Category: Liputan

Partai Gelora akan Gelar Bimtek II, Khusus Bahas Anggaran dan Keuangan Daerah di Tengah Ketidakpastian Situasi Geopolitik Global

Partaigelora.id- Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia akan menggelar ‘Bimtek II Anggota Legislatif 2026’ bagi 73 Anggota Legislatif (Aleg) DPRD Kabupaten/Kota dan Provinsi, dari Partai Gelora di Jakarta pada Sabtu-Senin, 13-15 Juni 2026.

Bimbingan Teknis (Bimtek) II ini, dikhususkan untuk membahas masalah anggaran dengan tema ‘Penguatan Fungsi Anggota Dewan Partai Gelora dalam Mewujudkan Tata Kelola Keuangan Daerah yang Transparan dan Aspiratif’

Wakil Menteri (Wamen) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah akan membuka pelaksanaan Bimtek II tersebut.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora Mahfuz Sidik mengatakan, Partai Gelora sengaja menggelar Bimtek di tengah situasi dunia yang semakin tidak menentu, yang dapat berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi dan politik nasional.

Hal itu dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada para Anggota DPRD dari Partai Gelora, baik yang duduk di kursi legislatif provinsi dan kabupatan/kota mengenai situasi dunia terkini.

Sebab, persoalan yang dihadapi Indonesia juga dihadapi banyak negara lain, karena hal ini merupakan fenomena yang sifatnya global.

Sehingga para Anggota Dewan Partai Gelora memiliki pemahaman terhadap kondisi ini, dan dapat menjelaskan kepada masyarakat tentang situasi yang terjadi, serta apa yang mestinya mereka lakukan.

“Bukan alih-alih kita kemudian ikut memprovokasi masyarakat untuk mengungkapkan kekecewaannya. Alangkah lebih bagusnya kita mengedepankan pendidikan politik yang baik dan memberikan informasi yang positif,” kata Mahfuz Sidik, Kamis (11/6/2026).

Namun, tentu saja dengan tetap membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritiknya , mengungkapkan fikirannya secara terbuka.

“Ini jembatan yang harus dilakukan, yang harus terus dibangun oleh Anggota Dewan, khususnya dari Partai Gelora sekarang ini, ada 73 orang,” ujar dia

Menurut Mahfuz, Bimtek kali merupakan yang kedua digelar, setelah pada sebelumnya dilaksanakan pada 2-5 Oktober 2025.

“Kita nanti akan memberikan banyak wawasan tentang informasi situasi terkini baik di dunia maupun dampaknya secara domestic,” katanya.

Selain itu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gelora juga akan memberikan arahan kepada para Angggota Dewan Partai Gelora mengenai langkah apa yang harus dilakukan di tengah Masyarakat.

“Mereka (Anggota Dewan) adalah perwakilan aspirasi masyarakat diberbagai daerah masing-masing. Dan kita memberikan arahan kepada mereka apa yang semestinya mereka lakukan. Itu target yang ingin dicapai,” tegas Mahfuz.

Ketua Panitia Pelaksana Bimtek II Muhammad Rozai menambahkan, Bimtek II ini merupakan kelanjutan dari Bimtek sebelumnya sebagai upaya Partai Gelora menyiapkan kadernya yang ada di legislatif bisa bekerja profesional dan aspiratif.

Bimtek II, lanjut dia, akan menitik beratkan pada peningkatan kapasitas Aleg dalam pengetahuan teknis dan strategis menghadapi dinamika politik dan tata kelola anggaran.

“Hal ini sangat penting karena perkembangan politik global yang sangat dinamis membawa dampak besar sampai pada keuangan daerah,” kata Rozai.

Dalam Bimtek II para Anggota Dewan Partai Gelora akan mendapatkan beberapa materi penting keuangan daerah dengan narasumber yang berkompeten di bidangnya masing-masing
Salah satu diantaranya adalah Ketua KPU RI Mochammad Afiifuddin akan menyampaikan materi tentang ‘Antisipasi Perubahan dan Kebijakan Pemilu 2029 pada hari kedua pelaksanan Bimtek II, Minggu 14 Juni 2026.

Sementara Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta akan memberikan arahan sekaligus menyampaikan perkembangan mengenai situasi terkini geopolitik global.

Kemudian Sekjen Partai Gelora Mahfuz Sidik akan menutup pelaksanaan Bimtek II yang akan berlangsung selama tiga hari tersebut, pada Senin 15 Juni 2026.

Alya Sidik, Penulis Cilik Baru Indonesia, Luncurkan Tiga Buku Berbahasa Inggris di Usia 9 Tahun

Partaigelora.id-JAKARTA-Jumlah penulis anak Indonesia bertambah dengan munculnya Putri Alya Sidik.. Tidak tanggung-tanggung, pada Selasa 9 Juni 2026, Putri Alya Sidik langsung meluncurkan tiga buku perdananya, tepat di usia sembilan tahun.

Ketiga buku tersebut ditulisnya dalam bahasa Inggris diberi judul: My School is My Second Home, I Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.

Buku tersebut, menceritakan tentang kehidupan kesehariannya, Putri Alya Sidik. Ia berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang hal-hal baik yang semestinya didapatkan dan dijalani oleh anak-anak Indonesia.

“Aku ingin teman-temanku bersemangat dan gembira di sekolah, lebih suka makanan sehat, dan juga melakukan kegiatan yang menyenangkan di luar sekolah,” kata Alya dalam peluncuran bukunya di Hotel Grandkemang, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026).

“Karena aku dan teman-temanku harus menjadi anak Indonesia yang sehat, pintar dan berprestasi,” imbuhnya.

Kemunculan Alya, pelajar Sekolah Dasar Delima School Jakarta sebagai penulis buku cilik di tengah serbuan budaya digital dan media sosial menjadi pengecualian yang unik.

Hal ini diungkapkan oleh Meutya Viada Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Kabinet Merah Putih dalam kata pengantarnya pada buku Putri Alya Sidik.

“Tumbuhnya keberanian Alya untuk menerbitkan buku di usia 9 tahun menjadi hal yang patut diapresiasi dan dirayakan,” kata Meutya.

Menurut dia, hal ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki kreativitas, imajinasi, dan keberanian untuk berkarya sejak dini.

