Partaigelora.id-Ketahanan nasional suatu negara dalam menghadapi ancaman global tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan alutsista maupun kekuatan ekonomi semata, tetapi juga fondasi spiritual dan mental warga negaranya.
Hal tersebut menjadi benang merah dalam Kajian Pengembangan Wawasan Keislaman dengan tema ‘Agama dan Pertahanan Negara dalam Perspektif Maqasid’ pada Jumat (24/7/2026). Kajian tersebut disampaikan Ketua Divisi Kajian Pemikiran Islam Partai Gelora Abdul Rochim.
Dalam pemaparannya, Abdul Rochim menyoroti soal dinamika konflik geopolitik global yang tengah memanas tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi juga ketegangan geopolitik lainnya.
Menurutnya, hal ini menarik untuk dikaji secara mendalam guna mengetahui sejauh mena parameter kemenangan dan ketahanan sebuah negara.
Sebab, ukuran kemenangan sebuah negara dalam krisis atau peperangan tidak bisa dinilai secara sempit dari besarnya kerugian materiil atau kerusakan fisik.
“Kemenangan sejati ditentukan oleh sejauh mana suatu bangsa mampu bertahan (resilience) dalam situasi sulit jangka panjang, serta keberhasilannya dalam mempertahankan prinsip dan kepentingan stratetegisnya,” ujar Abdul Rochim.
Contoh nyata terlihat dari bagaimana ketahanan sejumlah negara seperi Iran yang tengah berperang dengan Amerika Serikat dan Israel di tengah keterbatasan mampu menjaga kedaulatan dan gagasan-gagasan mereka dari tekanan eksternal.
Ia mengatakan, kekuatan pertahanan negara itu, terbagi menjadi dua aspek utama. Pertama, aspek fisik atau kasat mata meliputi kesiapan persenjataan, dukungan fasilitas, dan penguasaan teknologi militer.
“Sedangkan yang kedua adalah aspek non-fisik atau spiritual & mental. Meliputi moril bangsa, semangat pantang menyerah, serta kemampuan konsolidasi dan mobilisasi warga negara di masa krisis,” katanya.
Baca juga :
Aspek non-fisik ini, dinilainya sebagai fondasi tak terlihat namun paling menentukan, terutama saat negara menghadapi keterbatasan sumber daya atau tekanan eksternal yang masif.
Artinya, kekuatan pertahanan suatu negara tidak hanya bertumpu pada aspek fisik atau kasat mata seperti persenjataan, tetapi juga sangat bergantung pada elemen non-kasat mata: spirit, mentalitas, serta kemampuan mobilisasi warga negara.
“Di sinilah relasi strategis antara agama dan pertahanan negara menemukan titik temunya dalam perspektif maqasid,” katanya.
Sementara mengenai sinergi timbal balik antara agama dan negara dalam perspektif Maqasid Syariah, menurut dia, terdapat hubungan saling membutuhkan (symbiosis mutualism) antara institusi agama dan negara.
Dimana kebutuhan agama terhadap negara, adalah ketika negara hadir sebagai wadah legalitas (qada’) yang mengesahkan regulasi hukum dan mengeksekusi nilai-nilai kebaikan agama.
“Jadi kolaborasi antara agama dan negara menjadi krusial karena agama membutuhkan wadah formal untuk mengeksekusi nilai-nilai kebaikannya,” jelas Abdul Rochim.
Selain itu, negara harus mampu melipatgandakan dampak kemaslahatan publik (seperti pengentasan kemiskinan dan jaminan keselamatan) serta menjamin perlindungan lima hak dasar manusia (Hifz ad-Din, an-Nafs, al-‘Aql, an-Nasl, dan al-Mal).
“Negara memerlukan agama untuk mengisi ruang etika sosial seperti nilai keadilan, kesetiakawanan (takaful ijtima’i), dan gotong royong. Ini menjadi perekat persatuan warga saat menghadapi krisis, bencana, maupun ancaman kedaulatan dan lain-lain.’ katanya.
Lebih dari itu, lanjut dia, agama juga menyuplai dorongan transendental, seperti semangat membela tanah air dan kehormatan, yang tidak bisa digantikan oleh imbalan materiil atau pendekatan rasional transaksional belaka.
“Agama memberikan motivasi spiritual yang mendalam, seperti semangat juang membela kehormatan dan keyakinan memperoleh rida Ilahi,” kata Ketua Divisi Kajian Pemikiran Islam Partai Gelora ini.
Sehingga melalui integrasi nilai-nilai keagamaan ke dalam sistem bernegara ini, akan tercipta ikatan emosional dan kesadaran kolektif yang kokoh.
Hal ini dinilai menjadi modal utama bangsa dalam membangun sistem pertahanan negara yang tangguh dan berkelanjutan.
Abdul Rochim menegaskan, agama berperan penting dalam menjaga keberlangsungan demografi melalui dorongan regenerasi yang sehat, serta membentuk mentalitas generasi muda yang tangguh di tengah arus disrupsi global.
“Melalui sudut pandang maqasid, sinergi yang harmonis antara agama dan negara diyakini mampu melahirkan ketahanan nasional yang kokoh, di mana kekuatan fisik dan persenjataan berpadu dengan ketangguhan mental serta spiritual warga negaranya,” pungkas Abdul Rochim.

No comments