Category: Kegiatan

Tegaskan Dukungan Indonesia, Anis Matta: Kemerdekaan Palestina Hanya soal Waktu

Partaigelora.id-Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta, menegaskan bahwa dukungan Indonesia kepada Palestina berlandaskan tiga mandat utama, yaitu konstitusi, agama, dan kemanusiaan.

Hal ini disampaikan Anis Matta saat menjadi keynote speaker dalam seminar internasional yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) di UIN Alauddin Makassar, Senin (17/11/2025), dalam rangkaian kunjungannya di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Dalam seminar yang juga dihadiri Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar, Wamenlu menekankan bahwa posisi Indonesia terhadap Palestina tidak pernah berubah sejak era Presiden Soekarno hingga masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Ini adalah utang sejarah yang belum lunas sejak Konferensi Asia Afrika,” ujar Anis Matta.

Wamenlu menekankan bahwa posisi Indonesia terhadap Palestina tidak pernah berubah sejak era Presiden Soekarno hingga masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dukungan tersebut, menurutnya, bukan hanya bersifat politik, tetapi juga moral dan kemanusiaan.

Wamenlu menjelaskan bahwa mandat konstitusi mengharuskan Indonesia menolak segala bentuk penjajahan. Prinsip tersebut menjadi landasan kuat bagi konsistensi diplomasi Indonesia di berbagai forum internasional.

Dari aspek agama, solidaritas terhadap Palestina, khususnya terhadap warga sipil yang terdampak konflik, merupakan nilai yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Sementara itu, mandat kemanusiaan mengingatkan bahwa krisis Gaza bukan lagi sekadar isu regional, melainkan ujian bagi tatanan hukum internasional dan komitmen global terhadap perdamaian.

Dalam forum itu, Anis Matta juga merinci sejumlah langkah nyata yang telah dilakukan Indonesia untuk membantu Palestina.

Salah satunya adalah pengiriman bantuan terbaru senilai US$12 juta yang dialokasikan untuk pembangunan dapur umum di Gaza. Dengan penambahan ini, total bantuan Indonesia sejauh ini mencapai US$36 juta.

Selain bantuan finansial, Indonesia juga mengirimkan 1.200 ton bantuan kemanusiaan melalui jalur udara untuk mendukung kebutuhan dasar warga Palestina di tengah situasi yang semakin memburuk.

Tidak hanya itu, Wamenlu menegaskan adanya inisiatif baru dari Presiden Prabowo berupa kesiapan Indonesia mengirim pasukan perdamaian di bawah mandat PBB bila situasi memungkinkan.

Langkah ini dinilai sebagai pembeda yang signifikan dari pemerintahan sebelumnya karena untuk pertama kalinya Indonesia menyatakan kesiapan terlibat langsung dalam menjaga stabilitas kawasan Gaza melalui operasi perdamaian.

“Inilah yang membedakan pemerintahan Presiden Prabowo. Ini pertama kalinya Indonesia menyatakan kesiapan terlibat langsung melalui pasukan perdamaian,” tegas Wamenlu.

Lebih lanjut, Anis Matta menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memperkuat perspektif akademik terkait diplomasi Indonesia.

Ia menyebut bahwa hasil dari rangkaian seminar internasional ini akan dirangkum sebagai masukan kebijakan (policy input) bagi kementerian dan lembaga terkait.

“Krisis Gaza bukan lagi isu Palestina semata. Ia sudah menjadi ujian bagi hukum internasional dan tatanan global,” katanya.

Kemerdekaan Palestina soal Waktu

Dalam kesempatan ini,
Anis Matta memaparkan kembali sejarah panjang dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina, mulai dari momentum Konferensi Asia-Afrika hingga komitmen politik yang terus dijaga hingga saat ini.

Ia menegaskan bahwa dukungan Indonesia bukan hanya berdasarkan diplomasi politik, tetapi juga bagian dari amanat konstitusi dan nilai kemanusiaan.

Anis Matta juga menyoroti perubahan narasi global terkait isu Palestina.

Menurutnya, narasi yang awalnya dipahami sebagai konflik Palestina versus Israel sempat bergeser menjadi isu Islam melawan zionisme Israel.

Namun kini, narasi tersebut telah bertransformasi menjadi isu universal: kemanusiaan melawan anti-kemanusiaa.

“Kini dukungan terhadap Palestina semakin luas, melampaui batas agama dan negara. Dunia mulai menyadari bahwa ini bukan lagi sekadar konflik kepentingan geopolitik, tetapi persoalan moral dan hak asasi manusia,” tegas Anis Matta.

Ia menambahkan bahwa perubahan cara pandang masyarakat internasional merupakan sinyal kuat bahwa kemerdekaan Palestina merupakan keniscayaan sejarah yang tidak bisa dihindari.

“Kemerdekaan Palestina bukan soal apakah itu terjadi, tetapi kapan. Ini hanya masalah waktu,” ujarnya.

Seminar internasional ini dihadiri oleh civitas akademika, mahasiswa, peneliti, serta berbagai komunitas pendukung kemerdekaan Palestina.

