Partaigelora.id- Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia akan menggelar ‘Bimtek II Anggota Legislatif 2026’ bagi 73 Anggota Legislatif (Aleg) DPRD Kabupaten/Kota dan Provinsi, dari Partai Gelora di Jakarta pada Sabtu-Senin, 13-15 Juni 2026.
Bimbingan Teknis (Bimtek) II ini, dikhususkan untuk membahas masalah anggaran dengan tema ‘Penguatan Fungsi Anggota Dewan Partai Gelora dalam Mewujudkan Tata Kelola Keuangan Daerah yang Transparan dan Aspiratif’
Wakil Menteri (Wamen) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah akan membuka pelaksanaan Bimtek II tersebut.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora Mahfuz Sidik mengatakan, Partai Gelora sengaja menggelar Bimtek di tengah situasi dunia yang semakin tidak menentu, yang dapat berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi dan politik nasional.
Hal itu dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada para Anggota DPRD dari Partai Gelora, baik yang duduk di kursi legislatif provinsi dan kabupatan/kota mengenai situasi dunia terkini.
Sebab, persoalan yang dihadapi Indonesia juga dihadapi banyak negara lain, karena hal ini merupakan fenomena yang sifatnya global.
Sehingga para Anggota Dewan Partai Gelora memiliki pemahaman terhadap kondisi ini, dan dapat menjelaskan kepada masyarakat tentang situasi yang terjadi, serta apa yang mestinya mereka lakukan.
“Bukan alih-alih kita kemudian ikut memprovokasi masyarakat untuk mengungkapkan kekecewaannya. Alangkah lebih bagusnya kita mengedepankan pendidikan politik yang baik dan memberikan informasi yang positif,” kata Mahfuz Sidik, Kamis (11/6/2026).
Namun, tentu saja dengan tetap membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritiknya , mengungkapkan fikirannya secara terbuka.
“Ini jembatan yang harus dilakukan, yang harus terus dibangun oleh Anggota Dewan, khususnya dari Partai Gelora sekarang ini, ada 73 orang,” ujar dia
Menurut Mahfuz, Bimtek kali merupakan yang kedua digelar, setelah pada sebelumnya dilaksanakan pada 2-5 Oktober 2025.
“Kita nanti akan memberikan banyak wawasan tentang informasi situasi terkini baik di dunia maupun dampaknya secara domestic,” katanya.
Selain itu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gelora juga akan memberikan arahan kepada para Angggota Dewan Partai Gelora mengenai langkah apa yang harus dilakukan di tengah Masyarakat.
“Mereka (Anggota Dewan) adalah perwakilan aspirasi masyarakat diberbagai daerah masing-masing. Dan kita memberikan arahan kepada mereka apa yang semestinya mereka lakukan. Itu target yang ingin dicapai,” tegas Mahfuz.
Ketua Panitia Pelaksana Bimtek II Muhammad Rozai menambahkan, Bimtek II ini merupakan kelanjutan dari Bimtek sebelumnya sebagai upaya Partai Gelora menyiapkan kadernya yang ada di legislatif bisa bekerja profesional dan aspiratif.
Bimtek II, lanjut dia, akan menitik beratkan pada peningkatan kapasitas Aleg dalam pengetahuan teknis dan strategis menghadapi dinamika politik dan tata kelola anggaran.
“Hal ini sangat penting karena perkembangan politik global yang sangat dinamis membawa dampak besar sampai pada keuangan daerah,” kata Rozai.
Dalam Bimtek II para Anggota Dewan Partai Gelora akan mendapatkan beberapa materi penting keuangan daerah dengan narasumber yang berkompeten di bidangnya masing-masing Salah satu diantaranya adalah Ketua KPU RI Mochammad Afiifuddin akan menyampaikan materi tentang ‘Antisipasi Perubahan dan Kebijakan Pemilu 2029 pada hari kedua pelaksanan Bimtek II, Minggu 14 Juni 2026.
Sementara Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta akan memberikan arahan sekaligus menyampaikan perkembangan mengenai situasi terkini geopolitik global.
Kemudian Sekjen Partai Gelora Mahfuz Sidik akan menutup pelaksanaan Bimtek II yang akan berlangsung selama tiga hari tersebut, pada Senin 15 Juni 2026.
Partaigelora.id-JAKARTA-Jumlah penulis anak Indonesia bertambah dengan munculnya Putri Alya Sidik.. Tidak tanggung-tanggung, pada Selasa 9 Juni 2026, Putri Alya Sidik langsung meluncurkan tiga buku perdananya, tepat di usia sembilan tahun.
Ketiga buku tersebut ditulisnya dalam bahasa Inggris diberi judul: My School is My Second Home, I Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.
Buku tersebut, menceritakan tentang kehidupan kesehariannya, Putri Alya Sidik. Ia berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang hal-hal baik yang semestinya didapatkan dan dijalani oleh anak-anak Indonesia.
“Aku ingin teman-temanku bersemangat dan gembira di sekolah, lebih suka makanan sehat, dan juga melakukan kegiatan yang menyenangkan di luar sekolah,” kata Alya dalam peluncuran bukunya di Hotel Grandkemang, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026).
“Karena aku dan teman-temanku harus menjadi anak Indonesia yang sehat, pintar dan berprestasi,” imbuhnya.
Kemunculan Alya, pelajar Sekolah Dasar Delima School Jakarta sebagai penulis buku cilik di tengah serbuan budaya digital dan media sosial menjadi pengecualian yang unik.
Hal ini diungkapkan oleh Meutya Viada Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Kabinet Merah Putih dalam kata pengantarnya pada buku Putri Alya Sidik.
“Tumbuhnya keberanian Alya untuk menerbitkan buku di usia 9 tahun menjadi hal yang patut diapresiasi dan dirayakan,” kata Meutya.
Menurut dia, hal ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki kreativitas, imajinasi, dan keberanian untuk berkarya sejak dini.
Lebih lanjut Meutya menegaskan bahwa di tengah perkembangan teknologi, membaca dan menulis tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus penting untuk membantu anak-anak berpikir, berkreasi, dan mengenal dunia lebih luas.
Alya yang merupakan putri Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia ini berkeinginan menulis serial buku tentang kehidupan sehari-hari dan diberi label Diary of Alya, dengan target terbit minimal tiga buku baru setiap tahun.
Buku-buku Alya ditulis dengan format berbahasa Inggris, berwarna, bergambar dan dengan dua puluhan jumlah halaman.
“Aku ingin buku ini mudah dibaca dan dibawa oleh teman-temanku, menyenangkan karena banyak gambar dan berwarna, menambah kemampuan bahasa Inggris, serta memberi inspirasi untuk hidup sehat, semangat dan berprestasi,” tutur Alya menjelaskan tentang ketiga bukunya.
