Partaigelora.id-.Ketua Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Rofi’ Munawar mengatakan, setiap kader Partai Gelora perlu menjaga kebersihan hatinya di tengah perjuangan politik apabila diberikan amanah ketika menjadi penguasa.
Sebab, kekuasaan itu penuh godaan , sehingga diperlukan fondasi moral dalam berpolitik. Allah SWT selalu melakukan pengawasan Allah SWT atau ‘muraqabatullah’ terhadap pelaksanaan amanah tersebut.
Hal itu disampaikan Rofi’ Munawar dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) dengan tema ‘Menjaga Kebersihan Hati dan Moral di Tengah Perjuangan Politik, Selasa (19/5/2026) malam.
“Sahabat Gelora, pengawasan Allah, Tuhan yang Maha Esa itu, artinya adalah pengetahuan yang terus-menerus dan keyakinan yang mendalam, bahwa Allah SWT selalu mengetahui atau maha mengetahui akan yang lahir dan yang batin,” kata Rofi’ Munawar.
Artinya, Allah SWT akan mengawasi semua gerak-gerik hambanya baik ucapan atau perkataan dan perbuatan, apakah kebersihan hatinya terjaga.
“Muraqabatullah atau pengawasan Allah Tuhan Yang Maha Esa itu, kita jadikan sebagai landasan moral politik. Moral politik itu adalah akhlak politik, lebih mudahnya ,” kata dia.
Menurut Rofi’, akhlak politik tersebut penting, karena politik tanpa akhlak akan menghancurkan bangunan politik itu sendiri.
“Seperti kata Imam Al Ghazali, bahwa akhlak politik itu bagian dari agama yang merupakan pondasinya, dan kekuasaan itu adalah penjaganya,” ujar Ketua Pelaksana Harian DPP Partai Gelora ini.
Maknanya, adalah moral politik dan kekuasaan, haruslah sangat kuat, karena kekuasaan tanpa moral akan berantakan.
Sebaliknya, moral tanpa kekuasaan akan kering atau hampa, sebab tidak ada tempat implementasi dan penggandaan untuk nilai-nilai moral tersebut.
“Jadi moral itu akan bisa meluas dan akhirnya menjadi satu habit yang dilakukan oleh para pemegang kebijakan manakala di situ ada kekuasaan,” jelasnya.
Ia mengatakan, perjuangan politik hendaknya bertumpu pada empat landasan moral yang wajib dijaga, yaitu shidqul hadits (kejujuran ucapan), hifzhul amanah (menjaga amanah), husnul khuluq (kebaikan akhlaq), dan ‘iffatun fit-thu’mah (kehati-hatian).
Adapun makna shidqul hadits adalah politik itu sangat dekat dengan kata-kata, penyataan atau statement yang bersifat ungkapan verbal dari mulut seseorang.
“Maka ketika sudah menjadi pemimpin, pernyataan itu including di dalam diri pemimpin. Jadi kehebatan seorang pemimpin itu, salah satunya ditentukan oleh pernyataannya,” kata Rofi’.
Karena dituntut kejujuran ucapan itu, maka seorang pemimpin atau politisi dilarang berbohong atau pernyataannya tidak boleh mengandung kedustaan.
Kejujuran ucapan bagi seorang pemimpin atau politisi, lanjut dia, akan menjadi narasi yang kuat untuk merespon berbagai situasi, kondisi dan persoalan.
“Dengan narasi yang kuat di dalam dirinya, Allah SWT akan memerintahkan dia untuk merespon situasi yang ada di sekelilingnya, kondisi masyarakat yang memang yang harus dihadapi, masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja,” katanya.
Dapat dikatakan, bahwa narasi yang kuat itu adalah bentuk pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Bukan seperti perkataan yang remeh-temeh, tapi perkataan yang penuh dengan makna, sehingga narasi yang kuat tersebut, menjadi penting.
“Seperti disampaikan Pak Ketum (Anis Matta) ketika melihat situasi Indonesia saat ini, sebagaimana yang digambarkan di dalam manifesto politik kita. Langit kita ini terlalu tinggi, tapi kita terbang terlalu rendah. Artinya narasi yang kita bangun bisa merespon kompleksitas bangsa ini ,” katanya.
