Category: Liputan

Partai Gelora Bedah ‘Perang dan Damai’ dalam Perspektif Islam: Dari Strategi Maqasid Syariah Hingga Refleksi Perang Badar

Partaigelora.id-Ketua Divisi Kajian Pemikiran Islam DPP Partai Gelora Indonesia, Abdul Rochim, menegaskan bahwa perdamaian (as-silmu) dan rasa aman (al-aman) merupakan hukum asal serta kondisi normal dalam interaksi manusia menurut pandangan Islam.

Sementara itu, peperangan bukanlah sebuah tujuan, melainkan instrumen darurat yang hanya diizinkan untuk menegakkan keadilan, membela kaum tertindas, menghapuskan kezaliman, serta menjamin kebebasan beragama.

Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Keislaman bertajuk ‘Perang dan Damai dalam Perspektif Islam: Bagaimana Islam Memandang Konflik Dunia? Antara Esensi Damai dan Hukum Perang’  pada Jumat (5/6/2026).

Dalam pemaparannya, Abdul Rochim mendalami dimensi teknis-filosofis krisis global dengan menekankan pentingnya kalkulasi rasional antara risiko (mafsadah) dan dampak kebaikan (maslahah) berdasarkan kerangka tujuan syariat (Maqasid Syariah).

Abdul Rochim menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan Hadist menempatkan rasa aman sebagai fondasi utama perlindungan hak dasar manusia (jiwa, harta, kebebasan beragama, dan kehormatan).

“Damai adalah basis interaksi, baik antarindividu, masyarakat, maupun negara. Peperangan terjadi ketika situasi normal tersebut terganggu oleh pihak-pihak yang memaksakan kehendak dan melanggar prinsip keadilan,” ujarnya.

“Sejarah Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin membuktikan konfrontasi militer tidak pernah ditujukan untuk perebutan wilayah atau sumber daya, melainkan terbatas pada situasi darurat, pembelaan diri, dan penjaminan kebebasan mendasar,” kata Abdul Rochim.

Ketua Divisi Kajian Pemikiran Islam DPP Partai Gelora ini membandingkan dampak peperangan masa lalu dengan era modern.

Menurutnya, kemajuan teknologi militer saat ini membawa dampak destruktif yang jauh lebih besar dan kompleks. Konflik bersenjata hari ini kerap disetir oleh berbagai motif yang berkelindan, seperti ideologi, kepentingan ekonomi, hingga politik geopolitik.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya membedakan antara perkara ibadah ritual (ta’abbudat) dan muamalah atau politik-militer (al-‘adiyat).

Sebab, urusan militer dan strategi perang-damai masuk dalam kategori ma’qul al-ma’na (dapat dicerna akal dan berorientasi pada maslahat duniawi).

Ia  berharap petunjuk wahyu harus dipahami melalui Maqasid Syariah serta diturunkan menggunakan instrumen ilmu pengetahuan yang relevan dengan konteks zaman.

Mengutip pemikir Muslim Thaha Jabir Al-Alwani dan Syekh Izuddin bin Abdissalam (Qawaidul Ahkam), Abdul Rochim menganalogikan perang itu seperti gunung es.

Konfrontasi militer di permukaan hanyalah dinilainya sebagai dampak luar dari pertarungan ideologi, perebutan sumber daya, dan geopolitik yang tak kasatmata.Sehingga pengambil kebijakan harus memiliki pertimbangan yang matang.

“Pilihan paling tragis adalah mengambil keputusan dengan pengorbanan terbesar tetapi dampak maslahatnya paling kecil. Rasulullah SAW memilih Perjanjian Hudaibiyah (Sulh Al-Hudaibiyah) justru karena risiko fisik yang dikorbankan amat kecil, tetapi dampak kemaslahatan dan dakwah yang dihasilkan sangat besar,” jelasnya.

Ia juga menggarisbawahi bahwa damai dalam Islam bukan sekadar absennya peperangan atau kondisi “api dalam sekam”, melainkan damai produktif—situasi adil yang memungkinkan setiap individu mengaktualisasikan potensinya.

Terkait stigma negatif global, ia meminta masyarakat membedakan antara din (ajaran agama yang sempurna) dan tadayun (perilaku individu beragama).

Karena ekstremisme lahir dari tadayun yang cacat akibat pemahaman parsial (syubhat), trauma psikologis, maupun faktor emosional.

Abdul Rochim mengatakan, evolusi konflik modern saat ini dimulai dari cyber war, perang kognitif, propaganda media, hingga potensi senjata biologis—serta menyikapi krisis multidimensi seperti wabah penyakit (COVID-19).

Ia menegaskan bahwa akar konflik modern sering kali bukan didasari oleh pencapaian maslahat atau perdamaian, melainkan syahwat ego politik untuk mendominasi

Menurutnya, tidak semua peristiwa kontemporer harus dicari padanan teknisnya secara tekstual di masa Nabi SAW, namun yang terpenting adalah membaca akar motif konfrontasinya.

Untuk menjelaskan motif dominasi global, ia menarik komparasi historis dari peristiwa Perang Badar. Pasukan Quraisy yang dipimpin Abu Jahal dan Abu Lahab tetap bersikukuh menyerang Madinah meskipun kafilah dagang Abu Sufyan telah selamat.

Hal ini menunjukkan bahwa perang kerap meletus bukan demi kemaslahatan, melainkan demi memamerkan kekuatan (show of force) dan ambisi menjadi kekuatan superpower atau “polisi dunia” yang mengnotrol pihak lain.

Ia berpesan agar umat Islam dapat melihat isu perdamaian dan peperangan secara lebih mendalam dan komprehensif.

“Perang dan damai hendaknya tidak dipandang sebatas letupan senjata atau sekadar kesepakatan gencatan senjata, melainkan sebagai konfigurasi kompleks dari motif, strategi, dan perbenturan nilai di baliknya,” kata dia.

Sebab, dalam Islam, etika perang melarang keras penyerangan terhadap warga sipil, wanita, anak-anak, serta fasilitas publik—sebuah batasan moralitas (marja’iyyah) yang sering terabaikan dalam doktrin konflik destruktif modern.

Melalui kajian ini, umat Islam diharapkan mampu melihat isu perang dan damai secara lebih mendalam, jernih, dan komprehensif.

