmad Dahlan yang jauh melampaui zamannya,” kata Anis Matta dalam keterangannya.
Menurut Anis Matta, visi besar dan semangat itu telah dia rasakan saat dirinya belajar di Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam di Gombara, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) beberapa waktu silam.
Di pondok pesantren ini, Anis Matta menimba ilmu agama selama enam tahun dan menjadi alumni pada 1986.
“Saya merasakan visi dan semangat itu pada guru saya, KH Abdul Djalil yang memimpin Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam di Gombara, Makassar kala itu, ” katanya.
Menurut Anis Matta, di tengah segala keterbatasan, KH Abdul Djalil selalu mengajak murid-muridnya punya mimpi besar dan cakrawala yang luas.
Anis Matta mengaku selalu terkenang dengan guru-guru Muhammadiyah yang bukan saja mengajar, tapi menjadi motivator bagi murid-muridnya.
“Tempat ini dulu terpencil dan sepi. Kita belajar di bawah pohon, tapi kami selalu tersambung dengan cita-cita besar, karena guru kami dulu semuanya motivator,” lanjut Anis Matta mengurai kenangannya.
Karena itu, Anis Matta selalu mengingat jasa-jasa gurunya tersebut, yang telah menjadikannya sebagai seorang motivator, menjadikan Indonesia kekuatan lima besar dunia.
“Kini, pada usianya yang ke 109 tahun, saya percaya Muhammadiyah akan terus menjadi elemen bangsa yang mendorong kemajuan dan persatuan dalam membangun peradaban Indonesia,” katanya.
“Selamat milad Muhammadiyah. Teruslah menebar optimisme dan nilai-nilai utama. Semoga Allah memberkati semua amal usaha Muhammadiyah dan seluruh bangsa Indonesia,” ujar Anis Matta.
Partaigelora.id – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) menilai Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbud Ristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi dinilai menodai kesucian lembaga pendidikan tersebut. Kontennya lebih cenderung mengarah dan mengizinkan perzinahan.
Permendikbud tersebut juga dianggap telah kehilangan orientasi nilai dan sesat budaya, sehingga perlu didrop dan dibatalkan.
“Permendikbud tersebut telah kehilangan orientasi nilai budaya ketimuran dan sesat akademis yang bermartabat dan bermoral sebagai civitas akademika. Jauh dari kesan mendidik. Harapan saya itu di drop, batalkan karena jelas menodai kesucian lembaga perguruan tinggi,” kata Tina Tamher, Wakil Ketua Bidang Hukum, HAM dan Advokasi DPN Partai Gelora Indonesia dalam keteranganya, Selasa (16/11/2021).
Menurut Tina, aturan tersebut dinilai mengakomodasi pembiaran praktik perzinaan di kampus lantaran perbuatan asusila yang diatur dalam Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tidak dikategorikan sebagai kekerasan seksual jika suka sama suka atau mendapat persetujuan dari korban.
“Aturan Permendikbud tersebut sama saja melegalkan perbuatan asusila dan perzinahan,” katanya.
Tina menyesalkan jika regulasi tersebut diteruskan. “Sungguh disesalkan regulasi semacam ini ada di Indonesia yang menjunjung tinggi harkat martabat perempuan dan nilai-nilai agama,” katanya.
Aktivis perempuan ini menilai proses pembentukan Permendikbud Ristek tersebut, juga tidak memenuhi asas keterbukaan dalam proses pembentukannya.
Tidak terpenuhi asas keterbukaan tersebut terjadi karena pihak-pihak yang terkait dengan materi Permendikbud Ristek No 30 Tahun 2021 tidak dilibatkan secara luas, utuh, dan minimnya informasi dalam setiap tahapan pembentukan.
Hal ini bertentangan dengan Pasal 5 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang menegaskan bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan (termasuk peraturan menteri) harus dilakukan berdasarkan asas keterbukaan.
Juga, Permendikbud Ristek nomor 30 Tahun 2021 tidak tertib materi muatan. Terdapat dua kesalahan materi muatan yang mencerminkan adanya pengaturan yang melampaui kewenangan, yaitu:
Pertama, Permendikbud Ristek No 30 Tahun 2021 mengatur materi muatan yang seharusnya diatur dalam level undang- undang, seperti mengatur norma pelanggaran seksual yang diikuti dengan ragam sanksi yang tidak proporsional.