Catatan Menarik
Ada catatan menarik dari peluncuran buku perdana Putri Alya Sidik, seorang penulis cilik di Jakarta berusia sembilan tahun yang meluncurkan tiga buah buku dalam bahasa Inggris, dan diberi label serial Diary of Alya.
Adalah banyaknya tokoh-tokoh nasional yang memberikan komentar buku Putri Alya Sidik tersebut. Pengantar buku ditulis oleh Meutya Hafid, Menkomdigi RI, dan komentar dari Wamenlu RI Anis Matta, Prof. Dr. Seto Mulyadi, pakar psikologi pendidikan anak, Prof. Effendi Gazali, Phd, pakar komunikasi politik, serta Inul Daratista, artis dan seorang ibu.
Inul Daratista sendiri sedianya hadir dalam peluncuran tersebut, namun karena kesibukannya sebagai artis, ia batal hadir. Suami Adam Suseno itu mengirimkan video ulasan pada peluncuran buku Putri Alya Sidik.
Ia memuji Alya sebagai anak hebat dan berprestasi. Bahkan Inul memberikan jempol kepada Alya dalam usia yang sangat belia sudah menulis buku dan meluncurkan tiga buku selaligus dalam peluncuran perdananya.
Karena itu, kehadiran Alya, dianggap menambah deretan nama penulis buku cilik, yang saat ini masih sedikit. Hal ini membuka kembali fakta akan masih rendahnya tingkat literasi di masyarakat Indonesia.
Menurut data UNESCO (2020), Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal tingkat literasi dunia.
Angka minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001, artinya hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang gemar membaca.
Sementara budaya menulis lebih rendah, karena masyarakat Indonesia lebih kuat dalam tradisi lisan (tutur/audiovisual).
Tradisi tutur dan audiovisual semakin berkembang dengan penggunaan meluas teknologi komunikasi.
Menurut data UNICEF (2024), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta orang.
Data Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa 39,71% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, dan 35,57% sudah mengakses internet.
Menteri Komdigi, Meutya Hafid telah mengeluarkan batasan kepada anak-anak dalam menggunakan internet, dan mendorong dikembangkannya budaya membaca dan menulis.
Rendahnya Tingkat Kegemaran Membaca dan Menulis (TGMM) masyarakat juga Prof. Dr. Seto Mulyadi atau Kak Seto dalam ulasan pada peluncuran serial buku Diary of Alya.
Ia menyoroti lima faktor penyebab kondisi ini. Pertama, minat membaca pada anak masih rendah akibat minimnya keteladanan dan dorongan dari orangtua.
Kedua, literasi digital yang pasif, dimana perilaku membaca pada anak bergeser ke media digital yang cenderung bersifat instan dan kurang melqatih kemampuan berfikir kritis.
Ketiga, menulis masih dianggap beban akademis, sebatas menyelesaikan tugas sekolah sehingga kreativitas dan kemampuan menuangkan ide secara bebas tidak terasah.
Keempat, akses buku tidak merata dengan kesenjangan besar di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Kelima, kurangnya peran keluarga dimana membaca belum menjadi kebiasaan sehari-hari di keluarga, dan lingkungan sekitarnya. Pandangan Kak Seto ini diamini oleg Gregoria Ira, Vice Principal pada Delima School, Jakarta.
Menurutnya, kurikulum sekolah dan buku teks belum mampu menumbuh-kembangkan budaya baca dan menulis pada siswa.
Salah satu penyebabnya adalah serbuan media digital yang lebih menyuburkan budaya tutur atau audiovisual.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Delima School misalnya, memadukan konsep ‘sekolah digital’ dan ‘sekolah konvensional’ dengan pembiasaan pada budaya membaca dan menulis.
“Anak yang terbiasa membaca dan menulis cenderung lebih mudah menyerap materi pelajaran apapun. Membaca dan menulis adalah fondasi paling krusial dalam perkembangan anak.” ungkap Ira.
Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis adalah alat utama untuk membentuk cara anak berfikir, berkomunikasi, dan memahami dunia.
Kecakapan Rendah
Ada catatan menarik dari peluncuran buku perdana Putri Alya Sidik, pelajar ekolah Dasar berusia sembilan tahun dalam bahasa Inggris, dan diberi label serial Diary of Alya.
Dalam laporan Indeks Kecakapan Bahasa Inggris (English Proficiency Index) pada tahun 2025, Indonesia menempati peringkat ke-80 secara global dari 123 negara, dengan skor 471 dan masuk dalam kategori kecakapan Rendah. Di Asia, Indonesia berada di posisi ke-12, tertinggal jauh dari Malaysia dan Filipina.
Hal ini terungkap dalam acara peluncuran buku perdana Putri Alya Sidik, siswi Delima School dan berusia Sembilan tahun, yang telah menulis tiga buah buku dalam bahasa Inggris.
Di labelkan Diary of Alya, ketiga buku tersebut berjudul: My School is My Second Home, I Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.
Menurut Wahyu Kusnadi, guru Bahasa Inggris yang juga editor dari ketiga buku yang ditulis Alya, rendahnya Indeks Kecakapan Bahasa Inggris pada siswa sekolah di Indonesia, khususnya di tingkat dasar, penyebab utamanya bermula dari kebijakan kurikulum.
Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang tidak mewajibkan bahasa Inggris di jenjang SD.
“Pada kurikulum 2013, bahasa Inggris diturunkan statusnya menjadi mata pelajaran pilihan. Akibatnya banyak Sekolah Dasar yang meniadakan pelajaran ini karena keterbatasan sumber daya pengajar,” kata Wahyu di Hotel Grandkemang, Selasa 17 Juni 2026.
Namun, pada kurikulum Merdeka 2025, bahasa Inggris kembali dijadikan mata pelajaran pilihan menuju wajib, yang ditargetkan diimplementasikan secara penuh pada tahun ajaran 2026/2027.
“Namun masa transisi ini masih menyisakan sejumlah kendala,” Jelas Wahyu, yang sudah 17 tahun mengajar bahasa Inggris di Delima School Jakarta.
Dalam mengatasi kendala di atas, Wahyu mendesak pemerintah untuk segera memenuhi kebutuhan tenaga pengajar bahasa Inggris dengan kompetensi standar untuk sekolah jenjang dasar.
“Penyediaan buku-buku bacaan berbahasa Inggris untuk sekolah yang sesuai dan mendukung kurikulum juga sangat penting. Apalagi harga buku bacaan berbahasa Inggris relatif mahal,” tandas Wahyu.