Seminar ini merupakan salah satu upaya Kemenag mendorong diplomasi akademik sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam isu kemanusiaan global.

Melalui forum ini, perguruan tinggi diharapkan dapat memberikan kajian dan rekomendasi yang memperkaya langkah-langkah diplomasi Indonesia dalam mendukung Palestina.

Forum ini merupakan bagian dari rangkaian seminar internasional yang diinisiasi Kemenag di empat UIN untuk memperkuat diplomasi akademik Indonesia dalam isu perdamaian dunia.

Wamenlu Anis Matta Soroti Pentingnya Literasi dan Kesadaran Geopolitik di Unismuh Makassar

Partaigelora.id-Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengungkapkan pentingnya memahami geo politik dan konflik internasional yang terjadi di dunia saat ini, salah satu yang terbesar adalah konflik Palestina dan Israel.

Hal tersebut diungkapkan Anis Matta dalam materinya yang dibawakan di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Senin (17/11/2025).

Dialog tersebut dipandu Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unismuh Makassar, Dr Luhur A Prianto. Acara dihadiri perwakilan Ormas Islam dan sivitas akademika Unismuh Makassar.

Anis Matta mengungkapkan hal tersebut penting sebab Indonesia termasuk dalam sejarah terbentuknya Muhammadiyah yang juga berkaitan secara tidak langsung.

“Krisis global sudah bergerak ke arah kita, Indonesia harus bersiap menghadapi musim dingin geopolitik,” kata Anis Matta.

Dalam pemaparannya, Anis menekankan bahwa geopolitik kini bukan lagi wilayah eksklusif diplomat dan elite, melainkan pengetahuan publik yang menentukan cara bangsa ini mengambil keputusan.

“Kesadaran geopolitik harus menjadi bagian dari literasi bersama, termasuk di kampus,” ujarnya.

Anis Matta menggambarkan dunia yang tengah berada dalam pusaran krisis sistemik, tatanan global lama runtuh, sementara tatanan baru belum terbentuk.

Kekosongan itu memunculkan gelombang instabilitas, dari ketimpangan ekonomi hingga rapuhnya komitmen internasional yang tampak jelas pada tragedi Palestina.

Lebih dari seratus konflik militer aktif, katanya, menunjukkan bahwa ‘musim dingin’ itu sudah menyelimuti berbagai kawasan, terutama Timur Tengah yang kini menjadi game changer politik dunia.

Dampaknya merembet ke Asia Selatan dan Asia Tenggara melalui ketegangan perbatasan dan gejolak politik yang menguji stabilitas kawasan.

“Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi ajakan agar Indonesia bersiap sebagai bangsa,” katanya.

Untuk membaca posisi Indonesia di tengah pusaran itu, Anis Matta menguraikan empat ‘halaman geopolitik’ yang membentuk arena strategis Indonesia.

Yakni geografi sebagai halaman takdir; dunia Islam sebagai halaman identitas, Global South sebagai ruang solidaritas, serta kemanusiaan sebagai panggung universal tempat krisis global berkelindan.

Dalam persimpangan empat halaman ini, Indonesia memiliki dua modal besar, yakni populasi muslim terbesar di dunia dan posisi sentral di ASEAN.

Hal tersebut menurutnya perlu dipahami publik, terutama komunitas akademik yang sedang menyiapkan generasi pemimpin baru.

Anis Matta berharap Unismuh dapat menjadi destinasi mahasiswa dari dunia Islam di masa mendatang.

Namun ia menegaskan bahwa tugas utama kampus hari ini adalah membangun laboratorium kesadaran geopolitik.

Forum seperti dialog kebangsaan, katanya, harus menjadi tradisi agar mahasiswa terbiasa membaca dinamika global dan tidak mudah terseret arus informasi negatif.

Ia mengingatkan bahwa tradisi pengembaraan dan ilmu geografi dalam peradaban Islam adalah modal penting untuk membentuk imajinasi geopolitik generasi muda.

Menutup orasinya, Anis menegaskan bahwa kampus seperti Unismuh memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan intelektual Indonesia.

Di tengah musim dingin geopolitik yang kian dekat, ia berharap kampus menjadi ruang di mana kesadaran baru tumbuh, kolaborasi antarbangsa diperkuat, dan Indonesia bersiap menghadapi dunia yang berubah cepat.

Respon Unismuh

Rektor Unismuh, Dr Abdul Rahim Nanda usai acara dialog mengatakan, paparan Anis Matta sebagai pengingat bahwa perguruan tinggi harus memperluas cakrawala dan keluar dari pemikiran sektoral.

Rahim menilai situasi global ‘sangat mengkhawatirkan’ dan kampus perlu memperkuat kerja sama internasional, terutama dengan negara-negara muslim.

Ia menggarisbawahi pentingnya memasukkan geografi, sejarah kawasan, dan politik global dalam kurikulum agar mahasiswa memiliki kesadaran ruang dan peradaban yang lebih matang.

“Ruang akademik harus menjadi tempat tumbuhnya kemampuan membaca dunia,” kata Rakhim.

