Partaigelora.id– Menyambut bulan suci Ramadan, Pemuda Gelora menggelar diskusi mendalam bersama dan buka Bersama Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta di Gelora Media Centre, Jakarta pada Sabtu (21/2/2026).
Dalam forum tersebut, Anis Matta membagikan perspektif yang lebih luas mengenai sejumlah isu geopolitik global terkini dan dampaknya bagi Indonesia ke depan.
“Diskusi ini akan dilaksanakan secara rutin selama Ramadhan sebagai sarana untuk menambah wawasan dan membangun pola pikir kritis,” kata Anis Matta.
Dengan begitu, menurut Anis Matta, Pemuda Gelora diharapkan memiliki wawasan luas dan kerangka berpikir yang baik dalam menyikapi berbagai persoalan.
Ketua Bidang Pemuda DPP Partai Gelora Mushab A Robbani mengatakan, di sosial media banyak berita yang membuat penasaran semua pihak mengenai situasi geopolitik global sekarang.
“Di media sosial, banyak berita yang membuat kita penansaran. Terhadap apa yang terjadi belakangan dan apa yang akan terjadi ke depannya,” kata Mushab A Robbani.
“Pada hari ini, Para Pemuda DPP Partai Gelora mendapatkan kesempatan yang spesial bersama Ketum Partai Gelora Bapak Anis matta yang juga merupakan Wakil Menteri Luar Negeri. Ini kesempatan kita untuk bertanya dan berdiksusi untuk mendapatkan penjelasan apa sebetulnya terjadi,” sambungnya.
Menurut dia, Pemuda Gelora dapat mengetahui situasi geopolitik global sebenarnya, setelah mendapatkan penjelasan dari Anis Matta.
Sehingga dapat mengetahui dampat atau impact yang bakal dihadapi, apabila situasi geopolitik semakin memburuk.
“Ketika kita mengetahui impact atau dampaknya yang akan terjadi dengan segala isu yang beredar hari ini, maka Pemuda Gelora bisa bersiap-siap untuk menghadapinya,” ujar Mushab.
Ia mengatakan, program ini merupakan serial diskusi-diskusi yang diadakan Partai Gelora Bersama Anis Matta selama Bulan Suci Ramadan 1447 H.
“Kita berharap di akhir ramadahan ini, bisa menambah banyak wawasan yang cukup luas untuk para pemuda di Partai Gelora. Sehingga bisa membangun kerangka berpikir dalam menyikapi berbagai isu dan juga apa yang akan kita berikan untuk negara Indonesia,” pungkasnya.
Diskusi ini dihadiri para pemuda di berbagai bidang dan kesekjenan di Partai Gelora. Selain itu juga dihadiri Ketua DPP Koordinator Bidang Penggalangan Partai Gelora Triwisaksana (Bang Sani).
Partaigelora.id-Ketua Komisi I DPR 2010-2016 Mahfuz Sidik mengatakan, dunia saat ini menantikan kepastian rencana serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran, apakah benar-benar terjadi atau tidak. Karena serangan tersebut, berpotensi memicu terjadinya perang dunia (PD) III.
“Masalah ini sangat aktual menjadi perbicangan banyak pihak, yang sering dinanti adalah kabar terbaru dari situasi ini, yaitu serangan Amerika ke Iran yang berpotensi memicu terjadinya perang dunia ketiga,” kata Mahfuz Sidik.
Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Serangan ke Iran: Benarkah Ambang Pintu Perang Dunia III, Jumat (20/2/2026) malam.
Menurut Mahfuz, Iran masuk di dalam tujuh negara yang harus dihancurkan, dilumpuhkan secara politik dan militer untuk kepentingan mewujudkan Israel sebagai kekuatan paling besar dan penjamin kepentingan Barat di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Hal itu terungkap dalam dokumen yang dibocorkan mantan Penglima Nato Jenderal Wesley Clark, bahwa Gedung Putih mengagendakan untuk melancarkan perang militer terhadap tujuh negara dalam 5 tahun pasca serangan 11 September 2001 ke AS.
“Secara definitif negara yang disebut itu adalah Irak, Suriah, Libanon, Libya, Somalia, Sudan, dan Iran. Ini tujuh negara yang dalam dokumen itu sebagaii target dari perang secara militer,” ungkap Mahfuz.
Mahfuz menilai dari tujuh negara yang belum bisa dilumpuhkan secara militer dan politik, saat ini tinggal Iran saja. Enam negara lainnya sudah bisa dikuasai, bahkan situasi negaranya nyaris porak poranda seperti Libya dan Suriah.
Dokumen tersebut, saat ini dilanjutkan oleh Presiden AS Donald Trump. Trump akan menggunakan berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya menyerang Iran.
Trump menganggap Iran sebagai pendukung terorisme global, sehingga AS mengumandangkan ‘global war terrorism’, yang disebutnya sebagai pendekatan baru di era perang dingin.
Dokumen lainnya, yang dijadikan dasar Trump untuk menyerang Iran adalah dokumen yang disusun oleh satu tim politisi senior, advisor senior di Washington DC untuk Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu.
“Dokumen tersebut, mereposisi peta Timur Tengah dan menjadikan Israel sebagai kekuatan paling dominan di Timur Tengah. Dan Iran sebagai ‘the last stone of the region’, sebagai batu terakhir yang masih menjulang kokoh di kawasan Timur Tengah, yang menjadi ancaman bagi Israel,” katanya.
Mahfuz menilai strategi yang dijalankan Trump tersebut, menjadi tantangan dan ancaman besar bagi dunia. Sebab, Iran berbeda dengan enam negara yang telah dilumpuhkan AS sebelumnya.