Kehadiran Alya menambah jumlah penulis cilik Indonesia yang menulis buku dalam bahasa Inggris. Di antaranya ada nama Deliang Al-Farabi, Nadia Shafiana Rahma, dan Karinda Susanto.
Menurut Ferris Affan, pegiat dunia pendidikan yang juga Principal Delima School Jakarta, kemunculan penulis seperti Alya didorong oleh tren sekolah dwibahasa (bilingual/international school), akses teknologi media, dan meningkatnya kesadaran orang tua terhadap literasi sejak dini.
“Kami mewajibkan seluruh siswa jenjang dasar untuk menggunakan bahasa Inggris di sekolah, begitupun para pendidiknya. Ini bagian dari upaya meningkatkan Indeks Kecakapan Berbahasa Inggris di kalangan siswa SD.” jelas Feries.
Partaigelora.id- Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora Indonesia, Coach Gunawan, menilai kerangka kerja VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang digunakan selama lebih dari 30 tahun kini sudah tidak memadai lagi.
Ia menyoroti pentingnya perubahan kerangka berpikir (mindset) para pemimpin dalam menghadapi dinamika global yang makin komplek, kini tidak lagi cukup untuk membaca realitas zaman.
Menurutnya, percepatan disrupsi kecerdasan buatan (AI) hingga fenomena post-truth menuntut hadirnya peta navigasi baru bagi para pemimpin, yaitu BANI (Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible).
Hal itu disampaikan Coach Gunawan saat mengisi Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian atau Internal Arsitektur Mindset Seri ke-7 bertema ‘Peralihan VUCA ke BANI: Alat Baca Baru untuk Pemimpin di Era Digital’ pada Selasa (9/6/2026) malam.
“Dunia VUCA dulu perubahannya cepat, namun masih bisa dianalisis dan diprediksi. Hari ini, di era BANI, perubahan terjadi secara tidak linier dan masif. Informasi melimpah, namun kejelasan justru memudar,” kata Gunawan.
Coach Gunawan menjelaskan, ada tiga pemicu utama yang merubah lanskap perubahan global dalam beberapa tahun terakhir, yakni adanya Disrupsi AI, Era Post-Truth dan Efek Domino.
Disrupsi AI dipicu Pertumbuhan adopsi teknologi seperti ChatGPT yang menembus 100 juta pengguna hanya dalam dua bulan menggeser berbagai jenis profesi secara mendadak.
Sedangkan Era Post-Truth ada;ah Informasi palsu (hoax) menyebar jauh lebih cepat, merapuhkan mental masyarakat dan membuat kebenaran menjadi makin cair.
Sementara Efek Domino (cascade effect) terjadi akibat sistem global yang sangat saling terhubung membuat gangguan kecil di satu titik langsung berdampak luas pada stabilitas ekonomi dunia.
Dalam kesemppatan ini, C oach Gunawan merinci empat aspek utama yang mewarnai era BANI, antara lain Brittle (rapuh), Anxious (cemas), Nonlinear (tidak linier), Incomprehensible (melampaui pemahaman).
Brittle adalah kerapuhan tersembunyi pada organisasi maupun individu yang tampak kokoh dari luar, namun rentan hancur saat mendapat tekanan tertentu.
Adapun Anxious adalah munculnya kelelahan kognitif (decision fatigue) akibat paparan informasi nonstop yang memaksa otak terus berada dalam mode survival.
Selanjutnya Nonlinear adalah terputusnya hubungan sebab-akibat konvensional, di mana aksi kecil bisa menimbulkan dampak destruktif yang tidak sebanding.
Kemudian Incomprehensible adalah kautan data yang berlebihan membuat otak manusia kesulitan memproses gambaran utuh (starving of wisdom).
Kendati begitu Coach Gunawan menegaskan Indonesia tidak perlu membuang energi mengejar ketertinggalan teknologi dengan membuat platform tandingan dari nol, akibat seperti TikTok hingga Meta (Facebook, X atau Twitter, Istagram dan Thread) dan Google yang kerap memicu adu domba public.
“Gap sejarah dan kapasitas teknologi kita cukup jauh. Kita tidak perlu berperang di arena yang bukan kekuatan kita. Pemimpin peperangan tidak harus selalu paling jago main pedang. Esensi leadership adalah kemampuan mengelola sumber daya yang terbatas untuk menciptakan dampak setinggi-tingginya,” tegasnya.
Namun, Wasekjen Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora ini menyarankan agar masyarakat Indonesia, terutama kader Partai Gelora untuk memanfaatkan platform global yang ada secara cerdas untuk edukasi dan kemaslahatan nasional.
“Menurut saya, ketimbang membuang energi membuat platform media baru, Indonesia justru harus cerdas memanfaatkan platform media global yang sudah ada sebagai alat (user) untuk kemaslahatan, edukasi, dan kemuliaan bangsa,” tegasnya..
Coach Gunawan kemudian mengutip pemikir Islam kelas dunia Ibnu Khaldunyang mengingatkan pentingnya seorang pemimpin memahami dinamika zamannya.
“Ibnu Khaldun pernah menegaskan bahwa pemimpin yang berhasil mengelola zaman adalah pemimpin yang mengerti ruh dari zamannya,” ucap Gunawan.
Cooach Gunawan menekankan pentingnya membangun ketahanan internal (internal response) dan jeda kognitif.
BANI menjadi cermin untuk mengevaluasi respon kognitif, afektif, dan psikomotorik organisasi dalam menghadapi badai perubahan.
Ia menambahkan bahwa akselerasi pembahasan materi BANI ini sengaja dilakukan karena konsep tersebut sudah mulai masuk ke dalam kurikulum perguruan tinggi di Indonesia.
Partai Gelora berkomitmen untuk terus membekali para kadernya dengan alat baca terkini agar tetap relevan dan tangguh secara mental.
Ia menambahkan, pembahasan mengenai BANI ini akan dilanjutkan pada Seri ke-8 bertajuk ‘Seni Berdiri Tegak di Atas Zaman yang Retak’ untuk membekali kader dengan langkah-langkah taktis dalam merespons ketidakpastian zaman.
Partaigelora.id-Ketua Divisi Kajian Pemikiran Islam DPP Partai Gelora Indonesia, Abdul Rochim, menegaskan bahwa perdamaian (as-silmu) dan rasa aman (al-aman) merupakan hukum asal serta kondisi normal dalam interaksi manusia menurut pandangan Islam.
Sementara itu, peperangan bukanlah sebuah tujuan, melainkan instrumen darurat yang hanya diizinkan untuk menegakkan keadilan, membela kaum tertindas, menghapuskan kezaliman, serta menjamin kebebasan beragama.
Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Keislaman bertajuk ‘Perang dan Damai dalam Perspektif Islam: Bagaimana Islam Memandang Konflik Dunia? Antara Esensi Damai dan Hukum Perang’ pada Jumat (5/6/2026).
