Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia yang juga Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta mengatakan, ada banyak refleksi yang bisa dipetik dari ibadah haji setiap tahunnya, tak terkecuali pada pelaksanaan Ibadah Haji 1447 H/2026 ini.
Hal tersebut disampaikan Anis Matta dalam acara Perspektif Anis Matta dengan tema Refleksi Haji: Dari Gap Politik Sampai Beda Pendapat Umar dan Abu Bakar yang tayang di kanal YouTube Gelora TV, Kamis (28/5/2026) malam.
Dalam perspektifnya, Anis Matta mengatakan, ada banyak sudut pandang untuk melihat refleksi dari ibadah ini.
Sebab, haji adalah ibadah yang pada akhirnya bertujuan mengingatkan tentang nilai-nilai pembangunan kohesi sosial.
“Jadi semua gap di dalam politik, ekonomi dan kehidupan sosial, pada dasarnya adalah sifat melenceng dari fitrah dasar kita semua,” kata Anis Matta.
Karena itu, lanjut dia, ketika satu tipikal amalan yang dipelajari atau dikerjakan secara menerus akan terus bertumbuh dan tidak pernah berhenti.
“Di sini kita belajar, itulah amalnya nabi-nabi. Ketika Islam itu datang , lalu menjadikan haji sebagai rukunnya ,” katanya.
Sebab, di situlah pada akhirnya manusia menyadari satu asal usul dan satu tujuan ke tempat kembali kepada sang pencipta, yaitu Allah SWT.
Sehingga melalui kohensi sosial ini diharapkan dapat terwujud lewat kesadaran yang digugah selama hari-hari ibadah dari Mekkah sampai Arafah.
Mereka semua dalam balutan kain ihram, dan tidak ada bedanya antara raja, presiden, pejabat, orang kaya dan rakyat jelata.
Karena balutan kain ihram adalah simbol utama penanggalan atribut keduniawian. Pakaian ini menjadi pengingat konkret akan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.
Pakaian ihram dapat menghapus sekat-sekat status sosial, kekayaan, maupun jabatan. Hal itu menunjukkan bahwa di mata Allah SWT yang membedakan hanyalah ketakwaan
Selain itu, balutan putih yang sederhana melambangkan kesucian dan kebersihan hati, layaknya bayi yang baru lahir ke dunia tanpa membawa harta maupun dosa.
Karena itu, kata Anis Matta kembali menegaskan,bahwa apabila gap atau ketimpangan dalam politik, ekonomi, dan sosial, sejatinya adalah sifat melenceng dari fitrah dasar manusia.
“Pada akhirnya, manusia punya persamaan tunggal, yaitu satu awal, satu tujuan, dan satu tempat kembali,” katanya.
Meski begitu, menurut Anis Matta, persamaan manusia dalam hal ini sekaligus juga sebagai pemantik untuk terus ditelaah dan mencoba mewujudkan konsep keadilan menurut Islam.
“Yang tidak selalu harus dimaknai sama rata sama rasa,” ujar Anis Matta.
Ketua Umum Partai Gelora ini lantas mencontohkan lewat kisah perbedaan beda pendapat antara Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, soal imbalan negara bagi kaum Muhajirin dan Anshar.
Anis Matta mengingatkan pula bahwa haji adalah wujud pasti dari terkabulnya sebuah doa Nabi Ibrahim as.
Tak hanya sewaktu, doa ini diijabah terus-menerus tanpa henti, sampai kelak hari kiamat tiba.
Di sini, Anis Matta bicara tentang rahasia amal nabi-nabi. Ada ciri yang bisa dikenali. Dan kita pun semestinya terus berusaha untuk bisa meneladani dan mengamalkannya.
“Maknanya adalah setiap orang yang menjadi muslim harus menjadi manusia global.,” pungkas Anis Matta, Wamenlu RI Urusan Dunia Islam ini.
Partaigelora.id-Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimaknai Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelombang (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah sebagai panggilan moral untuk memperkuat persatuan bangsa dan mengikis ego kelompok yang memecah belah masyarakat.
Dalam ucapan Idul Adha yang disampaikan, Rabu (27/5/2026) Fahri mengajak masyarakat meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dalam berkurban serta menjadikan Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum memperbaiki diri dan memperkuat solidaritas kebangsaan.
“Seperti Ibrahim AS yang menyerahkan cinta terbesarnya, kita diingatkan bahwa tak ada milik kita yang selamanya,” tulis Fahri seraya menegaskan bahwa hakikat kurban bukan terletak pada darah ataupun daging hewan semata, melainkan pada ketakwaan, keikhlasan, dan ketulusan hati di hadapan Tuhan.
Sebab, lanjut Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 itu, di hadapan Tuhan Seru Sekalian Alam, bukan darah atau daging yang sampai ke haribaan, melainkan takwa, rida, dan ketulusan yang mendalam.
Fahri juga menyinggung pentingnya menghapus ego dan kesombongan yang dinilai menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.
Menurut dia, Idul Adha harus menjadi momentum untuk menekan sifat serakah dan membangun semangat kebersamaan.
“Sudah saatnya kita tebas ego-ego yang memecah belah, kita sembelih kesombongan kelompok yang membuat lelah,” ujarnya.
Ia menilai, hanya dengan merobohkan dinding keangkuhan dan memperkuat persatuan, masyarakat Indonesia dapat berdiri bersama menghadapi berbagai tantangan bangsa.
“Hanya dengan merobohkan dinding-dinding keangkuhan, kita bisa berdiri bersama, bahu-bahu saling menguatkan,” kata Fahri.
Di akhir pesannya, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gelora Indonesia itu, mengajak seluruh masyarakat menjadikan Idul Adha sebagai ikhtiar bersama untuk merajut kembali persatuan hati dan membangun Indonesia secara kolektif.
“Mari jadikan momentum suci Idul Adha ini sebagai ikhtiar besar merajut kembali persatuan hati. Satu sujud yang sama, satu tekad yang nyata, bekerja bersama, membangun Indonesia raya,” tutupnya.
Partaigelora.id-Umat Muslim di Indonesia dan berbagai penjuru dunia merayakan Hari Raya Idul Aha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5/2026).
Idul Adha adalah salah satu hari besar umat Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah dalam kalender Hijriah.
Hari raya ini juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban karena identik dengan ibadah penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Di Indonesia, Hari Raya Idul Adha dirayakan dengan penuh khidmat oleh umat Muslim. Perayaan ini diawali dengan salat Id berjamaah dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban di berbagai daerah.
