Partaigelora.id-Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Coach Gunawan mengatakan, kapasitas kepemimpinan menentukan pencapaian tertinggi dalam hidup seseorang.
Namun, untuk mencapai hal itu, diperlukan fondasi yang kuat dalam membangun kepercayaan, karena ternyata tidak cukup hanya sekedar membangun otoritas struktur kepemimpinan saja.
Dalam Batch 9 Internal Architecture Mindset Kajian Pengembangan Wawasan, Selasa (14/7/2026) malam, Coach Gunawan mengajak fungnionaris dan kader Partai Gelora masuk ke ruang tersebut, ruang di mana kepemimpinan berhenti menjadi soal posisi, dan mulai menjadi soal karakter yang teruji.
“Ini bukan sesi tentang jadi lebih karismatik. Ini sesi tentang membangun fondasi yang membuat orang lain memilih untuk ikut , bukan karena harus, tapi karena percaya.,” kata Coach Gunawan.
Menurut dia, pencapaian kapasitas kepemimpinan atau leadership menentukan pencapaian dan kesuksesan di masa akan datang, baik di dunia dan akherat.
“Pada batch 9 ini, kita memfokuskan pada sisi leadership. Karena dalam kehidupan sehari-hari, ini topik cukup menarik , sebuah topik tentang bagaimana kapasitas leadership kita,” kata dia.
Sebab, hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang sulit untuk dicapai maupun dipelajari, karena leadership pada dasarnya adalah pengetahuan dan seni (its science and art).
Sayangnya, ilmu leadership ini tidak pernah disajikan dalam pendidikan formal baik di jenjang SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. “Tidak ada yang namanya mata pelajaran atau mata kuliah kepemimpinan secara khusus,” ungkapnya
Ia mencoba untuk membedah kepimpinan ini dari sisi ilmu pengetahuan, the science of leadership dan pendekatan praktis dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, organisasi, perusahaan maupun negara dan bangsa.
“Bisa jadi sesuatu yang berbeda terjadi di sana, sehingga ada ketakutan, kecemasan yang timbul pada diri kita atau karena kehadiran kita. Nah, kita topik yang kita bahas ini berjudul Leading from Within,” atanya.
Coach Gunawan mengatakan, Leading from Within berarti adalah gaya kepemimpinan yang berakar dari dalam diri sendiri . “Orang tidak mengikuti jabatan kita, tapi mereka mengikuti siapa kita,” katanya.
Hal ini banyak terjadi ketika instruksi yang diberikan tidak didengarkan atau tidak dilaksanakan, sehingga organisasi atau sebuah tiim tidak berjalan, karena instruksi yang diberikan tidak dipatuhi.
“Jadi dalam its science and art, pengetahuan dan seni dalam mengembangkan leadership ini, otoritas formal atau jabatan kita, itu ternyata dibatasi,” katanya.
Lalu, apa yang membatasinya? Ada beberapa faktor mempengaruhi, kenapa seseorang tidak mengikuti instruksi pimpinan atau atasanya lagi.
Dimana kepemimpinan didasarkan pada otoritas formal yang hanya bersifat administratif. Dimana mereka mengikuti karena keharusan, lebih tepatnya karena ada jabatan kita.
“Sumber kekuatan kita itu berada pada keputusan atau SK pada posisi resmi yang kita duduki pada struktur formal di organisasi kita,” katanya.
Sementara yang ingin ditransformasikan saat ini adalah bagaimana menjadikan otoritas formal berubah menjadi otoritas moral atau kita sebut dengan influence. Sebab, leadership itu tidak lain dan tidak adalah influence atau pengaruh.
“Pada otoritas formal itu, motivasi tim mengikuti kita karena kewajiban administrasi. Karena mereka adalah satu tim di mana karena jabatan kitalah mereka mendengarkan kita. Jadi sebatas itu begitu jabatan kita tidak ada, maka motivasi tim berubah,” katanya.
Namun, apabila ditransformaikan, maka kepatuhan pada otorias formal, bukan hanya karena semata-mata jabatan, tetapi pada kepemimpinan sejati , yaitu adanya kepercayaan.