Kedua, Permendikbud Ristek No 30 Tahun 2021 mengatur norma yang bersifat terlalu rigid dan mengurangi otonomi kelembagaan perguruan tinggi (Vide Pasal 62 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi) melalui pembentukan ‘Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual’ (Vide Pasal 23 Permendikbudristek No 30 Tahun 2021).
Pembuatan peraturan menteri itu, lanjut Tina, seharusnya mengacu pada hukum diatasnya. Pembuatan UU, Peraturan-peraturan lainnya pun harus menjunjung tinggi nilai Moralitas.
“Karena itu diatas Hukum, ketika Hukum bertentangan dengan moral maka hukum kehilangan legalitasnya,” pungkas Tina Tamher.
Hingga kini gelombang protes berbagai pihak terhadap Permendikbud Ristek No 30 tahun 2021 terus bermunculan. Mulai Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, para aktivis perempuan dan kelompok masyarakat lainnya.
Partaigelora.id – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) melalui YESPreneur memberikan pelatiihan dan pendampingan legalitas usaha untuk UMKM di Desa Bojong Gebang, Babakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Minggu (14/11/2021).
Ketua Bidang UMKM dan Ekonomi Keluarga (Ekkel) DPN Partai Gelora Indonesia Srie Wulandari mengatakan, pelatihan dan pendampingan merupakan lanjutan program peningkatan Neraca Rumah Tangga dari Bidang UMKM dan Ekkel Partai Gelora.
“Pelatihan dan pemdampingan yang dilakukan yakni pelatihan membuat Nomer Induk Berusaha (NIB) di Desa Bojong Gebang, Babakan Kabupaten Cirebon,” kata Srie Wulandari.
Menurut Coach Wulan – sapaan akrab Srie Wulandari, pendampingan akan ini mendorong semua pelaku UMKM teregistrasi legalitas usahanya. Sehingga mendapat jaminan perlindungan hukum dan bisnisnya semakin terpercaya memiliki potensi berkembang.
“Hal ini pastinya sejalan dengan dengan komitmen kami dalam mendukung peningkatan UMKM agar dapat menjadi pilar ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Selama enam bulan kedepan tim di Bidang UMKM dan Ekkel yang ada di seluruh DPW, ungkapnya, akan serentak fokus terhadap pendampingan UMKM untuk mendaftarkan legalitas usaha para UMKM di wilayahnya.
“Targetnya sebanyak 500 UMKM di setidap daerah apat memperoleh nomor induk berusaha,” ujar Wulan.
Pelatihan ini dihadiri beberapa komunitas dari pengusaha, antara lain pengusaha batik, tas kulit, katering, sulaman rajut, usaha kuliner dan usaha lainnya di Desa Bojong Gebang, Kabupaten Cirebon.
Pelatihan ditutup dengan penyerahan cinderamata dari YESPreneur sebagai kepada ketua komunitas pengusaha tersebut, oleh Ketua Bidang UMKM dan Ekkel DPN Partai Srie Wulandari yang disaksikan Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Cirebon.
Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, pemerintah perlu mendukung iklim usaha pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif saat pandemi ini.
Sebab, UMKM dan ekonomi kreatif dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan mengentaskan kemiskanan.
“Kita punya peluang pasar domestik, dan UMKM saya memandangnya harus menjadi pilar utama ekonomi Indonesia, karena itu dibutuhkan iklim yang mendukung pengembangan UMKM,” kata Anis Matta saat berdialog dengan pelaku UMKM di Yogyakarta dalam acara bertajuk ‘Jagongan Gayeng, Sabtu (14/11/2021) malam.
Dalam dialog yang dilaksanakan dalam suasana santai di Coday Coffee ini, Anis Matta menilai dukungan tersebut akan menciptakan model sosial masyarakat kelas menengah yang berasal dari pelaku UMKM. Berbeda dengan negara-negara lain di dunia yang dibangun dari kelompok profesional.
“Tapi mereka ini rentan terhadap gejolak ekonomi. Sektor UMKM di Indonesia sudah teruji daya tahannya dalam menghadapi krisis ekonomi,” katanya.
Partai Gelora, lanjutnya, pelaku UMKM ini harus menjadi kelompok mayoritas kelas menengah, sehingga akan mengokohkan ekonomi nasional.
Namun, untuk mencapai hal itu, dibutuhkan peta jalan pengembangan UMKM.
