Pengurus dan Kader Partai Gelora Diminta Kuasai Kelincahan Berpikir di Era VUCA

Partaigelora.id-Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia , Coach Gunawan, mengatakan pentingnya cognitive flexibility (kelincahan berpikir) bagi para kader dan pemimpin organisasi dalam merespons dinamika perubahan zaman yang cepat dan kompleks di era Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity (VUCA).

Sebab, hal ini berkaitan dengan ketahanan mental dan adaptabilitas organisasi terhadap terpaan badai dalam menyerap tekanan, kemudian bangkit kembali ke posisi tegak seperti perbedaan antara pohon beringin dan pohon bambu.

Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual bertajuk “Cognitive Flexibility: Kelincahan Berpikir di Era VUCA”pada Selasa (31/3.2026) malam.

“Kelincahan berpikir atau cognitive flexibility adalah kapasitas mental otak kita untuk berpindah dari satu konsep ke konsep lain, serta menyesuaikan strategi tanpa menggadaikan atau kehilangan arah dari tujuan utama,” tegas Coach Gunawan.

Ia juga menekankan bahwa penyesuaian strategi di tengah perubahan situasi bukanlah bentuk kompromi terhadap prinsip moral atau tindakan Machiavellian, melainkan bentuk kecerdasan adaptiif.

Namun, mengubah cara dan rute untuk mencapai cita-cita besar merupakan bentuk adaptabilitas kognitif yang sah dan diperlukan.

Wasekjen Bidang Komunikasi Organisasi Partai Gelora ini  membedakan secara tegas antara identitas/tujuan (kompas) yang bersifat permanen dengan strategi/kendaraan yang sifatnya dinamis dan dapat disesuaikan.

Guna membangun kelincahan kognitif yang berdampak, Coach Gunawan menggarisbawahi tiga parameter utama kerangka berpikir.

Pertema berpikir  efektif, yakni strategi yang dipilih mampu menyelesaikan masalah dengan tepat. Kedua berpikir relevan adalah langkah yang diambil tetap berpedoman pada tujuan akhir.

“Dan ketiga berpikir berdampak  (impactful),  yakni enghasilkan nilai positif serta kontribusi nyata bagi masyarakat dan organisasi,” katanya

Sementara dari sudut pandang mekanisme kerja otak atau neuroscience, ia menjelaskan bahwa proses berpikir dikendalikan oleh prefrontal cortex yang menaungi working memory (peta tujuan) dan inhibitory control (rem emosional).

Baca juga:

“Ketika terjadi ketidakcocokan antara rencana dan kenyataan di lapangan, bagian otak yang dinamakan Anterior Cingulate Cortex (ACC) yang kerap terkecoh oleh trauma atau memori masa lalu. Alarm otak atau ACC akan aktif memberikan sinyal peringatan dini berupa rasa ragu atau cemas,” katanya.

Namun, Coach Gunawan mengingatkan bahwa sistem alarm alami otak ini sering kali mati akibat bias konfirmasi—kecenderungan mempertahankan cara lama yang nyaman—serta ketakutan emosional akan penilaian orang lain.

Karena itu, ia mengajak seluruh kader dan pengurus untuk menerapkan prinsip unlearning (melepaskan ego dan pola lama) serta relearning (mempelajari pendekatan baru) agar organisasi tetap dinamis, adaptif, dan mampu memenangkan tantangan di masa depan.

“Langkah ini dinilai penting agar setiap alokasi waktu dan sumber daya dalam organisasi dapat bertransformasi menjadi capaian yang berdampak nyata,” katanya.

Memiliki Masa Kadaluarsa

Dalam kesempatan ini, Wasekjen Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora, Coach Gunawan, mengatakan  kegagalan beradaptasi bagii kader dan pengurus partai sering kali disebabkan oleh keterjebakan pada pola pikir biner (binary thinking) serta ketidakmampuan memisahkan antara prinsip (tujuan) dan metodologi (cara).

Ia menjelaskan bahwa dalam konteks organisasi dan politik, cara atau strategi yang harus dilakukan bersikap lentur dan dinamis, sementara visi besar organisasi merupakan hal permanen yang tidak dapat ditawar.

“Strategi dan metodologi selalu memiliki masa kadaluarsa (expired date). Kelincahan kognitif menuntut kita untuk berani melepaskan strategi masa lalu yang tidak lagi efektif, tanpa pernah menggadaikan tujuan mulia organisasi,” ujarnya.

