Partai Gelora: Saat Iman Turun, Jangan Lepas Ikatan dengan Agama

Partaigelora.id – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia kembali menggelar program Ngaji Politik dalam Serial Spiritualitas Politik. Mengusung tema ‘Saat Iman Turun, Jangan Lepas Ikatan Ini!’, acara ini disiarkan secara langsung melalui berbagai kanal digital resmi partai pada Rabu (28/10/2026) malam.

Hadir sebagai narasumber, Ketua Bidang Syiar dan Dakwah DPP Partai Gelora, K.H. Muhith Ishak, Lc., M.A. Dalam kajiannya, ia mengupas dinamika keimanan dalam dunia politik serta bagaimana menjaga keteguhan prinsip di tengah pasang surut spiritualitas (fluktuasi iman).

K.H. Muhith Ishak membuka pemaparannya dengan menjelaskan bahwa politik masuk dalam ranah humaniora atau ilmu sosial yang sifatnya dinamis, tidak seperti ilmu eksak yang pasti. Oleh karena itu, para pejuang politik kerap dihadapkan pada situasi dan realitas yang tidak ideal.

Dalam dinamika kehidupan tersebut, keimanan seseorang tidak selalu berada di puncak. Iman memiliki sifat pasang surut—bisa bertambah karena amal saleh dan berkurang karena perbuatan maksiat.

“Bahkan kalangan elit seperti para sahabat Nabi dari Pasukan Badar pun pernah mengalami dinamika fluktuasi iman ketika berselisih paham terkait harta rampasan perang,” ujar Kiai Muhith.

Ia menekankan bahwa berbagai penyimpangan sosial, termasuk masalah korupsi yang kerap menjadi keprihatinan bangsa, pada dasarnya berakar dari krisis keimanan.

Jika iman seseorang tidak sedang mengalami krisis, keimanan tersebut akan menjadi benteng yang menghalanginya dari perbuatan tercela.

Menurut dia, ketika seseorang tengah menghadapi masalah hukum atau musibah, respons yang tepat bukanlah menjauh dari agama, melainkan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kiai Muhith mencontohkan bagaimana teladan Rasulullah SAW dalam memperlakukan sahabat yang sedang dalam kondisi tidak bersih atau khilaf.

Alih-alih menjauhkan atau mengucilkan, Nabi Muhammad SAW justru merangkul, membimbing, dan mendoakan mereka agar kembali kepada kebaikan.

Baca juga:

Kiai Muhith lantas menyampaikan kisah inspiratif dari sahabat Nabi, Ka’ab bin Malik, saat menghadapi ujian berat berupa boikot karena tidak ikut Perang Tabuk.

Di tengah masa-masa sulit dan tekanan psikologis tersebut, Ka’ab sempat diuji dengan rayuan dan surat provokasi dari Raja Ghassan (Syam) yang mencoba memprovokasinya untuk bergabung dengan mereka, karena diangggap telah dikucilkan oleh Rasulullah SAW.

Namun, berkat keteguhan iman, dukungan dari sesama orang saleh, serta kesadaran untuk menolak segala bentuk kebohongan dan provokasi, Ka’ab berhasil melewati ujian tersebut dengan selamat.

Ka’ab bin Malik tetap memilih bertahan dalam ajaran Islam di tengah hukuman pengucilan yang ia jalani.

Menurut Kiai Muhith, salah satu dorongan terkuat Ka’ab adalah harapan mendasar agar dirinya tetap diakui sebagai seorang muslim dan kelak disalatkan oleh Rasulullah SAW ketika wafat.

“Prinsip inilah yang menjaga seorang pejuang agar tidak memutus hubungannya dengan Islam, bagaimanapun kondisi imannya. Yang terpenting adalah tetap berada di dalam lingkaran Islam hingga akhir hayat,” ungkapnya

Pesan Kejujuran dan Lingkungan yang Baik

Dalam kesempatan ini, Ketua Bidang Syiar dan Dakwah DPP Partai Gelora ini menekankan bahwa proses menjaga keharmonisan di dalam barisan ini membutuhkan pendekatan dua arah:

Pertama pihak yang bersalah dituntut untuk memiliki kesadaran, kerendahan hati, dan kemauan kuat untuk bertobat (taubatan nasuha).

Kefdua pihak yang berada dalam barisan kebaikan hendaknya meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW dengan cara terbuka menerima mereka yang ingin memperbaiki diri, bukan malah menghakimi atau mengasingkannya.

Dengan memadukan dorongan tobatan pribadi dan sikap inklusif masyarakat, dinamika keimanan yang pasang surut dapat dikelola secara positif demi menjaga keutuhan ukhuwah dan nilai-nilai perjuangan Islam.

Mengakhiri kajian Ngaji Politik tersebut, Kiai Muhith menegaskan bahwa kunci utama agar selamat dari berbagai godaan politik dan krisis keimanan adalah dengan senantiasa menjaga kejujuran serta memilih lingkungan pertemanan yang saling menguatkan dalam kebaikan.

Ia menekankan pemahaman  pada Surat At-Taubah ayat 119: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan jadilah bersama orang-orang yang benar (jujur).”

Melalui ayat ini, Partai Gelora mengingatkan para kadernya dan masyarakat luas bahwa di tengah dinamika politik yang pelik dan fluktuasi iman yang sewaktu-waktu bisa terjadi, seorang mukmin harus senantiasa menjaga kejujuran serta tetap berada di dalam lingkaran nilai-nilai Islam.

Kajian ditutup dengan doa kaffaratul majelis (Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik) dengan harapan pesan-pesan spiritualitas ini dapat memperkokoh integritas dan komitmen para kader Partai Gelora dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X