Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelora Indonesia sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta, memberikan arahan strategis dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) Desk Rekrutmen Anggota Partai Gelora di Jakarta beberapa lalu. Arahan tersebut, secara lengkap ditayangkan di kanal YouTube Gelora TV pada Jumat (8/10/2026).
Dalam arahannya, Anis Matta menegaskan bahwa kekuatan politik suatu partai tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah sumber daya atau modal logistik, melainkan oleh ide, kualitas manusia, serta kemampuan menyusun cerita (storytelling) yang terhubung langsung dengan realitas kehidupan masyarakat.
Anis Matta menguraikan bahwa sejarah peradaban, ajaran agama, hingga gerakan-gerakan politik besar dunia selalu bermula dari sebuah cerita yang diyakini secara kolektif.
Menurutnya, masyarakat akan tergerak untuk bergabung dengan Partai Gelora jika partai mampu menyajikan narasi yang relevan dengan pergumulan hidup mereka sehari-hari.
“Semua bermula dari cerita. Itu yang membuat orang akan bergabung dengan Partai Gelora—jika kita bisa menjawab dan membuat satu cerita bahwa ini tentang hidupnya dia, bukan tentang kita. Dia yang berkepentingan untuk masuk jika ingin menciptakan kehidupan yang lebih baik,” katanya.
Ia meminta seluruh fungsionaris dan kader untuk mampu menurunkan narasi-narasi besar dan proyeksi krisis global menjadi cerita yang membumi, kontekstual, dan menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi maupun sosial.
Anis Matta mendorong jajaran pimpinan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di seluruh Indonesia untuk terlebih dahulu mengatasi hambatan psikologis internal, seperti perasaan tidak berdaya atau minder ketika membandingkan diri dengan partai-partai politik senior yang memiliki modal jauh lebih besar.
Untuk menghadapi kontestasi politik Pemilu 2029, Anis memaparkan tiga instrumen penting bagi partai. Pertama membangun imajinasi strategis (mengkhayal bersama), kedua kreativitas dan presisi manuver (political engineering) dan ketiga perang kognitif (cognitive warfare)
Membangun imajinasi strategis maksudnya adalah menggerakkan gagasan dan peta jalan politik secara berani. Anis menekankan bahwa setiap pencapaian besar dalam realitas selalu berawal dari imajinasi dan gagasan di dalam pikiran.
Baca juga:
Sedangkan keativitas dan presisi manuver adalah meneladani strategi non-konvensional dalam sejarah, di mana keterbatasan sumber daya ditutupi oleh ketepatan membaca titik lemah serta keberanian mengambil jalur perjuangan yang berbeda secara presisi.
Sementara perang kognitif dilakukan dengan emaknai pertarungan politik modern bukan sekadar adu kekuatan logistik, melainkan pertarungan ide, narasi, dan ketahanan mental dalam membangun kepercayaan publik.
Anis Matta, membedah strategi pengelolaan mentalitas kader serta kunci utama rekrutmen massal menuju Pemilu 2029. Ia menegaskan pentingnya kemampuan politisi dan kader dalam memisahkan antara kondisi psikologis pribadi dengan beban masalah yang sedang dihadapi (jaga jarak dari masalah).
Menurutnya, kegagalan menyelesaikan persoalan sering kali dipicu oleh ketidakmampuan membedakan antara berpikir rasional dan jebakan overthinking.
Wamenlu RI ini membagikan pengalaman pribadinya saat menghadapi momen-momen kritis dan perasaan tidak berdaya (helplessness). Ia menyarankan metode pelepasan beban mental melalui aktivitas fisik intensif (stretch) untuk menyegarkan kembali daya pikir dan memicu gairah perjuangan baru.
Selanjutnya, ia menekankan bahwa pengelolaan krisis internal harus bermuara pada penguatan aspek spiritual melalui doa dan permohonan ilham kepada Allah SWT.
Ia lantas enukil kisah sahabat Nabi yang tertekan oleh beban utang, di mana Rasulullah SAW mengajarkan doa perlindungan dari keluh kesah, kesedihan, kelemahan, hingga kemalasan.
“Keputusan-keputusan besar dalam hidup dan perjuangan politik pada dasarnya adalah keputusan iman. Solusi sering kali sudah ada di depan kita, namun kita membutuhkan petunjuk dan ilham agar pikiran kita dibuka untuk melihat jalan keluar tersebut.”
Terkait target rekrutmen besar-besaran, Anis Matta menegaskan bahwa kunci keberhasilannya tidak terletak pada kerumitan instrumen teknis (tools), melainkan pada kemampuan kader menjawab pertanyaan paling krusial dari masyarakat: mengapa mereka harus bergabung dengan Partai Gelora?
Ia menguraikan tiga pilar utama yang menjadi jargon sekaligus arah gerak partai. Pertama bergabung, mengajak rakyat untuk menjadi pelaku aktif dalam sejarah peradaban dan bukan sekadar follower atau penonton pasif.
Kedua bertumbuh, menjadikan partai sebagai ruang peningkatan kapasitas kognitif, kepemimpinan, dan kesejahteraan hidup kader.
Ketiga berdampak:, memberikan kontribusi nyata dalam menavigasi masyarakat serta bangsa di tengah ancaman krisis global.
Melalui konsolidasi rekrutmen anggota ini, Partai Gelora optimistis seluruh pengurus dan kader di daerah mampu merajut narasi baru yang menyatu dengan harapan rakyat, sekaligus menjadi motor penggerak menuju kemenangan pada Pemilu 2029 mendatang.
Anis Matta menutup arahannya dengan optimisme bahwa apabila seluruh kader mampu melampaui hambatan psikologis dalam diri masing-masing dan mampu mengartikulasikan narasi keberpihakan tersebut, Partai Gelora akan mampu melakukan lompatan rekrutmen anggota secara masif serta mengamankan kemenangan pada Pemilu 2029.

No comments