Korbid Ekonomi & Bisnis Partai Gelora Kupas Tuntas Strategi Investasi Emas Bagi Pemula

Partaigelora.id-Ketua dan Wakil Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Partai Gelora Indonesia, Zuhrif Hudaya dan Arifin Wicaksono, membedah strategi kecerdasan finansial melalui investasi komoditas emas dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kewirausahaan bertajuk ‘Cara Cerdas Memulai Investasi Emas untuk Pemula (Kupas Tuntas Skema Komoditas)’ pada Selasa (2/6/2026) malam.

Kajian ini menekankan pentingnya pengalokasian pendapatan secara terstruktur serta pemanfaatan logam mulia tidak hanya sekadar penahan nilai (safe haven), melainkan sebagai instrumen pengungkit (leverage) kekayaan secara produktif.

Wakil Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Partai Gelora Arifin Wicaksono membuka pemaparan dengan mengingatkan kembali pentingnya penganggaran (budgeting) melalui skema alokasi keuangan 60-30-10 (60% konsumsi, 30% investasi, dan 10% tabungan/sosial).

Dari porsi 30% investasi tersebut, komoditas emas batangan (logam mulia) menjadi opsi utama karena memiliki tiga keunggulan strategis:

  • Keuntungan kapital (capital gain): Kenaikan nilai tukar dalam jangka panjang yang konsisten melawan arus inflasi.
  • Likuiditas sangat tinggi: Sangat mudah diperjualbelikan di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi darurat sekalipun.
  • Fungsi agunan (kolateral): Memiliki nilai yang diakui secara global sehingga mudah diterima sebagai jaminan pinjaman lembaga keuangan.

“Emas tidak hanya berfungsi menjaga daya beli, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara cerdas untuk memproduksi aset baru. Namun ingat, emas hanya diam menjaga nilai jika tidak diapa-apakan,” terang Arifin.

Dalam simulasinya, Arifin membandingkan hasil akumulasi aset emas dengan instrumen konvensional seperti deposito dan asuransi pendidikan (eduplan).

Dengan mengalokasikan Rp3 juta per bulan (30% dari asumsi pendapatan Rp10 juta) selama 10 tahun, nilai akumulasi emas secara historis terbukti mampu menghasilkan nilai jauh lebih tinggi dibandingkan bunga deposito maupun hasil investasi asuransi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan skema akselerasi kekayaan melalui pemanfaatan emas sebagai agunan:

  • Momentum peluang: Saat muncul peluang bisnis atau investasi produktif berimbal hasil tinggi, pemilik tidak perlu menjual emasnya.
  • Pencairan cepat dan efisien: Emas digadaikan ke lembaga keuangan Syariah atau Pegadaian dengan nilai pencairan (Loan-to-Value) mencapai 80–90%, tanpa biaya notaris, serta proses administrasi yang cepat.
  • Imbal hasil mengunci aset: Return dari bisnis atau investasi tersebut digunakan untuk mengangsur dan menebus kembali emas yang digadaikan. Hasilnya, bisnis tetap berjalan dan aset emas utuh kembali ke brankas.

 Sementara itu, Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Partai Gelora Zuhrif Hudaya membagikan pengalaman praktiknya dalam mengelola dan melipatgandakan emas hingga beberapa kilogram melalui metode “berkebun emas”.

Ia merumuskan empat aturan utama dalam berinvestasi emas, yakni kapan membeli, kapan menggandakan, kapan menyimpan dan kapan menjual.

Kapan membeli maksudnya membeli saat ada dana (dari porsi 30% alokasi investasi) tanpa perlu menunda atau menunggu harga turun.

Sedangkan kapan menggandakan dimaksudkan ketika terdapat peluang investasi produktif yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dari biaya gadai.

Lalu, kapan menyimpan adalah siimpan dan diamkan aset selama tidak ada kebutuhan atau peluang produktif, serta kapan menjual dilakukan dalam kondisi kebutuhan mendesak atau darurat (force majeure).

“Status emas yang digadaikan tetaplah milik kita sepenuhnya, berbeda dengan sertifikat aset lain yang beralih status penguasannya ke bank. Melalui skema gadai produktif, kita memegang dua kekuatan sekaligus: penguasaan atas dana tunai dari hasil gadai dan hak kepemilikan atas emas tersebut,” kata Zuhrif.

Zuhrif membagikan tiga strategi utama yang telah ia praktikkannya secara langsung selama lebih dari lima tahun tiga strategi utama yang telah ia praktikkannya secara langsung selama lebih dari lima tahun.

Yakni Skema “Berkebun Emas” (Deret Akumulasi Emas), Strategi Double-Asset: Modal Usaha Tanpa Kehilangan Logam Mulia dan Opsi Sederhana Menggunakan Pinjaman Modal Kerja (KUR)

Zuhrif menjelaskan Skema “Berkebun Emas” dilakukan melaluskema perputaran gadai bertingkat yang mampu melipatgandakan penguasaan aset emas fisik secara signifikan.

Misalamn  pemilik aset  membeli 100 gram emas modal awal, kemudian mengagunkannya ke lembaga gadai resmi untuk memperoleh dana tunai (asumsi Loan-to-Value 90%).

“Dana tunai tersebut kembali dibelikan emas fisik sekitar 90 gram, lalu digadaikan kembali secara berulang hingga membentuk deret penurunan dana,” jelasnya.

Sehingga akan menghasilkkan multiplier efek kekayaan melalui perputaran berturut-turut tersebut, kepemilikan modal awal 100 gram emas dapat mengontrol hingga 1.000 gram (1 kg) emas fisik.

“Maka seiring tren kenaikan (bullish) harga emas jangka panjang, pemilik aset dapat melepas/menjual satuan emas berukuran kecil secara bertahap untuk menutup biaya administrasi, biaya simpan (ijrah), dan menebus kembali emas berukuran besar.

“Kuncinya ada pada momentum kenaikan harga emas yang melampaui biaya simpan gadai. Dari modal awal 100 gram, kita berkesempatan menguasai hingga 1.000 gram aset emas,” papar Zuhrif.

Strategi kedua Strategi Double-Asset menekankan penggunaan emas sebagai jaminan untuk mendirikan unit usaha produktif tanpa harus kehilangan kepemilikan aset dasar. Melalui tahapan operasional, yakni melakukan eksekusi strategi.

Setelah itu melakukan akusisi awal dengan engajukan pinjaman modal, lalu dikonversi seluruhnya menjadi emas batangan fisik.

Selanjutnya pencairan modal dengan menggadaikan sebagian emas untuk mendirikan atau mengalokasikan modal usaha (seperti industri kosmetik dan digital marketing).

