Partaigelora.id– Pusat Pengembangan Wawasan DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia kembali menggelar Kajian Pengembangan Wawasan Kewirausahaan edisi ke-4 dengan tema ‘Money Management’ pada Selasa (24/3/2026) malam.
Melalui ‘Cara Cerdas Kelola Gaji: Strategi Money Management 10-30-60 itu, dibedah sebuah formulasi pengelolaan arus kas (cash flow) agar pendapatan individu, keluarga, maupun pelaku usaha tidak sekadar habis dikonsumsi, tetapi mampu bertahan dan melipatgandakan kekayaan secara berkelanjutan.
Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora Muhammad Zuhrif Hudaya mengatakan Zuhrif Hudaya menekankan bahwa tantangan utama finansial saat ini terletak pada kekeliruan pola pikir (mindset).
Menurutnya, banyak individu dan pengusaha yang gigih mengejar peningkatan omzet atau penghasilan, namun abai dalam mengelola dana yang telah didapatkan.
“Kata kunci keuangan itu sebenarnya bukan seberapa besar penghasilan yang kita peroleh, melainkan seberapa lama penghasilan tersebut dapat kita pertahankan dan seberapa besar mampu kita lipatgandakan,” kata Zuhrif.
Sedangkan Wakil Ketua Korbid Ekonomi dan Bisnis Arifin Wicaksono mengenalkan formulasi alokasi 10-30-60 saat memaparkan simulasi praktis penganggaran keuangan.
Arifin Wicaksono menjelaskan, bahwa metode penganggaran slicing (pemotongan langsung di awal saat menerima penghasilan) menggunakan rumus proporsi 10-30-60.
Yakni 10% untuk alokasi sosial/charity (social & spiritual lock), dimana pos ini dikunci di awal untuk iuran warga, sumbangan, maupun aksi sosial.
“Langkah ini penting untuk membatasi pengeluaran gaya hidup atau dorongan gengsi sosial yang sering kali menjadi titik bocornya keuangan,” kata Arifin Wicaksono.
Sedangkan 30% untuk aokasi Investasi (wealth accumulation). Maksudnya adalah untuk dana khusus yang disisihkan untuk instrumen produktif bermodal yang berpotensi menghasilkan nilai tambah (return).
“Anggaran ini terpisah secara tegas dari tabungan konsumtif (seperti tabungan untuk liburan atau belanja),” katanya.
Sementara yang 60% digunakan untuk alokasi konsumsi (living expense & happiness). Yaitu anggaran dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga harian sekaligus pengeluaran penunjang kebahagiaan keluarga secara proporsional.
Arifin kemudian membedah dan simulasi penerapannya pada dua jenis skenario pendapatan, yakni penghasilan tetap dan harian.
Penghasilan tetap (bulanan). Misalkan untuk gaji Rp3.000.000/bulan, alokasi yang diterapkan adalah Rp300.000 (10%) untuk sosial, Rp900.000 (30%) untuk investasi, dan Rp1.800.000 (60%) untuk konsumsi harian.
“Dengan asumsi imbal hasil investasi rata-rata 1% per bulan, pemutaran dana investasi tersebut berpotensi menambah nilai kekayaan Rp1,4 juta hingga Rp1,6 juta dalam setahun yang kelak memperbesar arus kas masuk,” katanyta.
Penghasilan tidak tetap (harian). Yakni bagi pekerja harian dengan estimasi Rp200.000/hari (25 hari kerja/bulan), penganggaran wajib dilakukan secara harian saat uang diterima, yakni Rp20.000 untuk sosial, Rp60.000 untuk investasi, dan Rp120.000 untuk konsumsi.
“Kedisiplinan pemotongan harian ini diperkirakan mampu mengumpulkan pemupukan nilai kekayaan (compounding) hingga Rp19 juta dalam satu tahun,” ujarnya.
Kemudian yang perlu dilakukan juga, lanjut Arifin, adalah penyesuaian strategi berdasarkan tahapan finansial individu yang dibagi dalam tiga kategori.
Pertama modus Survival, yakni diperuntukkan bagi masyarakat yang masih berada di garis batas kebutuhan pokok, alokasi investasi dapat dikurangi menjadi 10%–20%.
Namun, porsi sosial 10% tetap dipertahankan untuk mengontrol pengeluaran sosial agar tidak berlebihan.
Kedua modus growth diperlukan ketika kebutuhan dasar telah stabil, porsi investasi dijalankan secara penuh pada angka 30%.
Ketiga modus wealthy adalah hal yang dilakukan saat aset investasi telah berkembang, fokus digeser ke arah diversifikasi pada instrumen bisnis riil, properti, reksadana, pasar modal, hingga logam mulia.
Namun, Zuhrif mengingatkan ada tiga penyebab utama kegagalan finansial yang wajib dihindari, yaitu ketidakmampuan mengelola arus kas, ketiadaan skala prioritas, dan ketidakdisiplinan dalam membedakan kebutuhan hidup dengan tuntutan gaya hidup.
“Melalui kajian berkala ini, DPP Partai Gelora Indonesia berkomitmen untuk terus meningkatkan wawasan literasi keuangan dan kewirausahaan bagi para kader, pengurus, serta masyarakat luas di seluruh Nusantara,” pungkas Zuhrif.

No comments