“Iran ini punya nuklir, punya rudal balistik, pasukan garda revolusinya sangat kuat dekat dengan Rusia dan China yang siap untuk membantu Iran. Iran juga menguasai Selat Hormuz, kalau ditutup jalur distribusi dunia akan terganggu,” ujarnya.
Bahkan Iran mengancam akan menyerang seluruh pangkalan militer AS di Timteng. Belum lagi Iran juga didukung kelompok poros perawanan di Timteng seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza, Palestina.
“Amerika dan Israel sedang berhadap-hadapan dengan Iran hari demi hari. Mereka sedang menghitung kapan dimulai peperangan. Jika mereka nekat, maka bisa dipastikan serangan Amerika dan Israel ke Iran ini akan menjadi pemantik bagi terjadinya perang dunia ketiga,” tegasnya.
Ia menegaskan, publik AS juga semakin sadar bahwa kebijakan politik Amerika di bawah kepemimpinan Trump saat ini merupakan refleksi dari kepentingan Israel, bukan kepentingan Amerika, sehingga tidak memiliki legitimasi secara politik.
“Nah, apa yang harus dilakukan Indonesia? Saya kira Indonesia harus mengkalkulasi secara hati-hati, tidak boleh terjebak dalam politik aliansi. Kemudian memitigasi resiko,jika perang ini betul-betul terjadi. Karena salah satu faktornya kita masih punya ketergantungan terhadap impor minyak,” pungkasnya.
Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa 1 Ramadan 1447 H kepada seluruh umat Islam di Indonesia di manapun berada.
Bulan penuh berkah yang dinanti-nanti telah tiba, dimana umat Islam di seluruh dunia akan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.
Ramadan menjadi rahmat bagi seluruh umat Islam. Sebab, pada bulan ini pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, serta setan dibelenggu.
Meskupun penentuan awal puasanya pada tahun ini diwarnai perbedaan, dimana sebagian umat Islam (Muhammadiyah) telah mulai menjalankan ibadah puasa pada Rabu (18/2/2026), sementara sebagian besar umat islam baru berpuasa pada Kamis (18/2/2026).
Pemerintah sendiri menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada keputusan Sidang Isbat (Penetapan) 1 Ramadan 1447 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar, di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Menag Nasaruddin Umar berpesan bahwa perbedaan awal puasa Ramadan di Indonesia tak diartikan negatif dan menimbulkan perpecahan di masyarakat. Melainkan harus ditempatkan sebagai bagian dari realitas sosial dan keagamaan bangsa Indonesia.
Perbedaan 1 Ramadann, tidak boleh mengganggu persatuan umat Islam maupun keutuhan bangsa, dan serta tidak boleh perbedaan tersebut dimaknai sebagai pemecah persatuan dan kesatuan bangsa.
“Ramadan telah tiba, bulan penuh berkah yang dinanti-nanti! Sesuai sabda Rasulullah SAW, di bulan ini pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu,” kata Rofi’ Munawar, Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelora di Jakarta, Kamis (19/2/2o26).
Karena itu, Rofi’I mengajak seluruh umat Islam menjadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk memperkuat ketakwan kepada Allah SWT. Sehingga diberikan kekuatan dan keberkahan dalam menjalankan ibadah puasa di Ramadan kali ini
“Mari kita jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk memperkuat ketakwaan. Manfaatkan setiap detiknya untuk beribadah dan meraih keberkahan malam Lailatul Qadar. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1447 H.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelora sekaligus Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Fahri Hamzah. Ia mengucapkan selamat memasuki bulan suci Ramadan sebagai sarana Latihan untuk mengolah jiwa raga.
“Selamat Memasuki Bulan Latihan Olah Jiwa Raga. #RamadanMubarak1447H. Semoga kita semua diberi kesehatan lahir bathin untuk melaluinya. Amin YRA.,” kata Fahri Hamzah.
Partaigelora.id-Ketua Pusat Kajian Strategis DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia KH Ahmad Mudzoffar Jufri, Lc, MA mengatakan, fenomena perbedaan awal puasa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H pada 2026 ini, dapat dipastikan akan kembali terjadi.
Karena itu, umat Islam diharapkan bisa menyikapi perbedaan tersebut, dengan prinsip tolerasi agar tidak terjadi perselisihan di dalam tubuh umat Islam.
“Mengapa ini selalu terulang berkali-kali, karena metode atau mengikuti mazhab tentang rukyah atau hisab global. Jadi selama rukyah atau hisab global itu digunakan, maka hampir pasti 99,9% akan terjadi perbedaan dalam mengawali puasa Ramadan dan Idul Fitri,” kata KH Ahmad Mudzoffar.
Hal itu disampaikan KH Ahmad Mudzoffar dalam Kajian Pengembangan Wawasan Keislaman dengan tema ‘Menyikapi Perbedaan Awal Puasa & Hari Raya’ di Jakarta, Jumat (13/2/2026) malam.
Dalam mengawali puasa Ramadan pada 1447 H ini, menurut Muzhoffar, umat Islam ada yang memulai pada Rabu, 18 Pebruari dan ada pula yang baru mulai Kamis, 19 Pebruari 2026.
“Potensi perbedaan juga akan terjadi dalam berhari raya, kemungkinan terjadi perbedaan dalam menetapkan hari raya. Idul Fitri itu ada yang tanggal 20 Maret hari Jumat dan ada yang hari Sabtu, 21 Maret 2026,” ujarnya.
Ia mengatakan, perbedaan dalam mengawali Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri itu, karena masalah prinsip dan non prinsip, serta masalah usul atau furuk.
Kemudian, karena perbedaan tersebut, maka di internal umat Islam dapat saling bertolerasi, serta memahami hakikat perbedaan itu dan faktor-faktor menjadi penyebabnya.