Kemudian melakukan cover tahun pertama dengan enjual satuan emas kecil untuk menutupi biaya operasional dan cicilan tahun pertama.

Lalu, cover tahun pertama dengan melakukan langka cicilan gadai sepenuhnya ditutup oleh hasil dividen/keuntungan operasional perusahaan.

“Dalam waktu 5 tahun, pinjaman gadai lunas, emas utuh kembali ke brankas, dan perusahaannya tetap berdiri serta beroperasi menghasilkan arus kas (cashflow),” jelas Zuhrif.

Adapun strategi opsi menggunakan KUR bagi investor pemula atau pelaku UMKM yang belum memiliki kapasitas mendirikan perusahaan, menurut Zuhrif memberikan alternatif menggunakan fasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau pinjaman bank berbunga rendah.

“Dana pinjaman (misal Rp100 juta – Rp500 juta) langsung dikonversikan ke emas batangan. Untuk angsuran bulanan dapat ditutup secara berkala dengan menjual pecahan emas kecil. Dan di akhir masa tenor pinjaman, kenaikan nilai emas diproyeksikan meninggalkan sisa akumulasi modal (margin surplus) yang cukup besar sebagai hak milik penuh,” katanya.

Terkait hal ini, Wakil Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Gelora, Arifin Wicaksono, memberikan catatan kritis terkait mitigasi risiko operasional dari strategi ini

Berdasarkan tren pasar (market trend), skema berkebun emas sangat efektif pada kondisi pasar bullish (tren naik). Jika pasar sedang mengalami koreksi (bearish), investor wajib menyiapkan dana cadangan (buffer fund) untuk menghindari risiko eksekusi agunan.

Sementara soal emas fisik vs emas digital,  Arifin menekankan keunggulan emas fisik dibandingkan emas digital untuk fungsi agunan. Emas fisik memberikan kebebasan penuh (fungible) untuk digadaikan atau dijual di mana saja, sedangkan emas digital cenderung terikat pada ekosistem platform penyedia (provider).

Terakhir mengenao legalitas Lembaga Perbankan/Gadai, ia menyarakan  untuk selalu menggunakan jasa lembaga keuangan milik negara (BUMN/BPD/BSI) atau lembaga gadai resmi terdaftar demi menjamin kepastian hukum dan keamanan agunan.

Potensi Krisis Pupuk dan Ancaman Kelaparan Dunia, Anis Matta: Konflik Timur Tengah Harus Didorong Jadi Zona Pembangunan

Partaigelora.id-Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta, mengingatkan bahwa ancaman paling berbahaya dari konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah (Timteng) bukan sekadar kenaikan harga minyak.

Melainkan adalah ancaman krisis pupuk yang berpotensi memicu kelaparan di khususnya kawasan Asia dan terhentinya mobilitas perdagangan dunia.

“Begitu pergerakan terhenti di kawasan ini, seluruh dunia akan menghadapi masalah,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Hal itu disampaikan Anis Matta dalam wawancara eksklusif dalam acara ‘One on One’ bertema ‘Peran Indonesia di Tengah Konflik Global’ di TVOne pada Jumat (29/5/2026).

Menurut Anis Matta, Asia menjadi kawasan paling rentan karena ketergantungan besar terhadap energi dari Timteng.

Asia dengan populasi lebih dari empat miliar jiwa hampir sepenuhnya bergantung pada jalur distribusi yang melewati Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk untuk pasokan pupuk.

Sementara China, India, Asia Tenggara, dan Jepang disebut tidak memiliki sumber daya energi yang cukup, sehingga Selat Hormuz sebagai jalur vital menjadi titik rawan.

“Jadi korban terbesar dari choke point ini adalah Asia, dan ancaman pupuk justru lebih serius disbanding energi,” katanya.

Wamenlu RI Urusan Dunia Islam ini menilai mayoritas di kawasan Asia dan Afrika membutuhkan pasokan pupuk. Kebutuhan pupuk di kawasan ini menjadi krusial untuk menjaga ketahanan pangan.

Namun, impor dari Rusia terkendala sistem pembayaran akibat sanksi internasional.” Kita akan punya masalah nanti masalah pupuk. Dan masalah pupuk ini akan menjadi masalah semua negara di kawasan Asia ini.” katanya.

Anis Matta juga menyoroti Eropa yang tidak memiliki sumber energi memadai, sehingga industri mereka tidak kompetitif ketika harga minyak melonjak.

Karena itu, jika jalur ini tersumbat akibat konflik yang berkepanjangan, maka ancaman kelaparan bukan lagi sekadar skenario terburuk.

“Ancaman jangka menengah adalah kelaparan jika perang terus berlanjut . Saya suka mengatakan kepada teman-teman di Timur Tengah, Anda berperang, kami yang mati,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Indonesia kini fokus pada keamanan pangan. Indonesia , lanjut dia, mendorong perubahan zona konflik menjadi zona pembangunan dengan prasyarat utama yaitu perdamaian.

“Ketidakpastian di Timur Tengah sangat merugikan industri Indonesia karena kenaikan harga minyak membuat produk domestik menjadi tidak kompetitif di pasar global,” katanya.

Anis Matta mengungkapkan, Indonesia saat ini berperan aktif melalui forum multilateral seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), PBB, dan forum BRICS untuk menyuarakan perdamaian.

Diplomasi Indonesia, kata Anis Matta, dilandasi oleh prinsip politik luar Negeri ‘bebas aktif’. Artinya Indonesia tidak berpihak pada kekuatan besar manapun. Namun tetap aktif berperan dalam menciptakan perdamaian serta menyelesaikan konflik internasional.

“Prinsip ini mendorong Indonesia untuk ikut terlibat dalam forum-forum multilateral, membangun dialog antarnegara, serta menolak segala bentuk penjajahan sesuai amanat Pembukaan UUD 1945,” jelasnya.

Diplomasi Indonesia juga menempatkan kepentingan kemanusiaan dan pembangunan sebagai prioritas, mendorong kerja sama Selatan-selatan.

Solusi damai dilakukan melalui forum dialog, dan penguatan jaringan internasional tanpa kompromi terhadap kedaulatan nasional.

Secara bilateral, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI juga tetap menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mendorong terciptanya sejumlah nota kesepahaman awal.

Indonesia, menurut dia, tengah menjajaki kerja sama investasi pupuk dengan Laos, serta negara-negara Timur Tengah seperti Yordania, Maroko, dan Aljazair yang memiliki kapasitas produksi pupuk dan punya fosfat banyak.