Lebih lanjut Meutya menegaskan bahwa di tengah perkembangan teknologi, membaca dan menulis tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus penting untuk membantu anak-anak berpikir, berkreasi, dan mengenal dunia lebih luas.

Alya yang merupakan putri Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia ini berkeinginan menulis serial buku tentang kehidupan sehari-hari dan diberi label Diary of Alya, dengan target terbit minimal tiga buku baru setiap tahun.

Buku-buku Alya ditulis dengan format berbahasa Inggris, berwarna, bergambar dan dengan dua puluhan jumlah halaman.

“Aku ingin buku ini mudah dibaca dan dibawa oleh teman-temanku, menyenangkan karena banyak gambar dan berwarna, menambah kemampuan bahasa Inggris, serta memberi inspirasi untuk hidup sehat, semangat dan berprestasi,” tutur Alya menjelaskan tentang ketiga bukunya.

Catatan Menarik

Ada catatan menarik dari peluncuran buku perdana Putri Alya Sidik, seorang penulis cilik di Jakarta berusia sembilan tahun yang meluncurkan tiga buah buku dalam bahasa Inggris, dan diberi label serial Diary of Alya.

Adalah banyaknya tokoh-tokoh nasional yang memberikan komentar buku Putri Alya Sidik tersebut. Pengantar buku ditulis oleh Meutya Hafid, Menkomdigi RI, dan komentar dari Wamenlu RI Anis Matta, Prof. Dr. Seto Mulyadi, pakar psikologi pendidikan anak, Prof. Effendi Gazali, Phd, pakar komunikasi politik, serta Inul Daratista, artis dan seorang ibu.

Inul Daratista sendiri sedianya hadir dalam peluncuran tersebut, namun karena kesibukannya sebagai artis, ia batal hadir.
Suami Adam Suseno itu mengirimkan video ulasan pada peluncuran buku Putri Alya Sidik.

Ia memuji Alya sebagai anak hebat dan berprestasi. Bahkan Inul memberikan jempol kepada Alya dalam usia yang sangat belia sudah menulis buku dan meluncurkan tiga buku selaligus dalam peluncuran perdananya.

Karena itu, kehadiran Alya, dianggap menambah deretan nama penulis buku cilik, yang saat ini masih sedikit. Hal ini membuka kembali fakta akan masih rendahnya tingkat literasi di masyarakat Indonesia.

Menurut data UNESCO (2020), Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal tingkat literasi dunia.

Angka minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001, artinya hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang gemar membaca.

Sementara budaya menulis lebih rendah, karena masyarakat Indonesia lebih kuat dalam tradisi lisan (tutur/audiovisual).

Tradisi tutur dan audiovisual semakin berkembang dengan penggunaan meluas teknologi komunikasi.

Menurut data UNICEF (2024), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta orang.

Data Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa 39,71% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, dan 35,57% sudah mengakses internet.

Menteri Komdigi, Meutya Hafid telah mengeluarkan batasan kepada anak-anak dalam menggunakan internet, dan mendorong dikembangkannya budaya membaca dan menulis.

Rendahnya Tingkat Kegemaran Membaca dan Menulis (TGMM) masyarakat juga Prof. Dr. Seto Mulyadi atau Kak Seto dalam ulasan pada peluncuran serial buku Diary of Alya.

Ia menyoroti lima faktor penyebab kondisi ini. Pertama, minat membaca pada anak masih rendah akibat minimnya keteladanan dan dorongan dari orangtua.

Kedua, literasi digital yang pasif, dimana perilaku membaca pada anak bergeser ke media digital yang cenderung bersifat instan dan kurang melqatih kemampuan berfikir kritis.

Ketiga, menulis masih dianggap beban akademis, sebatas menyelesaikan tugas sekolah sehingga kreativitas dan kemampuan menuangkan ide secara bebas tidak terasah.

Keempat, akses buku tidak merata dengan kesenjangan besar di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Kelima, kurangnya peran keluarga dimana membaca belum menjadi kebiasaan sehari-hari di keluarga, dan lingkungan sekitarnya.
Pandangan Kak Seto ini diamini oleg Gregoria Ira, Vice Principal pada Delima School, Jakarta.

Menurutnya, kurikulum sekolah dan buku teks belum mampu menumbuh-kembangkan budaya baca dan menulis pada siswa.

Salah satu penyebabnya adalah serbuan media digital yang lebih menyuburkan budaya tutur atau audiovisual.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Delima School misalnya, memadukan konsep ‘sekolah digital’ dan ‘sekolah konvensional’ dengan pembiasaan pada budaya membaca dan menulis.

“Anak yang terbiasa membaca dan menulis cenderung lebih mudah menyerap materi pelajaran apapun. Membaca dan menulis adalah fondasi paling krusial dalam perkembangan anak.” ungkap Ira.

Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis adalah alat utama untuk membentuk cara anak berfikir, berkomunikasi, dan memahami dunia.

Kecakapan Rendah

Ada catatan menarik dari peluncuran buku perdana Putri Alya Sidik, pelajar ekolah Dasar berusia sembilan tahun dalam bahasa Inggris, dan diberi label serial Diary of Alya.

Dalam laporan Indeks Kecakapan Bahasa Inggris (English Proficiency Index) pada tahun 2025, Indonesia menempati peringkat ke-80 secara global dari 123 negara, dengan skor 471 dan masuk dalam kategori kecakapan Rendah. Di Asia, Indonesia berada di posisi ke-12, tertinggal jauh dari Malaysia dan Filipina.

Hal ini terungkap dalam acara peluncuran buku perdana Putri Alya Sidik, siswi Delima School dan berusia Sembilan tahun, yang telah menulis tiga buah buku dalam bahasa Inggris.

Di labelkan Diary of Alya, ketiga buku tersebut berjudul: My School is My Second Home, I Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.

Menurut Wahyu Kusnadi, guru Bahasa Inggris yang juga editor dari ketiga buku yang ditulis Alya, rendahnya Indeks Kecakapan Bahasa Inggris pada siswa sekolah di Indonesia, khususnya di tingkat dasar, penyebab utamanya bermula dari kebijakan kurikulum.

Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang tidak mewajibkan bahasa Inggris di jenjang SD.

“Pada kurikulum 2013, bahasa Inggris diturunkan statusnya menjadi mata pelajaran pilihan. Akibatnya banyak Sekolah Dasar yang meniadakan pelajaran ini karena keterbatasan sumber daya pengajar,” kata Wahyu di Hotel Grandkemang, Selasa 17 Juni 2026.