Dalam pemaparannya, Abdul Rochim mendalami dimensi teknis-filosofis krisis global dengan menekankan pentingnya kalkulasi rasional antara risiko (mafsadah) dan dampak kebaikan (maslahah) berdasarkan kerangka tujuan syariat (Maqasid Syariah).
Abdul Rochim menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan Hadist menempatkan rasa aman sebagai fondasi utama perlindungan hak dasar manusia (jiwa, harta, kebebasan beragama, dan kehormatan).
“Damai adalah basis interaksi, baik antarindividu, masyarakat, maupun negara. Peperangan terjadi ketika situasi normal tersebut terganggu oleh pihak-pihak yang memaksakan kehendak dan melanggar prinsip keadilan,” ujarnya.
“Sejarah Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin membuktikan konfrontasi militer tidak pernah ditujukan untuk perebutan wilayah atau sumber daya, melainkan terbatas pada situasi darurat, pembelaan diri, dan penjaminan kebebasan mendasar,” kata Abdul Rochim.
Ketua Divisi Kajian Pemikiran Islam DPP Partai Gelora ini membandingkan dampak peperangan masa lalu dengan era modern.
Menurutnya, kemajuan teknologi militer saat ini membawa dampak destruktif yang jauh lebih besar dan kompleks. Konflik bersenjata hari ini kerap disetir oleh berbagai motif yang berkelindan, seperti ideologi, kepentingan ekonomi, hingga politik geopolitik.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya membedakan antara perkara ibadah ritual (ta’abbudat) dan muamalah atau politik-militer (al-‘adiyat).
Sebab, urusan militer dan strategi perang-damai masuk dalam kategori ma’qul al-ma’na (dapat dicerna akal dan berorientasi pada maslahat duniawi).
Ia berharap petunjuk wahyu harus dipahami melalui Maqasid Syariah serta diturunkan menggunakan instrumen ilmu pengetahuan yang relevan dengan konteks zaman.
Mengutip pemikir Muslim Thaha Jabir Al-Alwani dan Syekh Izuddin bin Abdissalam (Qawaidul Ahkam), Abdul Rochim menganalogikan perang itu seperti gunung es.
Konfrontasi militer di permukaan hanyalah dinilainya sebagai dampak luar dari pertarungan ideologi, perebutan sumber daya, dan geopolitik yang tak kasatmata.Sehingga pengambil kebijakan harus memiliki pertimbangan yang matang.
“Pilihan paling tragis adalah mengambil keputusan dengan pengorbanan terbesar tetapi dampak maslahatnya paling kecil. Rasulullah SAW memilih Perjanjian Hudaibiyah (Sulh Al-Hudaibiyah) justru karena risiko fisik yang dikorbankan amat kecil, tetapi dampak kemaslahatan dan dakwah yang dihasilkan sangat besar,” jelasnya.
Ia juga menggarisbawahi bahwa damai dalam Islam bukan sekadar absennya peperangan atau kondisi “api dalam sekam”, melainkan damai produktif—situasi adil yang memungkinkan setiap individu mengaktualisasikan potensinya.
Terkait stigma negatif global, ia meminta masyarakat membedakan antara din (ajaran agama yang sempurna) dan tadayun (perilaku individu beragama).
Karena ekstremisme lahir dari tadayun yang cacat akibat pemahaman parsial (syubhat), trauma psikologis, maupun faktor emosional.
Abdul Rochim mengatakan, evolusi konflik modern saat ini dimulai dari cyber war, perang kognitif, propaganda media, hingga potensi senjata biologis—serta menyikapi krisis multidimensi seperti wabah penyakit (COVID-19).
Ia menegaskan bahwa akar konflik modern sering kali bukan didasari oleh pencapaian maslahat atau perdamaian, melainkan syahwat ego politik untuk mendominasi
Menurutnya, tidak semua peristiwa kontemporer harus dicari padanan teknisnya secara tekstual di masa Nabi SAW, namun yang terpenting adalah membaca akar motif konfrontasinya.
Untuk menjelaskan motif dominasi global, ia menarik komparasi historis dari peristiwa Perang Badar. Pasukan Quraisy yang dipimpin Abu Jahal dan Abu Lahab tetap bersikukuh menyerang Madinah meskipun kafilah dagang Abu Sufyan telah selamat.
Hal ini menunjukkan bahwa perang kerap meletus bukan demi kemaslahatan, melainkan demi memamerkan kekuatan (show of force) dan ambisi menjadi kekuatan superpower atau “polisi dunia” yang mengnotrol pihak lain.
Ia berpesan agar umat Islam dapat melihat isu perdamaian dan peperangan secara lebih mendalam dan komprehensif.
“Perang dan damai hendaknya tidak dipandang sebatas letupan senjata atau sekadar kesepakatan gencatan senjata, melainkan sebagai konfigurasi kompleks dari motif, strategi, dan perbenturan nilai di baliknya,” kata dia.
Sebab, dalam Islam, etika perang melarang keras penyerangan terhadap warga sipil, wanita, anak-anak, serta fasilitas publik—sebuah batasan moralitas (marja’iyyah) yang sering terabaikan dalam doktrin konflik destruktif modern.
Melalui kajian ini, umat Islam diharapkan mampu melihat isu perang dan damai secara lebih mendalam, jernih, dan komprehensif.
Partaigelora.id-Ketua dan Wakil Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Partai Gelora Indonesia, Zuhrif Hudaya dan Arifin Wicaksono, membedah strategi kecerdasan finansial melalui investasi komoditas emas dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kewirausahaan bertajuk ‘Cara Cerdas Memulai Investasi Emas untuk Pemula (Kupas Tuntas Skema Komoditas)’ pada Selasa (2/6/2026) malam.
Kajian ini menekankan pentingnya pengalokasian pendapatan secara terstruktur serta pemanfaatan logam mulia tidak hanya sekadar penahan nilai (safe haven), melainkan sebagai instrumen pengungkit (leverage) kekayaan secara produktif.
Wakil Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Partai Gelora Arifin Wicaksono membuka pemaparan dengan mengingatkan kembali pentingnya penganggaran (budgeting) melalui skema alokasi keuangan 60-30-10 (60% konsumsi, 30% investasi, dan 10% tabungan/sosial).
Dari porsi 30% investasi tersebut, komoditas emas batangan (logam mulia) menjadi opsi utama karena memiliki tiga keunggulan strategis:
Keuntungan kapital (capital gain): Kenaikan nilai tukar dalam jangka panjang yang konsisten melawan arus inflasi.
Likuiditas sangat tinggi: Sangat mudah diperjualbelikan di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi darurat sekalipun.