Dalam sambutan pembukaan, Rektor Unismuh juga memaparkan capaian Unismuh sebagai modal diplomasi kampus, mulai dari akreditasi unggul, sertifikasi ISO 21001:2018, pemeringkatan di Times Higher Education dan QS Asia University Ranking, hingga mandat pelatihan tenaga kesehatan untuk Arab Saudi.

Rektor Unismuh berharap rekam jejak ini membuka jalan kolaborasi yang lebih luas, termasuk dengan Kementerian Luar Negeri.

Gedor Semangat Kader, Anis Matta: Bersiaplah Hadapi Krisis Besar dan Menangkan 2029!

Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar puncak HUT ke-6 di Ballroom Hotel Horison Ultima, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Minggu (16/11/2025) sore.

Perayaan HUT Partai Gelora tahun ini mengangkat tema ‘Rumah Untuk Semua’ dan Sulsel Bergelora untuk Indonesia’.

Acara puncak HUT ke-6 dihadiri Ketua Umum Partai Gelora sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta, pengurus DPP, Ketua DPW Partai Gelora Sulsel Mudzakkir Djamil, pengurus daerah, serta ratusan kader dari berbagai daerah.

Panggung perayaan dikemas dinamis dengan pagelaran tari tradisional, pemutaran video ucapan dari sejumlah kepala daerah, penyematan syal Gelora bagi kader baru, serta penyerahan penghargaan kader inspiratif dan kader penggerak.

Acara juga dirangkaikan dengan talkshow yang dipandu Ketua Koordinator Bidang Komunikasi DPP Partai Gelora TB Dedi Miing Gumelar, yang merupakan tokoh senior komedi Indonesia, menambah suasana cair dan hangat.

Acara tersebut juga menjadi penanda peluncuran program-program prioritas Gelora menuju agenda politik 2026, sekaligus mempertegas posisi partai sebagai ruang aspirasi publik yang inklusif dan terbuka.

Di hadapan ribuan kader dan simpatisan, Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta menyampaikan seruan penuh energi tentang arah perjuangan partai dan tantangan besar yang menanti bangsa.

Anis Matta mengulas teori revolusi politik serta membaca ulang pola historis siklus kepemimpinan yang kerap menjadi penanda perubahan besar suatu bangsa.

Ia menyinggung berbagai analisis geopolitik yang menyiratkan hadirnya krisis global baru.

“Banyak analisis yang saya dengar dan saya baca menunjukkan bahwa akan ada perang yang lebih besar pada waktu yang tepat — dan waktunya kini terasa semakin dekat,” ujar Anis Matta.

“Karena itu, sambil saudara memikirkan kursi tahun 2029, saya ingin mengatakan: bersiaplah untuk hal-hal yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan,” sambungnya.

Ia menekankan bahwa Partai Gelora tidak boleh terjebak pada pola kerja konvensional seperti umumnya partai politik.

Menurutnya, dunia sedang memasuki fase ‘musim dingin geopolitik’ yang mulai bergerak ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Partai Gelora, katanya, sejak awal lahir dari kesadaran geopolitik bahwa Indonesia harus siap menghadapi krisis sistemik berskala global.

Anis Matta juga menyoroti Pemilu 2029 sebagai momen kunci perjalanan bangsa. Bertepatan dengan 30 tahun Reformasi — yang bermula setelah lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 — ia menilai tahun 2029 menjadi titik refleksi penting, baik bagi demokrasi Indonesia maupun arah politik pasca-reformasi.

Di tengah dinamika tersebut, Wamenlu RI Urusan Dunia Islam ini memetakan tiga skenario global yang menurutnya berpotensi mengguncang dunia dalam beberapa tahun ke depan: perang, revolusi sosial, dan krisis ekonomi berkepanjangan.

Ketiga skenario itu, menurutnya, menuntut strategi politik yang jauh lebih matang, adaptif, dan visioner.

“Kalau kita membaca kembali manifesto partai ini, sejak awal kita sadar bahwa kita sedang menuju masa krisis besar. Musim dingin geopolitik itu kini sedang menuju Asia Tenggara. Maka, kita harus siap menghadapi perubahan besar yang mungkin datang,” ujarnya.

Karena itu, Anis Matta menyulut semangat para kader untuk membangun kesiapan menghadapi tantangan global dan memanfaatkan momentum politik menuju Pemilu 2029 sebagai pintu masuk perubahan besar bagi Indonesia.

Dengan nada optimis, Ketua Umum Partai Gelora ini menegaskan bahwa kemenangan 2029 bukan hanya tujuan elektoral, tetapi bagian dari misi menghadapi perubahan dunia yang sedang bergerak cepat.

“Saya berharap kader Gelora semakin antusias, bersedia berkorban, dan berbuat lebih besar untuk partai. Kita punya target strategis yang hanya bisa dicapai dengan energi kolektif, militansi, dan kerja nyata,” tegas Anis Matta.

Anis Matta juga mengulas kembali inspirasi gerakan Partai Gelora dan visi jangka panjang partai dalam membangun Indonesia menuju kekuatan lima besar.