“Jadi mengapa ada yang berpendapat A dan ada yang berpendapat B. Jika kita ingin agar supaya bersikap toleran, maka kita harus ini harus mencoba untuk memahami sudut pandang, pola pikir, pemahaman, dan pemikiran masing-masing mazhab,” katanya.
Kesalahan selama ini, adalah akibat tidak memahami masalah-masalah yang bersifat furu’iyah dalam hal-hal yang non prinsip, hingga menimbulkan perselisihan diantara umat Islam.
“Sebagian pihak ketika menyikapi pendapat atau pandangan pihak lain lain dengan tidak berusaha untuk memahami sudut pandang pola pikir dan pemikiran alasan yang dimiliki oleh pihak lain itu. Mengapa kok dia berpendapat begitu? tanyanya.
Selama ini, apabila terjadi perbedaan dalam menyikapi perbedaan awal puasa dan hari raya, semangatnya adalah menolak atau membantah kelompok lain. “Biasanya yang mempersepsikan tersebut, berpendapatkalau orang lain salah,” katanya.
Ia berharap agar para tokoh umat Islam secara bersama-sama mencapai titik temu, sehingga setiap mengawali Ramadan atau mengakhirinya dengan Idul Fitri selalu bersama-sama.
“Jadi ada kebersamaan by design, bukan by accident, karena memang ada banyak faktor atau variabel dalam menentukan awal Ramadan dan awal Syawal,” jelasnya.
Dimana posisi hilal secara umum dalam penetapan puasa Ramadan dan Idul Fitri, adalah melihat peredaran bulan.
“Hilal itu mengacu pada kalender hijriah, dimana peredaran hilal itu, peredaran bulan qamariah.
Sementara kalau untuk kalender masehi itu penetapannya didasarkan kepada peredaran matahari,” jelasnya.
Terkait posisi bulan yang tidak bisa disepakati, KH Muzhoffar mengatakan, karena berkaitan dengan beberapa mazhab dan kriteria.
“Jadi metode penetapan penetapan awal bulan qamariah, awal bulan hijriah itu ternyata banyak sekali metodanya,” KH Muzhoffar.
Pertama adalah metode rukyatul hilal, yakni dengan melakukan pengamatan atau pemantauan untuk bisa melihat hilal bulan sabit itu, apakah di atas ufuk pada akhir bulan hijriah yang berjalan seperti sekarang.
“Misalnya diakhir bulan bulan Syakban itu, hari Selasa, 17 Pebruari, pada saat matahari terbenam itu apakah hilal sudah bisa dilihat lihat atau tidak,” katanya.
Kedua adalah dengan metode hisab, yakni menggunakan ilmu falak dan ilmu astronomi. Sebab, peredaran bulan dan peredaran matahari sudah dapat diketahui atau diperkirakan secara tepat, karena ilmu astronomi sekarang sudah canggih.
“Jadi perbedaan itu terjadi bukan sekedar perbedaan antar mazhab. Yang satu menggunakan mazhab rukyah dan yang lain menggunakan mazhab hisab. Tapi faktor utamanya adalah standar dan kriteria,” katanya.
Standar dan kriteria, sesama pengikut mazhab hisab pun, ungkap KH Muzhoffar, juga bisa berbeda terkait munculnya hilal diatas ufuk, dimana bulan baru itu ditandai dengan wujudul hilal.
“Pada saat nanti Insya Allah pada pekan depan hari Selasa tanggal 29 Syakban bertepatan tanggal 17 Februari 2026 akan ada sidang isbat menerima laporan laporan kegiatan rukyatul hilal. Jadi kegiatan memantau dan mengamati,” katanya.
JIka hilal sudah bisa dilihat, maka bulan Ramadan sudah bisa dilihat dan awal puasa bisa dimulai. Namun, apabila belum terlihat, maka hilalnya digenapkan menjadi 30 hari pada bulan Syahban, serta awal puasa mulai dilakukan pada esok harinya lagi. “Jadi gitu. Nah, itu kalau rukyah,” katanya.
Sementara hisab itu adalah bahwa bulan baru itu ditandai dengan matahari terbenam pada 29 Syakban, dan bulan itu sudah lahir atau sudah muncul, sudah wujud. Artinya sudah berada di atas ufuk.
“Jadi kalau masih di bawahnya, itu, berarti dikatakan bulan belum lahir, bulan belum wujud. Jadi bulan baru belum terjadi. Nanti seluruh ahli hisab, ahli falak dan ahli astronomi menetapkan pada tanggal 29 Syakban bertepatan saat matahari terbenam. Posisi hilal itudi seluruh wilayah Indonesia itu masih berada di bawah ufuk. Jadi jauh di bawah ufuk, artinya ihlal belum lahir,” katanya.
Ia menilai ada faktor lain yang membuat perbedaan terjadi adalah belum wujud sama sekali, belum lahir sama sekali, di wilayah Indonesia bahkan mungkin di Asia Tenggara.
Hal itu, karena yang digunakan adalah mazhab bahwa penetapan awal bulan didasarkan kepada pemantauan atau posisi hilal di satu wilayah seperti di Indonesia yang lokal sifatnya.
Namun, apabila penetapan awal bulan didasarkan pada kalender global atau rukyah global, maka akan terjadi perbedaan, meskipun samamenggunakan hisab. Bedanya satu menggunakan hisab lokal, satu lagi menggunakan hisab global.
“Rukyah global itu maksudnya adalah di belahan bumi manapun terbukti hilal sudah terlihat, maka umat Islam di seluruh dunia itu harus mengikuti,” katanya.
