Partaigelora.id-Ketua Bidang Syiar & Dakwah DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, KH. Muhith M. Ishaq, Lc, M.A mengatakan, bertemunya dua kebahagiaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-81 pada bulan Agustus 2026 ini merupakan momentum istimewa.
“Baik Maulid maupun Kemerdekaan adalah suasana bahagia. Kedua peristiwa ini menyatukan dua suasana kebahagiaan dan keceriaan yang patut disyukuri oleh seluruh bangsa Indonesia dan kaum Musliminm,” kata KH. Muhith M. Ishaq, Lc, M.A.
Hal itu disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan bertajuk ‘Refleksi Maulid Nabi & Makna Kemerdekaan’ yang digelar pada Selasa (25/8/2026) malam.
Menurut KH. Muhith, kemerdekaan adalah rahmat berharga dari Allah SWT yang memungkinkan terlaksananya berbagai amal saleh dan kebaikan.
“Nikmat kemerdekaan harus kita syukuri sebagai rahmat yang sangat berharga. Tanpa kemerdekaan, ada banyak kebaikan dan amal saleh yang tertunda, sebagaimana yang dialami saudara-saudara kita di Palestina dan Gaza hari ini,” ujar KH. Muhith.
Ia mengatakan, perjuangan memerdekakan suatu bangsa dan umat manusia memiliki nilai yang sangat agung di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW, lanjut dia, membawa misi kemerdekaan hakiki bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin) melalui beberapa tahapan utama.
Pertama tauhid, yakni mmbebaskan manusia dari penyembahan sesama makhluk, berhala, dan hawa nafsu untuk hanya menyembah Al-Khaliq (Allah SWT).
Kedua keadilan sosial & jalan terang, yaitu mengeluarkan umat dari kegelapan (minadz dzulumati ilan nur) menuju keadilan Islam serta kelapangan hidup dunia dan akhirat.
Ketiga edukasi & pembelajaran (masyarakat berpengetahuan), yaitu dimana perubahan dunia diawali dengan narasi dan ilmu pengetahuan (surah Al-Alaq: 1–5), bukan sekadar materi atau sembako.
“Memerdekakan manusia secara hakiki adalah dengan menjadikan mereka masyarakat terdidik (educate society),” katanya.
Baca juga:
Artinya, kemerdekaan hakiki suatu bangsa tidak sekadar diukur dari kebebasan fisik, melainkan dari keberhasilan membangun masyarakat berilmu dan berpengetahuan (educate society) serta kemampuan menjaga kedaulatan negara.
“Perubahan besar peradaban dunia yang dipelopori Rasulullah SAW tidak dimulai dengan kekuatan militer atau pembagian materi semata, melainkan melalui penguatan narasi dan edukasi sebagaimana diwahyukan dalam Surah Al-Alaq. Memanusiakan manusia yang sesungguhnya adalah dengan membuat manusia itu berilmu,” tegasnya.
Karena itu, perjuangan dalam meletakkan nilai-nilai kebaikan membutuhkan kesabaran, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam membina masyarakat Madinah dan Mekkah. Hingga pada mereka terbuka dan berbondong-bondong menerima Islam.
Sehingga ia meneladani perjalanan dakwah Rasulullah SAW yang mengalami lompatan eksponensial ketika berpindah dari Makkah ke Madinah karena tersedianya kebebasan dan ruang kemerdekaan.
“Artinya setiap perjuangan narasi dan gagasan yang konsisten pada akhirnya akan membuahkan hasil dan memanusiakan manusia secara utuh,” Ketua Bidang Syiar & Dakwah DPP Partai Gelora ini.
KH. Muhith menegaskan, bahwa kemerdekaan berpikir dan tradisi ilmu merupakan landasan utama dalam menjaga kedaulatan bangsa serta membebaskan masyarakat dari keterbelakangan.
Ia menjelaskan bahwa Allah SWT membekali setiap manusia dengan perangkat verdas berupa pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran (al-fu’ad) sebagaimana tercantum dalam Surah An-Nahl ayat 78. Potensi inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.
“Setiap manusia dilahirkan tanpa pengetahuan, namun diberikan pendengaran, penglihatan, dan akal agar belajar serta bersyukur. Kemerdekaan yang hakiki adalah saat perangkat cerdas ini digunakan untuk menyerap pengetahuan dan membangun tradisi ilmiah sebelum mengambil keputusan,” ujar KH. Muhith.
Ia mengingatkan bahaya mengambil kebijakan atau tindakan tanpa didasari ilmu pengetahuan (wala takfu ma laisa laka bihi ‘ilm).
Sehingga keputusan yang diambil secara asal-asalan hanya akan membawa ketidakpastian dan kekacauan dalam kehidupan berbangsa.
Sebab, makna kemerdekaan terutama bagi generasi muda adalah menekankan pentingnya ruang kebebasan untuk tumbuh dan berinovasi.
“Anak muda sedang dalam masa pertumbuhan potensi dan semangat. Tanpa ruang kemerdekaan, potensi itu tidak akan tumbuh maksimal—seperti pohon besar yang dipaksa tumbuh di pot kecil. Dakwah dan kemajuan bangsa sangat membutuhkan kebebasan berpendapat, berkumpul, dan berkreasi,” jelasnya.
KH. Muhith mengajak seluruh kader Partai Gelora dan elemen bangsa untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi dan HUT RI ke-81 sebagai momentum menguatkan wawasan kebangsaan serta memperjuangkan kemajuan Indonesia berbasis ilmu pengetahuan.
Ia meminyta seluruh kader Partai Gelora dan umat Islam untuk tidak berkecil hati dalam memperjuangkan narasi kebaikan dan ilmu pengetahuan bagi kemajuan bangsa.
“Sebagaimana Rasulullah SAW yang membina masyarakat Madinah hingga akhirnya berdampak luas dan diterima secara berbondong-bondong, perjuangan berbasis gagasan dan ilmu akan membuahkan hasil. Mari kita isi kemerdekaan Indonesia dengan mengambil spirit perjuangan Rasulullah SAW untuk membangun bangsa yang berdaulat, beradab, dan berkemajuan,” pungkasnya.

No comments