“Timur Tengah ini merupakan jantung energi dan logistik dunia, terutama melalui titik-titik krusial seperti Selat Hormuz dan Bab El Mandab yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa,” pungkas Anis Matta.

Anis Matta: Refleksi Ibadah Haji Jadikan Umat Islam Menjadi Manusia Global

Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia yang juga Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta mengatakan, ada banyak refleksi yang bisa dipetik dari ibadah haji setiap tahunnya, tak terkecuali pada pelaksanaan Ibadah Haji 1447 H/2026 ini.

Hal tersebut disampaikan Anis Matta dalam acara Perspektif Anis Matta dengan tema Refleksi Haji: Dari Gap Politik Sampai Beda Pendapat Umar dan Abu Bakar yang tayang di kanal YouTube Gelora TV, Kamis (28/5/2026) malam.

Dalam perspektifnya, Anis Matta mengatakan, ada banyak sudut pandang untuk melihat refleksi dari ibadah ini.

Sebab, haji adalah ibadah yang pada akhirnya bertujuan mengingatkan tentang nilai-nilai pembangunan kohesi sosial.

“Jadi semua gap di dalam politik, ekonomi dan kehidupan sosial, pada dasarnya adalah sifat melenceng dari fitrah dasar kita semua,” kata Anis Matta.

Karena itu, lanjut dia, ketika satu tipikal amalan yang dipelajari atau dikerjakan secara menerus akan terus bertumbuh dan tidak pernah berhenti.

“Di sini kita belajar, itulah amalnya nabi-nabi. Ketika Islam itu datang , lalu menjadikan haji sebagai rukunnya ,” katanya.

Sebab, di situlah pada akhirnya manusia menyadari satu asal usul dan satu tujuan ke tempat kembali kepada sang pencipta, yaitu Allah SWT.

Sehingga melalui kohensi sosial ini diharapkan dapat terwujud lewat kesadaran yang digugah selama hari-hari ibadah dari Mekkah sampai Arafah.

Mereka semua dalam balutan kain ihram, dan tidak ada bedanya antara raja, presiden, pejabat, orang kaya dan rakyat jelata.

Karena balutan kain ihram adalah simbol utama penanggalan atribut keduniawian. Pakaian ini menjadi pengingat konkret akan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.

Pakaian ihram dapat menghapus sekat-sekat status sosial, kekayaan, maupun jabatan. Hal itu menunjukkan bahwa di mata Allah SWT yang membedakan hanyalah ketakwaan

Selain itu, balutan putih yang sederhana melambangkan kesucian dan kebersihan hati, layaknya bayi yang baru lahir ke dunia tanpa membawa harta maupun dosa.

Karena itu, kata Anis Matta kembali menegaskan,bahwa apabila gap atau ketimpangan dalam politik, ekonomi, dan sosial, sejatinya adalah sifat melenceng dari fitrah dasar manusia.

“Pada akhirnya, manusia punya persamaan tunggal, yaitu satu awal, satu tujuan, dan satu tempat kembali,” katanya.

Meski begitu, menurut Anis Matta, persamaan manusia dalam hal ini sekaligus juga sebagai pemantik untuk terus ditelaah dan mencoba mewujudkan konsep keadilan menurut Islam.

“Yang tidak selalu harus dimaknai sama rata sama rasa,” ujar Anis Matta.

Ketua Umum Partai Gelora ini lantas mencontohkan lewat kisah perbedaan beda pendapat antara Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, soal imbalan negara bagi kaum Muhajirin dan Anshar.

Anis Matta mengingatkan pula bahwa haji adalah wujud pasti dari terkabulnya sebuah doa Nabi Ibrahim as.

Tak hanya sewaktu, doa ini diijabah terus-menerus tanpa henti, sampai kelak hari kiamat tiba.

Di sini, Anis Matta bicara tentang rahasia amal nabi-nabi. Ada ciri yang bisa dikenali. Dan kita pun semestinya terus berusaha untuk bisa meneladani dan mengamalkannya.

“Maknanya adalah setiap orang yang menjadi muslim harus menjadi manusia global.,” pungkas Anis Matta, Wamenlu RI Urusan Dunia Islam ini.

Fahri Hamzah Ajak Bangsa Tebas Ego dan Perkuat Persatuan di Momentum Idul Adha 1447 H

Partaigelora.id-Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimaknai Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelombang (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah sebagai panggilan moral untuk memperkuat persatuan bangsa dan mengikis ego kelompok yang memecah belah masyarakat.

Dalam ucapan Idul Adha yang disampaikan, Rabu (27/5/2026) Fahri mengajak masyarakat meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dalam berkurban serta menjadikan Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum memperbaiki diri dan memperkuat solidaritas kebangsaan.

“Seperti Ibrahim AS yang menyerahkan cinta terbesarnya, kita diingatkan bahwa tak ada milik kita yang selamanya,” tulis Fahri seraya menegaskan bahwa hakikat kurban bukan terletak pada darah ataupun daging hewan semata, melainkan pada ketakwaan, keikhlasan, dan ketulusan hati di hadapan Tuhan.

Sebab, lanjut Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 itu, di hadapan Tuhan Seru Sekalian Alam, bukan darah atau daging yang sampai ke haribaan, melainkan takwa, rida, dan ketulusan yang mendalam.

Fahri juga menyinggung pentingnya menghapus ego dan kesombongan yang dinilai menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.

Menurut dia, Idul Adha harus menjadi momentum untuk menekan sifat serakah dan membangun semangat kebersamaan.

“Sudah saatnya kita tebas ego-ego yang memecah belah, kita sembelih kesombongan kelompok yang membuat lelah,” ujarnya.

Ia menilai, hanya dengan merobohkan dinding keangkuhan dan memperkuat persatuan, masyarakat Indonesia dapat berdiri bersama menghadapi berbagai tantangan bangsa.

“Hanya dengan merobohkan dinding-dinding keangkuhan, kita bisa berdiri bersama, bahu-bahu saling menguatkan,” kata Fahri.

Di akhir pesannya, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gelora Indonesia itu, mengajak seluruh masyarakat menjadikan Idul Adha sebagai ikhtiar bersama untuk merajut kembali persatuan hati dan membangun Indonesia secara kolektif.

“Mari jadikan momentum suci Idul Adha ini sebagai ikhtiar besar merajut kembali persatuan hati. Satu sujud yang sama, satu tekad yang nyata, bekerja bersama, membangun Indonesia raya,” tutupnya.