Selain sarat nilai religius, Idul Adha di Indonesia juga dipenuhi tradisi kebersamaan, gotong royong, dan kegiatan sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Sehingga Idul Adha adalah selalu tentang ibadah kurban dan haji. Ada sarat makna di dalamnya, yang terkait erat dengan manusia dan kemanusiaan.
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta, mengingatkan bahwa makna pengorbanan dalam ibadah kurban bertalian erat dengan sumber kekuatan perikatan sosial umat manusia.
Wakil Menteri Luar Negeri RI ini menegaskan bahwa ibadah kurban semestinya selalu menjadi momentum yang dapat mengilhami kita, menginspirasi kita, untuk menjaga semangat kesetiakawanan sosial.
Adapun tentang haji, Anis Matta menggarisbawahi bahwa ibadah ini mengajak kita untuk menemukan inspirasi dan ilham tentang kesamaan dan kesederajatan umat manusia, melalui rangkaian perjalanan yang juga penuh pengorbanan.
“ Selamat Idul Adha 1447 H. Semoga dari makna pengorbanan dalam ibadah kurban dan haji, kita semua dapat menjaga keutuhan dan kesetiakawanan sebagai Muslim, bangsa Indonesia, dan umat manusia.
Partaigelora.id-Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sekaligus Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Fahri Hamzah mengatakan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 menjadi momentum untuk memperkuat Indonesia.
“Saya berterima kasih bahwa semboyan daripada Hari Kebangkitan Nasional pada hari ini adalah menjaga tunas bangsa, dari apa? Dari kecenderungan untuk meragukan diri sendiri,” kata Fahri Hamzah dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Hal itu disampaikan Fahri Hamzah dalam Kajian Wawasan Kebangsaan dengan tema ‘Refleksi 118 Tahun Kebangkitan Nasional: Menuju Indonesia Superpower Baru, Jumat (22/5/2026) malam.
Menurut dia, keraguan terhadap diri sendiri tersebut, akhirnya memunculkan sikap keraguan terhadap pemerintah, padahal sumber keraguaannya berasal dari ketidaktahuan terhadap persoalan.
“Tugas kita sebagai warga negara, adalah semakin cerdas, semakin mengerti prioritas kita dan semakin mengerti masa depan kita,” kata dia.
Tugasnya, adalah berpartisipasi dalam politik melalui partai politik untuk menjadi penyelenggara negara seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.
Yakni melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta dalam perdamaian dunia yang berdasarkan pada perdamaian abadi dan keadilan sosial.
“Ini adalah janji-janji kita, bukan saja kepada bangsa Indonesia, tapi juga kepada seluruh dunia. Bangsa ini dibangun dengan cita-cita besar oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata,” katanya.
Untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, lanjut dia, diperlukan sebuah narasi yang kuat, aktor menjalankan juga yang kuat, serta kelembagaan yang siap menjalankannya.
“Narasinya adalah Pasal 33, bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara. Dan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Ini adalah kekuatan kita di di dalam konstitusi,” katanya.
Sementara sebagai aktor, menurut dia, Prabowo adalah aktor yang kuat sebagai penyelenggara negara seperti halnya Soekarno. Selain anak dari keluarga ekonom, Prabowo juga adalah seorang purnawirawan jenderal TNI.
“Kakeknya Margono Djojohadikusomo adalah pendiri Bank BNI. Bapaknya Sumitro Djojohadikusomo, adalah begawan ekonomi, tokoh pembiayaan ekonomi rakyat, tokoh pembangunan ekonomi global. Bahkan Pak Mitro adalah negosiator untuk aset Indonesia, saat Indonesia merdeka,” ujarnya.
Ibaratnya, bagi Prabowo itu ilmu ekonomi adalah meja makan, sarapan paginya masalah ekonomi, makan malamnya berbicara ekonomi.
“Karena itulah tokoh ini, sangat kredibel untuk memimpin kemajuan ekonomi kita. Pak Prabowo clear message-nya, ingin mensejahterakan rakyat,” tegasnya.
Namun, narasi dan aktor pemimpin yang kuat saja tidak cukup, jika tidak didukung oleh institusi atau lembaga yang akan menjalankannya.
Sehingga institusi atau lembaga yang menjalankan juga harus mempersiapkan diri melakukan perubahan secara signifikan.
“Indonesia ini sudah berumur mau 81 tahun. Semua harus sadar diri dan mempersiapkan diri sekarang, baik itu tentara, polisi, birokrasinya, legislatif, yudikatif, eksekutif, pemerintah daerah dan partai politik,” katanya.
Karena itu, Fahri menyakini dibawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia akan mencapai kejayaannya sebagai negara maju atau superpower baru.
“Saya kira kita harus optimis, kita akan menyongsong satu kemajuan besar di masa-masa yang akan datang. Saya kira Partai Gelora dari awal punya feeling yang kuat sekali bahwa momen bagi Indonesia akan segera tiba,” ujarnya.
Dapat Respon Dunia
Dalam kesempatan ini, Fahri Hamzah mengapresiasi Pidato Presiden Prabowo Subianto saat Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro di DPR pada Rabu (20/5/2026) lalu, yang dinilai fonomenal dan mendapatkan respon dari seluruh dunia.
“Presiden Prabowo dinilai konsisten dengan gagasannya, mengenai sumber daya alam (SDA) kita yang disalahgunakan dan terjadi kebocoran. Ini mendapat respon dari seluruh dunia,” ujarnya.
Pidato tersebut, biasanya disampaikan oleh setingkat seperti Menteri Perekonomian atau Menteri Ekonomi, tapi dilakukan Presiden Prabowo langsung yang disaksikan banyak pihak yang diundang.
“Menurut saya, apa yang disampaikan Presiden itu luar biasa dan menghentak dunia. Jika Iran hanya menutup Selat Hormuz untuk mengendalikan minyak. Tapi Pak Prabowo mau mengendalikan sumber daya alam, mau mengendalikan nikel, batu bara dan lain sebagainya. Sehingga orang juga sekarang tidak boleh sembarangan melihat Indonesia,” katanya.
Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menilai secara terbuka melawan kapitalisme atau neoliberal seperti ideologi kolonial yang masih berlaku di Indonesia. “Ini yang saya sebut sebagai Prabowonomix,” tegasnya.
Fahri menegaskan, Prabowo mengerti betul kondisi tersebut, bahwa Indonesia hanya dimanfaatkan untuk mendapatkan bahan baku dan tenaga kerja murah.