Peringatan HUT ke-6 Partai Gelora di Sulsel ini, menjadi momentum konsolidasi dan penyatuan energi kader menuju agenda besar partai di tahun-tahun mendatang.

Antusiasme para peserta terlihat dari awal hingga akhir acara, menandai optimisme baru dalam perjalanan politik Partai Gelora dari Sulsel.

Anis Matta Hadiri Puncak HUT Gelora Ke-6 di Makassar, Partai Gelora akan Launching Program Strategis 2026

Partaigelora.id-Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Anis Matta, hari ini akan menghadiri langsung puncak peringatan milad ke-6 Partai Gelora Indonesia yang direncanakan akan berlangsung siang ini di Hotel Horison Makassar.

Tema besar yang diusung, “Partai Gelora Indonesia Rumah Untuk Semua”, bukanlah sekadar slogan. Ini adalah visi dan komitmen yang dipegang teguh.
Sebagaimana diketahui bahwa Partai Gelora Indonesia didirikan pada tanggal 28 Oktober 2019.

Menurut Syahrul Mubaraq, Sekretaris Umum Partai Gelora Sulsel menyatakan bahwa kegiatan ini akan dihadiri oleh Ketua Umum Anis Matta dan jajaran DPP Partai Gelora Indonesia seperti Rofi Munawar Ketua Harian Partai Gelora, Ahmad Zainuddin Ketua DPP Bidang Kaderisasi, Syamsari Kitta Ketua Teritori Sulawesi, Taslim Tamang Wakil Ketua Teritori dan Rico Marbun Ketua Bidang Kebijakan Publik serta jajaran DPP lainnya.

”Kegiatan ini insha Allah akan menjadi momen penegasan kembali, bahwa Partai Gelora Indonesia diperuntukkan bagi seluruh rakyat Indonesia. Puncak peringatan HUT di Sulsel ini juga sekaligus menjadi momentum untuk launching program prioritas Partai Gelora Indonesia tahun 2026″, Jelas Syahrul Mubaraq.

Partai Gelora memposisikan dirinya sebagai ruang terbuka, tempat berkumpulnya keberagaman, tempat bertemunya aspirasi dari seluruh elemen rakyat Indonesia—dari Sabang sampai Merauke, dari berbagai suku, agama, profesi, dan latar belakang.

Ini adalah rumah di mana setiap gagasan, setiap energi positif, dan setiap cita-cita tentang Indonesia yang lebih baik, diterima dan diperjuangkan.

Menurut Agung Wahyudi, Ketua Panitia pelaksana kegiatan, dipilihnya Sulsel sebagai tempat pelaksanaan HUT Gelora Ke-6 mungkin karena Sulsel adalah salah satu provinsi dengan perolehan kursi legislatif pada pemilihan legislatif tahun 2024 yang lalu.

Fahri Hamzah: Idealisme dan Gagasan Perlahan Mulai Kalahkan Dominasi Uang dalam Demokrasi Pemilu

Partaigelora.id-Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah menegaskan bahwa, uang tidak lagi mendominasi dalam pelaksanaan pesta demokrasi pemilu.

Perlahan pandangan publik mulai berubah, melihat gagasan apa yang ditawarkan oleh seorang pemimpin yang maju dalam kontestasi Pemilu, untuk memperbaiki keadaan.

Hal itu disampaikan Fahri Hamzah saat menjadi narasumber dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kebangsaan Bagian 2 yang digelar secara daring, Jumat (14/11/2025) malam.

“Terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York sesuatu yang menarik. Dia seorang anak muda, muslim dan lahir dari orang tua keturunan India. Tapi bisa menarik hati masyarakat New York yang didominasi uang, dan memenangkan pertarungan, karena dia dari awal membawa gagasan,” kata Fahri Hamzah.

Artinya, dalam negara demokrasi, dominasi uang dalam pemilu, bisa dikalahkan oleh idealisme yang dibiayai oleh banyak orang, karena mereka tertarik dengan gagasan yang dibawa Zohran Mamdani.

Sebagai negara demokrasi, Fahri berharap hal itu, juga terjadi di Indonesia di masa mendatang, dalam hajatan pemilu 5 tahunan.

“Dalam setiap pemilu, kita ingin kontestasi pemimpin itu, adalah kontestasi gagasan, bukan kontestasi uang. Sekarang justru uang yang mendominasi daripada gagasan dalam setiap kampanye,” ujar Fahri.

Sehingga tidak mengherankan apabila kualitas wakil rakyat yang terpilih dalam Pemilu Legislatif lalu, didominasi oleh anggota dewan yang suka flexing, joget-joget dan lain-lain. 

“Karena dua metode pembiayaan pemilu kemarin, memfasilitasi orang kaya dan artis-artis yang mengandalkan kepopuleran saja. Tapi tidak mempunyai pengetahuan untuk memimpin negara,” katanya.

Wakil Ketua DPR Periode 2019-2024 ini tidak pernah melihat mereka berbicara mengenai negara, atau menulis artikel tentang konsep kehidupan masyarakat dan sebagainya.