“Selain itu, pemerintah juga harus menyiapkan sistem pendukung bagi pengembangan UMKM dengan memberikan kemudahan permodalan, teknologi, kemudahan regulasi, insentif pajak, dan pasar yang terbuka,” ujarnya.
Menurut Anis Matta, sistem pendukung tersebut baru akan efektif apabila iklim usaha bagi UMKM terbangun dengan baik dengan memberikan ruang kebebasan berusaha.
Sehingga bisa menjadi supporting sistem bagi demokrasi dan bisnis yang sehat.
“Insya Allah, kalau dunia usaha diberikan kebebasan akan tumbuh besar. Dan kita ingin kelas menengah dari pelaku UMKM ini, kuat dan kokoh seperti diamond. UMKM harus menjadi kelompok mayoritas kelas menengah Indonesia,” ujarnya.
Anis Matta menambahkan, Partai Gelora akan terus melakukan kampanye literasi untuk mewujudkan Indonesia menjadi 5 besar dunia melalui pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif sebagai penopang perekonomian nasional.
Hal senada disampaikan Ketua DPW Partai Gelora Daerah Istimewa Yogyakarta Zuhrif Hudaya mengungkapkan Indonesia punya potensi yang besar untuk pengembangan industri kreatif dan digital.
Yogyakarta sebagai salah satu kota pendidikan dan budaya, lanjutnya, harus bisa menjadi lokomotif industri kreatif dan digital.
“Partai Gelora sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan sektor ini dan selama ini telah menjalankan beberapa program yang dapat menjadi pendorong pertumbuhan industri kreatif,” terangnya.
Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah mengamini Zuhrif Hudaya. Fahri menilai Yogjakarta memiliki pasar yang kuat dalam industri kreatif, industri kata-kata.
“Bangsa Indonesia itu pada dasarnya bangsa pengumpat yang melambangkan perasaan hati. Peluang ini menjadi bisnis yang memproduksi kaos dengan menangkap public mood, perasaan hati masyarakat. Pasar Jogya ini lebih kuat dari Indonesia,” kata Fahri.
Sebelum berdialog dengan pelaku UMKM Yogyakarta, Anis Matta melakukan kunjungan ke Dagadu Jogja, Dagadu merupakan brand merchandise asli Jogja yang telah malang melintang dalam dunia merchandise khas daerah Jogja.
Saat menuju Dagadu, Anis Matta didampingi Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, fungsionaris DPN, Ketua DPW Zuhrif Hudaya dan kader Partai Gelora Yogyakarta berjalan kaki sejauh 500 meter di tengah terik panas matahari.
Anis Matta dan Fahri Hamzah menyapa masyarakat Yogyakarta sambil menyusuri Jalan Gedong Kuning Selatan, Bangun Tapa, Bantul menuju outlet Dagadu.
Di Dagadu, Anis Matta dan Fahri Hamzah diterima langsung CEO PT Aseli Dagadu Djokja Mirza Arditya. Mirza mengatakan, Dagadu didirikan 28 mahasiswa jurusan arsitektur UGM 28 tahun lalu.
“Di UGM yang dibolehkan pakai kaos hanya mahasiswa arsitektur. Mereka kemudian membuat kaos sendiri, berkembang dan bisa survive sampai sekarang,” kata Mirza Arditya.
Dalam kesempatan ini, Anis Matta mengajak Dagadu untuk kolaborasi Co-branding dalam membuat produk baru kaos. Karena pada prinsipnya antara Dagadu dengan Partai Gelora memiliki kesamaan.
Yakni Dagadu memproduksi kata-kata, Partai Gelora memproduksi narasi. Kaos yang dibuat Partai Gelora selama ini masih terlalu formal dan kaku.
“Kita ingin melakukan kolaborasi cinta dengan Dagadu, karena pada padasarnya Dagadu tidak jualan kaos, tapi kata-kata, senyuman dan jok-jok lucu. Kita bisa kerjasama Co-branding produk baru untuk partai politik,” katanya.
Partaigelora.id – Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menemui pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kalimantan Selatan (Kalsel), Sabtu (13/11/2021).
Partai Gelora mendatangani pengrajin Sasaringan atau kain batik khas Banjar di Daper Kampung Kriya Ketupat, Banjarmasin, Kalsel.
