Partaigelora.id- Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora Indonesia, Coach Gunawan, menilai kerangka kerja VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang digunakan selama lebih dari 30 tahun kini sudah tidak memadai lagi.
Ia menyoroti pentingnya perubahan kerangka berpikir (mindset) para pemimpin dalam menghadapi dinamika global yang makin komplek, kini tidak lagi cukup untuk membaca realitas zaman.
Menurutnya, percepatan disrupsi kecerdasan buatan (AI) hingga fenomena post-truth menuntut hadirnya peta navigasi baru bagi para pemimpin, yaitu BANI (Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible).
Hal itu disampaikan Coach Gunawan saat mengisi Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian atau Internal Arsitektur Mindset Seri ke-7 bertema ‘Peralihan VUCA ke BANI: Alat Baca Baru untuk Pemimpin di Era Digital’ pada Selasa (9/6/2026) malam.
“Dunia VUCA dulu perubahannya cepat, namun masih bisa dianalisis dan diprediksi. Hari ini, di era BANI, perubahan terjadi secara tidak linier dan masif. Informasi melimpah, namun kejelasan justru memudar,” kata Gunawan.
Coach Gunawan menjelaskan, ada tiga pemicu utama yang merubah lanskap perubahan global dalam beberapa tahun terakhir, yakni adanya Disrupsi AI, Era Post-Truth dan Efek Domino.
Disrupsi AI dipicu Pertumbuhan adopsi teknologi seperti ChatGPT yang menembus 100 juta pengguna hanya dalam dua bulan menggeser berbagai jenis profesi secara mendadak.
Sedangkan Era Post-Truth ada;ah Informasi palsu (hoax) menyebar jauh lebih cepat, merapuhkan mental masyarakat dan membuat kebenaran menjadi makin cair.
Sementara Efek Domino (cascade effect) terjadi akibat sistem global yang sangat saling terhubung membuat gangguan kecil di satu titik langsung berdampak luas pada stabilitas ekonomi dunia.
Dalam kesemppatan ini, C oach Gunawan merinci empat aspek utama yang mewarnai era BANI, antara lain Brittle (rapuh), Anxious (cemas), Nonlinear (tidak linier), Incomprehensible (melampaui pemahaman).
Brittle adalah kerapuhan tersembunyi pada organisasi maupun individu yang tampak kokoh dari luar, namun rentan hancur saat mendapat tekanan tertentu.
Adapun Anxious adalah munculnya kelelahan kognitif (decision fatigue) akibat paparan informasi nonstop yang memaksa otak terus berada dalam mode survival.
Selanjutnya Nonlinear adalah terputusnya hubungan sebab-akibat konvensional, di mana aksi kecil bisa menimbulkan dampak destruktif yang tidak sebanding.
Kemudian Incomprehensible adalah kautan data yang berlebihan membuat otak manusia kesulitan memproses gambaran utuh (starving of wisdom).
Kendati begitu Coach Gunawan menegaskan Indonesia tidak perlu membuang energi mengejar ketertinggalan teknologi dengan membuat platform tandingan dari nol, akibat seperti TikTok hingga Meta (Facebook, X atau Twitter, Istagram dan Thread) dan Google yang kerap memicu adu domba public.
“Gap sejarah dan kapasitas teknologi kita cukup jauh. Kita tidak perlu berperang di arena yang bukan kekuatan kita. Pemimpin peperangan tidak harus selalu paling jago main pedang. Esensi leadership adalah kemampuan mengelola sumber daya yang terbatas untuk menciptakan dampak setinggi-tingginya,” tegasnya.
Namun, Wasekjen Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora ini menyarankan agar masyarakat Indonesia, terutama kader Partai Gelora untuk memanfaatkan platform global yang ada secara cerdas untuk edukasi dan kemaslahatan nasional.
“Menurut saya, ketimbang membuang energi membuat platform media baru, Indonesia justru harus cerdas memanfaatkan platform media global yang sudah ada sebagai alat (user) untuk kemaslahatan, edukasi, dan kemuliaan bangsa,” tegasnya..
Coach Gunawan kemudian mengutip pemikir Islam kelas dunia Ibnu Khaldunyang mengingatkan pentingnya seorang pemimpin memahami dinamika zamannya.
“Ibnu Khaldun pernah menegaskan bahwa pemimpin yang berhasil mengelola zaman adalah pemimpin yang mengerti ruh dari zamannya,” ucap Gunawan.
Cooach Gunawan menekankan pentingnya membangun ketahanan internal (internal response) dan jeda kognitif.
BANI menjadi cermin untuk mengevaluasi respon kognitif, afektif, dan psikomotorik organisasi dalam menghadapi badai perubahan.
Ia menambahkan bahwa akselerasi pembahasan materi BANI ini sengaja dilakukan karena konsep tersebut sudah mulai masuk ke dalam kurikulum perguruan tinggi di Indonesia.
Partai Gelora berkomitmen untuk terus membekali para kadernya dengan alat baca terkini agar tetap relevan dan tangguh secara mental.
Ia menambahkan, pembahasan mengenai BANI ini akan dilanjutkan pada Seri ke-8 bertajuk ‘Seni Berdiri Tegak di Atas Zaman yang Retak’ untuk membekali kader dengan langkah-langkah taktis dalam merespons ketidakpastian zaman.

No comments