Partaigelora.id-Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Bidang Komunikasi Organisasi Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Coach Gunawan menegaskan, di tengah dinamika geopolitik global dan disrupsi digital yang kian cepat seperti sekarang dipelukan pentingnya perubahan navigasi kepemimpinan.
Dalam Kajian Pengembangan Wawasan bertajuk bertajuk “Internal Arsitektur Mindset Seri ke-8” pada Selasa (30/6/2026), Coach Gunawan mengimbau para pemimpin di semua tingkatan—mulai dari skala individu, organisasi daerah (DPW dan DPD), hingga nasional—untuk tetap tenang dan adaptif menghadapi era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible).
Coach Gunawan menjelaskan bahwa kerangka kerja VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) kini dinilai tidak lagi memadai sebagai satu-satunya kacamata dalam membaca realitas.
Era BANI membawa kerapuhan sistemik, kecemasan masif, serta ledakan informasi yang kerap memicu kelelahan kognitif (intellectual fatigue), sehingga menghadirkan berbagai tantangan baru.
Menurutnya, arus informasi yang bising dapat merusak fokus dan pengambilan keputusan jika batin pemimpin sedang dalam kondisi riuh (noisy of mind).
“Saat ini kita tenggelam dalam lautan data, tetapi kerap kehausan akan gagasan dan kebijaksanaan. Arus informasi yang terlalu bising dapat memicu intellectual fatigue, sehingga area otak yang bertugas mengambil keputusan tidak bekerja maksimal,” ujar Coach Gunawan.
Wakil Sekjen Bidang Komunikasi Organisasi Partai Gelora ini mengatakan, ada tiga langkah navigasi individu untuk merespon ketidakpastian tersebut, yang menekankan pada tiga poin utama yang wajib dimiliki seorang pemimpin. Yakni Jeda Kognitif, ketenangan jiwa dan Pengembangan High Order Thinking Skills.
Jeda Kognitif (Cognitive Pause) adalag mengambil jarak sejenak dari masalah (disassociate) untuk menjernihkan pikiran.
Langkah ini krusial guna menghindari pengambilan keputusan berisiko saat pikiran dalam kondisi bising (noisy of mind) atau batin mengalami gejolak (inner turmoil).
Sedangkan Ketenangan Jiwa (Sakinah Qolbiah), yakni menguatkan ketahanan batin (anti-fragile) dengan cara menyelesaikan residu emosi negatif masa lalu serta bersikap rida dan ikhlas atas qada dan qadar.
Sementara Pengembangan High Order Thinking Skills (HOTS) bertujuan mendorong kapasitas berpikir tingkat tinggi yang mencakup kemampuan menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan menciptakan solusi (create).
Gunawan juga menambahkan bahwa rasa ikhlas dan ketenangan jiwa bukan sekadar urusan emosional, melainkan hasil dari aktivasi kognitif.
Salah satunya dengan melakukan sense making atau connecting the dots—yaitu mengolah limpahan data menjadi hikmah, kompas, dan arah tujuan yang jelas, bukan sekadar membawa peta jalan lama yang usang.
Untuk membantu memproses emosi negatif seperti marah, sedih, takut, dan rasa bersalah, ia membagikan empat pertanyaan kunci (4 Ultimate Questions).
Yaitu mencari maksud baik Tuhan di balik peristiwa (esensi), manfaat bagi diri sendiri (internal), manfaat bagi orang lain (eksternal), serta langkah strategis terkecil yang bisa dieksekusi hari ini.
Selain skala individu, Gunawan membeberkan tiga pilar utama bagi organisasi agar tetap relevan di tengah ketidakpastian. Pertama Kesamaan Nilai Dasar, kedua Kelincahan Organisasi, Komitmen Jangka Panjang.
Kesamaan Nilai Dasar (Ideology) merupakan gagasan besar, nilai moral, dan spiritualitas sebagai perekat utama gerakan, bukan sekadar kepentingan jangka pendek.
Lalu, Kelincahan Organisasi (Agility) merupakan kemampuan adaptasi strategi yang ditopang oleh Epistemic Humility—yakni kerendahan hati intelektual para pemimpin senior untuk melepaskan pola lama dan menyambut ide-ide serta kader baru.
Kemudian Komitmen Jangka Panjang (Stamina) merupakan Ketahanan niat seluruh elemen organisasi untuk terus berkontribusi membangun peradaban bangsa dalam jangka panjang.
Sebagai penutup, Coach Gunawan mengajak fungsionaris dan kader Partai Gelora melakukan pemaknaan mandiri atas materi melalui pendekatan psikologi modern Transderivational Search (TDS).
Di era post-truth, tugas pembicara atau pemimpin hanyalah menyajikan fragmen data (connecting the dots), sementara makna paling kuat dan memberdayakan adalah makna yang dirangkai sendiri oleh audiens menggunakan akal terbaiknya.
“Kerentanan di era BANI memberikan kesempatan yang sama bagi kita semua. Selama pemimpin memiliki ketenangan, mampu menarik makna, dan memiliki posisi strategis, ketidakpastian ini justru menjadi peluang emas untuk bertumbuh,” pungkas Coach Gunawan.

No comments