Sehingga industrialisasi yang dibangun pun, bukan industrialisasi Indonesia, tapi industrialisasi di Indonesia.
Sebab, semua hasil SDA yang dieksploitasi dibawa ke luar negeri, kemudian Indonesia disuruh beli produk jadi dari perusahaan mereka di luar negeri. Hal inilah yang ditentang dan dilawan Presiden Prabowo, karena merugikan rakyat Indonesia.
“Jadi pemerintahan sekarang sedang melakukan hal-hal baik seperti memberantas pembabatan hutan untuk secara gila-gilan, memberantas penambang illegal dan penertiban lain-lain,” katanya.
Apabila dalam upaya penertiban itu, pasar modal dan pasae uangnya bergerak, menyebabkan harga saham terkoreksi sangat dalam dan nilai mata uang (kurs rupiah) melemah tajam, berarti ‘malingnya’ sama.
“Malingnya sama, maling ini (SDA), juga maling itu (pasar modal dan uang. Kita harus mendukung upaya Bapak Presiden. Kita jangan pusing sendiri gara-gara pemerintah bekerja menertibkan itu,” tegasnya.
Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini meminta semua pihak untuk fokus membangun industralisasi dan kemandirian, serta berupaya mensejahterakan seluruh rakyat agar Indonesia berubah menjadi negara maju.
“Yang marah-marah itu ada kemungkinan dua kemungkinan. Pertama, dia enggak paham sebenarnya, cuman ikut-ikutan. Atau yang kedua dia menjadi bagian dari kampanye itu, merampok sumber daya alam secara gila-gilaan kita,” katanya.
Fahri mengungkapkan, Presiden Prabowo akan segera melakukan penertiban sektor tambang secara besar-besaran dalam waktu dekat.
Penertiban dilakukan, karena para pengusaha tersebut, telah merusak SDA dan lingkungan, serta merusah marwah lembaga penegak hukum, karena praktik suap.
“Implikasi kepada perusakan lembaga-lembaga penegakan hukum luar biasa, gila-gilaan. Kita saksikan dengan mata kepala saya, mata kepala kita sendiri. Kita harus mendukung pemerintah untuk melakukan pentertiban,” pungkasnya.
Partaigelora.id-Koordinator Bidang (Korbid) Kaderisasi DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar Training for Facilitators (TFF) Ideologisasi Dasar Partai Gelora di Jawa Timur (Jatim) menjelang Pemilu 2029.
Kegiatan berlangsung 23–24 Mei 2026 di Royal Senyum Hotel, Jl. Putuk Truno No. 208, Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jatim.
TFF Ideologisasi Dasar ini melibatkan para kandidat fasilitator dari fungsionaris DPW Jawa Timur Partai Gelora dan 27 DPD kabupaten/kota di Jatim.
TFF bertujuan memperkuat kapasitas kader dalam kaderisasi, penguatan ideologi, dan kepemimpinan organisasi.
Sebab, hal ini adalah urgensi dan gambaran substansi, serta spirit penyelenggaraan TFF. Yakni demi satu visi besar Partai Gelora menjadikan Indonesia sebagai superpower baru dunia.
TFF ini antara lain dihadiri Ketua Pelaksanaan Harian DPP Partai Gelora Rofi’ Munawar, Ketua Koorbid Kaderisasi DPP Ahmad Zainuddin, Ketua Pemenangan Teritorial V (Jatim) DPP Muhammad Siroj (Gus Siroj) daan Ketua DPW Partai Gelora Jatim Misbakhul Munir.
Ketua Pelaksanaan Harian DPP Partai Gelora Rofi’ Munawar mengatakan, program ini menindaklanjuti program Ideologi Dasar I. Sehingga diharaokan akan muncul fasilitator-fasilitaror baru.
“Mereka yang akan menjadi juru bicara Partai Gelora untuk melakukan perekrutan, sekaligus peningkatann kapasitas organisasi, kpribadian kepada kader-kader baru Partai Gelora,” kata Rofi’I Munawar.
Peserta, kata Rofi’, mendapat materi krisis global, krisis nasional maupun krusis dunia Islam. Kemudian juga materi perang kognitif, dan roadmap menuju superpower baru.
“Haga’iq Kubra atau The Great Realisties. Yaitu pembentukan pemahaman dari para kader tentang aspek spiritual,” katanya.
Sebab, para fungsionaris dan kader Partai Gelora ini memiliki pertanggaungjawab kepada para manusia, tapi lebih-lebih kepada Allah SWT.
“Menjadi fasilitator berabrti menjadi teman diskusi yang baik, saling menumbuhkan kemampuan masing-masing,” tegas Ketua Pelaksana Harian DPP Partai Gelora ini.
Ketua DPW Partai Gelora Jatim Misbakhul Munir, mengatakan TFF dirancang untuk mencetak fasilitator yang mampu menjadi penggerak pembinaan kader secara sistematis dan berkelanjutan di daerah.
“Organisasi harus punya dasar ide, gagasan, dan keyakinan yang kuat, agar kader Partai Gelora benar-benar sesuai nilai ideologi partai,” ujar Misbakhul Munir.
Menurut dia, orientasi partai politik bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tapi pemanfaatannya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.
“Kami mulai dari satu pertanyaan besar: kalau kekuasaan itu didapat, lalu apa yang akan kita lakukan? Jadi bukan hanya cara menang, tapi bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik,” kata Misbakhul.
Ketua DPW Partai Gelora Jatim ini mengapresiasi kehadiran jajaran DPP dan peserta yang begitu luar biasa antusias dalam Training for Facilitators (TFF) Ideologisasi Dasar ini.
Diketahui, bahwa Program Idiologisasi ini satu hal yang betul-betul mendesak, sebagai bentuk kenyakinan untuk melangkah, mengembangkan pemikiran-pemikiran besar yang ada di Partai Gelora.
“Kami bersyukur ketua harian, korbid kaderisasi DPP, hingga CEO TIM bisa hadir memberikan pembekalan. DPW Jawa Timur mengucapkan terima kasih,” ucapnya.
“Kami menunggu batch berikutnya agar proses diseminasi yang akan dilaksanakan kepada seluruh struktur dari DPP maupun DPC segera bisa dilaksanakan,” imbuhnya. Heniyati
Ketua Bidang Komunikasi DPW Partai Gelora Jatim Heniyati mengatakan, Program Idiologisasi ini merupakan nutrisi yang diberikan sampai ke akar-akarnya.