“Sehingga ketika jadi pemimpin dan setelah jadi pemimpin pun tidak berbuat apa-apa, karena basis kemenangan mereka adalah banyaknya uang dan kata populer,” katanya.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora berharap fenomena terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York bisa menjadi contoh bagi anak-anak muda Indonesia untuk terus konsisten dalam memperjuangkan gagasannya.

“Saya berharap anak-muda sekarang tidak hanya baca buku, tetapi mulai berlatih di depan kaca, membuat video, membuat narasi kebangsaan, memikirkan daerahnya dan negara,” katanya.

Mereka, lanjut Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman RI ini, bisa memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Twitter (X), Instagram, TikTok dan lain-lain untuk menjelaskan masalah kebangsaan kepada masyarakat.

“Ini juga berlaku bagi kader Partai Gelora. Tidak masalah survei kita 0 persen, tetapi ketika kita mulai bicara keadaan masyarakat, mewakili perasaan masyarakat. Maka apabila dilakukan secara konsisten, rakyat akan mengikuti kita,” ujarnya.

Partai Gelora, menurut Fahri, telah membekali kader dan fungsionarisnya dengan ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan kualitas keilmuan mereka.

Yakni melalui Kajian Pengembangan Wawasan dengan tiga materi, yakni Wawasan Keislaman, Wawasan Geopolitik dan Wawasan  Kebangsaan.

Khusus mengenai materi Wawasan Kebangsaan yang dibawakannya, Fahri berharap kader dan fungsionaris Partai Gelora dapat memahami wawasan Kebangsaan sebagai cita-cita kolektif bangsa. 

Sehingga ada akhirnya dapat memahami peta dunia dan mendorong langkah kongkret kebangkitan Indonesia menjadi negara superpower baru dunia.

“Sebagai perawi masa depan, Partai Gelora juga konsisten dengan gagasan besar, memperjuangkan kebangkitan Indonesia menjadi superpower baru dunia,” pungkas Fahri.

Anis Matta: Pendidikan dan Pembelajaran Kita Perlu Pemaknaan Ulang

Partaigelora.id-Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menutup Rakernas 2025 Share Edu Indonesia, pada Sabtu (8/11/2025) malam.

Anis Matta mengajak semua pihak untuk memaknai ulang mengenai pendidikan dan pembelajaran yang telah diajarkan selama ini.

“Saya mengajak kita semua untuk membongkar ulang pemaknaan tentang pendidikan dan pembelajaran selama ini,” kata Anis Matta.

Menurut Anis Matta, proses pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan. Sedangkan tantangan teknologi menjadi faktor tambahan yang menegaskan hal itu.

Sehingga fungsi tersebut pada waktunya sangat mungkin tergantikan oleh teknologi.

“Saya mengajukan teori pendidikan berbasis peristiwa untuk model pembelajaran ke depan,” katanya.

Hal ini merujuk pada contoh turunnya Alquran secara bertahap.

“Pemahaman utuh tentang peristiwa di dunia akan membuat kita mengerti cara kerja dunia sekaligus cara meresponsnya. Bahwa, peristiwa yang terjadi di dunia ini pada dasarnya relatif sama,” ujarnya.

Anis Matta, menilai peristiwa seperti genosida di Gaza, misalnya, juga pernah dialami bangsa Indonesia sendiri dalam rentang waktu yang belum terlalu panjang ke belakang.

“Maknanya, apa pun peristiwa di dunia ini, kita juga bisa mengalaminya, jika pun belum. Memahami ini akan membuat kita secara naluriah menyiapkan diri untuk mencegahnya terjadi atau menghadapinya bila tak terelakkan,” katanya.

Wamenlu berharap mulai dari sekarang disiapkan dan membangun masyarakat pembelajar.

“Untuk itu, kita harus menyiapkan dan membangun masyarakat pembelajar,” katanya.

Yaitu, masyarakat yang berpengetahuan dan terus menerus belajar dengan cara mengajarkan pendidikan Yang benar.

“Yang harus kita ajarkan lewat pendidikan adalah cara belajar yang benar,” katanya.

Cara belajar yang benar ini, kata Anis Matta, mencakup tradisi pembelajaran yang kuat, metodologi belajar yang elastis, dan kemampuan kognitif yang elastis.

“Pembelajaran menggunakan metodologi yang elastis, dan kemampuan kognitif yang elastis,” pungkas nya.

Mahfuz Sidik Ajak Generasi Muda Pelajari dan Mulai Berinteraksi dengan Masalah Dinamika Politik Global

Partaigelora.id-Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfuz Sidik mengatakan, generasi muda sekarang perlu memahami situasi geopolitik dan dinamika politik global.

Sebab, dinamika politik global sekarang akan mempengaruhi kepentingan orang banyak dan kehidupan masa depan mereka.

Seperti fenomena terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York, karena keberaniannya menentang kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Hal itu menandakan, bahwa terpilih Zohran Mamdani yang notabene seorang muslim itu, tidak bisa dipandang hanya sekedar pertarungan politik lokal di AS saja, melainkan pertarungan kekuatan politik global.

“Menurut saya, terpilihnya Zohran bukan semata peristiwa elektoral di Amerika Serikat saja, melainkan adanya pertarungan sesungguhnya dinamika politik di tingkat global,’ kata Mahfuz Sidik, Sekjen Partai Gelora.

