Kekalahan Trump dan Netayanhu Dorong Kemandirian Geopolitik Timur Tengah Tanpa Campur Tangan AS

Partaigelora.id-Kekalahan telak Partai Republik yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump dalam Pemilu Sela Amerika Serikat (AS) yang digelar pada 3 November 2026 dan kegagalan Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengamankan mayoritas di parlemen (Knesset) dalam pemilu legislatif Israel yang berlangsung pada 27 Oktober 2026, akan mengubah peta geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng).

Hal itu disampaikan Analis Dunia Islam dan Timur Tengah sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia Mahfuz Sidik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertajuk ‘Yaman Dalam Pusaran Konflik & Peran Saudi Arabia’, pada Jumat malam (6/11/2026).

“Kekalahan Partai Republik dan kegagalan Partai Likud mempertahankan suara mayoritas di parlemen Israel dinilai memberi angin segar bagi konsolidasi diplomasi regional secara mandiri,” kata Mahfuz Sidik.

Menurut Mahfuz, kekalahan Partai Republik di Senat maupun Kongres AS akan membatasi ruang gerak serta fleksibilitas Presiden Donald Trump.

“Kebijakan luar negeri AS yang selama ini agresif dan unilateral di kawasan Teluk diproyeksikan menghadapi tekanan serta pengawasan ketat dari parlemen,” ujarnya.

Dampaknya, kemampuan Washington untuk terus mendikte atau memberikan jaminan keamanan tanpa batas bagi sekutunya di kawasan kian menyusut.

“Kondisi ini mendesak negara-negara di Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan pada patron asing dan mulai merancang strategi keamanan kolektif sendiri,” katanya.

Sementara ketidakmampuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Partai Likud meraih mayoritas dalam pemilu parlemen Israel —yang diikuti kesepakatan koalisi oposisi dengan partai-partai Arab untuk membentuk pemerintahan baru—mengisyaratkan penurunan efektivitas pendekatan militeris Tel Aviv.

Sehingga krisis politik domestik di Israel melemahkan dorongan konfrontasi militer langsung terhadap Iran dan kelompok perlawanan kawasan.

“Situasi tersebut membuka celah lebar bagi langkah-langkah deeskalasi konflik regional, termasuk pertikaian bersenjata di Yaman,” katanya.

Baca juga:

Ketua Komisi I DPR RI 2010-2017 menegaskan, perubahan politik di Washington dan Tel Aviv memberikan momentum positif bagi keberlanjutan dialog empat negara yang mempertemukan Arab Saudi, Pakistan, Turki, dan Iran dalam Teheran Summit.

“Pertemuan yang digagas Pakistan tersebut guna meredakan tensi konflik antara militer Arab Saudi dan milisi Houthi di Yaman tersebut dinilai sebagai rintisan tatanan keamanan regional yang mandiri,” ujarnya.

Ia mengatakan, Arab Saudi kini menyadari, bahwa penyelesaian konflik dengan kelompok Houthi di Yaman serta, stabilitas kawasan Teluk jauh lebih efektif dicapai melalui mekanisme dialog internal antarnegara kawasan tanpa campur tangan AS.

“Ini memunculkan inisiatif kemandirian regional. SekarangArab Saudi kian mengkalkulasi bahwa penyelesaian konflik dengan Houthi dan stabalitas Timur Tengah, jauh lebih efektif tanpa campur tangan Amerika Serikat,” katanya.

Keterlibatan Turki dan Pakistan sebagai jembatan diplomasi antara Riyadh dan Tehera, lanjut Mahfuz, menjadi poros penyeimbang baru kekuatan AS dan bllok Barat yang selama ini menjadi kekuatan dominan di dunia.

“Poros baru ini berpotensi berkembang menjadi mekanisme kerja sama non-agresi yang permanen guna menjaga stabilitas di sepanjang Laut Merah dan Teluk,” katanya.

Hasil pertemuan Poros Arab Saudi, Pakistan, Turki, dan Iran di Teherann yang berlangsung pada 26-27 Oktober 2026 , sejauh ini terbukti berhasil menahan eskalasi militer di lapangan dan menjadi fondasi utama bagi proses negosiasi perdamaian Yaman ke depan.

“Meski belum melahirkan pakta pertahanan fundamental yang mengikat, kesepahaman dasar dalam Teheran Summit dapat menjadi fondasi utama bagi proses negosiasi perdamaian dan keberlanjutan deeskalasi Yaman ke depan,” katanya.

Namun, Mahfuz berharap bangsa Yaman juga harus belajar dari sejarah masa lalu di mana mereka pernah mampu bersatu dan mencapai masa keemasan ketika pada masa penguasa legendaris Ratu Balgis/Ratu Saba.

“Jadi perlu ada kesadaran kolektif dari para pemimpin faksi di Yaman untuk mengakhiri penderitaan rakyat melalui rekonsiliasi nasional dan unifikasi jilid kedua,” katanya.

Dengan demikian, Mahfuz menegaskan, bahwa hasil pemilu di AS dan Israel menandai babak baru geopolitik di kawasan Timur Tengah, tanpa terlalu bergantung pada kekuatan luar seperti Amerika Serikat.

“Intervensi asing melemah dan memberi insentif kuat bagi negara-negara kawasan—khususnya Arab Saudi, Iran, Turki, dan Pakistan—untuk memperkokoh dialog diplomasi demi mewujudkan stabilitas keamanan berkelanjutan serta mengakhiri pusaran konflik di Yaman,” pungkasnya.

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X