Partaigelora.id- Ketua Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Rofi’ Munawar, menegaskan bahwa kejujuran merupakan pilar utama integritas politik sekaligus fondasi esensial untuk membangun tata kelola bangsa yang bermartabat.
Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) bertema ‘Kejujuran Pilar Integritas Politik’, Selasa (18/8/2026) malam.
Rofi’ menjelaskan, di momentum pascaperingatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-81, bangsa Indonesia membutuhkan perlindungan moral dari ancaman pemimpin yang tidak jujur.
Mengutip penegasan Al-Qur’an (QS. At-Taubah: 119) serta telaah ulama Ibn al-Qayyim, ia memaparkan tiga ciri utama insan yang jujur.
“Yakni tidak pernah mentoleransi pelanggaran janji, enggan bersahabat dengan pendusta, serta senantiasa memelihara kesungguhan (al-jiddiyyah) dalam situasi apapun,” kata Rofi’ Munawar.
Menurut Rofi’, terdapat enam poin penting kejujuran sebagai pilar integritas politik, antara lain daya dorong niat spiritual yang benar; karakter otentik, bukan sekadar pencitraan; objektivitas pelaporan lapangan (Anti-ABS); memandang hakikat politik sebagai amanah; kejujuran berbasis pengetahuan (bukan keluguan); dan keberanian menyelesaikan persoalan besar.
Daya dorong niat spiritual yang benar maksudnya adalah berpolitik berakar pada motif tertinggi, yaitu ibadah kepada Allah SWT (QS. Al-An’am: 162–163).
“Politik yang jujur setara dengan salat yang khusyuk karena keduanya berpijak pada pertanggungjawaban vertikal kepada Sang Pencipta,” katanya.
Adapun karakter otentik, bukan sekadar pencitraan adalah kejujuran harus menjadi watak yang melekat dan berkesinambungan, bukan instrumen kampanye musiman.
“Karakter inilah yang melahirkan komitmen dan loyalitas pejuang politik hingga akhir hayat (QS. Al-Ahzab: 23) demi membawa Indonesia menjadi kekuatan baru dunia,” katanya.
Sedangkan objektivitas pelaporan lapangan (Anti-ABS), adalah kejujuran dalam memaparkan data lapangan sangat krusial untuk menghasilkan evaluasi yang presisi serta alokasi sumber daya yang tepat, sebagaimana ketepatan laporan burung Hud-Hud kepada Nabi Sulaiman.
Baca juga:
“Jadi ada upaya mnolak budaya manipulasi laporan atau Asal Bapak Senang (ABS) merupakan indikator kesehatan mental dan spiritual kepemimpinan,” ujarnya.
Sementara memandang hakikat politik sebagai amanah, dimana kekuasaan adalah kewajiban agama yang besar (min a’zhami wajibatiddin).
Rofi’ mengingatkan bahaya figur Ruwaibidah—orang bodoh yang memegang urusan publik tanpa kapasitas sehingga hanya memperkeruh situasi dan menambah permusuhan.
Selanjutnya, kejujuran berbasis pengetahuan (bukan keluguan), merupakan integritas politik yang menuntut kecerdasan hukum dan etika agar pejabat publik mampu secara tegas menolak apa yang bukan menjadi haknya serta tidak mudah terjebak dalam skema manipulatif.
Terakhir menyelesaikan persoalan besar, yakni kejujuran sejati bermuara pada keberanian mengambil keputusan besar dan menuntaskan persoalan bangsa, karena sandaran utamanya semata-mata adalah pertanggungjawaban kepada Allah SWT.
Rofi’ mencontohkan keberhasilan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dalam tempo singkat berhasil menuntaskan masalah kemakmuran dan ketimpangan sosial berkat kepemimpinan yang berakar pada kejujuran spiritual.
Ketenangan Batin
Dalam kesempatan ini, Ketua Koordinator Pelaksana Harian Partai Gelora Rofi’ Munawar kemudian membedah berbagai realitas praktis dan dilema moral yang kerap dihadapi para pejuang politik di lapangan.
“Ada tiga aspek krusial, yakni pengelolaan keikhlasan di tengah kebutuhan duniawi, mitos kejujuran sebagai ‘bumerang’ karier, serta dimensi ketenangan batin seorang politisi,” ujar Rofi’ Munawar.
Menurut dia, para pejuang politik di lapangan perlu mentransformasikan niat (mukhlisin ke mukhlasin) ketika mulai terjun ke dunia politik.
“Memperoleh nafkah melalui jalur aktivisme maupun kursi legislatif adalah hal yang manusiawi dan sah secara syariat. Namun, kader dituntut menempuh upgrade motif secara berkala—bergerak dari mukhlisin (fase terus membenahi keikhlasan) menuju mukhlasin (tahap kemurnian orientasi demi kemaslahatan umat),” ujarnya.
Sehingga ketika dihadapkan pada fenomena antara legitimasi versus citra palsu misalkan, dapatmenepis anggapan bahwa kejujuran tidak akan mematikan karier.
“Pengakuan atas kekeliruan secara kesatria yang dibarengi perbaikan konkret justru melahirkan legitimasi jangka panjang. Mengutip kaidah Imam Al-Ghazali, akhlak adalah fondasi utama, sementara kekuasaan berfungsi sebagai penjaganya,” jelas Rofi’ Munawar.
Karena itu, ketika dilihat dalam dimensi ketenangan batin (thuma’ninah), maka integritas berkaitan erat dengan kesehatan jiwa.
“Praktik jujur melahirkan ketenteraman mental di tengah kerasnya dinamika politik, sedangkan manipulasi data dan citra secara konstan memicu kegelisahan serta degradasi moral,” katanya.
Ia mengajak seluruh elemen kader dan masyarakat untuk tidak sekadar mengutuk kegelapan, melainkan aktif menyalakan lilin perubahan demi masa depan Indonesia.
“Yakni perubahan peradaban melalui kerja politik yang bersih, berani, dan berorientasi jangka Panjang,” pungkasnya.

No comments