Pesan itu disampaikan Mahfuz Sidik saat menjadi narasumber dalam Kajian Pengembangan Wawasan Politik Global dengan tema ‘Memahami Model Hubungan Dinamika Politik Global, Jumat (7/11/2025) malam.

Karena itu, Mahfuz berharap kajian pengembangan wawasan yang dilakukan Partai Gelora setiap Jumat malam, dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk mulai memahami dan berinteraksi dengan masalah-masalah politik global.

“Saya berharap program kajian pengembangan wawasan yang kita lakukan ini sebagai sarana bagi generasi muda. Untuk mulai memahami dan berinteraksi dengan masalah-masalah politik lokal dan politik global,” katanya.

Ketua Komisi I DPR 2010-2016 ini menilai terpilhnya Zohran bisa menjadi bahan diskusi menarik di kalangan generasi muda di Indonesia.

“Jadi kita melihat Zohran ini, dari kasus seseorang yang terlihat sebagai politik lokal, tetapi bisa mempengaruhi dinamika politik global,” katanya.

Terpilihnya Zohran, lanjut Mahfuz, diyakini akan menjadi efek domino perubahan besar di kota-kota lain di AS, bahkan di Eropa.

“Zohran ini punya ideologi sosialis yang mengangkat gerakan sosialisme melawan dominasi kelompok kapitalis liberalis yang menguasai ekonomi New York, termasuk ada Trump di dalamnya. Saya yakin Zohran akan memberikan efek domino ke kota-kota lain di Amerika dan benua Eropa,” katanya.

Mahfuz berharap generasi muda di Indonesia, termasuk di dalamnya generasi Z (Gen Z) yang di dalam struktur demografi sekarang, menjadi unsur dominan, harus mulai secara intens mempelajari dinamika politik global, karena banyak perubahan yang akan terjadi dalam beberapa waktu mendatang.

“Tentunya kita ingat juga, bahwa tumbangnya sejumlah rezim di beberapa negara di Asia seperti Nepal dan Bangladesh, Pakistan dan berapa negara yang lain di Amerika Latin misalnya beberapa waktu lalu, ternyata gerakan perubahannya dimotori oleh Gen Z,” ujar Mahfuz.

Anak-anak muda tersebut, kata Mahfuz, seharusnya menyibukkan diri belajar, membaca buku-buku pelajaran sekolah atau di kampus dalam kehidupan sehari-hari mereka, tapi justru ikut terjun menyelesaikan permasalahan sosial dan politik di negara mereka.

“Sehingga jika ada pandangan apabila generasi muda atau Gen Z cenderung apolitis dengan kehidupan politik, itu tidak benar. Mereka ternyata terlibat dalam front terdepan pada kasus-kasus sosial unrest di beberapa negara,” katanya.

Menurut Mahfuz, generasi muda dan Gen Z sekarang sudah mulai paham bahwa dampak terbesar dari dinamika politik global sekarang akan dirasakan mereka.

“Maka ketika bergerak, mereka bergerak punya pola dan cara kerja sendiri yang berbeda dengan cara kerja sebelumnya. Mereka tidak perlu sosok pemimpin pergerakan yang hadir di lapangan, dengan kemampuan retorikanya, tapi mereka mampu memunculkan satu gerakan, mengorganisir gerakan, memformulasi narasi dan bahkan memunculkan kepemimpinan gerakan secara kolektif yang tidak kasat mata. Semua
terjadi di ruang media sosial, ini adalah cara bekerja, bergerak yang baru,” pungkas Mahfuz.

Mahfuz Sidik: Program Ideologis Bagi Kader dan Fungsionaris Partai Gelora Sangat Penting

Partaigelora.id- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfuz Sidik menegaskan, program Ideologisasi bagi kader dan fungsionaris Partai Gelora adalah sesuatu yang sangat penting.

“Karena di program ini, kita menjelaskan dan memahamkan mengenai pikiran-pikiran politik Partai Gelora Indonesia sejak awal berdiri dan apa yang menjadi kehendak, keyakinan dan juga tujuan dari berdirinya Partai Gelora,” kata Mahfuz Sidik usai memberikan materi Ideologisasi, Minggu (2/11/2025). 

Program Ideologisasi yang diikuti antara lain koordinasi bidang Kaderisasi dan Hubungan Luar Negeri itu, Mahfuz mengatakan, bahwa Ideologisasi perlu dilakukan di tengah derasnya perubahan arus zaman.

“Partai Gelora memilih berhenti sejenak untuk menajamkan pikiran, menguatkan spriritulitas, dan meneguhkan arah perjuangan,” katanya.

Ketua DPP Koordinator Bidang Pemenangan Territorial Akhmad Faradis mengatakan, dalam program Ideologisasi ini, ia diminta untuk memberikan materi tentang pemikiran.

“Materi tentang pemikiran ini, materi yang kelihatannya sederhana tetapi perlu mendapatkan penjelasan,” kata Akmad Faradis. 