Anis Matta: Pengorbanan Sumber Kekuatan Perikatan Sosial Umat Manusia

Partaigelora.id-Umat Muslim di Indonesia dan berbagai penjuru dunia merayakan Hari Raya Idul Aha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5/2026).

Idul Adha adalah salah satu hari besar umat Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah dalam kalender Hijriah.

Hari raya ini juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban karena identik dengan ibadah penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Di Indonesia, Hari Raya Idul Adha dirayakan dengan penuh khidmat oleh umat Muslim. Perayaan ini diawali dengan salat Id berjamaah dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban di berbagai daerah.

Selain sarat nilai religius, Idul Adha di Indonesia juga dipenuhi tradisi kebersamaan, gotong royong, dan kegiatan sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

Sehingga Idul Adha adalah selalu tentang ibadah kurban dan haji. Ada sarat makna di dalamnya, yang terkait erat dengan manusia dan kemanusiaan.

Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta, mengingatkan bahwa makna pengorbanan dalam ibadah kurban bertalian erat dengan sumber kekuatan perikatan sosial umat manusia.

Wakil Menteri Luar Negeri RI ini menegaskan bahwa ibadah kurban semestinya selalu menjadi momentum yang dapat mengilhami kita, menginspirasi kita, untuk menjaga semangat kesetiakawanan sosial.

Adapun tentang haji, Anis Matta menggarisbawahi bahwa ibadah ini mengajak kita untuk menemukan inspirasi dan ilham tentang kesamaan dan kesederajatan umat manusia, melalui rangkaian perjalanan yang juga penuh pengorbanan.

“ Selamat Idul Adha 1447 H. Semoga dari makna pengorbanan dalam ibadah kurban dan haji, kita semua dapat menjaga keutuhan dan kesetiakawanan sebagai Muslim, bangsa Indonesia, dan umat manusia.

Fahri Hamzah: Harkitnas ke-118 Jadi Momentum Perkuat Indonesia Menuju Superpower Baru

Partaigelora.id-Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Fahri Hamzah mengatakan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 menjadi momentum untuk memperkuat Indonesia.

“Saya berterima kasih bahwa semboyan daripada Hari Kebangkitan Nasional pada hari ini adalah menjaga tunas bangsa, dari apa? Dari kecenderungan untuk meragukan diri sendiri,” kata Fahri Hamzah dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).

Hal itu disampaikan Fahri Hamzah dalam Kajian Wawasan Kebangsaan dengan tema ‘Refleksi 118 Tahun Kebangkitan Nasional: Menuju Indonesia Superpower Baru, Jumat (22/5/2026) malam.

Menurut dia, keraguan terhadap diri sendiri tersebut, akhirnya memunculkan sikap keraguan terhadap pemerintah, padahal sumber keraguaannya berasal dari ketidaktahuan terhadap persoalan.

“Tugas kita sebagai warga negara, adalah semakin cerdas, semakin mengerti prioritas kita dan semakin mengerti masa depan kita,” kata dia.

Tugasnya, adalah berpartisipasi dalam politik melalui partai politik untuk menjadi penyelenggara negara seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Yakni melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta dalam perdamaian dunia yang berdasarkan pada perdamaian abadi dan keadilan sosial.

“Ini adalah janji-janji kita, bukan saja kepada bangsa Indonesia, tapi juga kepada seluruh dunia. Bangsa ini dibangun dengan cita-cita besar oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata,” katanya.

Untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, lanjut dia, diperlukan sebuah narasi yang kuat, aktor menjalankan juga yang kuat, serta kelembagaan yang siap menjalankannya.

“Narasinya adalah Pasal 33, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara. Dan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Ini adalah kekuatan kita di di dalam konstitusi,” katanya.

Sementara sebagai aktor, menurut dia, Prabowo adalah aktor yang kuat sebagai penyelenggara negara seperti halnya Soekarno. Selain anak dari keluarga ekonom, Prabowo juga adalah seorang purnawirawan jenderal TNI.

“Kakeknya Margono Djojohadikusomo adalah pendiri Bank BNI. Bapaknya Sumitro Djojohadikusomo, adalah begawan ekonomi, tokoh pembiayaan ekonomi rakyat, tokoh pembangunan ekonomi global. Bahkan Pak Mitro adalah negosiator untuk aset Indonesia, saat Indonesia merdeka,” ujarnya.

Ibaratnya, bagi Prabowo itu ilmu ekonomi adalah meja makan, sarapan paginya masalah ekonomi, makan malamnya berbicara ekonomi.

“Karena itulah tokoh ini, sangat kredibel untuk memimpin kemajuan ekonomi kita. Pak Prabowo clear message-nya, ingin mensejahterakan rakyat,” tegasnya.

Namun, narasi dan aktor pemimpin yang kuat saja tidak cukup, jika tidak didukung oleh institusi atau lembaga yang akan menjalankannya.

Sehingga institusi atau lembaga yang menjalankan juga harus mempersiapkan diri melakukan perubahan secara signifikan.

“Indonesia ini sudah berumur mau 81 tahun. Semua harus sadar diri dan mempersiapkan diri sekarang, baik itu tentara, polisi, birokrasinya, legislatif, yudikatif, eksekutif, pemerintah daerah dan partai politik,” katanya.

Karena itu, Fahri menyakini dibawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia akan mencapai kejayaannya sebagai negara maju atau superpower baru.

“Saya kira kita harus optimis, kita akan menyongsong satu kemajuan besar di masa-masa yang akan datang. Saya kira Partai Gelora dari awal punya feeling yang kuat sekali bahwa momen bagi Indonesia akan segera tiba,” ujarnya.

Dapat Respon Dunia

Dalam kesempatan ini, Fahri Hamzah mengapresiasi Pidato Presiden Prabowo Subianto saat Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro di DPR pada Rabu (20/5/2026) lalu, yang dinilai fonomenal dan mendapatkan respon dari seluruh dunia.

“Presiden Prabowo dinilai konsisten dengan gagasannya, mengenai sumber daya alam (SDA) kita yang disalahgunakan dan terjadi kebocoran. Ini mendapat respon dari seluruh dunia,” ujarnya.

Pidato tersebut, biasanya disampaikan oleh setingkat seperti Menteri Perekonomian atau Menteri Ekonomi, tapi dilakukan Presiden Prabowo langsung yang disaksikan banyak pihak yang diundang.