Fungsi agunan (kolateral): Memiliki nilai yang diakui secara global sehingga mudah diterima sebagai jaminan pinjaman lembaga keuangan.
“Emas tidak hanya berfungsi menjaga daya beli, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara cerdas untuk memproduksi aset baru. Namun ingat, emas hanya diam menjaga nilai jika tidak diapa-apakan,” terang Arifin.
Dalam simulasinya, Arifin membandingkan hasil akumulasi aset emas dengan instrumen konvensional seperti deposito dan asuransi pendidikan (eduplan).
Dengan mengalokasikan Rp3 juta per bulan (30% dari asumsi pendapatan Rp10 juta) selama 10 tahun, nilai akumulasi emas secara historis terbukti mampu menghasilkan nilai jauh lebih tinggi dibandingkan bunga deposito maupun hasil investasi asuransi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan skema akselerasi kekayaan melalui pemanfaatan emas sebagai agunan:
Momentum peluang: Saat muncul peluang bisnis atau investasi produktif berimbal hasil tinggi, pemilik tidak perlu menjual emasnya.
Pencairan cepat dan efisien: Emas digadaikan ke lembaga keuangan Syariah atau Pegadaian dengan nilai pencairan (Loan-to-Value) mencapai 80–90%, tanpa biaya notaris, serta proses administrasi yang cepat.
Imbal hasil mengunci aset: Return dari bisnis atau investasi tersebut digunakan untuk mengangsur dan menebus kembali emas yang digadaikan. Hasilnya, bisnis tetap berjalan dan aset emas utuh kembali ke brankas.
Sementara itu, Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Partai Gelora Zuhrif Hudaya membagikan pengalaman praktiknya dalam mengelola dan melipatgandakan emas hingga beberapa kilogram melalui metode “berkebun emas”.
Ia merumuskan empat aturan utama dalam berinvestasi emas, yakni kapan membeli, kapan menggandakan, kapan menyimpan dan kapan menjual.
Kapan membeli maksudnya membeli saat ada dana (dari porsi 30% alokasi investasi) tanpa perlu menunda atau menunggu harga turun.
Sedangkan kapan menggandakan dimaksudkan ketika terdapat peluang investasi produktif yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dari biaya gadai.
Lalu, kapan menyimpan adalah siimpan dan diamkan aset selama tidak ada kebutuhan atau peluang produktif, serta kapan menjual dilakukan dalam kondisi kebutuhan mendesak atau darurat (force majeure).
“Status emas yang digadaikan tetaplah milik kita sepenuhnya, berbeda dengan sertifikat aset lain yang beralih status penguasannya ke bank. Melalui skema gadai produktif, kita memegang dua kekuatan sekaligus: penguasaan atas dana tunai dari hasil gadai dan hak kepemilikan atas emas tersebut,” kata Zuhrif.
Zuhrif membagikan tiga strategi utama yang telah ia praktikkannya secara langsung selama lebih dari lima tahun tiga strategi utama yang telah ia praktikkannya secara langsung selama lebih dari lima tahun.
Yakni Skema “Berkebun Emas” (Deret Akumulasi Emas), Strategi Double-Asset: Modal Usaha Tanpa Kehilangan Logam Mulia dan Opsi Sederhana Menggunakan Pinjaman Modal Kerja (KUR)
Zuhrif menjelaskan Skema “Berkebun Emas” dilakukan melaluskema perputaran gadai bertingkat yang mampu melipatgandakan penguasaan aset emas fisik secara signifikan.
Misalamn pemilik aset membeli 100 gram emas modal awal, kemudian mengagunkannya ke lembaga gadai resmi untuk memperoleh dana tunai (asumsi Loan-to-Value 90%).
“Dana tunai tersebut kembali dibelikan emas fisik sekitar 90 gram, lalu digadaikan kembali secara berulang hingga membentuk deret penurunan dana,” jelasnya.
Sehingga akan menghasilkkan multiplier efek kekayaan melalui perputaran berturut-turut tersebut, kepemilikan modal awal 100 gram emas dapat mengontrol hingga 1.000 gram (1 kg) emas fisik.
“Maka seiring tren kenaikan (bullish) harga emas jangka panjang, pemilik aset dapat melepas/menjual satuan emas berukuran kecil secara bertahap untuk menutup biaya administrasi, biaya simpan (ijrah), dan menebus kembali emas berukuran besar.
“Kuncinya ada pada momentum kenaikan harga emas yang melampaui biaya simpan gadai. Dari modal awal 100 gram, kita berkesempatan menguasai hingga 1.000 gram aset emas,” papar Zuhrif.
Strategi kedua Strategi Double-Asset menekankan penggunaan emas sebagai jaminan untuk mendirikan unit usaha produktif tanpa harus kehilangan kepemilikan aset dasar. Melalui tahapan operasional, yakni melakukan eksekusi strategi.
Setelah itu melakukan akusisi awal dengan engajukan pinjaman modal, lalu dikonversi seluruhnya menjadi emas batangan fisik.
Selanjutnya pencairan modal dengan menggadaikan sebagian emas untuk mendirikan atau mengalokasikan modal usaha (seperti industri kosmetik dan digital marketing).
Kemudian melakukan cover tahun pertama dengan enjual satuan emas kecil untuk menutupi biaya operasional dan cicilan tahun pertama.
Lalu, cover tahun pertama dengan melakukan langka cicilan gadai sepenuhnya ditutup oleh hasil dividen/keuntungan operasional perusahaan.
“Dalam waktu 5 tahun, pinjaman gadai lunas, emas utuh kembali ke brankas, dan perusahaannya tetap berdiri serta beroperasi menghasilkan arus kas (cashflow),” jelas Zuhrif.
Adapun strategi opsi menggunakan KUR bagi investor pemula atau pelaku UMKM yang belum memiliki kapasitas mendirikan perusahaan, menurut Zuhrif memberikan alternatif menggunakan fasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau pinjaman bank berbunga rendah.
“Dana pinjaman (misal Rp100 juta – Rp500 juta) langsung dikonversikan ke emas batangan. Untuk angsuran bulanan dapat ditutup secara berkala dengan menjual pecahan emas kecil. Dan di akhir masa tenor pinjaman, kenaikan nilai emas diproyeksikan meninggalkan sisa akumulasi modal (margin surplus) yang cukup besar sebagai hak milik penuh,” katanya.
Terkait hal ini, Wakil Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Gelora, Arifin Wicaksono, memberikan catatan kritis terkait mitigasi risiko operasional dari strategi ini
Berdasarkan tren pasar (market trend), skema berkebun emas sangat efektif pada kondisi pasar bullish (tren naik). Jika pasar sedang mengalami koreksi (bearish), investor wajib menyiapkan dana cadangan (buffer fund) untuk menghindari risiko eksekusi agunan.
