Pemimpin yang Takut Konflik akan Ciptakan ‘Bom Waktu’ dan Masalah yang Jauh Lebih Besar

Partaigelora.id-Rasa sungkan yang dibungkus dengan dalih menjaga harmoni seringkali disalahartikan sebagai sikap bijak. Padahal hal itu terkadang sebagai bentuk ketakutan seorang pemimpin dalam menghadapi konflik . Sikap tersebut tentu saja bisa menjadi bom waktu yang akan melahirkan masalah jauh lebih besar bagi organisasi.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi DPP Partai Gelora Coach Gunawan dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian bertajuk ‘Pemimpin yang takut konflik akan menciptakan masalah yang lebih besar’ pada Selasa (8/9/2026), mengatakan, bahwa fenomena menghindari konflik kerap terjadi di berbagai lini kehidupan—mulai dari rumah tangga, masyarakat, organisasi kecil, hingga korporasi bernilai tinggi.

“Seringkali, apa yang dianggap sebagai kebijaksanaan atau kedewasaan moral hanyalah sebuah ilusi yang dikendalikan oleh rasa cemas dari amigdala di dalam otak,” kata Coach Gunawan.

Untuk memperkuat analisisnya, ia mengangkat sejumlah studi kasus global. Kegagalan raksasa ponsel Nokia pada masa transisi menuju era iPhone diungkapkan berakar dari budaya korporasi yang toksik.

Para manajer tingkat bawah dan menengah tidak memiliki keberanian menyampaikan sinyal ancaman pasar kepada jajaran pimpinan puncak karena takut direspons dengan kemarahan atau penolakan.

Kasus serupa terjadi pada skandal keselamatan kendaraan Toyota di Amerika Serikat, di mana ketidakjujuran manajemen dalam menyampaikan data teknis secara transparan kepada publik dan regulator berujung pada denda fantastis senilai 1,2 miliar dolar AS.

Di level lokal Indonesia, budaya ewuh pakewuh juga kerap menjebak individu untuk menyimpan fakta penting demi menghindari ketegangan sesaat, yang pada akhirnya memicu akumulasi masalah layaknya utang teknis (technical debt).

Lebih lanjut, Coach Gunawan merinci empat bentuk nyata penghindaran konflik yang kerap menjangkiti organisasi, yakni harmoni palsu, konsensus semu, penghindaran keputusan sulit, dan komunikasi yang tidak selesai.

Harmoni palsu akibat masalah dibiarkan menggantung demi menjaga kenyamanan semu dan kedok kesopanan. Sedangkan konsensus semu dipicu oleh keputusan rapat disepakati secara diam-diam tanpa suara penolakan, namun berbalik menjadi riuh dan penuh protes di luar ruang rapat (seperti di grup percakapan).

Sementara penghindaran keputusan sulit, karena pemimpin menunda memilih opsi tegas karena khawatir ada pihak yang sakit hati.

Baca juga:

“Kemudian komunikasi yang tidak sselesai akibat pesan krusial gagal tersampaikan secara efektif akibat tertutup oleh lapisan basa-basi yang terlalu Panjang,” katanya.

Karena itu, Coach Gunawan mengatakan, seni mengelola konflik itu menjadi tantangan utama bagi seorang pemimpin.

Ia lantas membedakan antara diam karena ketakutan (respons amigdala) dan diam strategis (kendali akal) dari sudut pandang neurofisiologis.

Dimana raksi tubuh yang jujur seperti jantung berdebar, keringat dingin, atau dada menyempit menandakan respons kecemasan bawah sadar.

“Sebaliknya, pemimpin yang matang akan menggunakan jeda secara strategis untuk melakukan observasi dan kalkulasi objektif sebelum mengambil keputusan terbaik secara cepat dan terukur,” katanya.

Kebiasaan menunda masalah yang kerap melanda para pemimpin, menurut dia, tidak terjadi secara kebetulan.

Ada mekanisme bawah sadar yang bekerja secara konstan dan menguasai arsitektur keputusan seseorang dalam menghadapi dinamika organisasi. Ada tiga mekanisme penggerak bawah sadar yang memicu ketakutan individu terhadap konflik.