“Kita semua adalah pemimpin. Kita ditunjuk untuk mengemban amanah Partai Gelora, paling tidak bisa memimpin diri sendiri,” kata Heniyati.
Ketua DPD Partai Gelora Probolinggo Abu Bakar berharap usai mengikuti TPF Idiologisasi Dasar ini dapat menyebarkan ideologi kepartaian lebih menyeluruh lagi.
“Kita mendapatklan informasi yang lebiih komprehensif, sehingga yang diterima kader Partai Gelora di daerah, nantinya utuh dan bisa tersampaikan semua,” kara Abu Bakar.
Peserta yang lolos TFF Ideologi Dasar tahap pertama ini nantinya akan mengikuti batch kedua untuk pembekalan lanjutan.
Setelah itu, para fasilitator bertugas melakukan diseminasi kaderisasi ke struktur partai di bawahnya, mulai DPD, DPC, hingga cabang di masing-masing wilayah.
Partaigelorai.id-Pemerintah mulai mematangkan arah pembangunan perumahan nasional sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.
Penyediaan hunian layak dinilai tidak lagi sekadar persoalan pembangunan rumah, melainkan juga berkaitan dengan pengendalian tata ruang, akses transportasi, hingga pemerataan ekonomi masyarakat perkotaan.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah meluncurkan buku berjudul ‘Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045’ di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Buku tersebut memuat gagasan strategis pembangunan sektor perumahan nasional untuk menjawab kebutuhan hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan.
Peluncuran buku dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Ketua Satgas Perumahan Hashim S. Djojohadikusumo, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) Nixon L.P. Napitupulu, serta Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon.
Acara ini juga dirangkai dengan diskusi mengenai arah pembangunan perkotaan nasional yang menghadirkan Panangian Simanungkalit, Joko Suranto, dan Marco Kusumawijaya.
Dalam pemaparannya, Fahri mengatakan program pembangunan 3 juta rumah yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari strategi besar transformasi sosial dan ekonomi masyarakat.
Menurut dia, konsep swasembada papan yang diangkat dalam buku tersebut berangkat dari cita-cita lama bangsa untuk memastikan seluruh rakyat memiliki akses terhadap hunian yang layak.
“Bung Hatta pernah menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan waktu setengah abad untuk menyediakan hunian layak bagi seluruh rakyat. Tahun 2045 menjadi momentum simbolis untuk menuntaskan cita-cita besar tersebut,” ujar Fahri.
Ia menilai keberhasilan pembangunan social housing sangat bergantung pada kemampuan negara mengendalikan tanah dan tata ruang.
Negara yang mampu mengelola lahan secara terencana dinilai lebih berhasil menyediakan rumah rakyat secara berkelanjutan.
Selain itu, Fahri juga menekankan pentingnya pengembangan kawasan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD), yakni kawasan permukiman yang terintegrasi dengan pusat kegiatan ekonomi dan transportasi massal.
Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan untuk menekan beban biaya transportasi masyarakat akibat jarak tempat tinggal yang terlalu jauh dari lokasi pekerjaan.
Sementara itu, Hashim S. Djojohadikusumo mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memutuskan pemanfaatan tanah negara dan aset badan usaha milik negara untuk pembangunan rumah rakyat dengan harga lebih terjangkau.
Kebijakan itu diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap hunian sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan kawasan permukiman di berbagai daerah.
Peluncuran buku ditutup dengan penyerahan simbolis kepada sejumlah tokoh nasional, termasuk Budiman Sudjatmiko dan Luis Tineo.
Buku tersebut diharapkan menjadi salah satu rujukan dalam penyusunan kebijakan pembangunan hunian nasional menuju 2045.
Partaigelora.id-.Ketua Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Rofi’ Munawar mengatakan, setiap kader Partai Gelora perlu menjaga kebersihan hatinya di tengah perjuangan politik apabila diberikan amanah ketika menjadi penguasa.
Sebab, kekuasaan itu penuh godaan , sehingga diperlukan fondasi moral dalam berpolitik. Allah SWT selalu melakukan pengawasan Allah SWT atau ‘muraqabatullah’ terhadap pelaksanaan amanah tersebut.
Hal itu disampaikan Rofi’ Munawar dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) dengan tema ‘Menjaga Kebersihan Hati dan Moral di Tengah Perjuangan Politik, Selasa (19/5/2026) malam.
“Sahabat Gelora, pengawasan Allah, Tuhan yang Maha Esa itu, artinya adalah pengetahuan yang terus-menerus dan keyakinan yang mendalam, bahwa Allah SWT selalu mengetahui atau maha mengetahui akan yang lahir dan yang batin,” kata Rofi’ Munawar.
Artinya, Allah SWT akan mengawasi semua gerak-gerik hambanya baik ucapan atau perkataan dan perbuatan, apakah kebersihan hatinya terjaga.
“Muraqabatullah atau pengawasan Allah Tuhan Yang Maha Esa itu, kita jadikan sebagai landasan moral politik. Moral politik itu adalah akhlak politik, lebih mudahnya ,” kata dia.
Menurut Rofi’, akhlak politik tersebut penting, karena politik tanpa akhlak akan menghancurkan bangunan politik itu sendiri.
“Seperti kata Imam Al Ghazali, bahwa akhlak politik itu bagian dari agama yang merupakan pondasinya, dan kekuasaan itu adalah penjaganya,” ujar Ketua Pelaksana Harian DPP Partai Gelora ini.
Maknanya, adalah moral politik dan kekuasaan, haruslah sangat kuat, karena kekuasaan tanpa moral akan berantakan. Sebaliknya, moral tanpa kekuasaan akan kering atau hampa, sebab tidak ada tempat implementasi dan penggandaan untuk nilai-nilai moral tersebut.
“Jadi moral itu akan bisa meluas dan akhirnya menjadi satu habit yang dilakukan oleh para pemegang kebijakan manakala di situ ada kekuasaan,” jelasnya.
Ia mengatakan, perjuangan politik hendaknya bertumpu pada empat landasan moral yang wajib dijaga, yaitu shidqul hadits (kejujuran ucapan), hifzhul amanah (menjaga amanah), husnul khuluq (kebaikan akhlaq), dan ‘iffatun fit-thu’mah (kehati-hatian).
Adapun makna shidqul hadits adalah politik itu sangat dekat dengan kata-kata, penyataan atau statement yang bersifat ungkapan verbal dari mulut seseorang.