Sementara soal emas fisik vs emas digital, Arifin menekankan keunggulan emas fisik dibandingkan emas digital untuk fungsi agunan. Emas fisik memberikan kebebasan penuh (fungible) untuk digadaikan atau dijual di mana saja, sedangkan emas digital cenderung terikat pada ekosistem platform penyedia (provider).
Terakhir mengenao legalitas Lembaga Perbankan/Gadai, ia menyarakan untuk selalu menggunakan jasa lembaga keuangan milik negara (BUMN/BPD/BSI) atau lembaga gadai resmi terdaftar demi menjamin kepastian hukum dan keamanan agunan.
Partaigelora.id-Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta, mengingatkan bahwa ancaman paling berbahaya dari konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah (Timteng) bukan sekadar kenaikan harga minyak.
Melainkan adalah ancaman krisis pupuk yang berpotensi memicu kelaparan di khususnya kawasan Asia dan terhentinya mobilitas perdagangan dunia.
“Begitu pergerakan terhenti di kawasan ini, seluruh dunia akan menghadapi masalah,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).
Hal itu disampaikan Anis Matta dalam wawancara eksklusif dalam acara ‘One on One’ bertema ‘Peran Indonesia di Tengah Konflik Global’ di TVOne pada Jumat (29/5/2026).
Menurut Anis Matta, Asia menjadi kawasan paling rentan karena ketergantungan besar terhadap energi dari Timteng.
Asia dengan populasi lebih dari empat miliar jiwa hampir sepenuhnya bergantung pada jalur distribusi yang melewati Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk untuk pasokan pupuk.
Sementara China, India, Asia Tenggara, dan Jepang disebut tidak memiliki sumber daya energi yang cukup, sehingga Selat Hormuz sebagai jalur vital menjadi titik rawan.
“Jadi korban terbesar dari choke point ini adalah Asia, dan ancaman pupuk justru lebih serius disbanding energi,” katanya.
Wamenlu RI Urusan Dunia Islam ini menilai mayoritas di kawasan Asia dan Afrika membutuhkan pasokan pupuk. Kebutuhan pupuk di kawasan ini menjadi krusial untuk menjaga ketahanan pangan.
Namun, impor dari Rusia terkendala sistem pembayaran akibat sanksi internasional.” Kita akan punya masalah nanti masalah pupuk. Dan masalah pupuk ini akan menjadi masalah semua negara di kawasan Asia ini.” katanya.
Anis Matta juga menyoroti Eropa yang tidak memiliki sumber energi memadai, sehingga industri mereka tidak kompetitif ketika harga minyak melonjak.
Karena itu, jika jalur ini tersumbat akibat konflik yang berkepanjangan, maka ancaman kelaparan bukan lagi sekadar skenario terburuk.
“Ancaman jangka menengah adalah kelaparan jika perang terus berlanjut . Saya suka mengatakan kepada teman-teman di Timur Tengah, Anda berperang, kami yang mati,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Indonesia kini fokus pada keamanan pangan. Indonesia , lanjut dia, mendorong perubahan zona konflik menjadi zona pembangunan dengan prasyarat utama yaitu perdamaian.
“Ketidakpastian di Timur Tengah sangat merugikan industri Indonesia karena kenaikan harga minyak membuat produk domestik menjadi tidak kompetitif di pasar global,” katanya.
Anis Matta mengungkapkan, Indonesia saat ini berperan aktif melalui forum multilateral seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), PBB, dan forum BRICS untuk menyuarakan perdamaian.
Diplomasi Indonesia, kata Anis Matta, dilandasi oleh prinsip politik luar Negeri ‘bebas aktif’. Artinya Indonesia tidak berpihak pada kekuatan besar manapun. Namun tetap aktif berperan dalam menciptakan perdamaian serta menyelesaikan konflik internasional.
“Prinsip ini mendorong Indonesia untuk ikut terlibat dalam forum-forum multilateral, membangun dialog antarnegara, serta menolak segala bentuk penjajahan sesuai amanat Pembukaan UUD 1945,” jelasnya.
Diplomasi Indonesia juga menempatkan kepentingan kemanusiaan dan pembangunan sebagai prioritas, mendorong kerja sama Selatan-selatan.
Solusi damai dilakukan melalui forum dialog, dan penguatan jaringan internasional tanpa kompromi terhadap kedaulatan nasional.
Secara bilateral, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI juga tetap menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mendorong terciptanya sejumlah nota kesepahaman awal.
Indonesia, menurut dia, tengah menjajaki kerja sama investasi pupuk dengan Laos, serta negara-negara Timur Tengah seperti Yordania, Maroko, dan Aljazair yang memiliki kapasitas produksi pupuk dan punya fosfat banyak.
“Timur Tengah ini merupakan jantung energi dan logistik dunia, terutama melalui titik-titik krusial seperti Selat Hormuz dan Bab El Mandab yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa,” pungkas Anis Matta.
Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia yang juga Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta mengatakan, ada banyak refleksi yang bisa dipetik dari ibadah haji setiap tahunnya, tak terkecuali pada pelaksanaan Ibadah Haji 1447 H/2026 ini.
Hal tersebut disampaikan Anis Matta dalam acara Perspektif Anis Matta dengan tema Refleksi Haji: Dari Gap Politik Sampai Beda Pendapat Umar dan Abu Bakar yang tayang di kanal YouTube Gelora TV, Kamis (28/5/2026) malam.
Dalam perspektifnya, Anis Matta mengatakan, ada banyak sudut pandang untuk melihat refleksi dari ibadah ini.
Sebab, haji adalah ibadah yang pada akhirnya bertujuan mengingatkan tentang nilai-nilai pembangunan kohesi sosial.
“Jadi semua gap di dalam politik, ekonomi dan kehidupan sosial, pada dasarnya adalah sifat melenceng dari fitrah dasar kita semua,” kata Anis Matta.
Karena itu, lanjut dia, ketika satu tipikal amalan yang dipelajari atau dikerjakan secara menerus akan terus bertumbuh dan tidak pernah berhenti.
“Di sini kita belajar, itulah amalnya nabi-nabi. Ketika Islam itu datang , lalu menjadikan haji sebagai rukunnya ,” katanya.
Sebab, di situlah pada akhirnya manusia menyadari satu asal usul dan satu tujuan ke tempat kembali kepada sang pencipta, yaitu Allah SWT.
Sehingga melalui kohensi sosial ini diharapkan dapat terwujud lewat kesadaran yang digugah selama hari-hari ibadah dari Mekkah sampai Arafah.
Mereka semua dalam balutan kain ihram, dan tidak ada bedanya antara raja, presiden, pejabat, orang kaya dan rakyat jelata.
