Partaigelora.id—Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menegaskan bahwa perjuangan politik tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai spiritual dan pensucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Hal tersebut mengemuka dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual yang disampaikan Ketua DPP Koordinator Pelaksana Harian Partai Gelora Indonesia, Rofi’ Munawar dengan tema ‘Keberanian Moral dalam Perjuangan Politik’ pada Selasa (27/10/2026) malam
Dalam pemaparannya, Rofi’ Munawar mengawali kajian dengan merujuk pada doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW agar umat Islam senantiasa berlindung dari delapan penyakit jiwa, termasuk sifat pengecut (al-jubnu) dan bakhil (al-bukhlu).
Menurutnya, sifat pengecut merupakan akhlak tercela yang harus dilawan dengan memunculkan sikap keberanian dalam mengawal perjuangan politik sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Ia mengatakan, ada tiga fakta penting terkait relevansi pensucian jiwa dalam realitas kehidupan. Pertama menyangkut amal dan resiko pengoran jiwa.
Semakin besar kerja dan amal seseorang, semakin tinggi pula potensi pengotoran jiwa akibat dinamika lapangan.
“Oleh karena itu, ibadah seperti salat, puasa, dan infak sangat dibutuhkan untuk mengimbanginya,” kata Rofi’.
Kedua terkait tidak terpisah dari realitas: Mengutip pandangan ulama kontemporer Dr. Yusuf Al-Qardhawi, ia menegaskan bahwa tazkiyatun nafs bukanlah pelarian ruhani yang menjauh dari realitas sosial-politik.
“Politik adalah bagian dari ibadah dan amal saleh yang tidak boleh ditinggalkan hanya karena dianggap ‘kotor’,” katanya.
Ketiga benteng demoralisasi. Yakni siapa pun, termasuk para pemimpin dan kalangan terdidik, memiliki potensi mengalami demoralisasi.
“Pensucian jiwa berfungsi sebagai benteng mental dan spiritual agar tetap istikamah di jalan kebaikan,” katanya
Baca juga:
Selnajutnya, ada tujuh prinsip keberanian moral perjuangan politik yang menjadi prinsip yang harus dimiliki oleh setiap kader dan pejuang politik.
Pertama, pejuang politik harus memiliki keyakinan kokoh terhadap nilai yang diperjuangkan serta berani merealisasikannya meski menghadapi jalan yang terjal dan penuh tantangan.
Kedua, sorang politisi harus siap menanggung tanggung jawab dan risiko atas setiap keputusan sulit, bukan sekadar mencari keuntungan pribadi semata. Tawakal kepada Allah SWT menjadi kunci ketenangan dalam menghadapi risiko tersebut.
Ketiga mampu mengatasi kelemahan diri (seperti malas dan mudah galau) sekaligus tegar menghadapi tekanan serta resistensi eksternal dari status quo akibat gagasan besar yang dibawa.
Keempat konsistensi membela kaum tertindas—seperti komitmen Partai Gelora terhadap kemerdekaan Palestina—merupakan wujud nyata moralitas politik.
Kelima berani melakukan muhasabah dan autokritik. Sebab, sering kali seseorang mudah mengoreksi pihak lain, tetapi lupa mengevaluasi diri sendiri dan partainya. Keberanian melakukan autokritik adalah fondasi utama perbaikan.
Keenam berani mundur dari sikap yang salah: Karena salah satu penyakit fatal pemimpin politik adalah bertahan pada kesalahan yang berujung pada kesewenang-wenangan (dzulm). Sebab, keberanian meralat kesalahan dapat menyelamatkan pemimpin dari jurang kejatuhan.
Ketujuh, sebagai puncak keberanian moral, seorang pejuang politik harus siap mengorbankan waktu, harta, dan zona nyamannya demi terwujudnya cita-cita besar bersama, serta tidak menjadi mental ‘penumpang gelap’ yang hanya ingin mengambil keuntungan di atas pengorbanan orang lain.
Dalam kesempatan ini Rofi’ menjelaskan bahwa ketakutan seorang politisi dalam mengambil risiko atau menghadapi tekanan pada dasarnya merupakan indikasi bahwa jiwa yang bersangkutan sedang kotor atau diliputi keragu-raguan.
“Ketika seseorang takut mengambil risiko atas perjuangan politik yang telah diyakini kebenarannya, sebetulnya jiwanya sedang kotor. Keragu-raguan inilah yang melahirkan sifat pengecut, malas, stres, hingga hilangnya keberanian mengambil keputusan besar,” jelas Rofi’.
Oleh karena itu, lanjutnya, tazkiyatun nafs menjadi instrumen penting yang harus ditempuh melalui ibadah ritual dan tilawah Al-Qur’an.
Sebab, pensucian jiwa ini akan menghadirkan ketenangan (ithmi’nan) dan kelapangan dada, sehingga seorang pemimpin memiliki kejernihan berpikir dalam melangkah.
Ia lantas mnyoroti fenomena para pemimpin politik yang enggan mengoreksi diri, Rofi’ mengingatkan bahwa bertahan dalam sikap yang salah demi melanggengkan kekuasaan justru akan menjadi bumerang.
Menurutnya, ketika pemimpin bertahan dalam kesalahan, pandangan mereka akan buram dan kehilangan arah, sehingga kerap mengambil keputusan keliru yang justru mempercepat kerapuhan dan kejatuhan kepemimpinan mereka secara sunatullah.
Kajian spiritual ini, ditutup dengan pembacaan doa kaffaratul majelis. Diharapkan mampu memberikan pencerahan sekaligus memperkokoh mental dan integritas kader Partai Gelora agar senantiasa memiliki keberanian moral, siap berkorban, dan konsisten memperjuangkan cita-cita besar bangsa.

No comments