“Maka ketika sudah menjadi pemimpin, pernyataan itu including di dalam diri pemimpin. Jadi kehebatan seorang pemimpin itu, salah satunya ditentukan oleh pernyataannya,” kata Rofi’.
Karena dituntut kejujuran ucapan itu, maka seorang pemimpin atau politisi dilarang berbohong atau pernyataannya tidak boleh mengandung kedustaan.
Kejujuran ucapan bagi seorang pemimpin atau politisi, lanjut dia, akan menjadi narasi yang kuat untuk merespon berbagai situasi, kondisi dan persoalan.
“Dengan narasi yang kuat di dalam dirinya, Allah SWT akan memerintahkan dia untuk merespon situasi yang ada di sekelilingnya, kondisi masyarakat yang memang yang harus dihadapi, masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja,” katanya.
Dapat dikatakan, bahwa narasi yang kuat itu adalah bentuk pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Bukan seperti perkataan yang remeh-temeh, tapi perkataan yang penuh dengan makna, sehingga narasi yang kuat tersebut, menjadi penting.
“Seperti disampaikan Pak Ketum (Anis Matta) ketika melihat situasi Indonesia saat ini, sebagaimana yang digambarkan di dalam manifesto politik kita. Langit kita ini terlalu tinggi, tapi kita terbang terlalu rendah. Artinya narasi yang kita bangun bisa merespon kompleksitas bangsa ini ,” katanya.
Kejujuran ucapan itu juga harus sinkron antara apa yang diucapkan dengan tindakannya.
“Jangan sampai kita mengucapkan berbagai macam pernyataan, tapi tidak tahu bagaimana cara menindaklanjuti dari perkataannya itu. Pernyataan itu akhirnya hanyalah percitraan, atau janji-janji politik,” jelas dia.
Karena itu, pernyataan seorang pemimpin atau politisi harus memiliki makna dalam merespons persoalan, perlu ada kesesuaian dengan tindakannya, dan jangan sampai ucapan itu berubah menjadi penyesalan.
“Sekali lagi jangan sekali-kali kita berjanji yang kita sendiri kesulitan bagaimana cara menepatinya. Kenapa? Karena janji-janji politik kita ini ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Jadi tepatilah janji karena janji itu akan dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.
Rofi’ berharap kepada para kader Partai Gelora yang mendapatkan amanah di level kepemimpinan politik, hindari sebisa mungkin untuk offside di dalam pernyataannya.
“Pemimpin ada yang di level presiden atau menteri dan seterusnya. Jangan sampai offside, karena pernyataan itu akhirnya menjadi bahan ledekan rakyat. Jadi Kader politik kelasnya pemimpin,” katanya.
Sedangkan makna yang kedua hifzhul amanah dalam konteks tazkiyatun nafs adalah menjaga kompetensi untuk memegang amanah, karena begitu inkompetensi akan sangat berbahaya.
“Pemimpin tidak kompeten itu sangat berbahaya. Ketika amanah itu disia-sia maka tunggu datangnya hari kiamat. Jadi ketika perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu datangnya hari kiamat. Makna lainnya, adalah tunggu datangnya kehancuran,” katanya.
Selanjutnya adalah menjaga komunikasi vertikal dan berusaha sekuat tenaga untuk selalu berada di garda depan di dalam menjaga ibadahnya kepada Allah SWT.
“Karena itu, kalau kita lihat para pemimpin politik masa lalu adalah orang-orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi. Dan ini adalah cara untuk menjaga amanahnya ,” ujar Rofi’.
Kemudian selain menjaga kompetensi dan menjaga kekuatan (komunikasi vertical), makna lainnya adalah akhlak yang mulia (husnul khuluq). Sebab, politik itu tanpa moralitas akan menghancurkan bangunan politik itu sendiri.
“Jadi akhlak yang mulia adalah akhlak untuk dirinya dan akhlak timbal balik. Kalau akhlak timbal balik itu maksudnya begini, misalnya seorang presiden, kepala negara, atau raja berharap yang dipimpinnya mentaatinya. Tetapi akhlak rakyat itu tergantung kepada akhlak pemimpinnya, jangan sampai mereka tidak berakhlakul karimah kepada yang dipimpinnya,” jelas Rofi’.
Adapun akhlak tertinggi seorang pemimpin itu adalah melayani rakyatnya. Sehingga ketika para pemimpin melayani dengan sebaik-baiknya, maka rakyat akan mentaatinya.
“Jangan menjadi diktator-diktator memaksa mereka menghormati kita, sementara kita tidak menghormati kita. Jadi akhlak timbal balik di sini memang yang terasa berat bagi pemimpin, tapi ini harus dilakukan,” paparnya.
Sementara makna ‘iffatun fit-thu’mah atau kehati-hatian, karena kekuasaan itu punya godaan yang sangat besar seperti dikatakan Lord Action, bahwa ‘power tends to corrupt’ kekuasaan itu akan cenderung korup atau menyalahgunakan wewenang .
“Intinya kita harus berusaha sekuat tenaga untuk berhati-hati. Ibaratnya kita berhati-hati terhadap sesuap nasi yang masuk ke dalam mulut kita. Sekecil apapun makanan yang kita makan harus berhati-hati, harus jelas boleh atau tidak,” pungkasnya.
Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mengecam keras penculikan tentara Israel terhadap setidaknya lima warga negara Indonesia (WNI), yaitu empat jurnalis dan satu aktivis kemanusiaan. Mereka diculik tentara Israel di perairan internasional.
“Partai Gelora Indonesia mengecam keras penculikan Israel terhadap setidaknya lima WNI ini dan menuntut pembebasan mereka segera,” ujar Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Menurut Mahfuz, penculikan di perairan internasional jelas menyalahi segala hukum dan aturan internasional. Karenanya, pembebasan segera adalah tuntutan yang mutlak harus dipenuhi Israel.
Lima WNI yang diculik Israel ini merupakan bagian dari rombongan pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, Palestina, menggunakan sejumlah kapal dalam misi Global Sumud Flotilla 2026.
“Kami juga mendesak Israel untuk tidak menghalangi misi kemanusiaan ke Gaza,” tegas Mahfuz.
Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI melalui Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta meminta pemerintah Israel untuk segera melepaskan rombongan misi kemanusiaan internasional untuk warga Palestina, Global Sumud Flotilla.
“Pemerintah Indonesia meminta pemerintah Israel untuk segera melepaskan rombongan misi kemanusiaan internasional untuk warga Palestina, Global Sumud Flotilla,” kata Anis Matta.
