Mau Investasi di Sektor Riil, Zuhrif Hudaya Ungkap Pentingnya Paham ‘Politik Bisnis’ dan Budaya RUPS

Partaigelora.id—Ketua Koordinator (Korbid) Ekonomi & Bisnis DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Muhammad Zuhrif Hudaya mengatakan, investasi tidak melulu soal saham atau kripto.

Dimana sektor riil menawarkan potensi pertumbuhan yang nyata dan berdampak langsung pada perekonomian.
Namun, berinvestasi di sektor riil melalui pendirian Perseroan Terbatas (PT) membutuhkan lebih dari sekadar modal finansial.

Kunci utama agar perusahaan dapat tumbuh kuat, profesional, dan berkelanjutan terletak pada semangat kolaborasi antar-pihak serta pemahaman yang utuh terhadap tata kelola perusahaan (good corporate governance).

“Tetapi kolaborasi investasi di sektor riil sering kali hancur di tengah jalan bukan karena kekurangan modal, melainkan akibat ketiadaan kesepahaman mengenai dinamika politik bisnis, politik dagang, serta ketidakdisiplinan dalam memanfaatkan RUPS,” kata Zuhrif.

Hal itu disampaikan Zuhrif dalam Kajian Pengembangan Kawasan dengan tema ‘Biar Gak Kena Tipu! Begini Cara Benar Investasi di Sektor Riil Lewat Perseroan Terbatas’ pada Selasa (21/7/2026) malam.

Zuhrif menyoroti, banyak pelaku usaha atau investor pemula yang sering kali ragu untuk berkolaborasi karena khawatir akan ketidakcocokan.

Padahal, berbisnis bersama ibarat shalat berjamaah, membutuhkan kedisiplinan mengikuti aturan, namun mendatangkan hasil dan nilai yang jauh lebih besar.

“Untuk membangun perusahaan yang bertumbuh, profesional, dan berkelanjutan, kolaborasi adalah sebuah keniscayaan. Jika jalan sendiri, kita butuh waktu sangat panjang. Investasi pada PT tertutup tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga kolaborasi dengan pihak-pihak yang memiliki keunggulan berbeda,” ujar Zuhrif.

Menurut Zuhrif, dalam perjalanan membangun Perseroan Terbatas tertutup, dinamika akan sering muncul, terutama soal penentuan siapa yang mengelola operasional, bagaimana negosiasi pasar dilakukan, hingga pembagian peran strategis adalah hal yang sangat krusial.

Tanpa pemahaman hukum dan tata kelola yang benar, gesekan antar-investor tidak dapat terhindarkan.

“Banyak yang diawal semangat berkolaborasi, tapi di tengah jalan merasa tidak enak atau konflik. Padahal berbisnis bareng itu ibarat salat berjamaah; ada aturan main yang harus dipatuhi bersama. Paham politik bisnis dan tata kelola PT adalah kunci agar kerja sama tetap kokoh,” ungkap Zuhrif.

Tiga Kunci Penting

Dalam kesempatan ini, Zuhrif mengatakan ada tiga kunci penting dalam menjaga keharmonisan investor untuk menjaga kelangsungan bisnis jangka panjang (long-term sustainability).

Pertama kedisiplinan menggunakan Forum RUPS, kedua kedisiplinan menggunakan Forum RUPS dan ketiga pengelolaan laba yang bijak (compounding).

Kedisiplinan menggunakan Forum RUPS maksudnya adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) adalah forum tertinggi perusahaan untuk mengambil keputusan strategis (pengangkatan direksi/komisaris, pembagian dividen, penambahan modal, hingga akuisisi).

“Seluruh kritik, evaluasi, dan gagasan pemegang saham wajib disampaikan di dalam RUPS, bukan di luar forum atau menjadi polemik di media public,” kata dia.

Sedangkan kejelasan peran dan batasan kewenangan, yaitu Pemegang Saham adalah pemilik modal yang memiliki hak atas dividen dan laporan keuangan berkala.

Lalu, Dewan Komisaris adalah Pengawas dan pemberi nasihat yang mewakili kepentingan pemegang saham.

Selanjutnya Direksi adalah eksekutif operasional yang memimpin perusahaan dan bertanggung jawab penuh di forum RUPS.

“Saya perlu sampaikan di sini sebuah catatan, bahwa pemegang saham pasif tidak boleh mencampuri operasional harian (day-to-day management) yang menjadi domain Direksi,” katanya.

Sementara pengelolaan laba yang bijak (compounding), yaitu Investor diajak untuk tahan banting dan tidak terburu-buru menuntut pembagian dividen di tahun-tahun awal (early stage).

“Keuntungan bisnis sebaiknya ditahan (retained earnings) dan dikomposisikan kembali (compounding) untuk memperbesar ekuitas serta mempercepat ekspansi usaha,” katanya.

Zuhrif menjelaskan bahwa untuk mempercepat pertumbuhan sebuah PT tertutup sebelum nantinya berkembang menjadi perusahaan terbuka (Tbk), perusahaan idealnya mengintegrasikan empat pilar modal utama:

Yakni pertama kapital (modal uang) dimana ketersediaan dana segar yang disetorkan secara nyata sebagai porsi kepemilikan saham.

Kedua skill (keahlian eksekusi), dimana kemampuan teknis dan manajemen dalam mengelola operasional bisnis serta sumber daya manusia.

Ketiga akses pasar (market access), yaitu penguasaan dan pemahaman atas target pasar, baik dalam ranah Business-to-Business (B2B), Business-to-Consumer (B2C), maupun Business-to-Government (B2G).

Keempat akses kebijakan adalah kelancaran dalam menavigasi regulasi, perizinan, legalitas, hingga perpajakan.

Dengan penguasaan empat fundamental bisnis utama tersebut, kata Zuhrif, sangat penting dilakukan agar investasi tidak berhenti di tengah jalan atau berujung pada potensi kerugian.

Zuhrif menekankan bahwa edukasi mendalam mengenai business process, forecast realistis, hingga pemenuhan regulasi pemerintah (seperti perizinan dan KBLI) akan terus dilakukan secara konsisten.

Langkah ini menjadi benteng utama agar investor tidak terjebak dalam praktik investasi bodong maupun kegagalan manajemen.

“Investasi di sektor riil adalah maraton, bukan lari cepat. Kalau kita paham ilmunya, paham prosesnya, dan taat pada aturan RUPS, perusahaan yang kita bangun akan bernilai tinggi dan berdaya saing kuat,” katanya.

Karena itu, para pebisnis pemula, lanjutnya, harus menyiapkan langkah strategis berikutnya, yakni dengan mempertemukan tiga kelompok pelaku ekonomi (business matching) untuk saling berkolaborasi dan memperkuat ekspansi bisnis nasional.

Ketiga kelompok yang akan diintegrasikan tersebut mencakup pemilik usaha existing (UMKM/CV/PT) yang membutuhkan scale-up modal, pekerja/profesional yang memiliki dana mengendap dan ingin berinvestasi pasif, serta lulusan muda (fresh graduate) yang kaya gagasan namun membutuhkan pendampingan keahlian serta akses permodalan.

“Hambatan terbesar pertumbuhan ekonomi riil saat ini bukanlah ketiadaan modal, melainkan minimnya jembatan yang menghubungkan pihak-pihak yang memiliki keunggulan saling melengkapi (complementary skills),” pungkasnya.

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X