Namun, pada kurikulum Merdeka 2025, bahasa Inggris kembali dijadikan mata pelajaran pilihan menuju wajib, yang ditargetkan diimplementasikan secara penuh pada tahun ajaran 2026/2027.

“Namun masa transisi ini masih menyisakan sejumlah kendala,” Jelas Wahyu, yang sudah 17 tahun mengajar bahasa Inggris di Delima School Jakarta.

Dalam mengatasi kendala di atas, Wahyu mendesak pemerintah untuk segera memenuhi kebutuhan tenaga pengajar bahasa Inggris dengan kompetensi standar untuk sekolah jenjang dasar.

“Penyediaan buku-buku bacaan berbahasa Inggris untuk sekolah yang sesuai dan mendukung kurikulum juga sangat penting. Apalagi harga buku bacaan berbahasa Inggris relatif mahal,” tandas Wahyu.

Kehadiran Alya menambah jumlah penulis cilik Indonesia yang menulis buku dalam bahasa Inggris. Di antaranya ada nama Deliang Al-Farabi, Nadia Shafiana Rahma, dan Karinda Susanto.

Menurut Ferris Affan, pegiat dunia pendidikan yang juga Principal Delima School Jakarta, kemunculan penulis seperti Alya didorong oleh tren sekolah dwibahasa (bilingual/international school), akses teknologi media, dan meningkatnya kesadaran orang tua terhadap literasi sejak dini.

“Kami mewajibkan seluruh siswa jenjang dasar untuk menggunakan bahasa Inggris di sekolah, begitupun para pendidiknya. Ini bagian dari upaya meningkatkan Indeks Kecakapan Berbahasa Inggris di kalangan siswa SD.” jelas Feries.

Potensi Krisis Pupuk dan Ancaman Kelaparan Dunia, Anis Matta: Konflik Timur Tengah Harus Didorong Jadi Zona Pembangunan

Partaigelora.id-Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta, mengingatkan bahwa ancaman paling berbahaya dari konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah (Timteng) bukan sekadar kenaikan harga minyak.

Melainkan adalah ancaman krisis pupuk yang berpotensi memicu kelaparan di khususnya kawasan Asia dan terhentinya mobilitas perdagangan dunia.

“Begitu pergerakan terhenti di kawasan ini, seluruh dunia akan menghadapi masalah,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Hal itu disampaikan Anis Matta dalam wawancara eksklusif dalam acara ‘One on One’ bertema ‘Peran Indonesia di Tengah Konflik Global’ di TVOne pada Jumat (29/5/2026).

Menurut Anis Matta, Asia menjadi kawasan paling rentan karena ketergantungan besar terhadap energi dari Timteng.

Asia dengan populasi lebih dari empat miliar jiwa hampir sepenuhnya bergantung pada jalur distribusi yang melewati Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk untuk pasokan pupuk.

Sementara China, India, Asia Tenggara, dan Jepang disebut tidak memiliki sumber daya energi yang cukup, sehingga Selat Hormuz sebagai jalur vital menjadi titik rawan.

“Jadi korban terbesar dari choke point ini adalah Asia, dan ancaman pupuk justru lebih serius disbanding energi,” katanya.

Wamenlu RI Urusan Dunia Islam ini menilai mayoritas di kawasan Asia dan Afrika membutuhkan pasokan pupuk. Kebutuhan pupuk di kawasan ini menjadi krusial untuk menjaga ketahanan pangan.

Namun, impor dari Rusia terkendala sistem pembayaran akibat sanksi internasional.” Kita akan punya masalah nanti masalah pupuk. Dan masalah pupuk ini akan menjadi masalah semua negara di kawasan Asia ini.” katanya.

Anis Matta juga menyoroti Eropa yang tidak memiliki sumber energi memadai, sehingga industri mereka tidak kompetitif ketika harga minyak melonjak.

Karena itu, jika jalur ini tersumbat akibat konflik yang berkepanjangan, maka ancaman kelaparan bukan lagi sekadar skenario terburuk.

“Ancaman jangka menengah adalah kelaparan jika perang terus berlanjut . Saya suka mengatakan kepada teman-teman di Timur Tengah, Anda berperang, kami yang mati,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Indonesia kini fokus pada keamanan pangan. Indonesia , lanjut dia, mendorong perubahan zona konflik menjadi zona pembangunan dengan prasyarat utama yaitu perdamaian.

“Ketidakpastian di Timur Tengah sangat merugikan industri Indonesia karena kenaikan harga minyak membuat produk domestik menjadi tidak kompetitif di pasar global,” katanya.

Anis Matta mengungkapkan, Indonesia saat ini berperan aktif melalui forum multilateral seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), PBB, dan forum BRICS untuk menyuarakan perdamaian.

Diplomasi Indonesia, kata Anis Matta, dilandasi oleh prinsip politik luar Negeri ‘bebas aktif’. Artinya Indonesia tidak berpihak pada kekuatan besar manapun. Namun tetap aktif berperan dalam menciptakan perdamaian serta menyelesaikan konflik internasional.

“Prinsip ini mendorong Indonesia untuk ikut terlibat dalam forum-forum multilateral, membangun dialog antarnegara, serta menolak segala bentuk penjajahan sesuai amanat Pembukaan UUD 1945,” jelasnya.

Diplomasi Indonesia juga menempatkan kepentingan kemanusiaan dan pembangunan sebagai prioritas, mendorong kerja sama Selatan-selatan.

Solusi damai dilakukan melalui forum dialog, dan penguatan jaringan internasional tanpa kompromi terhadap kedaulatan nasional.

Secara bilateral, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI juga tetap menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mendorong terciptanya sejumlah nota kesepahaman awal.

Indonesia, menurut dia, tengah menjajaki kerja sama investasi pupuk dengan Laos, serta negara-negara Timur Tengah seperti Yordania, Maroko, dan Aljazair yang memiliki kapasitas produksi pupuk dan punya fosfat banyak.

“Timur Tengah ini merupakan jantung energi dan logistik dunia, terutama melalui titik-titik krusial seperti Selat Hormuz dan Bab El Mandab yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa,” pungkas Anis Matta.