“Menurut saya, apa yang disampaikan Presiden itu luar biasa dan menghentak dunia. Jika Iran hanya menutup Selat Hormuz untuk mengendalikan minyak. Tapi Pak Prabowo mau mengendalikan sumber daya alam, mau mengendalikan nikel, batu bara dan lain sebagainya. Sehingga orang juga sekarang tidak boleh sembarangan melihat Indonesia,” katanya.

Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menilai secara terbuka melawan kapitalisme atau neoliberal seperti ideologi kolonial yang masih berlaku di Indonesia. “Ini yang saya sebut sebagai Prabowonomix,” tegasnya.

Fahri menegaskan, Prabowo mengerti betul kondisi tersebut, bahwa Indonesia hanya dimanfaatkan untuk mendapatkan bahan baku dan tenaga kerja murah.

Sehingga industrialisasi yang dibangun pun, bukan industrialisasi Indonesia, tapi industrialisasi di Indonesia.

Sebab, semua hasil SDA yang dieksploitasi dibawa ke luar negeri, kemudian Indonesia disuruh beli produk jadi dari perusahaan mereka di luar negeri. Hal inilah yang ditentang dan dilawan Presiden Prabowo, karena merugikan rakyat Indonesia.

“Jadi pemerintahan sekarang sedang melakukan hal-hal baik seperti memberantas pembabatan hutan untuk secara gila-gilan, memberantas penambang illegal dan penertiban lain-lain,” katanya.

Apabila dalam upaya penertiban itu, pasar modal dan pasae uangnya bergerak, menyebabkan harga saham terkoreksi sangat dalam dan nilai mata uang (kurs rupiah) melemah tajam, berarti ‘malingnya’ sama.

“Malingnya sama, maling ini (SDA), juga maling itu (pasar modal dan uang. Kita harus mendukung upaya Bapak Presiden. Kita jangan pusing sendiri gara-gara pemerintah bekerja menertibkan itu,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini meminta semua pihak untuk fokus membangun industralisasi dan kemandirian, serta berupaya mensejahterakan seluruh rakyat agar Indonesia berubah menjadi negara maju.

“Yang marah-marah itu ada kemungkinan dua kemungkinan. Pertama, dia enggak paham sebenarnya, cuman ikut-ikutan. Atau yang kedua dia menjadi bagian dari kampanye itu, merampok sumber daya alam secara gila-gilaan kita,” katanya.

Fahri mengungkapkan, Presiden Prabowo akan segera melakukan penertiban sektor tambang secara besar-besaran dalam waktu dekat.

Penertiban dilakukan, karena para pengusaha tersebut, telah merusak SDA dan lingkungan, serta merusah marwah lembaga penegak hukum, karena praktik suap.

“Implikasi kepada perusakan lembaga-lembaga penegakan hukum luar biasa, gila-gilaan. Kita saksikan dengan mata kepala saya, mata kepala kita sendiri. Kita harus mendukung pemerintah untuk melakukan pentertiban,” pungkasnya.

Partai Gelora Gelar Training for Facilitators Ideologisasi Dasar di Jawa Timur

Partaigelora.id-Koordinator Bidang (Korbid) Kaderisasi DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar Training for Facilitators (TFF) Ideologisasi Dasar Partai Gelora di Jawa Timur (Jatim) menjelang Pemilu 2029.

Kegiatan berlangsung 23–24 Mei 2026 di Royal Senyum Hotel, Jl. Putuk Truno No. 208, Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jatim.

TFF Ideologisasi Dasar ini melibatkan para kandidat fasilitator dari fungsionaris DPW Jawa Timur Partai Gelora dan 27 DPD kabupaten/kota di Jatim.

TFF bertujuan memperkuat kapasitas kader dalam kaderisasi, penguatan ideologi, dan kepemimpinan organisasi.

Sebab, hal ini adalah urgensi dan gambaran substansi, serta spirit penyelenggaraan TFF. Yakni demi satu visi besar Partai Gelora menjadikan Indonesia sebagai superpower baru dunia.

TFF ini antara lain dihadiri Ketua Pelaksanaan Harian DPP Partai Gelora Rofi’ Munawar, Ketua Koorbid Kaderisasi DPP Ahmad Zainuddin, Ketua Pemenangan Teritorial V (Jatim) DPP Muhammad Siroj (Gus Siroj) daan Ketua DPW Partai Gelora Jatim Misbakhul Munir.

Ketua Pelaksanaan Harian DPP Partai Gelora Rofi’ Munawar mengatakan, program ini menindaklanjuti program Ideologi Dasar I. Sehingga diharaokan akan muncul fasilitator-fasilitaror baru.

“Mereka yang akan menjadi juru bicara Partai Gelora untuk melakukan perekrutan, sekaligus peningkatann kapasitas organisasi, kpribadian kepada kader-kader baru Partai Gelora,” kata Rofi’I Munawar.

Peserta, kata Rofi’, mendapat materi krisis global, krisis nasional maupun krusis dunia Islam. Kemudian juga materi perang kognitif, dan roadmap menuju superpower baru.

“Haga’iq Kubra atau The Great Realisties. Yaitu pembentukan pemahaman dari para kader tentang aspek spiritual,” katanya.

Sebab, para fungsionaris dan kader Partai Gelora ini memiliki pertanggaungjawab kepada para manusia, tapi lebih-lebih kepada Allah SWT.

“Menjadi fasilitator berabrti menjadi teman diskusi yang baik, saling menumbuhkan kemampuan masing-masing,” tegas Ketua Pelaksana Harian DPP Partai Gelora ini.

Ketua DPW Partai Gelora Jatim Misbakhul Munir, mengatakan TFF dirancang untuk mencetak fasilitator yang mampu menjadi penggerak pembinaan kader secara sistematis dan berkelanjutan di daerah.

“Organisasi harus punya dasar ide, gagasan, dan keyakinan yang kuat, agar kader Partai Gelora benar-benar sesuai nilai ideologi partai,” ujar Misbakhul Munir.

Menurut dia, orientasi partai politik bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tapi pemanfaatannya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.

“Kami mulai dari satu pertanyaan besar: kalau kekuasaan itu didapat, lalu apa yang akan kita lakukan? Jadi bukan hanya cara menang, tapi bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik,” kata Misbakhul.

Ketua DPW Partai Gelora Jatim ini mengapresiasi kehadiran jajaran DPP dan peserta yang begitu luar biasa antusias dalam Training for Facilitators (TFF) Ideologisasi Dasar ini.