Anis Matta yang juga Ketua Umum Partai Gelora ini menegaskan, pemerintah terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI.
Sedikitnya 10 kapal ditangkap oleh militer Israel di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur, Senin (18/5/2026). Terdapat sembilan relawan asal Indonesia yang bergabung dalam misi tersebut dan lima di antaranya terkonfirmasi telah ditangkap tentara Israel.
Berdasarakan data hingga Senin malam, Lima WNI yang telah terkonfirmasi diculik tentara Israel dari misi Global Sumud Flotilla 2026 adalah dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai.
Lalu, jurnalis Tempo, Andre Prasetyo Nugroho, kontributor iNews TV Rahendro Herubowo, serta relawan dari Rumah Zakat, Andi Angga Prasadewa.
Partaigelora.id-Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Luar Negeri DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Henwira Halim mengatakan, pertemuan bilateral antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing, pada Kamis (15/5/2026) belum memberikan solusi bagi penyelesaian konflik di Timur-Tengah (Timteng).
“Situasi perundingan antara Amerika dan China di Beijing ini, memang tidak langsung clear memberikan solusi. Ini baru satu pertemuan, dan Trump memberikan undangan ke Xi Jinping untuk melanjutkan perundingan pada September,” kata Henwira di Jakarta, Minggu (17/5/2026).
Hal itu disampaikan Henwira Halim dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Trump Temui Xi Jinping? Mengungkap Agenda Besar ke Tiongkok’ di Jakarta, Jumat (15/5/2026) malam.
Xi Jinping, menurut dia, sudah mengancam Trump dalam tanda kutip agar tidak menjadikan China sebagai musuh atau rival Amerika.
Melainkan harus menjadi patner untuk urusan yang menyangkut kepentingan bersama, terutama pada isu-isu ekonomi.
“Istilahnya, Amerika ini singa tua yang sudah mapan di puncuk kekuasaan, sedangkan China adalah singa muda yang sedang naik daun. Artinya jangan sampai berantem,” ujar Henwira.
Sehingga keberlanjutan hubungan antara Amerika-China diharapkan tidak terganggu berbagai isu konflik geopolitik seperti yang terjadi pada perang di Timteng dan potensi konflik Taiwan
China menjamin hubungannya dengan Amerika akan baik-baik saja, sepanjang negara Paman Sam itu tidak kelewatan soal Taiwan.
“Ini statement yang cukup keras dari China yang cukup direct. Membuat membuat kita paham, bahwa Taiwan ini , isu prioritas China ketika berhadapan dengan Donald Trump,” katanya.
Karena itu, selama pertemuan tersebut hingga selesai, Trump tidak menyinggung dan merespon sama sekali pernyataan dari China, karena tidak ingin membuat marah Xi Jinping.
Sebab, Amerika berharap agar China menekan Iran untuk segera membuka blokade Selat Hormuz, sehingga kapal tanker, serta kapal dagang mereka dan sekutunya diberikan izin lewat oleh Iran.
“Kalau bagi Asia Tenggara, khususnya Indonesia, pertemuan ini belum memberikan dampak perubahan, karena belum masuk ke ranah isu-isu geopolitik, baru pada isu-isu ekonomi,” katanya.
Trump berharap pertemuan dengan Xi Jinping ini tidak mengganggu prioritasnya dalam bidang ekonomi menjelang pelaksanaan Pemilu Sela AS pada November 2026 mendatang.
“Trump tidak ingin hubungannya dengan Xi Jinping memanas lagi, karena pasokan energi Amerika tersendat di Selat Hormuz,” katanya.
Sebab, energi adalah salah satu komponen yang mempengaruhi distribusi logistic secara global.
Apabila pasokan energinya terganggu, dikuatirkan akan mempengaruhi kenaikan harga barang-barang kebutuhan lainnya.
“Perang dagang antara Amerika dan China tahun lalu, sudah memberikan dampak sifnifiikan. Kalau ini memanas lagi gara-gara tersendatnya pasokan energi, tentu akan berpengaruh secara global,” katanya.
Henwira menegaskan, bahwa blokade Selat Hormuz tidak hanya merugikan Amerika, tetapi juga China secara langsung.
“Pasca Amerika menguasai minyak Venezuela dan perusahaan China diusir, praktis pasokan energi China dari Iran. Kalau Selat Hormuz terblokir, juga berdampak pada China,” katanya.
Meskipun secara geopolitik Amerika masih diatas angin dibandingkan China, tetapi China memiliki waktu yang tepat secara geopolitik. Sehingga mau tak mau Trump harus berkompromi dengan Xi Jinping.
“Hal itu memang tercermin dari perlakuan Xi Jinping terhadap Trump, diberikan segala macam servis dan penghormatan. Xi Jinping ingin memenangkan hati Trump,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, kata Henwira, Indonesia diharapkan dapat bermain di ‘dua karang’ membina hubungan baik dengan Amerika dan China.
“Kita harus netral , tidak perlu curiga dan tidak perlu konfrontatif baik dengan Amerika dan China. Karena jika sebaliknya yang terjadi, maka mendayung di antara dua karang ini jadi semakin berat. Karangnya semakin tajam dan ombak di antara dua karangnya juga semakin keras,” katanya.
Ketua Korbid Luar Negeri DPP Partai Gelora menilai perang antara Amerika-Iran harus segera diakhiri secara damai, karena berdampak secara global jika situasinya semakin memanas.
“Perang Ini harus kita cermati terus, bukan cuma soal dinamika saja, tetapi efeknya terhadap situasi global, termasuk dampaknya terhadap negara kita,” pungkasnya.
Partaigelora.id-Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Gunawan mengatakan, bahwa kejadian dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia berkaitan dengan paradoks pertumbuhan yang diawali dengan ketegangan produktif.
Maka ketika berbicara mengenai ketegangan produktif, tentu saja tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang area-area yang tidak disadari atau blind spot dalam diri setiap orang.
Sebab, hal itu ternyata sangat mempengaruhi terhadap cara pandang seseorang dalam memimpin, baik itu memimpin diri sendiri, keluarga, masyarakat, organisasi, perusahaan dan lain-lain.
Dalam Kajian Pengembangan Wawasan dengan tema ‘The Paradox of Growth’, pada Selasa (12/5/2026) malam, Gunawan mengatakan, apabila productivity stretch (peningkatan produktivitas) seseorang untuk bertumbuh terlalu lama di zona nyaman, maka diperlukan stretching zone (zona peregangan).