Sementara menyangkut, soal penggunaan metode hisal lokal, standar atau kriteria yang digunakan juga berbeda-beda.
“Misalkan hilal pada saat matahari terbenam di akhir bulan tanggal 29 bulan Syakban seperti sekarang misalnya, pada saat matahari terbenam posisi hilal sudah berada di atas ufuk, di atas horizon dengan ketinggian tertentu yang memungkinkan sudah bisa dilihat, istilahnya imkan rukyah.
Sedangkan yang lainnya berpendapat bahwa bulan baru ditandai bukan dengan posisi hilal yang sudah tinggi dengan tingkat ketinggian yang memungkinkan bisa dilihat,” katanya.
Yakni bulan baru sudah masuk ketika pada saat matahari terbenam di ufuk barat pada akhir bulan berjalan, dimana posisi hilal sudah lahir, sudah wujud, sudah ada di atas ufuk, seberapun tingkat ketinggiannya.
“Itu yang biasa diistilahkan hisab hakiki wujudul hilal, yang juga punya argumentasi masing-masing. Kalau kita perdebatkan nggak akan ada ujungnya,” katanya.
Diantara penganut hisab, kata dia, dalam menetapkan awal bulan dengan hisab murni itu juga berbeda, karena memiliki parameter, standar, dan kriteria wujudul hilal masing-masing.
Keberadaan hilal di atas ufuk, seberapapapun tingkat ketinggiannya itu sudah menandai bulan baru meskipun baru setengah derajat atau satu derajat yang mustahil bisa dilihat.
“Itu sudah bulan baru. Jadi hilal sudah bisa dilihat meski antara sesama hisab berbeda. Jadi hisab wujudul hilal, hisab imkan rukyah,” katanya.
Karena itu, alam menentukan awal bulan, negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia memberlakukan standar, parameter dan kriteria Mabims yang disepakati pada 2021. Yaitu kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
“Kriterianya ditandai ketika matahari terbenam di akhir bulan berjalan, yaitu di akhir bulan Syakban seperti sekarang. Posisi hilal sudah berada di atas ufuk, di atas horizon dengan ketinggian 3 derajat. Tingginya hilal di atas ufuk atau horizon 3 derajat dan elongasi atau jarak antara matahari dan dan bulan itu, elongasi 6,4,” jelasnya.
KH Muzhofar yakin, bahwa awal Ramadan wujud hilalnya belum terlihat pada 29 Syakban. Sehingga awal puasa bukan hari Rabu, 18 Pebruari, melainkan pada Kamis, 19 Pebruari. Namun, ruang perbedaan dalam penetapan awal puasa dimungkinkan, karena ada perbedaan penggunaan metode hisab dan rukyah, serta madzab.
Ia berharap umat Islam di seluruh dunia, tidak hanya di Indonesia dapat menyikapi perbedaan tersebut, dengan prinsip tolerasi agar tidak terjadi perselisihan di dalam tubuh umat Islam.
Partaigelora.id-Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rahmat (Gelora) Indonesia Coach Gunawan mengatakan, mindset adalah mesin kepemimpinan setiap manusia.
Karena, mindset yang mengontrol dan menentukan setiap tindakan manusia dalam mengambil keputusan.
Hasil dari keputusan ini yang menentukan aktivitas setiap manusia sehari-hari, baik dalam ranah individu, keluarga, masyarakat, korporasi, negara, bahkan peradaban.
Hal itu disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian Internal Architecture Mindset Series dengan tema ‘Menjaga Ulang Mesin Kepemimpinan di Jakarta, Selasa (10/2/2026) malam.
“Kenapa mindset disebut mesin kepemimpinan. Kita bedah dalam tiga tahap, pertama learning, kedua unlearning dan ketiga realearning,” kata Coach Gunawan.
Dalam psikologi modern, menurut Coach Gunawan, tiga tahap tersebut yang menempa ulang setiap manusia dalam posisi apapun di masyarakat, bisnis, pekerjaan dan lain-lain.
Tiga tahap tersebut, yang bisa mempertajam, memperkuat dan meningkatkan mesin kepemimpinan seseorang.
“Ternyata pola pikir yang tanpa kita sadari, telah membentuk kepribadian kita, membentuk cara berpikir. Dan tanpa disadari, kalau sudah menjadi sistem yang kita sebut sebagai internal architecture mindset,” ujarnya.
Lalu, ketika ada respon dari luar secara otomatis, melakukan respon berdasarkan mindset awal yang sudah terbentuk di dalam diri seseorang.
Permasalahannya adalah mesin yang menggerakkan semua aktivitas kognitif, afektif dan psikomotorik ini, kadang-kadang sudah terbentuk saat usia remaja.
“Jadi ketika kita mengambil respon di masa lalu, dengan situasi saat ini, itu berbeda. Kenapa demikian, karena manual book atau buku panduan dalam diri kita,” katanya.
Sebab, dalam pembelajaran di jenjang pendidikan mulai dari SD hingga pendidikan tinggi di masa lalu, terutama pada era 2000-an, tidak diajarkan cara menggunakan otak.
“Jadi manual book kita tidak diajarkan menggunakan brain atau otak. Itu bahkan disebut asing bagi usia kita, yang masuk baby boomers,” katanya.
Artinya, sebuah pola pikir itu terbentuk karena akumulasi stimulus yang berulang-ulang, kemudian menjadi menetap, karena reflek dari respon tersebut.
Sehingga ketika membicarakan konsep growth mindset (pola pikir bertumbuh) dan fixed mindset (pola pikir tetap), maka fixed mindset itu tidak selalu negatif dalam manual book of our brand atau buku penggunaan otak.