Kejujuran ucapan itu juga harus sinkron antara apa yang diucapkan dengan tindakannya.
“Jangan sampai kita mengucapkan berbagai macam pernyataan, tapi tidak tahu bagaimana cara menindaklanjuti dari perkataannya itu. Pernyataan itu akhirnya hanyalah percitraan, atau janji-janji politik,” jelas dia.
Karena itu, pernyataan seorang pemimpin atau politisi harus memiliki makna dalam merespons persoalan, perlu ada kesesuaian dengan tindakannya, dan jangan sampai ucapan itu berubah menjadi penyesalan.
“Sekali lagi jangan sekali-kali kita berjanji yang kita sendiri kesulitan bagaimana cara menepatinya. Kenapa? Karena janji-janji politik kita ini ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Jadi tepatilah janji karena janji itu akan dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.
Rofi’ berharap kepada para kader Partai Gelora yang mendapatkan amanah di level kepemimpinan politik, hindari sebisa mungkin untuk offside di dalam pernyataannya.
“Pemimpin ada yang di level presiden atau menteri dan seterusnya. Jangan sampai offside, karena pernyataan itu akhirnya menjadi bahan ledekan rakyat. Jadi Kader politik kelasnya pemimpin,” katanya.
Sedangkan makna yang kedua hifzhul amanah dalam konteks tazkiyatun nafs adalah menjaga kompetensi untuk memegang amanah, karena begitu inkompetensi akan sangat berbahaya.
“Pemimpin tidak kompeten itu sangat berbahaya. Ketika amanah itu disia-sia maka tunggu datangnya hari kiamat. Jadi ketika perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu datangnya hari kiamat. Makna lainnya, adalah tunggu datangnya kehancuran,” katanya.
Selanjutnya adalah menjaga komunikasi vertikal dan berusaha sekuat tenaga untuk selalu berada di garda depan di dalam menjaga ibadahnya kepada Allah SWT.
“Karena itu, kalau kita lihat para pemimpin politik masa lalu adalah orang-orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi. Dan ini adalah cara untuk menjaga amanahnya ,” ujar Rofi’.
Kemudian selain menjaga kompetensi dan menjaga kekuatan (komunikasi vertical), makna lainnya adalah akhlak yang mulia (husnul khuluq). Sebab, politik itu tanpa moralitas akan menghancurkan bangunan politik itu sendiri.
“Jadi akhlak yang mulia adalah akhlak untuk dirinya dan akhlak timbal balik. Kalau akhlak timbal balik itu maksudnya begini, misalnya seorang presiden, kepala negara, atau raja berharap yang dipimpinnya mentaatinya. Tetapi akhlak rakyat itu tergantung kepada akhlak pemimpinnya, jangan sampai mereka tidak berakhlakul karimah kepada yang dipimpinnya,” jelas Rofi’.
Adapun akhlak tertinggi seorang pemimpin itu adalah melayani rakyatnya. Sehingga ketika para pemimpin melayani dengan sebaik-baiknya, maka rakyat akan mentaatinya.
“Jangan menjadi diktator-diktator memaksa mereka menghormati kita, sementara kita tidak menghormati kita. Jadi akhlak timbal balik di sini memang yang terasa berat bagi pemimpin, tapi ini harus dilakukan,” paparnya.
Sementara makna ‘iffatun fit-thu’mah atau kehati-hatian, karena kekuasaan itu punya godaan yang sangat besar seperti dikatakan Lord Action, bahwa ‘power tends to corrupt’ kekuasaan itu akan cenderung korup atau menyalahgunakan wewenang .
“Intinya kita harus berusaha sekuat tenaga untuk berhati-hati. Ibaratnya kita berhati-hati terhadap sesuap nasi yang masuk ke dalam mulut kita. Sekecil apapun makanan yang kita makan harus berhati-hati, harus jelas boleh atau tidak,” pungkasnya.

No comments