Karena balutan kain ihram adalah simbol utama penanggalan atribut keduniawian. Pakaian ini menjadi pengingat konkret akan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.
Pakaian ihram dapat menghapus sekat-sekat status sosial, kekayaan, maupun jabatan. Hal itu menunjukkan bahwa di mata Allah SWT yang membedakan hanyalah ketakwaan
Selain itu, balutan putih yang sederhana melambangkan kesucian dan kebersihan hati, layaknya bayi yang baru lahir ke dunia tanpa membawa harta maupun dosa.
Karena itu, kata Anis Matta kembali menegaskan,bahwa apabila gap atau ketimpangan dalam politik, ekonomi, dan sosial, sejatinya adalah sifat melenceng dari fitrah dasar manusia.
“Pada akhirnya, manusia punya persamaan tunggal, yaitu satu awal, satu tujuan, dan satu tempat kembali,” katanya.
Meski begitu, menurut Anis Matta, persamaan manusia dalam hal ini sekaligus juga sebagai pemantik untuk terus ditelaah dan mencoba mewujudkan konsep keadilan menurut Islam.
“Yang tidak selalu harus dimaknai sama rata sama rasa,” ujar Anis Matta.
Ketua Umum Partai Gelora ini lantas mencontohkan lewat kisah perbedaan beda pendapat antara Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, soal imbalan negara bagi kaum Muhajirin dan Anshar.
Anis Matta mengingatkan pula bahwa haji adalah wujud pasti dari terkabulnya sebuah doa Nabi Ibrahim as.
Tak hanya sewaktu, doa ini diijabah terus-menerus tanpa henti, sampai kelak hari kiamat tiba.
Di sini, Anis Matta bicara tentang rahasia amal nabi-nabi. Ada ciri yang bisa dikenali. Dan kita pun semestinya terus berusaha untuk bisa meneladani dan mengamalkannya.
“Maknanya adalah setiap orang yang menjadi muslim harus menjadi manusia global.,” pungkas Anis Matta, Wamenlu RI Urusan Dunia Islam ini.
Partaigelora.id-Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimaknai Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelombang (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah sebagai panggilan moral untuk memperkuat persatuan bangsa dan mengikis ego kelompok yang memecah belah masyarakat.
Dalam ucapan Idul Adha yang disampaikan, Rabu (27/5/2026) Fahri mengajak masyarakat meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dalam berkurban serta menjadikan Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum memperbaiki diri dan memperkuat solidaritas kebangsaan.
“Seperti Ibrahim AS yang menyerahkan cinta terbesarnya, kita diingatkan bahwa tak ada milik kita yang selamanya,” tulis Fahri seraya menegaskan bahwa hakikat kurban bukan terletak pada darah ataupun daging hewan semata, melainkan pada ketakwaan, keikhlasan, dan ketulusan hati di hadapan Tuhan.
Sebab, lanjut Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 itu, di hadapan Tuhan Seru Sekalian Alam, bukan darah atau daging yang sampai ke haribaan, melainkan takwa, rida, dan ketulusan yang mendalam.
Fahri juga menyinggung pentingnya menghapus ego dan kesombongan yang dinilai menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.
Menurut dia, Idul Adha harus menjadi momentum untuk menekan sifat serakah dan membangun semangat kebersamaan.
“Sudah saatnya kita tebas ego-ego yang memecah belah, kita sembelih kesombongan kelompok yang membuat lelah,” ujarnya.
Ia menilai, hanya dengan merobohkan dinding keangkuhan dan memperkuat persatuan, masyarakat Indonesia dapat berdiri bersama menghadapi berbagai tantangan bangsa.
“Hanya dengan merobohkan dinding-dinding keangkuhan, kita bisa berdiri bersama, bahu-bahu saling menguatkan,” kata Fahri.
Di akhir pesannya, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gelora Indonesia itu, mengajak seluruh masyarakat menjadikan Idul Adha sebagai ikhtiar bersama untuk merajut kembali persatuan hati dan membangun Indonesia secara kolektif.
“Mari jadikan momentum suci Idul Adha ini sebagai ikhtiar besar merajut kembali persatuan hati. Satu sujud yang sama, satu tekad yang nyata, bekerja bersama, membangun Indonesia raya,” tutupnya.
Partaigelora.id-Umat Muslim di Indonesia dan berbagai penjuru dunia merayakan Hari Raya Idul Aha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5/2026).
Idul Adha adalah salah satu hari besar umat Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah dalam kalender Hijriah.
Hari raya ini juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban karena identik dengan ibadah penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Di Indonesia, Hari Raya Idul Adha dirayakan dengan penuh khidmat oleh umat Muslim. Perayaan ini diawali dengan salat Id berjamaah dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban di berbagai daerah.
Selain sarat nilai religius, Idul Adha di Indonesia juga dipenuhi tradisi kebersamaan, gotong royong, dan kegiatan sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Sehingga Idul Adha adalah selalu tentang ibadah kurban dan haji. Ada sarat makna di dalamnya, yang terkait erat dengan manusia dan kemanusiaan.
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta, mengingatkan bahwa makna pengorbanan dalam ibadah kurban bertalian erat dengan sumber kekuatan perikatan sosial umat manusia.
Wakil Menteri Luar Negeri RI ini menegaskan bahwa ibadah kurban semestinya selalu menjadi momentum yang dapat mengilhami kita, menginspirasi kita, untuk menjaga semangat kesetiakawanan sosial.
Adapun tentang haji, Anis Matta menggarisbawahi bahwa ibadah ini mengajak kita untuk menemukan inspirasi dan ilham tentang kesamaan dan kesederajatan umat manusia, melalui rangkaian perjalanan yang juga penuh pengorbanan.
“ Selamat Idul Adha 1447 H. Semoga dari makna pengorbanan dalam ibadah kurban dan haji, kita semua dapat menjaga keutuhan dan kesetiakawanan sebagai Muslim, bangsa Indonesia, dan umat manusia.
Partaigelora.id-Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Fahri Hamzah mengatakan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 menjadi momentum untuk memperkuat Indonesia.
“Saya berterima kasih bahwa semboyan daripada Hari Kebangkitan Nasional pada hari ini adalah menjaga tunas bangsa, dari apa? Dari kecenderungan untuk meragukan diri sendiri,” kata Fahri Hamzah dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Hal itu disampaikan Fahri Hamzah dalam Kajian Wawasan Kebangsaan dengan tema ‘Refleksi 118 Tahun Kebangkitan Nasional: Menuju Indonesia Superpower Baru, Jumat (22/5/2026) malam.