“Sebab, brain never stop learning itu dimana otak setiap detik harus terus belajar, terus menyerap informasi dan menyimpan informasi. Otak itu menerima sinyal apapun,” katanya.
Semua informasi itu, kemudian masuk ke panca indera baik mata, pendengaran dan penciuman. Kemudian semua informasi tersebut, diolah menjadi ilmu pengetahuan.
“Jadi otak itu mempermudah segala sesuatunya menjadi mudah, sehingga sehingga disimpulkan sama dia. Kalau istilah ilmiahnya di, delete (menghapus) , distort (distorsi) and generalize (generalisasi),” ujarnya.
Proses ini, lanjut Coach Gunawan, mengalami empat proses yang dikenal dengan istilah IACD.
“I-nya identifikasi, A-nya analzye, C-nya Komparatif dan D-nya dicision,” jelasnya.
Namun, terkadang informasi masuk tidak melalui empat proses, tapi di filter atau di bypass organ dalam otak yang disingkat ras (reticulate activating system) langsung masuk pikiran bawah sadar.
“Di proses dicision inilah sebagai value, dimana hasil indentifikasi kemudian dianalisa dan dibandingkan. Tapi bukan membandingkan informasi di luar, otak selalu membandingkan informasi baru dengan memori yang sudah ada sebelumnya,” jelas Coach Gunawan.
Setelah itu, menjadi kesimpulan baru bersama kesimpulan lama yang pada akhirnya menjadi pola menetap yang disebut mindset dengan keyakinan dan persepsi tertentu.
“Kumpulan kesimpulan ini dimulai ketika masih bayi, dan berulang mendapat kesimpulan baru saat beranjak remaja hingga menjadi baby boomers. Mindset ini kita yang menentukan, yang tentunya setiap orang berbeda-beda,” katanya.
Namun, karena mindset ini adalah sistem keyakinan, maka orang kerap membuat kesimpulan atau persepsi berdasarkan pengalaman dirinya sendiri.
“Contoh makan krupuk pakai sambal nggak sakit perut, tapi kalau makan krupuk nggak pakai sambel sakit perut. Itu persepsi saja, dari keyakinan dia,” katanya.
Apabila persepsi tersebut, adalah sebuah keyakinan yang negatif, akan tertanam di dalam otak dan alam bawah sadar seseorang tersebut, menjadi mindset.
“Masalah ini dalam organisasi modern, kita kenal dengan gejala ego sektoral. Orang-orang begini kalau dikritik biasanya defense, dan kalau diberi saran merasa diserang. Wilayah kognitifnya merasa diserang, dan afeksinya melakukan filter melalui organ ras tadi,” jelasnya.
Karena itu, kata Coach Gunawan, dibutuhkan penalaran bukan sekedar perasaan atau pengalaman, sehingga mendapatkan pemahaman.
“Jadi dari penalaran ini muncul pemahaman. Inilah mindset yang kita harapkan, karena kita punya seperangkat pola pikir, yang bukan otomatis saja,” pungkas Coach Gunawan.
Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia akan menggiatkan pendidikan kebangsaan atau pendidikan kewarganegaraan (civic education) kepada masyarakat.
Karena dalam negara demokrasi, ciri masyarakat demokratis adalah mereka yang mampu memahami, serta mengerti hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kebangsaan Bagian ke-6; yang diselenggarakan DPP Partai Gelora, Jumat (6/2/2026) malam.
“Kita perlu menggiatkan pendidikan kebangsaan atau di banyak negara disebut pendidikan kewarganegaraan atau civic education. Agar kita mengerti hak-hak dan kewajibannya sebagai warga negara, ” kata Fahri Hamzah.
Dari pemahaman terhadap hak dan kewajiban itu, menurut Fahri, akan membuat masyarakat secara aktif berpartisipasi untuk kebaikan kolektif.
“Negara demokrasi itu, mengasumsikan masyarakatnya tidak masa bodoh. Tetapi dia harus konsen, peduli dan peka terhadap apa yang terjadi di masyarakatnya,” ujar Fahri.
Bahkan agama, kata Fahri, juga meminta semua pemeluknya untuk peduli kepada sesama.
Sebab, jika tidak peduli, maka mereka dianggap bukan bagian dari umat atau golongannya.
Hal ini tentu saja merupakan bentuk dari kepedulian sosial, serta tanggungjawab seseorang sebagai bagian dari anggota kelompok, masyarakat atau bangsa.
“Itu sebabnya, Partai Gelora mengaktifkan kajian-kajian seperti ini, termasuk kajian tentang kesadaran untuk menjadi bagian dari masyarakat global,” katanya.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (RI) ini mengatakan, kajian kebangsaan atau kewarganegaraan, menyangkut soal sejarah bangsa Indonesia, falsafah negara (Pancasila), serta ketatanegaraan dan pemerintahan yang dipengaruhi sistem politik.
“Supaya kita tahu apa yang terjadi sekarang ini di dalam keseharian kita. Dan kita sering berhadapan dengan orang yang tidak paham soal iti.” katanya.
Karena itu, ia berharap agar masyarakat, khususnya fungsionaris dan kader Partai Gelora menjadi bagian orang yang paham masalah-masalah kebangsaan.
“Makanya saya sering mengkritik politisi, anggota dewan dan pejabat yang tidak bisa memisahkan, mana yang disebut prilaku sistem, dan mana prilaku individual,” ungkap dia.
Padahal, itu dua hal berbeda, antara prilaku sistem dan prilaku individual atau pribadi.
“Mereka ini kesulitan membaca gambar-gambar besar, terjebak melihat gambar-gambar kecil. Makanya mereka sibuk mengurusi hal yang kecil-kecil saja,” katanya.
Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menegaskan, bahwa situasi tersebut menyebabkan orang-orang Indonesia sulit keluar dari persoalannya.
“Korupsinya berulang-ulang terjadi, masalah kemiskinan tidak pernah tuntas dan sebagainya. Itu kenapa, karena kita terbiasa melihat gambar kecil, bukan gambar besar. Sehingga kita tidak tahu cara keluar dari masalah,” tegasnga.
Karena itu, seluruh komponen bangsa harus punya kemampuan untuk membaca gambar besar dari sistem pemerintahan, ketatanegaraan dan politik Indonesia secara bersamaan.
“Supaya kita mengerti, apa yang sedang terjadi. Kenapa kita bisa sampai di sini, dan kita akan kemana ke depan ini. Ini konsekuensi dari sistem pemerintahan, politik dan demokrasi kita sekarang,” pungkas Fahri Hamzah.
Partaigelora.id- Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Rofi’ Munawar mengajak fungsionaris dan kader Partai Gelora untuk meluruskan kembali niat dalam perjuangan politik.
Sebab, dalam perjuangan politik itu terdapat banyak fitnah, jebakan dan godaan. Sehingga perjuangan politik oti dianggap ibadah yang paling afdal.
Karena apabila tidak dapat mengendalikan syahwat politik, maka orang tersebut akan terjerembab dalam berbagai macam persoalan menyangkut dirinya.
“Makanya Pak Ketum (Anis Matta) mengatakan, bahwa orang tidak akan bisa melakukan sesuatu yang lebih besar, kalau dengan dirinya sendiri belum selesai,” kata Rofi’ Munawar.
Hal itu disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) dengan tema ‘Meluruskan Niat Perjuangan Politik’, Selasa (3/2/2026) malam.
Rofi’ mengatakan, di lapangan godaan politik begitu luar biasa, bukan hanya sekedar syahwat politik saja. Tetapi juga ada anggapan, bahwa image politik itu kotor.
“Karena itu niat kita harus ibadah. Karena sesungguhnya Allah SWT menjadikan manusia itu sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah yang dimaksud adalah melaksanakan tugas kepemimpinan untuk memakmurkan bumi,” katanya.
Menurut dia, tugas untuk memakmurkan bumi antara lain adalah terjun ke dunia politik untuk melaksnakan mandat atau amanah kepemimpinan.
“Inilah yang harus kita pahami, bahwa kita terlibat dalam perjuangan politik, kebetulan lewat Partai Gelora, karena kita mendapatkan mandat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT,” ujarnya.
Dalam melaksanakan mandat itu, lanjut dia, Partai Gelora memiliki visi-miai antara lain membangun masyarakat yang religius dan berpengetahuan.
“Religius itu, masyarakat yang memiliki energi spiritual yang baik. Dan berpengetahuan berarti memiliki energi intelektual atau pemikiran. Inilah dua energi yang kita perlukan,” katanya.
Energi spiritual akan menentukan arah yang akan dicapai, sedangkan energi Intekektual akan menentukan langkah yang akan ditempuh.
“Sekali lagi, tazkiyatun nafs ini akan memberikan guidance kepada kita. Sebab, Tazkiyatun nafs adalah pembersihan hati penyucian jiwa agar kita benar-benar memiliki kesiapan,” katanya.
Artinya, ketika hati dan jiwa sudah dibersihkan, maka hal itu adalah bagian dari niat dalam perjuangan politik.
Ketika sudah melakukan niat dalam ibadah politik, seseorang akan mendapatkan kekuatan, memiliki kesabaran dan daya tahan untuk menghadapi berbagai rintangan.
“Ini mesti kita ketahui supaya kita memiliki kewaspadaan dan kehati-hatian agar ibadah politik kita tidak tercederai,” katanya.
Rofi’ berharap para fungsionaris dan kader Partai Gelora tidak terjangkiti empat penyakit hati, yakni penyakit kemunafikan, kedustaan, ria dan pengkhianatan agar niat dalam perjuangan politiknya sesuai arah dan tujuan.
“Kalau kita kena empat penyakit ini, pasti perjuangan politik kita akan berantakan. Niat kita harus terbebas dari empat penyakit ini,” tegasnya.
Ia menambahkan agar perjuangan politik tidak tercederai, maka perlu dibentengi secara spiritual.
Sebab, dalam perjuangannya dipastikan akan mengalami berbagai macam dinamika politik.
“Karena itu, niat itu penting dan kita harus berusaha terus menjaga niat. Saya kira pesan pentingnya adalah bahwa energi spiritual harus ada di dalam perjuangan politik,” pungkasnya.
Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar Forum Group Discussion Pusat (FGD) Pengembangan Wawasan Keislaman Kebangsaan dan Geopolitik.
FGD tersebut digelar untuk memperdalam materi-materi Pengembangan Wawasan Keislaman, Kebangsaan dan Geopolitik sesuai konteks saat ini.
Diketahui, Partai Gelora telah memberikan tiga materi tersebut, kepada para fungsionaris dan kadernya dalam rangka meningkatkan kualitas mereka menjadi masyarakat berpengetahuan.
Materi Pengembangan Pengembangan Wawasan Keislaman, Kebangsaan dan Geopolitik diagendakan setiap pekannya secara bergiliran pada hari Jumat.
Materi tentang Keislaman disampaikan Ketua Pusat Kajian Strategis DPP Partai Gelora KH Ahmad Mudzofar. Sedangkan materi Kebangsaan disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah. Sedangkan materi Geopolitik disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Gelora Mahfuz Sidik.
Wakil Ketua Korbid Kaderisasi DPP Partai Gelora Abdul Rahman mengatakan, penyelenggaraan FGD untuk mendapatkan materi apa yang akan disampaikan dalam kajian Pengembangan Wawasan, baik itu Keislaman, Kebangsaan dan Geopolitk.