Mekanisme pertama adalah peta usang dari pengalaman masa lalu (old map), di mana riwayat interaksi buruk dengan pemimpin toksik atau trauma sosial di masa lampau membentuk kesimpulan otomatis bahwa kejujuran adalah hal yang berbahaya.

Mekanisme kedua ialah jebakan validasi sosial, yakni dorongan psikologis manusia untuk selalu disukai kelompok sehingga mengorbankan penyampaian fakta objektif.

Mekanisme ketiga atau terakhir adalah anatomi penundaan atau hyperbolic discounting, di mana kalkulasi otak yang tidak akurat membesar-besarkan rasa sakit konflik di masa depan, sehingga individu memilih mengambil jalan pintas dengan mengobati gejala ketimbang menyelesaikan akar masalah.

Coach Gunawan menegaskan bahwa banyak pemimpin yang mengalamai dilema kepemimpinan. Dimana paling berbahaya bukanlah yang salah mengambil keputusan, melainkan pemimpin yang tidak mengambil keputusan sama sekali.

“Sikap abai dan menolak mengambil sikap justru melunturkan esensi kepemimpinan dan menjerumuskan organisasi ke dalam blind spot,” katanya.

Coach Gunawan membagikan tiga langkah konkret yang dapat dilatih secara konsisten untuk mengatasi mentalitas ini seperti melakukan intervensi skala kecil, fokus pada perilaku, bukan personal dan gunakan pertanyaan reflektif.

Intervensi skala kecil, yakni mulai melatih keberanian berbicara dari hal-hal kecil di lingkungan terdekat, seperti pasangan atau anggota keluarga, sebelum menghadapi konfrontasi besar di organisasi.

Fokus pada perilaku, bukan personal dapat diterapkan prinsip accept the person, change the behavior dengan memisahkan antara masalah yang harus diselesaikan dengan integritas pribadi orang tersebut.

Gunakan pertanyaan reflektif dengan cara menenangkan respons panik amigdala dengan mengaktifkan kembali akal sehat (prefrontal cortex) melalui pertanyaan mendasar:

“Jika masalah ini terus dibiarkan dan tidak ada yang berani bersuara, kehancuran apa yang akan menimpa organisasi kita?”

Coach Gubawan mengatakan, keberanian dan kejujuran merupakan modal utama yang paling dicari oleh masyarakat global di tengah ketidakpastian zaman yang serba kompleks.  Sebab, tanpa kedua elemen tersebut, ketangguhan seorang pemimpin tidak akan terbentuk secara utuh.

Keberanian yang dalam istilah Islam, lanjut dia,  disebut sebagai asyaja’ah. Menurutnya, keberanian sejati merupakan perpaduan harmonis dari dua elemen penting, yaitu Al-Itminan (ketenangan jiwa) dan At-Tafaul (optimisme):

Al-Itminanadalah kondisi di mana seseorang telah selesai dengan luka-luka dan kegagalan masa lalunya, sehingga pengalaman buruk tidak lagi menjadi beban, melainkan bertransformasi menjadi data serta sumber daya berharga.

Sedangkan At-Tafauladalah Sikap mental yang jelas arah tujuannya, mengetahui dengan pasti apa yang ingin dicapai di masa depan.

Coach Gunawan menegaskan bahwa perpaduan antara ketenangan jiwa dan optimisme ini harus selalu divalidasi oleh sifat jujur.

“Apabila unsur kejujuran itu hilang dari diri seseorang, maka yang muncul bukanlah keberanian yang substansial, melainkan tindakan gegabah dan kekonyolan dalam mengambil keputusan,” katanya.

Partai Gelora mendorong lahirnya tipe kepemimpinan baru (street leadership)—yakni para pemimpin yang tidak lahir dari teori rumit di ruang kelas, melainkan ditempa oleh kejujuran, keberanian, dan ketangguhan dalam menghadapi realitas kehidupan sehari-hari.

Ia mengajak mengajak seluruh kader dan elemen bangsa untuk senantiasa merawat ketenangan serta optimisme, memaksimalkan potensi sumber daya yang ada di sekeliling, dan terus melangkah menghadirkan perubahan terbaik bagi masa depan Indonesia.

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X