Partaigelora.id-Untuk para kader dan simpatisan Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia di mana pun kalian berada. Para pendiri partai ini, sejak awal berfirasat tentang masa depan, tentang jadwal dan momen-momen penting dalam sejarah. Karena demikianlah sejarah bertutur dan mengingatkan kita dari masa lalu.
Karena ada tanggal-tanggal yang tidak pernah kita pilih secara kebetulan. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan banyak lagi, duduk dalam satu ruangan di Batavia.
Mereka belum punya negara, belum punya tentara, belum punya apa-apa selain keyakinan. Tetapi dari ruangan itu lahir satu kalimat yang mengubah takdir sebuah kepulauan: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa.
Sembilan puluh satu tahun kemudian, pada 28 Oktober 2019, sembilan puluh sembilan orang dari tiga puluh empat provinsi menandatangani Piagam Pendirian Partai Gelombang Rakyat Indonesia. Dua pekan sesudahnya, pada 10 November, Hari Pahlawan, kita mendeklarasikan diri dan melantik pimpinan di seluruh provinsi.
Kita juga tidak punya apa-apa saat itu. Tidak ada kursi, tidak ada kekuasaan, tidak ada jaminan. Yang kita punya hanya keyakinan yang sama dengan para pemuda 1928: bahwa sejarah bisa dibelokkan oleh orang-orang yang berani bermimpi bersama.
Hari ini, tujuh tahun kemudian, izinkan saya mengajak saudara-saudara berhenti sejenak. Bukan untuk berpuas diri, melainkan untuk mengingat mengapa kita memulai.
Bangsa yang Lahir dari Gelombang
Sejarah Indonesia bukan garis lurus. Ia bergerak seperti laut: ada masa tenang, ada masa pasang, dan ada saat ketika gelombang besar datang dan menyapu segala yang lama. Ketua Umum kita, Anis Matta, membaca perjalanan bangsa ini sebagai rangkaian gelombang semacam itu.
Beliau menulis sebuah buku yang menjadi bagian dari perenungan bersama, orang-yang yang gelisah tetapi yakin dengan masa depannya. Begini yang dituliskannya bahwa Indonesia lahir dari gelombang dan terus bergelombang.
Gelombang pertama adalah menjadi Indonesia. Ia dimulai ketika anak-anak muda terdidik berhenti melihat diri sebagai orang Jawa, Minang, Bugis, atau Ambon semata, lalu menemukan identitas yang lebih besar. Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, dan Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah puncak-puncaknya.
Gelombang ini dibayar mahal: dengan pembuangan dan pengucilan para tokoh pergerakan, dengan penjara yang kejam, dengan darah dan nyawa di berbagai pertempuran lokal. Para pahlawan kita itu tidak menyaksikan hasil akhirnya, tetapi mereka tahu ke mana sejarah harus bergerak.
Baca juga:
Gelombang kedua adalah menjadi negara-bangsa modern. Setelah merdeka, kita harus belajar bernegara: menyatukan wilayah, membangun birokrasi, sekolah, jalan, dan tentara, sambil melewati pemberontakan, krisis ekonomi, dan pergantian rezim. Gelombang ini memuncak pada Reformasi 1998, ketika rakyat menuntut negara yang bukan hanya kuat, tetapi juga demokratis dan terbuka.
Dua gelombang itu telah memberi kita tanah air dan negara. Pertanyaannya: setelah itu, ke mana?
Gelombang Ketiga: Mengapa Kita Lahir
Dalam Gelombang Ketiga Indonesia, Ketum Anis Matta menulis bahwa bangsa ini sedang berdiri di ambang gelombang baru. Rakyatnya kini lebih muda, lebih terdidik, lebih terhubung, dan lebih kritis daripada generasi mana pun sebelumnya. Kelas menengah tumbuh, teknologi meruntuhkan jarak, dan rakyat tidak lagi puas menjadi penonton. Mereka ingin menjadi pelaku sejarah.
Tetapi gelombang yang datang tanpa arah hanya akan pecah menjadi buih. Itulah kegelisahan kita pada 2019. Kita melihat Indonesia berjalan tanpa peta yang jelas, sementara grafik sejarahnya cenderung mendatar. Politik terjebak dalam pembelahan, energi bangsa habis untuk saling curiga, dan cita-cita besar perlahan berganti dengan urusan jangka pendek.
Maka Gelora lahir dengan satu narasi: Arah Baru Indonesia, menjadikan bangsa ini kekuatan lima besar dunia. Bukan sebagai slogan, tetapi sebagai peta. Gelombang ketiga adalah gelombang ketika Indonesia berhenti sekadar bertahan dan mulai memimpin; ketika rakyat menjadi subjek, bukan objek, dari sejarahnya sendiri.
Logo kita menyimpan semua itu. Biru navy adalah gelombang laut, gerak besar sejarah yang lahir dari banyak arus kecil. Biru turkis adalah rakyat, pelaku utama yang berhak menentukan jalannya sendiri. Merah putih adalah Indonesia, tempat seluruh pengabdian ini bermuara. Dan bulat adalah perlambang bumi biru kita yang kecil.