Diketahui, bahwa Program Idiologisasi ini satu hal yang betul-betul mendesak, sebagai bentuk kenyakinan untuk melangkah, mengembangkan pemikiran-pemikiran besar yang ada di Partai Gelora.

“Kami bersyukur ketua harian, korbid kaderisasi DPP, hingga CEO TIM bisa hadir memberikan pembekalan. DPW Jawa Timur mengucapkan terima kasih,” ucapnya.

“Kami menunggu batch berikutnya agar proses diseminasi yang akan dilaksanakan kepada seluruh struktur dari DPP maupun DPC segera bisa dilaksanakan,” imbuhnya.
Heniyati

Ketua Bidang Komunikasi DPW Partai Gelora Jatim Heniyati mengatakan, Program Idiologisasi ini merupakan nutrisi yang diberikan sampai ke akar-akarnya.

“Kita semua adalah pemimpin. Kita ditunjuk untuk mengemban amanah Partai Gelora, paling tidak bisa memimpin diri sendiri,” kata Heniyati.

Ketua DPD Partai Gelora Probolinggo Abu Bakar berharap usai mengikuti TPF Idiologisasi Dasar ini dapat menyebarkan ideologi kepartaian lebih menyeluruh lagi.

“Kita mendapatklan informasi yang lebiih komprehensif, sehingga yang diterima kader Partai Gelora di daerah, nantinya utuh dan bisa tersampaikan semua,” kara Abu Bakar.

Peserta yang lolos TFF Ideologi Dasar tahap pertama ini nantinya akan mengikuti batch kedua untuk pembekalan lanjutan.

Setelah itu, para fasilitator bertugas melakukan diseminasi kaderisasi ke struktur partai di bawahnya, mulai DPD, DPC, hingga cabang di masing-masing wilayah.

Fahri Hamzah Luncurkan Buku Visi ‘Swasembada Papan 2045’ di Tengah Tantangan Perumahan Nasional

Partaigelorai.id-Pemerintah mulai mematangkan arah pembangunan perumahan nasional sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.

Penyediaan hunian layak dinilai tidak lagi sekadar persoalan pembangunan rumah, melainkan juga berkaitan dengan pengendalian tata ruang, akses transportasi, hingga pemerataan ekonomi masyarakat perkotaan.

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah meluncurkan buku berjudul ‘Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045’ di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Buku tersebut memuat gagasan strategis pembangunan sektor perumahan nasional untuk menjawab kebutuhan hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan.

Peluncuran buku dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Ketua Satgas Perumahan Hashim S. Djojohadikusumo, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) Nixon L.P. Napitupulu, serta Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon.

Acara ini juga dirangkai dengan diskusi mengenai arah pembangunan perkotaan nasional yang menghadirkan Panangian Simanungkalit, Joko Suranto, dan Marco Kusumawijaya.

Dalam pemaparannya, Fahri mengatakan program pembangunan 3 juta rumah yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari strategi besar transformasi sosial dan ekonomi masyarakat.

Menurut dia, konsep swasembada papan yang diangkat dalam buku tersebut berangkat dari cita-cita lama bangsa untuk memastikan seluruh rakyat memiliki akses terhadap hunian yang layak.

“Bung Hatta pernah menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan waktu setengah abad untuk menyediakan hunian layak bagi seluruh rakyat. Tahun 2045 menjadi momentum simbolis untuk menuntaskan cita-cita besar tersebut,” ujar Fahri.

Ia menilai keberhasilan pembangunan social housing sangat bergantung pada kemampuan negara mengendalikan tanah dan tata ruang.

Negara yang mampu mengelola lahan secara terencana dinilai lebih berhasil menyediakan rumah rakyat secara berkelanjutan.

Selain itu, Fahri juga menekankan pentingnya pengembangan kawasan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD), yakni kawasan permukiman yang terintegrasi dengan pusat kegiatan ekonomi dan transportasi massal.

Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan untuk menekan beban biaya transportasi masyarakat akibat jarak tempat tinggal yang terlalu jauh dari lokasi pekerjaan.

Sementara itu, Hashim S. Djojohadikusumo mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memutuskan pemanfaatan tanah negara dan aset badan usaha milik negara untuk pembangunan rumah rakyat dengan harga lebih terjangkau.

Kebijakan itu diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap hunian sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan kawasan permukiman di berbagai daerah.

Peluncuran buku ditutup dengan penyerahan simbolis kepada sejumlah tokoh nasional, termasuk Budiman Sudjatmiko dan Luis Tineo.

Buku tersebut diharapkan menjadi salah satu rujukan dalam penyusunan kebijakan pembangunan hunian nasional menuju 2045.

Ini Empat Landasan Moral yang Perlu Dijaga untuk Kebersihan Hati di Tengah Perjuangan Politik

Partaigelora.id-.Ketua Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Rofi’ Munawar mengatakan, setiap kader Partai Gelora perlu menjaga kebersihan hatinya di tengah perjuangan politik apabila diberikan amanah ketika menjadi penguasa.

Sebab, kekuasaan itu penuh godaan , sehingga diperlukan fondasi moral dalam berpolitik. Allah SWT selalu melakukan pengawasan Allah SWT atau ‘muraqabatullah’ terhadap pelaksanaan amanah tersebut.

Hal itu disampaikan Rofi’ Munawar dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) dengan tema ‘Menjaga Kebersihan Hati dan Moral di Tengah Perjuangan Politik, Selasa (19/5/2026) malam.

“Sahabat Gelora, pengawasan Allah, Tuhan yang Maha Esa itu, artinya adalah pengetahuan yang terus-menerus dan keyakinan yang mendalam, bahwa Allah SWT selalu mengetahui atau maha mengetahui akan yang lahir dan yang batin,” kata Rofi’ Munawar.

Artinya, Allah SWT akan mengawasi semua gerak-gerik hambanya baik ucapan atau perkataan dan perbuatan, apakah kebersihan hatinya terjaga.

“Muraqabatullah atau pengawasan Allah Tuhan Yang Maha Esa itu, kita jadikan sebagai landasan moral politik. Moral politik itu adalah akhlak politik, lebih mudahnya ,” kata dia.

Menurut Rofi’, akhlak politik tersebut penting, karena politik tanpa akhlak akan menghancurkan bangunan politik itu sendiri.