Menurut dia, keraguan terhadap diri sendiri tersebut, akhirnya memunculkan sikap keraguan terhadap pemerintah, padahal sumber keraguaannya berasal dari ketidaktahuan terhadap persoalan.
“Tugas kita sebagai warga negara, adalah semakin cerdas, semakin mengerti prioritas kita dan semakin mengerti masa depan kita,” kata dia.
Tugasnya, adalah berpartisipasi dalam politik melalui partai politik untuk menjadi penyelenggara negara seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.
Yakni melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta dalam perdamaian dunia yang berdasarkan pada perdamaian abadi dan keadilan sosial.
“Ini adalah janji-janji kita, bukan saja kepada bangsa Indonesia, tapi juga kepada seluruh dunia. Bangsa ini dibangun dengan cita-cita besar oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata,” katanya.
Untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, lanjut dia, diperlukan sebuah narasi yang kuat, aktor menjalankan juga yang kuat, serta kelembagaan yang siap menjalankannya.
“Narasinya adalah Pasal 33, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara. Dan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Ini adalah kekuatan kita di di dalam konstitusi,” katanya.
Sementara sebagai aktor, menurut dia, Prabowo adalah aktor yang kuat sebagai penyelenggara negara seperti halnya Soekarno. Selain anak dari keluarga ekonom, Prabowo juga adalah seorang purnawirawan jenderal TNI.
“Kakeknya Margono Djojohadikusomo adalah pendiri Bank BNI. Bapaknya Sumitro Djojohadikusomo, adalah begawan ekonomi, tokoh pembiayaan ekonomi rakyat, tokoh pembangunan ekonomi global. Bahkan Pak Mitro adalah negosiator untuk aset Indonesia, saat Indonesia merdeka,” ujarnya.
Ibaratnya, bagi Prabowo itu ilmu ekonomi adalah meja makan, sarapan paginya masalah ekonomi, makan malamnya berbicara ekonomi.
“Karena itulah tokoh ini, sangat kredibel untuk memimpin kemajuan ekonomi kita. Pak Prabowo clear message-nya, ingin mensejahterakan rakyat,” tegasnya.
Namun, narasi dan aktor pemimpin yang kuat saja tidak cukup, jika tidak didukung oleh institusi atau lembaga yang akan menjalankannya.
Sehingga institusi atau lembaga yang menjalankan juga harus mempersiapkan diri melakukan perubahan secara signifikan.
“Indonesia ini sudah berumur mau 81 tahun. Semua harus sadar diri dan mempersiapkan diri sekarang, baik itu tentara, polisi, birokrasinya, legislatif, yudikatif, eksekutif, pemerintah daerah dan partai politik,” katanya.
Karena itu, Fahri menyakini dibawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia akan mencapai kejayaannya sebagai negara maju atau superpower baru.
“Saya kira kita harus optimis, kita akan menyongsong satu kemajuan besar di masa-masa yang akan datang. Saya kira Partai Gelora dari awal punya feeling yang kuat sekali bahwa momen bagi Indonesia akan segera tiba,” ujarnya.
Dapat Respon Dunia
Dalam kesempatan ini, Fahri Hamzah mengapresiasi Pidato Presiden Prabowo Subianto saat Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro di DPR pada Rabu (20/5/2026) lalu, yang dinilai fonomenal dan mendapatkan respon dari seluruh dunia.
“Presiden Prabowo dinilai konsisten dengan gagasannya, mengenai sumber daya alam (SDA) kita yang disalahgunakan dan terjadi kebocoran. Ini mendapat respon dari seluruh dunia,” ujarnya.
Pidato tersebut, biasanya disampaikan oleh setingkat seperti Menteri Perekonomian atau Menteri Ekonomi, tapi dilakukan Presiden Prabowo langsung yang disaksikan banyak pihak yang diundang.
“Menurut saya, apa yang disampaikan Presiden itu luar biasa dan menghentak dunia. Jika Iran hanya menutup Selat Hormuz untuk mengendalikan minyak. Tapi Pak Prabowo mau mengendalikan sumber daya alam, mau mengendalikan nikel, batu bara dan lain sebagainya. Sehingga orang juga sekarang tidak boleh sembarangan melihat Indonesia,” katanya.
Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menilai secara terbuka melawan kapitalisme atau neoliberal seperti ideologi kolonial yang masih berlaku di Indonesia. “Ini yang saya sebut sebagai Prabowonomix,” tegasnya.
Fahri menegaskan, Prabowo mengerti betul kondisi tersebut, bahwa Indonesia hanya dimanfaatkan untuk mendapatkan bahan baku dan tenaga kerja murah.
Sehingga industrialisasi yang dibangun pun, bukan industrialisasi Indonesia, tapi industrialisasi di Indonesia.
Sebab, semua hasil SDA yang dieksploitasi dibawa ke luar negeri, kemudian Indonesia disuruh beli produk jadi dari perusahaan mereka di luar negeri. Hal inilah yang ditentang dan dilawan Presiden Prabowo, karena merugikan rakyat Indonesia.
“Jadi pemerintahan sekarang sedang melakukan hal-hal baik seperti memberantas pembabatan hutan untuk secara gila-gilan, memberantas penambang illegal dan penertiban lain-lain,” katanya.
Apabila dalam upaya penertiban itu, pasar modal dan pasae uangnya bergerak, menyebabkan harga saham terkoreksi sangat dalam dan nilai mata uang (kurs rupiah) melemah tajam, berarti ‘malingnya’ sama.
“Malingnya sama, maling ini (SDA), juga maling itu (pasar modal dan uang. Kita harus mendukung upaya Bapak Presiden. Kita jangan pusing sendiri gara-gara pemerintah bekerja menertibkan itu,” tegasnya.
Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini meminta semua pihak untuk fokus membangun industralisasi dan kemandirian, serta berupaya mensejahterakan seluruh rakyat agar Indonesia berubah menjadi negara maju.
“Yang marah-marah itu ada kemungkinan dua kemungkinan. Pertama, dia enggak paham sebenarnya, cuman ikut-ikutan. Atau yang kedua dia menjadi bagian dari kampanye itu, merampok sumber daya alam secara gila-gilaan kita,” katanya.
Fahri mengungkapkan, Presiden Prabowo akan segera melakukan penertiban sektor tambang secara besar-besaran dalam waktu dekat.
Penertiban dilakukan, karena para pengusaha tersebut, telah merusak SDA dan lingkungan, serta merusah marwah lembaga penegak hukum, karena praktik suap.
“Implikasi kepada perusakan lembaga-lembaga penegakan hukum luar biasa, gila-gilaan. Kita saksikan dengan mata kepala saya, mata kepala kita sendiri. Kita harus mendukung pemerintah untuk melakukan pentertiban,” pungkasnya.