Anis Matta: Refleksi Ibadah Haji Jadikan Umat Islam Menjadi Manusia Global

Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia yang juga Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta mengatakan, ada banyak refleksi yang bisa dipetik dari ibadah haji setiap tahunnya, tak terkecuali pada pelaksanaan Ibadah Haji 1447 H/2026 ini.

Hal tersebut disampaikan Anis Matta dalam acara Perspektif Anis Matta dengan tema Refleksi Haji: Dari Gap Politik Sampai Beda Pendapat Umar dan Abu Bakar yang tayang di kanal YouTube Gelora TV, Kamis (28/5/2026) malam.

Dalam perspektifnya, Anis Matta mengatakan, ada banyak sudut pandang untuk melihat refleksi dari ibadah ini.

Sebab, haji adalah ibadah yang pada akhirnya bertujuan mengingatkan tentang nilai-nilai pembangunan kohesi sosial.

“Jadi semua gap di dalam politik, ekonomi dan kehidupan sosial, pada dasarnya adalah sifat melenceng dari fitrah dasar kita semua,” kata Anis Matta.

Karena itu, lanjut dia, ketika satu tipikal amalan yang dipelajari atau dikerjakan secara menerus akan terus bertumbuh dan tidak pernah berhenti.

“Di sini kita belajar, itulah amalnya nabi-nabi. Ketika Islam itu datang , lalu menjadikan haji sebagai rukunnya ,” katanya.

Sebab, di situlah pada akhirnya manusia menyadari satu asal usul dan satu tujuan ke tempat kembali kepada sang pencipta, yaitu Allah SWT.

Sehingga melalui kohensi sosial ini diharapkan dapat terwujud lewat kesadaran yang digugah selama hari-hari ibadah dari Mekkah sampai Arafah.

Mereka semua dalam balutan kain ihram, dan tidak ada bedanya antara raja, presiden, pejabat, orang kaya dan rakyat jelata.

Karena balutan kain ihram adalah simbol utama penanggalan atribut keduniawian. Pakaian ini menjadi pengingat konkret akan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.

Pakaian ihram dapat menghapus sekat-sekat status sosial, kekayaan, maupun jabatan. Hal itu menunjukkan bahwa di mata Allah SWT yang membedakan hanyalah ketakwaan

Selain itu, balutan putih yang sederhana melambangkan kesucian dan kebersihan hati, layaknya bayi yang baru lahir ke dunia tanpa membawa harta maupun dosa.

Karena itu, kata Anis Matta kembali menegaskan,bahwa apabila gap atau ketimpangan dalam politik, ekonomi, dan sosial, sejatinya adalah sifat melenceng dari fitrah dasar manusia.

“Pada akhirnya, manusia punya persamaan tunggal, yaitu satu awal, satu tujuan, dan satu tempat kembali,” katanya.

Meski begitu, menurut Anis Matta, persamaan manusia dalam hal ini sekaligus juga sebagai pemantik untuk terus ditelaah dan mencoba mewujudkan konsep keadilan menurut Islam.

“Yang tidak selalu harus dimaknai sama rata sama rasa,” ujar Anis Matta.

Ketua Umum Partai Gelora ini lantas mencontohkan lewat kisah perbedaan beda pendapat antara Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, soal imbalan negara bagi kaum Muhajirin dan Anshar.

Anis Matta mengingatkan pula bahwa haji adalah wujud pasti dari terkabulnya sebuah doa Nabi Ibrahim as.

Tak hanya sewaktu, doa ini diijabah terus-menerus tanpa henti, sampai kelak hari kiamat tiba.

Di sini, Anis Matta bicara tentang rahasia amal nabi-nabi. Ada ciri yang bisa dikenali. Dan kita pun semestinya terus berusaha untuk bisa meneladani dan mengamalkannya.

“Maknanya adalah setiap orang yang menjadi muslim harus menjadi manusia global.,” pungkas Anis Matta, Wamenlu RI Urusan Dunia Islam ini.

Fahri Hamzah Ajak Bangsa Tebas Ego dan Perkuat Persatuan di Momentum Idul Adha 1447 H

Partaigelora.id-Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimaknai Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelombang (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah sebagai panggilan moral untuk memperkuat persatuan bangsa dan mengikis ego kelompok yang memecah belah masyarakat.

Dalam ucapan Idul Adha yang disampaikan, Rabu (27/5/2026) Fahri mengajak masyarakat meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dalam berkurban serta menjadikan Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum memperbaiki diri dan memperkuat solidaritas kebangsaan.

“Seperti Ibrahim AS yang menyerahkan cinta terbesarnya, kita diingatkan bahwa tak ada milik kita yang selamanya,” tulis Fahri seraya menegaskan bahwa hakikat kurban bukan terletak pada darah ataupun daging hewan semata, melainkan pada ketakwaan, keikhlasan, dan ketulusan hati di hadapan Tuhan.

Sebab, lanjut Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 itu, di hadapan Tuhan Seru Sekalian Alam, bukan darah atau daging yang sampai ke haribaan, melainkan takwa, rida, dan ketulusan yang mendalam.

Fahri juga menyinggung pentingnya menghapus ego dan kesombongan yang dinilai menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.

Menurut dia, Idul Adha harus menjadi momentum untuk menekan sifat serakah dan membangun semangat kebersamaan.

“Sudah saatnya kita tebas ego-ego yang memecah belah, kita sembelih kesombongan kelompok yang membuat lelah,” ujarnya.

Ia menilai, hanya dengan merobohkan dinding keangkuhan dan memperkuat persatuan, masyarakat Indonesia dapat berdiri bersama menghadapi berbagai tantangan bangsa.

“Hanya dengan merobohkan dinding-dinding keangkuhan, kita bisa berdiri bersama, bahu-bahu saling menguatkan,” kata Fahri.

Di akhir pesannya, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gelora Indonesia itu, mengajak seluruh masyarakat menjadikan Idul Adha sebagai ikhtiar bersama untuk merajut kembali persatuan hati dan membangun Indonesia secara kolektif.

“Mari jadikan momentum suci Idul Adha ini sebagai ikhtiar besar merajut kembali persatuan hati. Satu sujud yang sama, satu tekad yang nyata, bekerja bersama, membangun Indonesia raya,” tutupnya.

Anis Matta: Pengorbanan Sumber Kekuatan Perikatan Sosial Umat Manusia

Partaigelora.id-Umat Muslim di Indonesia dan berbagai penjuru dunia merayakan Hari Raya Idul Aha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5/2026).

Idul Adha adalah salah satu hari besar umat Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah dalam kalender Hijriah.

Hari raya ini juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban karena identik dengan ibadah penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Di Indonesia, Hari Raya Idul Adha dirayakan dengan penuh khidmat oleh umat Muslim. Perayaan ini diawali dengan salat Id berjamaah dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban di berbagai daerah.

Selain sarat nilai religius, Idul Adha di Indonesia juga dipenuhi tradisi kebersamaan, gotong royong, dan kegiatan sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

Sehingga Idul Adha adalah selalu tentang ibadah kurban dan haji. Ada sarat makna di dalamnya, yang terkait erat dengan manusia dan kemanusiaan.

Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta, mengingatkan bahwa makna pengorbanan dalam ibadah kurban bertalian erat dengan sumber kekuatan perikatan sosial umat manusia.

Wakil Menteri Luar Negeri RI ini menegaskan bahwa ibadah kurban semestinya selalu menjadi momentum yang dapat mengilhami kita, menginspirasi kita, untuk menjaga semangat kesetiakawanan sosial.

Adapun tentang haji, Anis Matta menggarisbawahi bahwa ibadah ini mengajak kita untuk menemukan inspirasi dan ilham tentang kesamaan dan kesederajatan umat manusia, melalui rangkaian perjalanan yang juga penuh pengorbanan.

“ Selamat Idul Adha 1447 H. Semoga dari makna pengorbanan dalam ibadah kurban dan haji, kita semua dapat menjaga keutuhan dan kesetiakawanan sebagai Muslim, bangsa Indonesia, dan umat manusia.

Fahri Hamzah: Harkitnas ke-118 Jadi Momentum Perkuat Indonesia Menuju Superpower Baru

Partaigelora.id-Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Fahri Hamzah mengatakan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 menjadi momentum untuk memperkuat Indonesia.

“Saya berterima kasih bahwa semboyan daripada Hari Kebangkitan Nasional pada hari ini adalah menjaga tunas bangsa, dari apa? Dari kecenderungan untuk meragukan diri sendiri,” kata Fahri Hamzah dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).

Hal itu disampaikan Fahri Hamzah dalam Kajian Wawasan Kebangsaan dengan tema ‘Refleksi 118 Tahun Kebangkitan Nasional: Menuju Indonesia Superpower Baru, Jumat (22/5/2026) malam.

Menurut dia, keraguan terhadap diri sendiri tersebut, akhirnya memunculkan sikap keraguan terhadap pemerintah, padahal sumber keraguaannya berasal dari ketidaktahuan terhadap persoalan.

“Tugas kita sebagai warga negara, adalah semakin cerdas, semakin mengerti prioritas kita dan semakin mengerti masa depan kita,” kata dia.

Tugasnya, adalah berpartisipasi dalam politik melalui partai politik untuk menjadi penyelenggara negara seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Yakni melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta dalam perdamaian dunia yang berdasarkan pada perdamaian abadi dan keadilan sosial.

“Ini adalah janji-janji kita, bukan saja kepada bangsa Indonesia, tapi juga kepada seluruh dunia. Bangsa ini dibangun dengan cita-cita besar oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata,” katanya.

Untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, lanjut dia, diperlukan sebuah narasi yang kuat, aktor menjalankan juga yang kuat, serta kelembagaan yang siap menjalankannya.

“Narasinya adalah Pasal 33, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara. Dan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Ini adalah kekuatan kita di di dalam konstitusi,” katanya.

Sementara sebagai aktor, menurut dia, Prabowo adalah aktor yang kuat sebagai penyelenggara negara seperti halnya Soekarno. Selain anak dari keluarga ekonom, Prabowo juga adalah seorang purnawirawan jenderal TNI.

“Kakeknya Margono Djojohadikusomo adalah pendiri Bank BNI. Bapaknya Sumitro Djojohadikusomo, adalah begawan ekonomi, tokoh pembiayaan ekonomi rakyat, tokoh pembangunan ekonomi global. Bahkan Pak Mitro adalah negosiator untuk aset Indonesia, saat Indonesia merdeka,” ujarnya.

Ibaratnya, bagi Prabowo itu ilmu ekonomi adalah meja makan, sarapan paginya masalah ekonomi, makan malamnya berbicara ekonomi.

“Karena itulah tokoh ini, sangat kredibel untuk memimpin kemajuan ekonomi kita. Pak Prabowo clear message-nya, ingin mensejahterakan rakyat,” tegasnya.

Namun, narasi dan aktor pemimpin yang kuat saja tidak cukup, jika tidak didukung oleh institusi atau lembaga yang akan menjalankannya.

Sehingga institusi atau lembaga yang menjalankan juga harus mempersiapkan diri melakukan perubahan secara signifikan.

“Indonesia ini sudah berumur mau 81 tahun. Semua harus sadar diri dan mempersiapkan diri sekarang, baik itu tentara, polisi, birokrasinya, legislatif, yudikatif, eksekutif, pemerintah daerah dan partai politik,” katanya.

Karena itu, Fahri menyakini dibawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia akan mencapai kejayaannya sebagai negara maju atau superpower baru.

“Saya kira kita harus optimis, kita akan menyongsong satu kemajuan besar di masa-masa yang akan datang. Saya kira Partai Gelora dari awal punya feeling yang kuat sekali bahwa momen bagi Indonesia akan segera tiba,” ujarnya.

Dapat Respon Dunia

Dalam kesempatan ini, Fahri Hamzah mengapresiasi Pidato Presiden Prabowo Subianto saat Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro di DPR pada Rabu (20/5/2026) lalu, yang dinilai fonomenal dan mendapatkan respon dari seluruh dunia.

“Presiden Prabowo dinilai konsisten dengan gagasannya, mengenai sumber daya alam (SDA) kita yang disalahgunakan dan terjadi kebocoran. Ini mendapat respon dari seluruh dunia,” ujarnya.

Pidato tersebut, biasanya disampaikan oleh setingkat seperti Menteri Perekonomian atau Menteri Ekonomi, tapi dilakukan Presiden Prabowo langsung yang disaksikan banyak pihak yang diundang.

“Menurut saya, apa yang disampaikan Presiden itu luar biasa dan menghentak dunia. Jika Iran hanya menutup Selat Hormuz untuk mengendalikan minyak. Tapi Pak Prabowo mau mengendalikan sumber daya alam, mau mengendalikan nikel, batu bara dan lain sebagainya. Sehingga orang juga sekarang tidak boleh sembarangan melihat Indonesia,” katanya.

Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menilai secara terbuka melawan kapitalisme atau neoliberal seperti ideologi kolonial yang masih berlaku di Indonesia. “Ini yang saya sebut sebagai Prabowonomix,” tegasnya.

Fahri menegaskan, Prabowo mengerti betul kondisi tersebut, bahwa Indonesia hanya dimanfaatkan untuk mendapatkan bahan baku dan tenaga kerja murah.

Sehingga industrialisasi yang dibangun pun, bukan industrialisasi Indonesia, tapi industrialisasi di Indonesia.

Sebab, semua hasil SDA yang dieksploitasi dibawa ke luar negeri, kemudian Indonesia disuruh beli produk jadi dari perusahaan mereka di luar negeri. Hal inilah yang ditentang dan dilawan Presiden Prabowo, karena merugikan rakyat Indonesia.

“Jadi pemerintahan sekarang sedang melakukan hal-hal baik seperti memberantas pembabatan hutan untuk secara gila-gilan, memberantas penambang illegal dan penertiban lain-lain,” katanya.

Apabila dalam upaya penertiban itu, pasar modal dan pasae uangnya bergerak, menyebabkan harga saham terkoreksi sangat dalam dan nilai mata uang (kurs rupiah) melemah tajam, berarti ‘malingnya’ sama.

“Malingnya sama, maling ini (SDA), juga maling itu (pasar modal dan uang. Kita harus mendukung upaya Bapak Presiden. Kita jangan pusing sendiri gara-gara pemerintah bekerja menertibkan itu,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini meminta semua pihak untuk fokus membangun industralisasi dan kemandirian, serta berupaya mensejahterakan seluruh rakyat agar Indonesia berubah menjadi negara maju.

“Yang marah-marah itu ada kemungkinan dua kemungkinan. Pertama, dia enggak paham sebenarnya, cuman ikut-ikutan. Atau yang kedua dia menjadi bagian dari kampanye itu, merampok sumber daya alam secara gila-gilaan kita,” katanya.

Fahri mengungkapkan, Presiden Prabowo akan segera melakukan penertiban sektor tambang secara besar-besaran dalam waktu dekat.

Penertiban dilakukan, karena para pengusaha tersebut, telah merusak SDA dan lingkungan, serta merusah marwah lembaga penegak hukum, karena praktik suap.

“Implikasi kepada perusakan lembaga-lembaga penegakan hukum luar biasa, gila-gilaan. Kita saksikan dengan mata kepala saya, mata kepala kita sendiri. Kita harus mendukung pemerintah untuk melakukan pentertiban,” pungkasnya.

Partai Gelora Gelar Training for Facilitators Ideologisasi Dasar di Jawa Timur

Partaigelora.id-Koordinator Bidang (Korbid) Kaderisasi DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar Training for Facilitators (TFF) Ideologisasi Dasar Partai Gelora di Jawa Timur (Jatim) menjelang Pemilu 2029.

Kegiatan berlangsung 23–24 Mei 2026 di Royal Senyum Hotel, Jl. Putuk Truno No. 208, Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jatim.

TFF Ideologisasi Dasar ini melibatkan para kandidat fasilitator dari fungsionaris DPW Jawa Timur Partai Gelora dan 27 DPD kabupaten/kota di Jatim.

TFF bertujuan memperkuat kapasitas kader dalam kaderisasi, penguatan ideologi, dan kepemimpinan organisasi.

Sebab, hal ini adalah urgensi dan gambaran substansi, serta spirit penyelenggaraan TFF. Yakni demi satu visi besar Partai Gelora menjadikan Indonesia sebagai superpower baru dunia.

TFF ini antara lain dihadiri Ketua Pelaksanaan Harian DPP Partai Gelora Rofi’ Munawar, Ketua Koorbid Kaderisasi DPP Ahmad Zainuddin, Ketua Pemenangan Teritorial V (Jatim) DPP Muhammad Siroj (Gus Siroj) daan Ketua DPW Partai Gelora Jatim Misbakhul Munir.

Ketua Pelaksanaan Harian DPP Partai Gelora Rofi’ Munawar mengatakan, program ini menindaklanjuti program Ideologi Dasar I. Sehingga diharaokan akan muncul fasilitator-fasilitaror baru.

“Mereka yang akan menjadi juru bicara Partai Gelora untuk melakukan perekrutan, sekaligus peningkatann kapasitas organisasi, kpribadian kepada kader-kader baru Partai Gelora,” kata Rofi’I Munawar.

Peserta, kata Rofi’, mendapat materi krisis global, krisis nasional maupun krusis dunia Islam. Kemudian juga materi perang kognitif, dan roadmap menuju superpower baru.

“Haga’iq Kubra atau The Great Realisties. Yaitu pembentukan pemahaman dari para kader tentang aspek spiritual,” katanya.

Sebab, para fungsionaris dan kader Partai Gelora ini memiliki pertanggaungjawab kepada para manusia, tapi lebih-lebih kepada Allah SWT.

“Menjadi fasilitator berabrti menjadi teman diskusi yang baik, saling menumbuhkan kemampuan masing-masing,” tegas Ketua Pelaksana Harian DPP Partai Gelora ini.

Ketua DPW Partai Gelora Jatim Misbakhul Munir, mengatakan TFF dirancang untuk mencetak fasilitator yang mampu menjadi penggerak pembinaan kader secara sistematis dan berkelanjutan di daerah.

“Organisasi harus punya dasar ide, gagasan, dan keyakinan yang kuat, agar kader Partai Gelora benar-benar sesuai nilai ideologi partai,” ujar Misbakhul Munir.

Menurut dia, orientasi partai politik bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tapi pemanfaatannya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.

“Kami mulai dari satu pertanyaan besar: kalau kekuasaan itu didapat, lalu apa yang akan kita lakukan? Jadi bukan hanya cara menang, tapi bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik,” kata Misbakhul.

Ketua DPW Partai Gelora Jatim ini mengapresiasi kehadiran jajaran DPP dan peserta yang begitu luar biasa antusias dalam Training for Facilitators (TFF) Ideologisasi Dasar ini.

Diketahui, bahwa Program Idiologisasi ini satu hal yang betul-betul mendesak, sebagai bentuk kenyakinan untuk melangkah, mengembangkan pemikiran-pemikiran besar yang ada di Partai Gelora.

“Kami bersyukur ketua harian, korbid kaderisasi DPP, hingga CEO TIM bisa hadir memberikan pembekalan. DPW Jawa Timur mengucapkan terima kasih,” ucapnya.

“Kami menunggu batch berikutnya agar proses diseminasi yang akan dilaksanakan kepada seluruh struktur dari DPP maupun DPC segera bisa dilaksanakan,” imbuhnya.
Heniyati

Ketua Bidang Komunikasi DPW Partai Gelora Jatim Heniyati mengatakan, Program Idiologisasi ini merupakan nutrisi yang diberikan sampai ke akar-akarnya.

“Kita semua adalah pemimpin. Kita ditunjuk untuk mengemban amanah Partai Gelora, paling tidak bisa memimpin diri sendiri,” kata Heniyati.

Ketua DPD Partai Gelora Probolinggo Abu Bakar berharap usai mengikuti TPF Idiologisasi Dasar ini dapat menyebarkan ideologi kepartaian lebih menyeluruh lagi.

“Kita mendapatklan informasi yang lebiih komprehensif, sehingga yang diterima kader Partai Gelora di daerah, nantinya utuh dan bisa tersampaikan semua,” kara Abu Bakar.

Peserta yang lolos TFF Ideologi Dasar tahap pertama ini nantinya akan mengikuti batch kedua untuk pembekalan lanjutan.

Setelah itu, para fasilitator bertugas melakukan diseminasi kaderisasi ke struktur partai di bawahnya, mulai DPD, DPC, hingga cabang di masing-masing wilayah.

Fahri Hamzah Luncurkan Buku Visi ‘Swasembada Papan 2045’ di Tengah Tantangan Perumahan Nasional

Partaigelorai.id-Pemerintah mulai mematangkan arah pembangunan perumahan nasional sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.

Penyediaan hunian layak dinilai tidak lagi sekadar persoalan pembangunan rumah, melainkan juga berkaitan dengan pengendalian tata ruang, akses transportasi, hingga pemerataan ekonomi masyarakat perkotaan.

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah meluncurkan buku berjudul ‘Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045’ di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Buku tersebut memuat gagasan strategis pembangunan sektor perumahan nasional untuk menjawab kebutuhan hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan.

Peluncuran buku dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Ketua Satgas Perumahan Hashim S. Djojohadikusumo, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) Nixon L.P. Napitupulu, serta Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon.

Acara ini juga dirangkai dengan diskusi mengenai arah pembangunan perkotaan nasional yang menghadirkan Panangian Simanungkalit, Joko Suranto, dan Marco Kusumawijaya.

Dalam pemaparannya, Fahri mengatakan program pembangunan 3 juta rumah yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari strategi besar transformasi sosial dan ekonomi masyarakat.

Menurut dia, konsep swasembada papan yang diangkat dalam buku tersebut berangkat dari cita-cita lama bangsa untuk memastikan seluruh rakyat memiliki akses terhadap hunian yang layak.

“Bung Hatta pernah menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan waktu setengah abad untuk menyediakan hunian layak bagi seluruh rakyat. Tahun 2045 menjadi momentum simbolis untuk menuntaskan cita-cita besar tersebut,” ujar Fahri.

Ia menilai keberhasilan pembangunan social housing sangat bergantung pada kemampuan negara mengendalikan tanah dan tata ruang.

Negara yang mampu mengelola lahan secara terencana dinilai lebih berhasil menyediakan rumah rakyat secara berkelanjutan.

Selain itu, Fahri juga menekankan pentingnya pengembangan kawasan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD), yakni kawasan permukiman yang terintegrasi dengan pusat kegiatan ekonomi dan transportasi massal.

Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan untuk menekan beban biaya transportasi masyarakat akibat jarak tempat tinggal yang terlalu jauh dari lokasi pekerjaan.

Sementara itu, Hashim S. Djojohadikusumo mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memutuskan pemanfaatan tanah negara dan aset badan usaha milik negara untuk pembangunan rumah rakyat dengan harga lebih terjangkau.

Kebijakan itu diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap hunian sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan kawasan permukiman di berbagai daerah.

Peluncuran buku ditutup dengan penyerahan simbolis kepada sejumlah tokoh nasional, termasuk Budiman Sudjatmiko dan Luis Tineo.

Buku tersebut diharapkan menjadi salah satu rujukan dalam penyusunan kebijakan pembangunan hunian nasional menuju 2045.

Ini Empat Landasan Moral yang Perlu Dijaga untuk Kebersihan Hati di Tengah Perjuangan Politik

Partaigelora.id-.Ketua Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Rofi’ Munawar mengatakan, setiap kader Partai Gelora perlu menjaga kebersihan hatinya di tengah perjuangan politik apabila diberikan amanah ketika menjadi penguasa.

Sebab, kekuasaan itu penuh godaan , sehingga diperlukan fondasi moral dalam berpolitik. Allah SWT selalu melakukan pengawasan Allah SWT atau ‘muraqabatullah’ terhadap pelaksanaan amanah tersebut.

Hal itu disampaikan Rofi’ Munawar dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) dengan tema ‘Menjaga Kebersihan Hati dan Moral di Tengah Perjuangan Politik, Selasa (19/5/2026) malam.

“Sahabat Gelora, pengawasan Allah, Tuhan yang Maha Esa itu, artinya adalah pengetahuan yang terus-menerus dan keyakinan yang mendalam, bahwa Allah SWT selalu mengetahui atau maha mengetahui akan yang lahir dan yang batin,” kata Rofi’ Munawar.

Artinya, Allah SWT akan mengawasi semua gerak-gerik hambanya baik ucapan atau perkataan dan perbuatan, apakah kebersihan hatinya terjaga.

“Muraqabatullah atau pengawasan Allah Tuhan Yang Maha Esa itu, kita jadikan sebagai landasan moral politik. Moral politik itu adalah akhlak politik, lebih mudahnya ,” kata dia.

Menurut Rofi’, akhlak politik tersebut penting, karena politik tanpa akhlak akan menghancurkan bangunan politik itu sendiri.

“Seperti kata Imam Al Ghazali, bahwa akhlak politik itu bagian dari agama yang merupakan pondasinya, dan kekuasaan itu adalah penjaganya,” ujar Ketua Pelaksana Harian DPP Partai Gelora ini.