Kunjungan ke pengrajin Sasaringan tersebut, dipimpin Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Ratih Sanggarwati dan Ketua Bidang Hubungan Kerjasama Lembaga Ratu Ratna Damayani.
Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Ratih Sanggarwaty berpendapat, ‘sasirangan memiliki potensi yang sangat besar untuk “go international” ( di ekspor ke mancanegara).
Ratih memberikan sharing tentang Sasirangan Go Internasional di ibukota Provinsi Kalsel yang kini berpenduduk lebih empat juta jiwa tersebar pada 13 kabupaten/kota itu.
Ia menegaskan, bahwa sasirangan memiliki potensi besar untuk Go Internasional karena memiliki ciri khas yang benar-benar unik.
“Kami di Partai Gelora siap untuk membantu dan memperjuangkan kemajuan industri sasirangan di Kalsel berkolaborasi dengan setiap elemen masyarakat khususnya perempuan Kalsel sendiri,” demikian Ratih.
Sementara itu, Ketua Bidang Perempuan DPW Partai Gelora Kalsel Siti Saro mengungkapakan, hari ini pihaknya banyak berdialog tentang pewarna alam dan motif sasirangan yang memiliki makna yang dalam.
“Kami berharap nilai-nilai budaya yang ada di kain sasirangan bisa terus dijaga dan dikembangkan,” katanya.
Dalam acara bersama rombongan DPN Partai Gelora itui ikut serta komunitas sekitar Kriya Ketupat serta pengrajin sasirangan dengan total 25 orang.
Partaigelora.id – Ketua Bidang Generasi Muda DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Hudzaifah Muhibullah menggelar silaturahmi dengan Staf Muda Walikota Banjarmasin di Calais Caffe, Jl. Veteran, Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Sabtu (13/11/2021).
Kegiatan ini dilakukan menjalin silahturahmi dengan kader muda Partai Gelora di Kota Banjarmasin, serta bertemu Staf Muda Walikota Banjarmasin yang baru saja dibentuk pada 28 Oktober 2021.
Hudzaifah Muhibullah (Udef) mengungkapkan rasa senangnya bisa bersilaturahmi dengan rekan-rekan kader muda Partai Gelor, serta Staf Muda Walikota Banjarmasin.
Menurutnya, kehadiran staf muda Walikota ini adalah bukti bahwa peran pemuda memang benar-benar dibutuhkan dalam membangun kota.
“Semoga ini bisa menjadi awal yang baik ungkap pria yang akrab disapa Udef ini, dirinya berharap Partai Gelora dan Staf Muda Walikota Bisa berkolaborasi di kemudian hari,” kata Udef
Dendy Primanandi, perwakilan Staf Muda Walikota Banjarmasin Bidang Perencanaan Wilayah Kota dan Lingkungan mengungkapkan, bahwa dirinya dan rekan-rekan staf muda lainnya merasa terhormat bisa bersilaturahmi dengan Generasi Muda Partai Gelora.
“Kami ingin meluruskan beberapa hal terkait staf muda itu sendiri karena banyak kesalah pahaman yang terjadi dimasyarakat tentang kehadiran kami. Kami bekerja tulus, bahkan sampai dengan hari ini kami tidak menerima gaji sebagai staf muda,” kata Dendy.
Ketua Generasi Muda Partai Gelora Kalsel Armadiansyah mengatakan, Partai Gelora ingin menjalin kolaborasi banyak hal dengan Staf Muda Walikota Banjarmasin.
“Kami tadi banyak sharing soal mitigasi bencana Banjir di Kota Banjarmasin serta peluang-peluang pemuda di pemerintahan,” kata Armadiansyah.
Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, Indonesia memerlukan ‘generasi musim semi’, bukan ‘generasi musim dingin, sehingga bisa menjadikan Indonesia sebagai kekuatan lima besar dunia.
Generasi musim semi, adalah generasi yang penuh optimisme dan keyakinan yang tahu cara mengubah krisis sebagai peluang. Bukan sebaliknya generasi musim dingin, generasi yang penuh kebekuan yang tidak tahu arah dan tahun, serta berputus asa dan mudah menyerah.
“Jadi kita di Partai Gelora ini, tidak hanya memikirkan nasib kita saja, tetapi juga bisa mengubah wajah Indonesia, tahu cara mengubah krisis menjadi peluang,” kata Anis Matta saat menyampaikan pembekalan Rapat Koordinasi Pemenangan DPW Partai Gelora Jawa Tengah (Jateng) di Hotel Patra Jasa Semarang, Jumat (13/11/2021).