“Zona stretching yang masuk dalam bahasan kita adalah sebagai ketegangan produktif. Kenapa ada ketegangan di sana? Karena di situ memang ada ketegangan secara kognitif. Dimana dalam diri kita ada perang pemikiran, perang batin dan ruang kontemplasi,” kata Coach Gunawan, sapaan akrabnya.
Ia mengatakan, situasi tersebut terkadang dipaksakan oleh keadaan, sehingga membuat tidak nyaman untuk melakukan sesuatu, akibat adanya growth mindset (pola pikir pertumbuhan).
“Jadi paradoks pertumbuhan, itu berubah bukan berarti kehilangan. Bertahan bukan berarti stagnan. Ketika berbicara tentang growth mindset dan ‘Paradox of Growth’, maka saat kognitif yang terus bertumbuh itu mempunyai fleksibilitas dalam mengambil strategi cara untuk mencapai sebuah cita-cita,” katanya.
Tetapi ia mengingatkan, bahwa seseorang yang sering kali mendapatkan kesuksesan dan sangat mapan, justru menjadi salah satu yang paling rentan mengalami paradoks pertumbuhan ini.
“Contohnya begini, siapa yang tidak kenal dengan handpone Nokia di era 90-2.000 an yang menjadi raja teknologi digital, tetapi dalam waktu sangat cepat ambruk bisnisnya,” ujar Coach Gunawan.
Sebab, Nokia masih berpikir, bahwa cara yang digunakan masih sangat efektif untuk meraih kemenangan, padahal situasi dan dunia berubah dengan cepat.
“Artinya ketika kita meraih kemenangan dan terbukti dalam hidup menolong kita, itu hanya sampai di titik ini. Tetapi untuk titik selanjutnya justru akan menjadi tiket kekalahan kita,” katanya.
Sehingga ketika seseorang mengalami ketegangan produktif, Coach Gunawan justru menyarankan untuk memperluas zona nyaman.
Bukan sebaliknya ke luar dari zona nyaman, sebab pada dasarnya semua orang tidak suka yang tidak nyaman basically secara psychologic.
“Saya mau memberikan sebuah ilustrasi tentang paradoks pertumbuhan ini. Saya mengilustrasikan dengan sebuah kapal. Dimana anatomi kapal itu adalalah kepemimpinan, atau anatomi dalam diri kita,” ujarnya.
Ia menyebutnya pertama sebagai layar atau semacam haluan cara berkomunikasi, taktik dan metode operasional. Layar ini bersifat responsif terhadap arah angin, karena tanpa layar adaptif, kapal tidak bergerak.
“Nah, yang kedua adalah dimensi yang tidak terlihat, ada wilayah yang tersembunyi, yaitu yang namanya lunas. Lunas itu bukan selesai kita membayar sesuatu lunas. Pengertian kosakata lunas di sini adalah keel,” katanya.
Menurut dia, jika keel ini dalam sebuah kapal, maka adalah bagian dari struktur utama kapal.
Bisa jadi hal itu sebuah kayu yang sangat kuat atau besi yang sangat kokoh yang menjadi kerangka utama, pondasi utama sebuah kapal.
“Jika digambarkan sebuah value adalah nilai inti (core value). Itu bisa jadi komitmen, atau kejujuran yang menjadi jati diri kita. Dan lunas berfungsi sebagai stability, area penjaga keseimbangan. Jadi lunas itu adanya di bawah tersembunyi, berupa nilai-nilai identitas kita,” katanya.
Sementara layar dalam diri setiap manusia itu, disebut sebagai external behavior (perilaku eksternal).
“Dimana dia bisa terlihat, dia bisa terdengar. Tetapi lunas ini adalah inti dari yang kita sebut sebagai value, basic value,” katanya.
Namun, untuk mengubah arah kapal tersebut, diperlukan layar yang akan mengubah arah kapal, sehingga kapal bisa bermanuver di dalam samudera atau di dalam kehidupan sehari-hari.
“Tapi kalau layarnya tidak bergerak, dan kapalnya diam saja, bisa salah arah. Nah, banyak orang justru terperangkap di sini, karena mengasumsikan bahwa layar kita ini bagaikan jadi lunas,” katanya.
Apabila lunas tersebut diganti, maka kapal tersebut harus diganti dan semua strukturnya dihancurkan.
Artinya, ganti lunas itu berarti ganti kapal. Sedangkan layar itu tidak akan mengubah kapal, karena yang diubah hanya arahnya.
“Lalu, kenapa manusia banyak yang justru against change atau melawan perubahan, karena ada manusia yang tidak nyaman dengan perubahan. Kenapa ada manusia kok sudah tahu harus berubah, tapi kok sulit gitu? Karena otak kita itu selalu menjaga keamanan dan kenyamanan,” paparnya.
Faktor Penyebab Tak Mau Berubah
Menurut Coach Gunawan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Pertama adalah mind trap atau jebakan pikiran.
Karena ketika mengubah cara dalam bekerja, penampilan ada kekuatiran atau ketakutan kehilangan jatidiri, otoritas atau reputasi.
“Ada resistensi identitas. Kalau saya berubah kira-kira orang lain melihat saya bagaimana? Jangan-jangan saya dianggap tidak konsisten. Kita tidak bisa berubah itu, karena ada keinginan yang tersembunyi,” ujar Wasekjen Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora ini.
Padahal resistensi identitas ini, kata dia, tidak berpengaruh pada masalah otoritas atau reputasi seseorang, dan hanya menjadi keyakinan yang tidak memberdayakan.
“Tetapi ketika berorganisasi ini barulah kita berbicara tentang reputasi, apalagi saat melibatkan publik. Misalnya saat dia harus mengambil keputusan yang sangat tegas, tapi dibilang tidak cocok melakukan gaya direktif, karena komunikasinya penuh empati dan narasinya bagus. Nah, ini resistensi dalam organisasi bisa resistensi identitas atau jati diri,” paparnya.
Faktor kedua adalah resistensi kompetensi. Hal ini berkaitan dengan pengalaman sukses di masa lalu yang berkaitan dengan skill, kemampuan tertentu atau kompetensi tertentu.
“Dia malas untuk mempelajari sesuatu yang baru, karena belum tentu sukses. Ada keengganan untuk memulai sesuatu yang baru, yang belum ada jejak kesuksesan di masa lalu. Dia memasukkan kesuksesan itu di dalam portofolio sejarah perjalanan hidupnya. Tapi pertanyaannya, apakah dunia itu tetap selalu sama?” tanya Coach Gunawan.