“Soal materi Keislaman misalnya, ini kita mendapatkan satu pencerahan yang sangat luar biasa, bahwa materi-materi Keislaman yang harus kita sampaikan adalah materi-materi yang sesuai dengan konteksnya,” kata Abdul Rahman.
Sehingga nilai-nilai Islam dapat dipahami dengan mudah sesuai konteks, zaman, tempat dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa menjadi solusi baik baik untuk individu masyarakat, maupun negara.
“Karena kita ingin materi-materi dari Partai Gelora yang disampaikan dari sisi Keislaman itu memiliki impact yang kuat di tengah-tengah masyarakat. Sehingga muncul kedewasaan dalam melaksanakan Islam dan membela negara,” katanya.
Menurut dia, antara Islam dan nasionalisme bisa menjadi sebuah kekuatan di dalam sebuah negara seperti Indonesia, yang akan menjadi nilai moral yang kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sedangkan Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Kebijakan Publik DPP Partai Gelora Sarah Handayani mengatakan, materi Wawasan Kebangsaan ini, merupakan hal yang sangat substansial untuk seluruh fungsionaris, kader dan juga masyarakat Indonesia
“Agar bisa memahami jati dirinya dan kemudian memahami sejarah, sosiologi, geografi. Sehingga tahu posisinya sebagai warga negara dan memahami sejarah masa lalu,” kata Sarah Handayani.
Dengan memliki pemahaman mengenai Wawasan Kebangsaan, maka setiap fungsionaris dan kader Partai Gelora bisa memberikan kontribusi dalam membangun bangsa sekarang dan masa depan.
Sementara Ketua Korbid Luar Negeri Henwira Halim mengatakan, Partai Gelora selalu menekan kepada fungsionaris dan kader Partai Gelora agar memiliki awareness dan pemahaman masalah geopolitik.
“Karena dalam membuat kebijakan dan juga dalam membangun negara kita, kita juga harus paham bahwa yang namanya hidup bernegra itu tidak bisa lepas dari negara-negara lain, ” kata Henwira.
Sehingga sebagai bangsa harus paham, bagaimana mengaruhi gelombang geopolitik supaya bisa memaksimalkan keunggulan dan meminimalkan bangsa Indonesia.
“Supaya kita bisa mewujudkan kepentingan nasional kita, dan itu memang harus dipahami oleh semua kader dan fungsionaris Partai Gelora, karena semua kader dan fungsionaris ini akan ikut serta untuk memberikan kontribusi,” katanya.
Dengan mendapatkan materi Wawasan Geopolitik, maka setiap fungsionaris dan kader Partai Gelora dapat memberikan kontribusinya melalui pemikiran, masukan dan berbagai macam ide.
“Sebab, kita juga akan mengalami dampak dari percaturan geopolitik itu, seperti dikatakan oleh Ketua Umum kita ita Pak Anis Matta. Jangan sampai kita menjadi collateral demage dari pertarungan geopolitik global,” pungkas Henwira Halim.
Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar Konsolidasi Pemuda DPP Partai Gelora Indonesia, bertempat di Gelora Media Centre (GMC) di kawasan Kuningan, Jakarta, Selatan, Sabtu (31/1/2026).
Konsolidasi ini digelar dengan kesadaran penuh atas bonus demografi dan tantangan Indonesia ke depan menjelang Indonesia Emas 2045.
Konsolidasi ini dihadiri Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta, Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Triwisaksana, serta para Generasi Muda Partai Gelora.
Konsolidasi ini menegaskan tentang positioning dan arah yang mesti dituju oleh para pemuda di Partai Gelora Indonesia.
Sebab, hal ini bukan sekadar bicara soal politik praktis. Ini tentang energi dan tantangan zaman untuk menghadirkan perubahan bagi seluruh bangsa Indonesia.
“Sumber energi yang sangat besar bagi satu bangsa yang datang dari hadiah adalah bonus demografi. Bonus demografi ini hanya terjadi biasanya beberapa ratus tahun,” kata Anis Matta.
Menurut Anis Matta, Indonesia akan mengalami bonus demografi tersebut, dimana jumlah populasi generasi mudanya lebih banyak dari generasi tua.
“Satu bangsa mencapai puncak pencapaiannya itu, adalah apabila komposisi demografi nya didominasi oleh orang-orang muda,” ujar Anis Matta.
Ketua Korbid Penggalangan DPP Partai Gelora Triwisaksana mengatakan, Partai Gelora patut bersyukur bahwa fungsionaris dan kader Partai Gelora didominasi kaum muda.
“Generasi muda di Partai Gelora ini, adalah milik kita bersama. Ada sisi masa depannya, langkah harapan dan ekspektasi nya ke depan. Kita berharap Partai Gelora di-imagekan sebagai Partai Gen Z,” kata Triwisaksana.
Wakil Ketua Korbid Komunikasi DPP Partai Gelora Sarah Az-Zahra mengungkapkan, bahwa generasi muda pada Pemilu 2029 akan mendominasi. Sehingga suara mereka sangat potensial bagi Partai Gelora.
“Jadi kira-kira 63-73 persen dari datanya 2029 itu, adalah Gen Z dan millenial,” ungkap Sarah Az-Zahra.
Ketua Bidang Regulasi, Riset dan Strategi DPP Partai Gelora Dzubyan Nur Rahman mengatakan, bahwa dengan besarnya jumlah generasi muda saat ini, diharapkan dapat memberikan dampak bagi perkembangan Partai Gelora yang punya mimpi dan visi menjadikan Indonesia Lima Besar Dunia.