Menurut Anis Matta, Partai Gelora menyadari bahwa ide lima besar dunia memang masih susah dipahami oleh masyarakat, termasuk para pemimpin sekarang. Tetapi dengan generasi musim semi itu, ide lima besar dunia itu bisa tercapai.
Ia memprediksi dalam 10 tahun ke depan, Indonesia akan mengalami guncangan hebat kebangkrutan ekonomi, selain terlibat dalam pusaran konflik geopolitik. Sehingga perlu dipersiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasinya, sebelum hal itu benar-benar terjadi.
“Saya tahu ini banyak yang tidak nyambung, begitu sulit menjelaskan ini (narasi 5 besar dunia, red). Jangankan orang desa, orang yang di dekat saja istana bingung. Makanya, pemerintahnya bingung, oposisinya juga bingung. Tapi sorot mata saudara, adalah optimisme, penuh keyakinan, senyum optimisme, bukan kesedihan. Itu yang kita perlukan,” ujarnya.
Dari rasa optimisme itu, lanjutnya, Partai Gelora telah mencapai pencapaian luar biasa, meski dengan sumber daya terbatas dan berada dalam target tekanan selama dua tahun ini.
“Kita sudah coba di Pilkada Medan, apa yang tidak mungkin jadi mungkin, karena keyakinan dan optisme kita, nah ikan akan kita coba secara nasional,” katanya.
Berdasarkan survei internal, ungkapnya, Partai Gelora sudah masuk 10 besar partai politik (parpol) dan menggeser parpol yang tidak lolos parliament threshold pada Pemilu 2019 lalu. Bahkan di DKI Jakarta, popularitas Partai Gelora sudah mencapai 3 persen.
“Ada waktunya kita lemah, tidak berdaya terhadap waktu yang kita targetkan. Saya bisa bayangkan stressnya anda luar biasa, tetapi dengan kesabaran dan daya tahan kita, alhamduillah sudah mencapai pencapaian luar biasa,” katanya.
Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menambahkan, Partai Gelora ingin mengurangi ketegangan-ketegangan yang tidak diperlukan, sehingga bisa fokus untuk membangun.
“Partai Gelora punya harapan, rumah besar Indonesia tidak boleh lagi ada ketegangan. Kita lebih baik buruk di layar, tapi orang jatuh cinta kepada kita. Bukan sebaliknya, baik di layar tetapi orang tidak jatuh cinta ke kita,” kata Fahri.
Anis Matta berharap semua kader Partai Gelora mengusir sumber pesimisme yang ada dalam diri. Karena suasana jiwa negatif dan perasaan tidak berdaya, akan melahirkan kesedihan dan kemalasan.
“Kita punya target 2 kursi per dapil, Insya Allah dan dengan penuh keyakinan akan tercapai, makanya saya kirim caleg di Solo Raya ibu Mala (Kumalarasi Kartini, red). Saya tahu ini akan ‘brutal’, karena yang dihadapi di dapil ini orang kuat dan partai kuat. Tapi jika Allah mengizinkan semua akan berubah,” tandasnya.
Partai Gelora, ungkap Anis Matta, sudah membuat roadmap pemenangan Pemilu 2024 dalam sebuah gerakan seperti melaunching Blue Helmet, Rumah Qur’an, Majelis Cinta Rosul, gerakan UMKM di Jateng dan gerakan lingkungan di Jawa Barat.
Rapat Koordinasi Pemenangan DPW Partai Gelora Jateng ini, selain dihadiri Anis Matta dan Fahri Hamzah, juga dihadiri Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, Ketua Bidang Pengembangan Teritori III (Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyarkarta) Achmad Zaenudin, fungsionaris DPN Partai Gelora, Ketua DPW Jateng Achmadi dan DPD se-Jateng.
Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengunjungi dua sentra usaha UMKM di Semarang, Jawa Tengah, yaitu Batik Semarang 16 dan Bandeng Presto New Citra.
Anis Matta mengatakan, kunjungannya sebagai bentuk dukungan Partai Gelora terhadap keberlangsungan UMKM yang terdampak pandemi Covid-19.
“UMKM ini sudah terbukti bisa menggerakkan roda perekonomian kita selama masa krisis ini. Sehingga kita perlu memberikan dukungan agar mereka bisa terus bertahan,” kata Anis Matta di Semarang, Jumat (12/11/2021).
Menurut Anis Matta, pelaku UMKM saat ini mengeluhkan penurunan omzet penjualan dan kendala dalam pemasaran.
Ia berharap keluhan dari pelaku UMKM ini mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
“Kita berharap pemerintah membuat kebijakan yang pro UKM. Dan semua pihak bisa berkolaborasi untuk sama-sama mengembangkan UMKM,” katanya.
Anis Matta menilai pengembangan usaha UMKM bisa menjadi solusi pemerintah untuk mengatasi kemiskinan yang meningkat selama pandemi Covid-19.
“Dari kunjungan saya di tiga provinsi, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kita melihat angka kemiskinan naik selama pandemi. Nah, pengembangan UMKM bisa jadi solusi untuk mengentaskan kemiskinan,” tegasnya.
Anis Matta menegaskan, UMKM merupakan pilar ekonomi rakyat, karena konsep UMKM berupaya untuk memberdayakan ekonomi masyarakat.
“Kita dorong UMKM naik kelas supaya jadi besar. Kita mendorong betul UMKM ini, karena merupakan pilar ekonomi rakyat,” katanya.
Anis Matta mengunjungi langsung pabrik Bandeng Presto New Citra di kawasan Padurungan dan Batik Semarang 16 di Kampung Metese, Kecamatan Tembalang, Dusun Sumberejo, Kota Semarang.
Anis Matta melihat langsung proses pembuatan bandeng presto hingga pengemasan.
“Rasanya luar biasa, kita coba akan bantu permasalahan mereka dalam pemasaran secara online agar bisa berkembang,” katanya.
Sementara di Batik Semarang 16, Anis Matta juga melihat proses menenun benang hingga pembuatan model batik tulis dan proses pembatikannya menggunakan canting.
Anis Matta sempat merasakan bagaimana cara menenun benang menjadi kain, serta membatik menggunakan canting.
“Batik ini merupakan produk warisan budaya luar biasa Indonesia, yang harus kita jaga dan lestarikan,” katanya.
Anis Matta menilai ada filosofi yang bisa diambil dari Batik ini, yakni ketekunan, cita rasa dan keindahan karena rumitnya proses pembuatannya yang membutuhkan waktu antara 7-8 jam.
“Falsafahnya luar biasa, Batik ini mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia yang rumit, tapi harmonis,” tegasnya.
Dalam kunjungan ke UMKM, Anis Matta didampingi Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Ahmad Rilyadi, para fungsionaris DPN dan Ketua DPW Jateng Achmadi.
Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta memberikan apresiasi kepada para pejuang yang layak disebut sebagai pahlawan dalam konteks hari ini atau kekinian.
Dikutip dari Channel Gelora TV, Jumat (12/11/2021), penyerahan apresiasi dilakukan Anis Matta di rumah bersejarah HOS Cokroaminoto di kawasan Peneleh, Surabaya, Jawa Timur, pada peringatan Hari Pahlawan, Rabu 10 Nopember 2021 lalu.
Penerima apresiasi tersebut adalah Abdul Majid Uno, pejuang disabilitas yang bergerak membantu perlindungan pemenuhan hak-hak disablitas sesuai cita-cita Indonesia yang memastikan kesejahteraan bersama.
Kedua Rina Roselawati, pejuang sosial membantu masyarakat kecil dalam pengentasan kemiskinan dan gizi buruk dari tingkat RT hingga di kabupaten di Jatim.
Ketiga Titik Suwandari, pejuang ekonomi yang memperjuangkan, serta membantu pemberdayaan masyarakat kecil dan UMKM di Jatim.
Pejuang disabilitas Abdul Majid Uno menyampaikan terima kasih kepada Partai Gelora yang telah memberikan perhatian kepada nasib para penyandang disabilitas.
“Terima kasih kepada Ketua Umum, Pak Anis Matta dan kawan Partai gelora yang sudah memberikan apresiasi atas usaha-usaha yang kami lakukan untuk penyandang disabilitas,” kata Abdul Majid.
Dalam kesempatan ini, Abdul Majid menyerahkan buku karangan dirinya kepada Anis Matta yang akan dilaunching pada 3 Desember 2021 bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional.
Buku berjudul ‘Penghapusan Stigma dan Peran Partisipasi Pemuda Disablitas Dalam Politik dan Demokrasi. ini, kata Abdul Majid, bercerita tentang peran pemuda disabilitas dalam politik dan birokrasi.
“Kita ingin berkoloborasi dengan Partai Gelora. Ini prototipe buku pertama yang kita cetak dan rilis, kita sampaikan dulu ke Pak Anis Matta, sebelum kita launching pada 3 Desember pada Hari Disabilitas,” ujarnya.
Atas kepedulian Partai Gelora kepada penyandang disabilitas, lanjut Abdul Majid, para penyandang disabilitas ingin berkolaborasi dengan Partai Gelora untuk membicarakan isu-isu disabilitas dalam konteks politik dan demokrasi.
“Harapan kami kader-kader Partai Gelora bisa duduk di Senayan untuk memperjuangkan hak-hak kita penyandang disabilitas untuk bersama-sama membangun Indonesia menjadi kekuatan lima besar dunia,” tandasnya.
Berdasarkan UU No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, terdapat lima kategori disabilitas, yakni fisik, intelektual, mental, sensorik, dan ganda/multi. Adapun, berdasarkan data berjalan 2020 dari Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,5 juta atau sekitar lima persen.
Sementara Pejuang UMKM Titik Suwandari mengatakan, dirinya telah membina ratusan UMKM di Jatim, terutama kaum perempuan agar tidak agar tidak berdiam selama pandemi Covid-19 diri dan bisa menopang ekonomi keluarga.
“Saya berdayakan kaum perempuan ini melalui zoom atau saya datangi langsung ke rumah. Tujuannya untuk membesarkan hati mereka, bisa menopang ekonomi keluarga dan tidak manja lagi. Kita dampingi mereka dengan alat-alat yang ada di rumah dan bahan dari daerah itu,” katanya Titik Suwandari.
Ia mengatakan, bahan-bahan yang ada di sekitar mereka bisa dimanfaatkan dan dapat memberikan nilai tambah ekonomi tertentu. Misalkan pelepah pisang bisa menjadi krupuk, ubi bisa menjadi sereal pengganti dan suplemen minuman kesehatan dari buah-buahan.
“Buah-buahan bisa dijadikan serbuk nutrisari seperti yang dilakukan industri besar, kenapa UMKM kalah, Padahal dengan alat blender dan wajan itu sudah jadi. Contoh di Batu kita hadirkan Apel dengan segala variasinya, Nanas Blitar dan Mangga Probolinggo dengan segala variasinya. Ini salah satu langkah-langkah yang kita lakukan dalam memberdayakan UMKM,” paparnya.
Indonesia memiliki 65,5 juta UMKM pada 2019. Jumlah itu meningkat 1,98% dibandingkan pada 2018 yang sebanyak 64,2 juta unit. Jika dirinci, maka jumlah usaha mikro pada 2019 mencapai 64,6 juta. Sebanyak 798,7 ribu unit merupakan usaha kecil.
Menanggapi pemberitan apresiasi ini, Anis Matta mengatakan, Indonesia saat ini memasuki dekade ketiga abad 21, dimana sedang menghadapi situasi yang tidak menentu, akibat krisis yang disebabkan pandemi Covid-19.
Sehingga yang bisa membuat eksis Indonesia dan tumbuh besar sebagai bangsa, apabila bangsa ini memiliki banyak pahlawan, dan yang membuat orang bisa menjadi pahlawan, adalah semangat berbagi, tidak perduli dari profesi atau jabatan apapun.
“Kita serang mendengar slogan, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, itu benar. Tapi ada kebenaran lainnya, bahwa bangsa besar itu, adalah bangsa yang semua warganya adalah pahlawan,” tegas Anis Matta.
Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta dan Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah mengunjungi para nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Unit II Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (11/11/2021) petang.
Mereka melihat langsung proses pembongkaran ikan dari kapal nelayan, serta berdialog dengan para nelayan dan ketua asosiasi nelayan.
Anis Matta dan Fahri Hamzah menerima permasalahan nelayan seperi birokasi perijinan yang berbelit-belit hingga 29 perijinan, pungutan dari pusat dan daerah, serta mahalnya harga BBM untuk melaut.
Anis Matta mengatakan, nasib para nelayan saat ini sudah sangat menghawatirkan, sehingga perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Apalagi, lanjutnya, nelayan ini bisa menjadi korban akibat adanya perubahan iklim dan punya potensi berdampak besar.