Ia mengatakan, realitas eksternal di sekeliling setiap orang, tentu saja mengalami perubahan yang signifikan, karena berkaitan dengan kelincahan kognitif (cognitive flexibilities) dan kesadaran dari dalam.
“Ketika kita sukses, berhasil, menang, dan bisa melampaui achievement yang kita tuju. Maka prefrontal kortex kita dibanjiri dopamine (hormon bahagia). Perasaan kita jadi nyaman, menjadi superior, bahagia. Wah, I get it. I nail it. Saya bisa, saya mampu dan terbukti. Tetapi tiba-tiba ada satu cerita simpangan hidup, patahan hidup, di mana misalkan cara ini sudah tidak bisa pakai lagi,” ujarnya.
Sebab, dunia sudah berubah, sehingga harus terus belajar untuk menggunakan cara yang baru, berganti haluan, dan tidak bisa menggunakan cara lama lagi.
“Memulai sesuatu ini penuh dengan tekanan secara indirect, secara tidak langsung, kita ditekan oleh keadaan. Ketika proses tekanan itu hadir, itulah saya sebut sebagai ketegangan produktif,” katanya.
Ketika ada ketegangan produktif ini, lanjutnya, maka andrenalin seseorang bisa naik dan akan terjadi kelelahan dan stres yang cepat, karena akan ada perubahan yang tidak dari zona zaman sebelumnya.
“Makanya kita hati-hati, kalau kita mendengar kawan kita, pimpinan kita atau siapapun di antara kita yang dulu, saya begini, dulu begini dan dulu begitu. Kita jangan sampai terjebak oleh nostalgia dan pengalaman masa lalu,” katanya.
Hikmahnya, adalah bukan value dalam konteks peristiwa yang didapat, tetapi resistensi kompetensi berkaitan dengan belajar hal-hal yang baru.
Faktor ketiga adalah resistensi loyalitas. Dimana hal ini terjadi pada organisasi yang sudah sangat mapan.
Organisasi ini biasanya mengutamakan tradisi atau senioritas yang dilakukan secara turun temurun, sehingga menjadi jati diri.
“Akhirnya menjadi lunas, padahal itu harusnya layar. Tetapi karena terus diulang dan dijadikan ritual, menyebabkan kita menjadi resistensi loyalitas,” katanya.
Ketika tradisi itu akan diubah, ada semacam perasaan bersalah kepada organisasi, senior dan lain-lain.
“Itu adalah kebiasaan yang akhirnya jadi keyakinan, jadi identitas dan jadi akar terdalam yang men-driven kita. Padahal dunia berubah, landscape-nya semua berubah dan perubahan yang sangat cepat ini menimbulkan ketidakpastian,” katanya.
Ketidakpastian ini disertai dengan kompleksitas, dimana perubahannya tidak bisa berdiri sendiri. Baik di dunia perusahaan, psikologi modern, bahkan dalam kebijakan bernegara sekalipun.
“Kita akhirnya terjebak dalam dua kesalahan berpikir tentang pertumbuhan. Pertama sebuah keyakinan komunal, karena digaungkan di mana-mana dan mempengaruhi dari internal diri kita,” katanya.
Kedua adalah logical fallacy atau sesat pikir yang menganjurkan agar tetap menjadi diri sendiri atau konsisten dalam menjaga kemurnian dan keaslian dirinya. “Tetapi pertanyaannya yang dijaga itu nilainya atau caranya?”.
“Jadi kesalahan berpikirnya ada dua. Kalau saya berubah, seolah-olah berubah jati dirinya. Atau yang kedua, seolah-olah kalau kita berubah, kita tidak istigamah, tidak menjaga pakem dari nilai-nilai yang kita yakini. Akhirnya keduanya ini saling mengunci,” sambungnya.
Pada akhirnya, orang tersebut tidak bergerak ke mana-mana, dan hanya di situ-situ saja karena dia mengembangkan atau memunculkan narasi kedikjayaan masa lalu di dalam dirinya.
Karena itu, ada tiga prinsip yang harus direnungkan. Pertama lunas itu bukan seluruh kapal, dimana penyampaiannya bisa disesuaikan dengan relevansi dan kebutuhan. Minimal menjadi pemimpin untuk diri sendiri dan keluarga.
Prinsip kedua adalah kapal yang terlalu lama bersandar akan berlumut, akibat pemimpin tersebut tidak berubah dalam waktu sekian lama.
“Jadi yang kita sebut sebagai perubahan, yang kita jaga itu lunasnya bukan, layarnya,” tegas Coach Gunawan.
Prinsip ketiga adalah kontraintuitif. Dia dianggap orang yang paling tahu, paling jelas jati dirinya, dan paling berani melakukan perubahan. Prinisp dan keyakinannya sangat kuat untuk berubah.
“Pemimpin atau seseorang yang sangat kuat memegang lunasnya, memegang core value-nya, dia akan menjadi orang yang paling berani. Dia pemimpin yang paling berani mengarungi lautan. Kenapa? Karena kokoh, konstruksi tulang rangkanya sangat kuat dan bisa mengarungi lautan. Tapi kalau konstruksinya lemah, jangankan mengarungi lautan, baru berlayar beberapa lama dengan kecepatan berapa knot mungkin sudah retak lunasnya. Kena karang, kena badai dan seterusnya,” jelas dia.
Coach Gunawan berharap seluruh kader Partai Gelora dapat memegang prinsip ‘hold the principle, hold the core so tigh’ atau ‘pegang teguh prinsipnya, jaga inti (nilai dasar) tersebut dengan sangat erat’ akan dapat melalui ketegangan produktif.
“Ini prinsip saya. Ketika memegang yang prinsip kuat dan memegang cara sama kuatnya, itu saya bilang adalah kontradiktif yang sering disebut paradok flexibility. Jadi paradok fleksibilitas, adalah hanya kapal dengan lunas yang kuat yang berani masuk ke perairian dalam,” tegasnya.
Hal ini merupakan pertumbuhan, bukanlah pergantian identitas, melainkan penguatan kapasitas yang membuat cita-cita makin cepat karena pondasinya kokoh.
“Pesan saya hati-hati dengan kenyamanan yang menyamar sebagai lunas. Sebab, Tidak semua yang kita pertahankan itu lunas.. Tidak semua yang kita pertahankan itu nilai-nilai dasar. