Partaigelora.id-Pemimpin sejati tidak dituntut untuk menjadi sosok yang sempurna, melainkan figur yang memiliki kesadaran diri (self-awareness) dan berkomitmen untuk terus bertumbuh. Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi DPP Partai Gelora, Coach Gunawan.
Dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian, Batch 10 — The Integrated Leader: Bukan Sempurna, Tapi Sadar dan Terus Bertumbuh pada Selasa (11/8/2026) malam, Coach Gunawan menekankan pentingnya kecerdasan kontekstual di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, dinamis, dan penuh ketidakpastian (VUCA dan BANI).
Dalam pemaparannya, Coach Gunawan menjelaskan metafora kepemimpinan ibarat sebuah kapal yang mengarungi samudra. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu membedakan antara ‘lunas’ dan ‘layar’.
“Lunas adalah fondasi dasar kapal yang mewakili nilai, prinsip, dan integritas yang tidak boleh berubah. Sedangkan layar adalah kelincahan kognitif (cognitive flexibility) yang harus dapat disesuaikan mengikuti arah angin agar kapal bisa mencapai tujuan,” ujar Coach Gunawan.
Ia menyoroti empat jebakan psikologis (leadership traps) yang kerap menghambat efektivitas kepemimpinan dan pertumbuhan organisasi.
Hal ini, kata Coach Gunawan, berulang kali ia sampaikan untuk menjadi pengingat agar tidak masuk perangkap dalam jebakan kepemimpinan.
Pertama adalah jebakan topeng (The Mask Trap). Yakni kecenderungan pemimpin untuk enggan mengakui keterbatasan diri karena takut integritasnya diragukan.
Coach Gunawan mengambil contoh kasus kegagalan startup Theranos di AS sebagai dampak fatal dari kebohongan dan overclaim akibat takut berkata jujur. “Untuk itu saya mengajak para pemimpin untuk tampil otentik dan apa adanya,” ujar dia.
Kedua jebakan menunda (Procrastination Trap). Yakni sikap menahan tindakan demi menunggu kondisi, momentum, atau suasana hati (mood) yang dianggap sempurna.
“Tundalah pekerjaan menunda-nunda. Perbaikan dan evaluasi tidak akan pernah ada jika eksekusi tidak pernah dimulai,” tegasnya.
Ketiga jbakan cermin (Mirror Trap). Yakni ksalahan mengukur kapasitas diri dengan standar ideal orang lain (comparative delusion).
Hal ini brkaca pada kisah Nabi Daud AS saat berhadapan dengan Jalut, pemimpin diajak untuk tidak berfokus pada kelebihan pihak lain atau kelemahan diri, melainkan memaksimalkan sumber daya yang ada di tangan.
Keempat jebakan merasa selesai (Finish Trap). Yakni skap menutup diri dari saran dan metode baru karena merasa sudah berpengalaman atau pakar.
“Padahal pmimpin hebat seperti atlet dunia Roger Federer (atlet tenis) justru terus memperbarui diri agar tetap relevan dan bertumbuh,” katanya.
Karena itu, Coach Gunawan mengingatkan bahwa dalam kepemimpinan tidak ada istilah stagnan. Berdasarkan hukum The Law of the Lid, sebuah organisasi tidak akan pernah berkembang melebihi pertumbuhan pemimpinnya.
“Pilihan kepemimpinan hanya ada dua: grow or decline (bangkit atau lumpuh). Oleh karena itu, mari melepaskan topeng, fokus pada eksekusi, dan terus menaikkan standar kapasitas diri bersama-sama,” katanya.
Kemimpinan yang Otentik
Dalam kesempatan ini, Wasekjen Bidang Komunikasi Organisasi Partai Gelora Coach Gunawan menegaskan, pentingnya kepemimpinan yang otentik bagi seorang pemimpin.
Sebab, alasan mendasar adalah seorang pemimpin wajib memiliki kerendahan hati intelektual (epistemic humility) serta keberanian untuk jujur pada keterbatasan diri.
Ia menilai bahwa pemimpin sejati tidak didefinisikan dari ketiadaan cela, melainkan dari keberaniannya untuk terus belajar (never stop to learn) dan menerima kenyataan tanpa dibayangi ego.
Coach Gunawan mengataka, bahwa pelajaran adaptasi dari Roger Federer, kisah legenda tenis dunia di puncak kejayaannnya berani melakukan perombakan pada teknik pukulan forehand-nya—sebuah langkah berisiko tinggi bagi atlet profesional senior, patut dijadikan contoh sebagai seorang pemimpin sejati
“Saat ditanya mengapa ia merombak pukulan yang justru membawanya meraih belasan gelar juara dunia, Federer menjawab ringkas: ‘Saya ingin bertahan lebih lama menjadi juara, karena para pemain muda mulai mempelajari pola memukul saya,’” ungkap Coach Gunawan.
Menurutnya, hal ini adalah bentuk nyata dari sikap qabilut taghyir (hati yang siap berubah). Federer mengubah metode demi relevansi, tanpa mengubah tujuan utamanya untuk menang.
Lalu, muncul pertanyaan kritis mengenai dampak psikologis, bahwa dirinya sebenarnya menutup-nutupi kelemahan demi citra diri sempurna.
Coach Gunawan membedakan dua bentuk dampak negatif saat emosi dan keterbatasan dipendam: penyakit fisik akibat pikiran (psikosomatik) dan ledakan emosi tak terkontrol (abreaction).
“Menutupi kekurangan hanya menambah beban di pundak. Sebaliknya, saat kita jujur dan terbuka, kita sedang menaikkan social currency (nilai sosial) kita sebagai pemimpin yang otentik,” terangnya.
Ia kemudian mencontohkan pemimpin sejati lainnya seperti keberanian pendiri Alibaba, Jack Ma, yang tak ragu mengakui keterbatasan fisiknya di hadapan publik.
“Sikap tersebut justru mengundang penghormatan dan membebaskan dirinya dari beban citra palsu,” katanya.
Coach Gunawan berpandangan ada tiga kunci untuk penguatan bagi para pemimpin untuk memperkuat kapasitas internal (lead yourself):
Pertama adalah seorang pemimpin harus bisa membedakan antara Epistemic humility (Kerendahan Hati) dengan Rendah Diri (Epistemic Humility vs Rendah Diri).
“Rendah diri membuat seseorang pasif dan minder (“pendapat saya pasti salah”). Sementara kerendahan hati intelektual membuat pemimpin berani berpendapat sekaligus berani direvisi dan dikritik,” katanya.
Kedua adalah teknik pertanyaan dalam memimpin. Dimana menghindari sikap otoriter dengan membiasakan bertanya daripada memberi perintah baku.
“Pertanyaan seperti “Kapan kira-kira target ini bisa diselesaikan?” akan melahirkan komitmen internal pada tim,” jelasnya.
Ketiga penerimaan diri (Self-Acceptance). Dimana untuk menegaskan, bahwa perbedaan antara menyerah dan menerima (acceptance).
Menyerah berarti menyalahkan keadaan, sedangkan self-acceptance adalah menyadari kenyataan sebagai pijakan untuk mengambil ikhtiar terbaik.
“Dalam kamus seorang leader, tidak ada kata gagal yang ada hanyalah umpan balik (there is no failure, only feedback). Kadang kita menang, kadang kita belajar dan bertumbuh,” tutup Coach Gunawan.

No comments