Sehingga semua kader punya pemahaman tentang materi pemikiran dan dapat lebih selektif lagi dalam menerima informasi.

“Dan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat. Kalau masyarakat tidak disadarkan akan hal ini, bisa menjadi sesuatu yang sangat negatif. Mudah-mudahan materi ini bisa memberikan pemahaman kepada para fungsional,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Koordinasi Bidang Kaderisasi DPP Partai Gelora Hisan Anis Matta mengatakan, program Ideologisasi ini sangat baik, membuat dirinya mengenal Partai Gelora lebih mendalam.

“Program ini membuat saya lebih kenal Partai Gelora dan lebih punya kesadaran tentang kondisi geopolitik dan krisis global yang kita sedang hadapi sekarang. Spiritualitas kita ketika berpolitik ini sangat membantu dan meneguhkan kerja-kerja kami di Partai Gelora,” kata Hisan Anis Matta.

Sementara Ketua DPP Koordinator Bidang Hubungan Luar Negeri Henwira Halim mengapresiasi kegiatan program Ideologisasi, sebagai upaya merekatkan seluruh kader Partai Gelora.

“Saya sangat apresiasi artinya upaya-upaya untuk semakin mendekatkan rekan-rekan satu sama lain, mengikat kita dalam satu jalinan ideologi,” kata Henwira.

Ia mengatakan, program Ideologisasi membantu setiap kader dalam mengambil keputusan dalam memimpin. 

“Ideoligasi ini akan membantu memimpin kita membuat keputusan dan pilihan sebagai wakil rakyat di kemudian harinya,” kata pungkas Henwira.

Kemerdekaan Palestina Adalah “Utang Sejarah” yang Belum Dituntaskan Indonesia

Partaigelora. Id-Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Anis Matta sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menegaskan, perjuangan kemerdekaan Palestina adalah utang sejarah yang belum dituntaskan Indonesia sejak masa lalu.

Dia menilai semangat yang dimuncul pada masa Presiden pertama RI Soekarno itu, kini kembali dihidupkan di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, melalui keterlibatan aktif Indonesia dalam upaya perdamaian global.

“Yang tersisa dari semangat Bandung itu sebenarnya tinggal satu ini, Palestina. Itu artinya masih ada utang sejarah yang kita belum tuntaskan. Dan menuntaskan utang sejarah inilah yang sedang dilakukan oleh Pak Prabowo sekarang,” ujar Anis Matta, Minggu (2/11/2025).

Anis Matta mengingatkan, posisi Indonesia yang kini kembali dihormati di dunia internasional bukanlah hal yang datang tiba-tiba ketika Presiden Prabowo memimpin.

Menurut dia, sejak masa Presiden Soekarno, Indonesia telah memainkan peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa-bangsa yang masih terjajah. Salah satunya dengan menginisiasi Konferensi Asia-Afrika (KAA).

“Posisi Indonesia dihargai di mata dunia. Tapi sebenarnya peranan ini sudah pernah kita lakukan sebelumnya. Di era Bung Karno dulu tahun 1955 kan kita yang menginisiasi Konferensi Asia Afrika di Bandung dan kemudian ikut melahirkan Gerakan Non-Blok di masa Perang Dingin,” tutur Anis Matta.

Anis Matta menjelaskan, semangat yang lahir dari KAA 1955 membawa satu narasi tunggal, yakni perjuangan untuk kemerdekaan dan perlawanan terhadap imperialisme.

Indonesia yang saat itu baru sepuluh tahun merdeka, lanjut Anis, memprakarsai forum tersebut di tengah situasi dalam negeri yang masih sulit.

Semangat Bandung atau ruhnya Bandung itu waktu itu datang dengan satu narasi tunggal: kemerdekaan melawan imperialisme.

Karena banyak dari anggotanya yang masih belum merdeka sampai tahun itu, dan kita juga baru 10 tahun merdeka,” kata Anis Matta.

Dia menambahkan, meski Indonesia saat itu baru keluar dari masa agresi Belanda dan baru menyelenggarakan pemilu pertama, pemerintahan yang ada memiliki legitimasi besar untuk memimpin gerakan solidaritas Dunia Selatan (Global South).

“Dalam kondisi baru merdeka, masih terseok-seok, kita sudah mengundang negara-negara selatan yang pernah dijajah untuk hadir dalam konferensi ini dan menebarkan semangat perlawanan untuk merdeka,” ucapnya.

Dari semangat yang lahir di Bandung itu, hampir seluruh negara di Asia dan Afrika akhirnya memperoleh kemerdekaannya pada dekade 1960-an. Hanya dua negara yang sempat tertinggal, yakni Afrika Selatan dan Palestina.

“Alhamdulillah kira-kira dari tahun itu sampai tahun 1960-an hampir semua negara merdeka. Kecuali nanti ada dua yang belakangan yaitu Afrika Selatan yang akhirnya juga berhasil merdeka zamannya Nelson Mandela. Nah yang tersisa dari semangat Bandung itu sebenarnya tinggal Palestina,” ungkap Anis Matta.

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Sharm El-Sheikh di Mesir dinilai menjadi kelanjutan dari tradisi diplomasi Indonesia yang berpihak pada kemerdekaan dan keadilan.