Menurut dia,  untuk meengatasi jebakan zona nyaman dan alarm palsu tersebut, ada tiga hal yang bisa dilakukan dalam arsitektur kelincahan kognitif, yakni unlearning & relearning, embracing paradox dan  perspective shifting.

Adapun unlearning & relearning adalah keberanian melepaskan ego keberhasilan masa lalu serta mempelajari pendekatan baru yang relevan dengan realitas saat ini (seperti transisi dari kampanye door-to-door atau spanduk menuju pemanfaatan algoritma media sosial).

Sedangjkan embracing paradox adalah menghentikan kebiasaan membenturkan dua opsi (seperti kualitas vs kecepatan) dan mulai mengombinasikannya secara efektif.

Sementara perspective shifting adalah Melihat persoalan melalui tiga kacamata berbeda: kacamata diri/organisasi, lensa kompetitor (lawan politik), serta perspektif publik yang terdampak.

Ia kemudian membagi membagi tipe kepemimpinan dalam arsitekur kelincahan berpikir menjadi   dalam empat kuadran berdasarkan tingkat fleksibilitas dan komitmen terhadap prinsip:

Pertama dogmatis,yaitu  kaku terhadap cara dan menganggap metodologi sebagai prinsip sakral (diibaratkan pohon beringin yang mudah patah diterjang badai).

Kedua opportunis, yaitu fanatik pada cara tertentu tanpa memiliki kejelasan arah tujuan jangka panjang.

Ketiga adaptif/lincah,yaitu memegang teguh tujuan utama tetapi sangat fleksibel dan kreatif dalam menyusun strategi (diibaratkan pohon bambu).

Keempat kompromis:, yaitu tidak memiliki arah dan rela menggadaikan prinsip demi keuntungan sesaat.

Sebagai penutup, ia memperkenalkan metode Inversion Thinking (pemikiran terbalik) karya Charlie Munger untuk menguji efektivitas perencanaan serta mendeteksi blind spot (titik buta).

Coach Gunawan mengajak kader dan pengurus untuk merancang skenario keberhasilan, dengan menyusun simulasi mengenai hal-hal yang dapat menyebabkan kegagalan total, lalu menarik hasilnya ke masa kini untuk merumuskan mitigasi risiko yang presisi.

“Satu-satunya parameter utama dalam menjajal berbagai cara baru adalah memastikan apakah langkah tersebut diridai oleh Allah SWT. Selama ada keridaan-Nya menuju cita-cita besar, kita harus terus bergerak maju,” katanya.

Ia meminta agar seluruh pengurus di daerah terutama  di tingkat kabupaten/kota untuk segera menggelar workshop Inversion Thinking dan evaluasi strategi organisasi.

Langkah ini diambil guna memastikan konsep kelincahan kognitif yang disampaikan tidak berhenti pada tataran teori, melainkan langsung ditransformasikan menjadi aksi nyata di lapangan menjelang agenda politik mendatang.

“Kami tidak ingin struktur daerah terjebak dalam zona nyaman atau mengulang-ulang cara kerja lama yang sudah tidak efektif. Simulasi Inversion Thinking wajib dilakukan setiap pengurus daerah untuk membedah titik lemah strategi masing-masing,” tegasnya.

DPP Partai Gelora telahmerumuskan tiga agenda utama yang harus dijalankan seluruh kader dan pengurus di era VUCA.

Yakni pertama membuat peta mmtigasi risiko berbasis Inversion Thinking, dimana setiap DPD diminta membuat pemetaan simulasi skenario “kegagalan total” di wilayah masing-masing, kemudian menyusun rencana mitigasi konkret untuk menutup celah blind spot strategi kampanye dan konsolidasi.

Kedua membuat audit metodologi kerja berupa evaluasi menyeluruh terhadap cara-cara sosialisasi politik yang dinilai sudah kadaluarsa (expired), serta percepatan adaptasi teknologi digital dan media sosial secara terukur.

Ketiga membentuk tim adaptif di tiap dapil dengan mendorong lahirnya kepemimpinan berkarakter lincah—yang kokoh memegang prinsip partai namun kreatif memanfaatkan peluang dinamika lokal.

“Melalui langkah ini, Partai Gelora optimistis mampu membentuk struktur organisasi yang tidak hanya responsif terhadap perubahan cepat (era BANI), tetapi juga tangguh dalam mengawal cita-cita besar partai di tengah persaingan politik yang makin kompetitif,” pungkasnya.

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X