“Seperti kata Imam Al Ghazali, bahwa akhlak politik itu bagian dari agama yang merupakan pondasinya, dan kekuasaan itu adalah penjaganya,” ujar Ketua Pelaksana Harian DPP Partai Gelora ini.

Maknanya, adalah moral politik dan kekuasaan, haruslah sangat kuat, karena kekuasaan tanpa moral akan berantakan.
Sebaliknya, moral tanpa kekuasaan akan kering atau hampa, sebab tidak ada tempat implementasi dan penggandaan untuk nilai-nilai moral tersebut.

“Jadi moral itu akan bisa meluas dan akhirnya menjadi satu habit yang dilakukan oleh para pemegang kebijakan manakala di situ ada kekuasaan,” jelasnya.

Ia mengatakan, perjuangan politik hendaknya bertumpu pada empat landasan moral yang wajib dijaga, yaitu shidqul hadits (kejujuran ucapan), hifzhul amanah (menjaga amanah), husnul khuluq (kebaikan akhlaq), dan ‘iffatun fit-thu’mah (kehati-hatian).

Adapun makna shidqul hadits adalah politik itu sangat dekat dengan kata-kata, penyataan atau statement yang bersifat ungkapan verbal dari mulut seseorang.

“Maka ketika sudah menjadi pemimpin, pernyataan itu including di dalam diri pemimpin. Jadi kehebatan seorang pemimpin itu, salah satunya ditentukan oleh pernyataannya,” kata Rofi’.

Karena dituntut kejujuran ucapan itu, maka seorang pemimpin atau politisi dilarang berbohong atau pernyataannya tidak boleh mengandung kedustaan.

Kejujuran ucapan bagi seorang pemimpin atau politisi, lanjut dia, akan menjadi narasi yang kuat untuk merespon berbagai situasi, kondisi dan persoalan.

“Dengan narasi yang kuat di dalam dirinya, Allah SWT akan memerintahkan dia untuk merespon situasi yang ada di sekelilingnya, kondisi masyarakat yang memang yang harus dihadapi, masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja,” katanya.

Dapat dikatakan, bahwa narasi yang kuat itu adalah bentuk pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Bukan seperti perkataan yang remeh-temeh, tapi perkataan yang penuh dengan makna, sehingga narasi yang kuat tersebut, menjadi penting.

“Seperti disampaikan Pak Ketum (Anis Matta) ketika melihat situasi Indonesia saat ini, sebagaimana yang digambarkan di dalam manifesto politik kita. Langit kita ini terlalu tinggi, tapi kita terbang terlalu rendah. Artinya narasi yang kita bangun bisa merespon kompleksitas bangsa ini ,” katanya.

Kejujuran ucapan itu juga harus sinkron antara apa yang diucapkan dengan tindakannya.

“Jangan sampai kita mengucapkan berbagai macam pernyataan, tapi tidak tahu bagaimana cara menindaklanjuti dari perkataannya itu. Pernyataan itu akhirnya hanyalah percitraan, atau janji-janji politik,” jelas dia.

Karena itu, pernyataan seorang pemimpin atau politisi harus memiliki makna dalam merespons persoalan, perlu ada kesesuaian dengan tindakannya, dan jangan sampai ucapan itu berubah menjadi penyesalan.

“Sekali lagi jangan sekali-kali kita berjanji yang kita sendiri kesulitan bagaimana cara menepatinya. Kenapa? Karena janji-janji politik kita ini ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Jadi tepatilah janji karena janji itu akan dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.

Rofi’ berharap kepada para kader Partai Gelora yang mendapatkan amanah di level kepemimpinan politik, hindari sebisa mungkin untuk offside di dalam pernyataannya.

“Pemimpin ada yang di level presiden atau menteri dan seterusnya. Jangan sampai offside, karena pernyataan itu akhirnya menjadi bahan ledekan rakyat. Jadi Kader politik kelasnya pemimpin,” katanya.

Sedangkan makna yang kedua hifzhul amanah dalam konteks tazkiyatun nafs adalah menjaga kompetensi untuk memegang amanah, karena begitu inkompetensi akan sangat berbahaya.

“Pemimpin tidak kompeten itu sangat berbahaya. Ketika amanah itu disia-sia maka tunggu datangnya hari kiamat. Jadi ketika perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu datangnya hari kiamat. Makna lainnya, adalah tunggu datangnya kehancuran,” katanya.

Selanjutnya adalah menjaga komunikasi vertikal dan berusaha sekuat tenaga untuk selalu berada di garda depan di dalam menjaga ibadahnya kepada Allah SWT.

“Karena itu, kalau kita lihat para pemimpin politik masa lalu adalah orang-orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi. Dan ini adalah cara untuk menjaga amanahnya ,” ujar Rofi’.

Kemudian selain menjaga kompetensi dan menjaga kekuatan (komunikasi vertical), makna lainnya adalah akhlak yang mulia (husnul khuluq). Sebab, politik itu tanpa moralitas akan menghancurkan bangunan politik itu sendiri.

“Jadi akhlak yang mulia adalah akhlak untuk dirinya dan akhlak timbal balik. Kalau akhlak timbal balik itu maksudnya begini, misalnya seorang presiden, kepala negara, atau raja berharap yang dipimpinnya mentaatinya. Tetapi akhlak rakyat itu tergantung kepada akhlak pemimpinnya, jangan sampai mereka tidak berakhlakul karimah kepada yang dipimpinnya,” jelas Rofi’.

Adapun akhlak tertinggi seorang pemimpin itu adalah melayani rakyatnya. Sehingga ketika para pemimpin melayani dengan sebaik-baiknya, maka rakyat akan mentaatinya.

“Jangan menjadi diktator-diktator memaksa mereka menghormati kita, sementara kita tidak menghormati kita. Jadi akhlak timbal balik di sini memang yang terasa berat bagi pemimpin, tapi ini harus dilakukan,” paparnya.

Sementara makna ‘iffatun fit-thu’mah atau kehati-hatian, karena kekuasaan itu punya godaan yang sangat besar seperti dikatakan Lord Action, bahwa ‘power tends to corrupt’ kekuasaan itu akan cenderung korup atau menyalahgunakan wewenang .

“Intinya kita harus berusaha sekuat tenaga untuk berhati-hati. Ibaratnya kita berhati-hati terhadap sesuap nasi yang masuk ke dalam mulut kita. Sekecil apapun makanan yang kita makan harus berhati-hati, harus jelas boleh atau tidak,” pungkasnya.

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X