“Saya sengaja berkunjung ke Juwana ini ingin ngobrol dengan nelayan. Mereka bisa menjadi korban dari perubahan iklim, karena itu regulasi kita harus memperhatikan sisi kesulitan dari nelayan,” kata Anis Matta.
Menurut dia, regulasi yang dibuat pemerintah saat ini memberatkan nelayan, belum lagi pungutan yang ditarik pemerintah pusat dan daerah.
Selain itu, harga BBM untuk nelayan juga masih tinggi, yang semestinya mendapatkan subsidi dari pemerintah, sebab penghasilan mereka dari melaut menurun drastis. saat ini, karena berbagai faktor.
“Kita sudah catat ada tiga permasalaha, yaitu birokrasi berbelit-belit, adanya pungutan, dan BBM mahal. Insya Allah akan kita sampaikan ke pemerintah. Semua regulasi yang memberatkan mereka, sebaiknya dipikirkan kembali oleh pemerintah,” ujarnya.
Fahri Hamzah menilai, nasib para nelayan di Jawa saat ini sangat memprihatinkan, karena mereka tidak punya pekerjaan lain, apalagi tanah yang berbeda dengan nelayan di wilayah lain.
Mestinya, mereka dibebaskan dari segala perijinan dan pungutan pajak, bukannya dipersulit seperti sekarang. Pemerintah juga kurang memberikan faslitas pelelangan dan pengolahan ikan, di laut maupun di darat.
“Pemerintahan ini lagi nyari duit, tapi nyali fulusnya jangan dari rakyat trus. Laut dipersusah, tapi tambang dipermudah. Ini tidak adil buat rakyat. Kita akan bombardir, kita akan demo, teriakan kekuasan itu harus melayani rakyat, jangan dibalik,” kata Fahri.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pati, Rasmijan mengungkapkan, nasib nelayan mulai terpuruk sejak Menteri Kelautan dan Perikanan (Men-KP) dijabat oleh Susi Pudjiastuti
Ketika dijabat Edhy Prabowo selaku Men-KP, nasib nelayan sudah mulai ada perbaikan, namun sayang terjerat kasus korupsi di KPK yang dinilai para nelayan berunsur ‘politis’.
Penggantinya, Wahyu Sakti Trenggono, bukannya melanjutkan perbaikan nasib nelayan yang telah dilakukan Men-KP sebelumnya, justru semakin memberatkan nasib nelayan.
“Pungutan pajak dinaikkan jadi 10 persen, ditambah pungutan daerah juga naik. Lalu, surat perijinan harus dilengkapi semua ada 29 surat, masa berlakunya berbeda-beda. Belum lagi yang operasi di laut ada 5 institusi, kalau di darat kan jelas ada satu polisi, kalau di laut ada 5 yang bisa menangkap,” kata Rasmijan.
Rasmijan mengaku sudah bertemu Men-KP Wahyu Sakti Trenggono sebanyak dua kali dan dengan Ditjen Kementerian Kelautan dan Perikanan sebanyak tiga kali tidak membuahkan hasil.
“Kita sudah mengajukan audiensi dengan Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo, red) belum direspon. Penghasilan nelayan bukan dari gaji, tetapi bagi hasil. Kalau perijinan dipersulit, pungutan pajak dinaikan, BBM juga naik, kita penghasilannya dari mana,” kata Ketua HNSI Kabupaten Pati ini.
Anis Matta berharap para nelayan mulai terjun ke politik agar memberikan dapat memberikan kesejahteran dan kemakmuran bagi nelayan sendiri. Nelayan bisa mengutus perwakilannya untuk duduk di kursi legislatif di pusat dan daerah.
“Kalau nelayan jadi Anggota DPR, DPRD maka nelayan sendiri yang bikin aturan, karena mereka yang lebih tahu nasib nelayan. Kita ingin nelayan mengutus perwakilanya di DPR, kita tidak ingin hanya dapat suara saja, tapi kita ingin ada perwakilan nelayan secara langsung,” ujar Anis Matta.
Dalam kunjungan ke Juwana ini, Anis Matta dan Fahri Hamzah juga diampingi Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan Sutriyono serta beberapa pengurus DPN lainnya, Ketua DPW Jateng Ahmadi dan Wakil Ketua DPW Purwadi.