Menurut Anis Matta, partisipasi Indonesia dalam forum tersebut mempertegas posisi Indonesia di mata dunia.

“Itu menandakan bahwa posisi Indonesia dihargai di mata dunia,” katanya. Diberitakan sebelumnya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Sharm El-Sheikh di International Congress Centre, Sharm El-Sheikh, Mesir, pada Senin (13/10/2025).

Kehadiran Prabowo sekaligus dalam rangka menyaksikan sejumlah pemimpin dunia menandatangani perdamaian di Gaza, Palestina.

Mereka yang menandatangani dokumen adalah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, dan Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al Thani.

Setibanya Prabowo di Indonesia usai menghadiri acara KTT di Mesir, ia kembali menyatakan komitmen mendukung kemerdekaan Palestina. Prabowo menyatakan, tekadnya sejak lama adalah membela Palestina.

“Memang ini tekad kita sebagai bangsa, tekad saya, puluhan tahun saya membela Palestina. Puluhan tahun sejak saya masih muda,” kata Prabowo setelah mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma.

Kepala negara menegaskan, Indonesia terus aktif mendukung kemerdekaan Palestina. Bahkan, Indonesia juga mengirim berbagai bantuan ke Palestina, di antaranya bantuan pangan berupa ribuan ton beras.

“Kita terus-menerus mendukung kemerdekaan Palestina, rakyat Palestina, dan Alhamdulillah ya kita bisa berbuat. Indonesia selama ini aktif. Kita kirim bantuan, kita kirim kapal, kita kirim Hercules berkali-kali,” ujar dia.

Sumber: Kompas. Com

Islam Agama Toleran, Tidak Hanya Antar Umat Beragama, Tapi juga Sesama Muslim

Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia kembali menggelar kajian pengembangan wawasan, Wawasan Keislaman dengan tema ‘Islam yang Kita Pahami’ Bagian Kedua ‘Islam Toleran’ pada Jumat (31/10/2025) malam.

Kajian yang diperuntukkan fungsionaris DPP, DPW dan DPD Partai Gelora itu, kali disiarkan secara langsung dari Studio DPW Partai Gelora Jawa Timur.

Acara ini dibuka oleh Ketua Pusat Pengembangan Wawasan Partai Gelora KH Musyafa Ahmad Rahim. 

Dihadiri beberapa pengurus DPP antara lain Koordinator Pelaksana Harian Partai Gelora Roti Munawar, Ketua DPP Pemenangan Teritorial V (Jatim) Muhammad Siroj, serta Ketua DPW Jatim Misbahul Munir.

Ketua Pengembangan Wawasan Partai Gelora KH Musyafa Ahmad Rahim berharap agar kader dan fungsionaris menyampaikan diri ikut kajian ini baik hadir secara offline maupun online berbagai platform seperti Zoom Meeting, Facebook, YouTube dan Tiktok. 

“Para sahabat Partai Gelora jangan lupa setiap Jumat malam Pukul 19.30 WIB agar mengikuti kajian rutin. Sekarang temanya tentang pengembangan Wawasan Keislaman,” kata KH Musyafa Ahmad Rahim. 

KH. Ahmad Mudzoffar Jufri, Lc.,M.A dalam materi kajiannya mengatakan, bahwa pada bagian pertama telah dibahas sistem yang kita pahami mengenai Islam, khususnya di Indonesia.

“Secara khusus pada malam hari ini, yang kita bahas adalah tentang aspek Islam. Yaitu Islam yang kita anut, adalah Islam yang toleran,” kata KH Ahmad Muzhoffar Jufri. 

Menurut dia, pemahaman tentang keislaman memiliki banyak versi, sehingga diperlukan sikap toleransi untuk saling menghargai, menghornati segala perbedaan pendapat, pemahaman dan pemikiran.

“Dari kecil sampai yang paling besar, yaitu agama kita mengakui adanya perbedaan aspeknya,” ujar Muzhoffar. 

Toleransi, kata Ketua Pusat Kajian Strategis PartI Gelora ini , ada dua macam toleransi, yakni toleransi antar umat beragama dan toleransi antar umat Islam.

“Toleransi itu ada dua macam, yaitu toleransi antar umat beragama atau umat lintas agama. Islam menyikapi perbedaan keyakinan agama. Kedua toleransi antar sesama umat Islam. Kita ketahui di Islam ada berbagai madzab, misalnya ada yang pakai qunut dan tidak pakai qunut, ” ungkapnya. 

Adanya perbedaan keyakinan dan pemahaman ini, menurut Muszhoffar, bahwa keyakinan untuk memilih agama tidak ada paksaan. 

“Islam memang dituntut untuk berdakwa. Tapi kalau yang kita ajak tidak mau, kita tidak bisa paksakan,” katanya.

Sehingga Islam dilarang memerangi atau memusiluhi seseorang, karena perbedaan keyakinan. 

“Islam luar biasa tentang toleransi, tidak hanya antar umat beragama, tetapi juga antar sesama muslim,1” pungkasnya.

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X