Kita tidak lahir untuk menambah jumlah partai. Kita lahir karena sebuah gelombang sedang datang, dan ia membutuhkan orang-orang yang mau mengarahkannya.
Tujuh Tahun Diterpa Ombak
Tidak ada gelombang yang naik tanpa melewati palung. Perjalanan kita pun demikian. Kita lahir tepat sebelum pandemi. Ketika kita mendaftarkan partai ke Kementerian Hukum dan HAM pada 31 Maret 2020, dunia sedang menutup pintunya.
Kita membangun kepengurusan di provinsi, kabupaten, dan kecamatan dengan rapat-rapat daring, dengan pengorbanan waktu dan biaya pribadi para kader, di saat banyak orang menyangsikan apakah partai baru bisa bertahan.
Kita bertahan. Kita lolos verifikasi dan untuk pertama kalinya menjadi peserta Pemilu 2024. Kita mengambil keputusan besar untuk berdiri bersama tokoh yang kita kenal lama dan bersahabat lama karena menyimpan mimpi yang sama, Prabowo Subianto dengan keyakinan bahwa bangsa ini butuh rekonsiliasi dan kepemimpinan yang kuat untuk memasuki gelombang ketiga.
Rakyat memenangkan pasangan itu. Namun kita juga harus jujur: di pemilu legislatif, kita belum melampaui ambang batas parlemen. Saya tahu ada kader yang menangis malam itu.
Ada yang telah menjual sesuatu yang berharga, meninggalkan pekerjaan, atau mengorbankan waktu bersama keluarga demi berjuang di daerah pemilihannya. Kepada kalian, saya ingin mengatakan: pengorbanan itu tidak sia-sia. Ia adalah fondasi.
Ingatlah bahwa partai-partai besar hari ini pun pernah memulai dari angka kecil. Yang membedakan partai yang tumbuh dari partai yang hilang bukanlah hasil pemilu pertamanya, melainkan apa yang ia lakukan sesudahnya. Dan sesudahnya, kita tidak bubar. Kita tidak pecah. Kita justru dipercaya ikut menjalankan pemerintahan, mengabdi dalam program-program yang menyentuh hajat hidup rakyat.
Menuju 2029: Saatnya Gelombang Pasang
Saudara-saudaraku, tujuh tahun pertama adalah masa menanam. Tiga tahun ke depan adalah masa menentukan. Pemilu 2029 bukan sekadar target elektoral; ia adalah ujian apakah gagasan gelombang ketiga benar-benar hidup di hati rakyat, atau hanya indah di atas kertas.
Untuk itu, izinkan saya menitipkan beberapa hal: Jadilah gelombang, bukan buih. Buih ramai di permukaan tetapi hilang disapu angin. Gelombang bergerak dari kedalaman.
Bangun kekuatan dari akar: dari RT, desa, kampus, pasar, dan komunitas. Bawa gagasan, bukan hanya gambar. Rakyat kita kini terdidik dan kritis.
Mereka tidak lagi memilih karena baliho, tetapi karena percaya. Bicaralah tentang rumah yang layak, pekerjaan, pangan, dan masa depan anak-anak mereka.
Dan yang tak kalah penting, Rawat persatuan. Sebagai aktifis pergerakan dan pencinta perjuangan, Partai ini mengerti tentang luka perpecahan, maka kita tahu betapa mahal harganya sengketa. Jangan biarkan ambisi pribadi memecah barisan.
Bekerja dalam senyap, hadir saat dibutuhkan. Pahlawan 10 November tidak bertempur untuk dikenang. Mereka bertempur karena tanah airnya memanggil. Karena itu, Yakinlah. Para pemuda 1928 juga dianggap pemimpi. Tujuh belas tahun kemudian, mimpi mereka menjadi proklamasi.
Kemenangan 2029 tidak akan datang sebagai hadiah. Ia akan datang sebagai buah dari ribuan pertemuan kecil, jutaan langkah kaki, dan kesetiaan yang tidak menuntut balasan.
Kepada Kalian yang Tetap Tinggal.
Kepada kader yang setia memberi sumbangan kecil meski tak pernah disebut namanya. Kepada ibu-ibu yang memasak untuk rapat ranting. Kepada anak-anak muda yang membagikan gagasan kita di media sosial walau dicibir. Kepada para caleg yang kalah tetapi tetap datang ke kantor partai keesokan harinya. Kepada simpatisan yang diam-diam mendoakan kita.
Terima kasih. Partai ini bukan milik segelintir pendiri. Partai ini milik kalian semua, milik rakyat Indonesia. Tujuh tahun lalu kita berlayar tanpa kepastian akan sampai. Hari ini kita masih di laut, masih diterpa angin, tetapi layar kita tidak pernah turun. Dan di cakrawala, gelombang ketiga itu sudah terlihat.
Selamat ulang tahun ke-7, Partai Gelombang Rakyat Indonesia. Mari kita jemput 2029 bersama. Semoga Allah SWT terus memberikan pemimpin kita hidayah dan kesehatan lahir batin untuk memimpin partai dan bangsa Indonesia. Amin YRA.
Jakarta, 28 Oktober 2026
Fahri Hamzah
Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia

No comments