“Jadi sebenarnya kita ini mau kasih impact apa? Bukan sebaliknya, kita mau dapat apa dari Partai Gelora, ” kata Dzubyan Nur Rahman.
Jana Achmad Nugraha, fungsionaris Partai Gelora menambahkan, bahwa Partai Gelora adalah satu-satunya partai yang memiliki narasi kuat mengenai Arah Baru Indonesia sebagai Superpower baru dunia.
“Partai Gelora memang terbukti kuat dalam narasi dibandingkan partai lain,” tegas Jana Achmad Nugraha.
Karena itu, Ketua Bidang Pengembangan dan Jaringan DPP Partai Gelora Syahrul Santian berharap agar Partai Gelora memiliki kader generasi muda dalam jumlah yang banyak mengkar hingga tempat pemungutan suara (TPS).
Hal ini penting untuk menjaga perolehan suara Partai Gelora pada Pemilu 2029 tidak curi atau hilang, dan berpindah ke partai lain, karena kurangnya memiliki saksi seperti pada Pemilu 2024 lalu.
“Makanya tema konsolidasi kita hari ini adalah ‘Generasi Muda Gelora, Energi dan Harmoni untuk Membangun Bangsa’,” pungkas Mushab A Robbani, Ketua Bidang Pemuda DPP Partai Gelora.
Partaigelora.id-Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfuz Sidik mengingatkan, bahwa perang nuklir atau perang dunia (PD) III tinggal menunggu waktu, apabila ketegangan global saat ini terus berlanjut.
“Perang nuklir saat ini tinggal ada pemantiknya saja, dunia sedang menunggu satu pemicu lagi. Kita tidak tahu, tapi kita tentu berharap bahwa dunia akan tetap baik-baik saja,” kata Mahfuz Sidik di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Apakah Kita Menuju Perang Dunia III’, pada Jumat (30/1/2026) malam.
Menurut dia, ada tiga titik hotspot yang bisa menjadi pemicu perang nuklir atau PD III saat ini.
Pertama adalah konflik Rusia dengan Ukraina, kedua konflik Amerika Serikat (AS) dengan China dan ketiga konflik Israel dengan Iran.
“Dalam konflik Israel-Iran ini, Israel dibackup penuh oleh pemerintahan Presiden Amerika Donald Trump. Dan situasinya sekarang semakin memanas,” katanya.
AS, lanjut, Mahfuz sudah mengerahkan armada besar militernya dengan didukung kapal induk USS Abraham Lincoln menuju Selat Hormuz, untuk menyerang Iran.
“Trump secara terbuka berkali-kali mengatakan akan menyerang Iran dan armada lautnya sudah dikerahkan ke Selat Hormuz. Jika diserang, maka Iran akan melakukan pembalasan,” ujarnya.
Ketua Komisi I DPR RI 2010-2016 ini berharap agar Trump yang juga seorang pebisnis tersebut, dapat mengkalkulasi ulang rencana untuk menyerang Iran, karena akan menimbulkan perang dalam skala besar.
“Kita ketahui, bahwa ini Iran punya senjata nuklir. Dan senjata nuklir Iran, akan digunakan apabila mereka terdesak. Karena itu, kita harap Trump menggunakan kalkulasinya sebagai pebisnis, bahwa perang dunia tidak akan dimenangkan siapapun, tapi justru merugikan,” katanya.
Mahfuz menegaskan, perang ini, akan menyeret negara-negara lain yang memiliki senjata nuklir selain Iran, AS dan Israel seperti Prancis, Rusia, China, Pakistan, India dan Korea Utara.
Ia lantas menyampaikan simulasi dan dampaknya bagi umat manusia apabila perang nuklir benar-benar terjadi.
“Perang nuklir mungkin berlangsung cepat, tapi efeknya akan ada kerusakan total dunia. Akan terjadi bencana kelaparan di seluruh dunia, bisa dialami 4 miliar manusia di bumi,” katanya.
Mahfuz mengatakan, meskipun Indonesia tidak secara langsung mengalami perang nuklir atau PD III, tetapi efek dari dampak tersebut, adalah mengalami perubahan iklim yang hebat.
“Ancamannya adalah kelaparan secara global. Kita harus bisa memastikan ketahanan nasional kita bisa survive. Lalu, ketahanan apa paling dibutuhkan?” tanya Mahfuz.
Adapun ketahanan nasional (national resilience) yang diperlukan oleh suatu negara, termasuk Indonesia adalah ketahanan pangan, ketahanan energi dan ketahanan sumber daya air.
“Pangan tidak boleh impor lagi, harus swasembada untuk kebutuhannya. Soal energi harus juga bisa dipenuhi, tidak bergantung negara lain, dan bisa mengembangkan energi alternatif. Sementara soal air, jangan berpikir nanti gampang ketika terjadi perang dunia III, karena sumber air banyak yang tercemar. Dan Indonesia harus punya kemampuan water resilence (ketahanan air)-nya, ” jelas Mahfuz.
Sekjen Partai Gelora ini menilai pemerintah perlu fokus untuk memastikan dan menjamin tiga aspek ketahanan nasional dalam pembangunannya pada situasi sekarang.
Hal ini akan tercapai apabila pengelolaan pemerintahan semakin terdesentralisasi, bukan sebaliknya tersentralisasi.
Sebab, apabila model pemerintahan yang terlalu kuat tersentralisasi dalam situasi krisis sistemik seperti sekarang, maka negara tersebut, akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi.
“Daerah-daerah akan sangat bergantung kepada pusat, karena tidak memiliki inovasi sendiri. Dan alhamdulillah, Indonesia sudah menetapkan otonomi daerah, dan ada desentralisasi meski belum maksimal,” pungkas Mahfuz.