“Orang yang suka menganggu-ngangguk setuju itu, biasanya menyelesaikan tugasnya sangat minimal dan menghilang karena mengandalkan otoritas formal . Tetapi ketika batas kepemimpinannya adalah trust, dia akan menyumbangkan pikiran-pikiran dan ide terbaiknya,” jelas Coach Gunawan.
Sehingga ada perbedaan yang dapat dilihat secara kasat mata antara kinerja kepemimpinan otoritas formal dan kepemimpinan karena kepercayaan.
“Dalam kinerja , kalau kita melihat otoritas jabatan, tim melakukan jabatan dalam tugas minimal., asal gugur kewajiban. Tetapi ketika batas jabatan itu bukan karena otoritas jabatan, karena leadership, maka tim memberikan inisiatif. Bahkan di situ hadir ide-ide terbaik,” katanya.
Selain itu, kepemimpinan yang berbasiskan hanya otoritas jabatan, apabila terjadi krisis, maka mereka cenderung mencari aman, buang badan, stay step dan stay cool.
“Tetapi kepemimpinan yang berdasarkan bukan hanya jabatan,maka leadership yang terbangun. Dia bisa bertahan bahkan menunjukkan loyalitasnya,” tegas Coacg Gunawan.
Wakil Sekjen Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora ini mengibaratkan kepemimpinan berbasis otoritas formal sebagai bangunan kosong atau menara mercusuar yang tidak bisa menjadi petunjuk bagi-bagi kapal berada di sekitarnya, karena tidak memiliki cahaya atau api.
“Bagaimana menyalakan api leadership di dalam diri kita, sehingga api leadership kita ini bisa menjadi arah, guidance, bahkan menjadi sumber cahaya bagi di sekitar kita,” katanya.
Leadeship tersebut, kata Coach Gunawan harus ditanamkan dalam banyak sendi-sendi kehidupan baik pribadi, masyarakat maupun organisasi, yang di mulai dari Pendidikan.
Sehingga kapasitas leadership tersebut dapat meningkat dan menentukan pencapaian-pencapaian tertinggi dalam hidup kita.
“Seperti kata Ketua Umum (Anis Matta, red). Qur’an itu di Timur Tengah, tetapi kenapa pola pikirnya sekarang dipakai di Barat . Leadership kita tidak terbangun, meskipun orang-orang kita cerdas dan pintar-pintar,” katanya.
Hal ini terjadi karena di Barat telah menyelesaikan pelajaran tentang pola pikir, pelajaran tentang mindset . Sedangkan di Indonesia, Pelajaran tentang mindset ini tidak diajarkan dari jenjang SD hingga perguruan tinggi.
“Ada empat pilar kepemimpinan internal, leadership within yang perlu kita tumbuhkan sebagai individu. Yaitu kongruensi atau keselarasan emosional, kemantapan hati dan kondisi batin, kehadiran dan terakhir trust atau kepercayaan,” katanya.
Sebagai ‘the core engine leader’ Coach Gunawan menambahkan, bagi seseorang ada tiga hal pertama ada regulasi emosi, tenang, sakinah dan qolbiah agar perasaan dan emosi seseorang stabil,
Kedua adalah sense making, adalah kemampuan kognitif dalam menghadapi situasi dan kondisi pada saat itu, dimana kemampuan memecahkan masalah yang bersifat kompleks.
Ketiga adalah kemampuan mengambil posisi yang strategis menuju satu tujuan tertentu, sehingga diperlukan ketenangan dan kemampuan kognitif.
Sementara terkait trust atau kepercayaan , menurut dia, bisa menjadi salah satu sumber konflik apabila secara akhlak bagus, tapi tidak kompeten dalam kepemimpinan. Sebaliknya, ada pemimpin yang disukai dianggap mampu membawa roda organisasi, tetapi akhlaknya tidak bagus.
“Jadi kepercayaan adalah faktor kali dari siapa kita, dengan kompetensi kita. Kompetensi itu pada dasarnya mudah dipelajari. Jadi yang kita kelola ini adalah memanage urusan, yang kita pimpin adalah hati dan pikiran orang, butuh kepercayaan tinggi,” pungkasnya.

No comments