Maknanya, adalah moral politik dan kekuasaan, haruslah sangat kuat, karena kekuasaan tanpa moral akan berantakan.
Sebaliknya, moral tanpa kekuasaan akan kering atau hampa, sebab tidak ada tempat implementasi dan penggandaan untuk nilai-nilai moral tersebut.

“Jadi moral itu akan bisa meluas dan akhirnya menjadi satu habit yang dilakukan oleh para pemegang kebijakan manakala di situ ada kekuasaan,” jelasnya.

Ia mengatakan, perjuangan politik hendaknya bertumpu pada empat landasan moral yang wajib dijaga, yaitu shidqul hadits (kejujuran ucapan), hifzhul amanah (menjaga amanah), husnul khuluq (kebaikan akhlaq), dan ‘iffatun fit-thu’mah (kehati-hatian).

Adapun makna shidqul hadits adalah politik itu sangat dekat dengan kata-kata, penyataan atau statement yang bersifat ungkapan verbal dari mulut seseorang.

“Maka ketika sudah menjadi pemimpin, pernyataan itu including di dalam diri pemimpin. Jadi kehebatan seorang pemimpin itu, salah satunya ditentukan oleh pernyataannya,” kata Rofi’.

Karena dituntut kejujuran ucapan itu, maka seorang pemimpin atau politisi dilarang berbohong atau pernyataannya tidak boleh mengandung kedustaan.

Kejujuran ucapan bagi seorang pemimpin atau politisi, lanjut dia, akan menjadi narasi yang kuat untuk merespon berbagai situasi, kondisi dan persoalan.

“Dengan narasi yang kuat di dalam dirinya, Allah SWT akan memerintahkan dia untuk merespon situasi yang ada di sekelilingnya, kondisi masyarakat yang memang yang harus dihadapi, masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja,” katanya.

Dapat dikatakan, bahwa narasi yang kuat itu adalah bentuk pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Bukan seperti perkataan yang remeh-temeh, tapi perkataan yang penuh dengan makna, sehingga narasi yang kuat tersebut, menjadi penting.

“Seperti disampaikan Pak Ketum (Anis Matta) ketika melihat situasi Indonesia saat ini, sebagaimana yang digambarkan di dalam manifesto politik kita. Langit kita ini terlalu tinggi, tapi kita terbang terlalu rendah. Artinya narasi yang kita bangun bisa merespon kompleksitas bangsa ini ,” katanya.

Kejujuran ucapan itu juga harus sinkron antara apa yang diucapkan dengan tindakannya.

“Jangan sampai kita mengucapkan berbagai macam pernyataan, tapi tidak tahu bagaimana cara menindaklanjuti dari perkataannya itu. Pernyataan itu akhirnya hanyalah percitraan, atau janji-janji politik,” jelas dia.

Karena itu, pernyataan seorang pemimpin atau politisi harus memiliki makna dalam merespons persoalan, perlu ada kesesuaian dengan tindakannya, dan jangan sampai ucapan itu berubah menjadi penyesalan.

“Sekali lagi jangan sekali-kali kita berjanji yang kita sendiri kesulitan bagaimana cara menepatinya. Kenapa? Karena janji-janji politik kita ini ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Jadi tepatilah janji karena janji itu akan dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.

Rofi’ berharap kepada para kader Partai Gelora yang mendapatkan amanah di level kepemimpinan politik, hindari sebisa mungkin untuk offside di dalam pernyataannya.

“Pemimpin ada yang di level presiden atau menteri dan seterusnya. Jangan sampai offside, karena pernyataan itu akhirnya menjadi bahan ledekan rakyat. Jadi Kader politik kelasnya pemimpin,” katanya.

Sedangkan makna yang kedua hifzhul amanah dalam konteks tazkiyatun nafs adalah menjaga kompetensi untuk memegang amanah, karena begitu inkompetensi akan sangat berbahaya.

“Pemimpin tidak kompeten itu sangat berbahaya. Ketika amanah itu disia-sia maka tunggu datangnya hari kiamat. Jadi ketika perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu datangnya hari kiamat. Makna lainnya, adalah tunggu datangnya kehancuran,” katanya.

Selanjutnya adalah menjaga komunikasi vertikal dan berusaha sekuat tenaga untuk selalu berada di garda depan di dalam menjaga ibadahnya kepada Allah SWT.

“Karena itu, kalau kita lihat para pemimpin politik masa lalu adalah orang-orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi. Dan ini adalah cara untuk menjaga amanahnya ,” ujar Rofi’.

Kemudian selain menjaga kompetensi dan menjaga kekuatan (komunikasi vertical), makna lainnya adalah akhlak yang mulia (husnul khuluq). Sebab, politik itu tanpa moralitas akan menghancurkan bangunan politik itu sendiri.

“Jadi akhlak yang mulia adalah akhlak untuk dirinya dan akhlak timbal balik. Kalau akhlak timbal balik itu maksudnya begini, misalnya seorang presiden, kepala negara, atau raja berharap yang dipimpinnya mentaatinya. Tetapi akhlak rakyat itu tergantung kepada akhlak pemimpinnya, jangan sampai mereka tidak berakhlakul karimah kepada yang dipimpinnya,” jelas Rofi’.

Adapun akhlak tertinggi seorang pemimpin itu adalah melayani rakyatnya. Sehingga ketika para pemimpin melayani dengan sebaik-baiknya, maka rakyat akan mentaatinya.

“Jangan menjadi diktator-diktator memaksa mereka menghormati kita, sementara kita tidak menghormati kita. Jadi akhlak timbal balik di sini memang yang terasa berat bagi pemimpin, tapi ini harus dilakukan,” paparnya.

Sementara makna ‘iffatun fit-thu’mah atau kehati-hatian, karena kekuasaan itu punya godaan yang sangat besar seperti dikatakan Lord Action, bahwa ‘power tends to corrupt’ kekuasaan itu akan cenderung korup atau menyalahgunakan wewenang .

“Intinya kita harus berusaha sekuat tenaga untuk berhati-hati. Ibaratnya kita berhati-hati terhadap sesuap nasi yang masuk ke dalam mulut kita. Sekecil apapun makanan yang kita makan harus berhati-hati, harus jelas boleh atau tidak,” pungkasnya.

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X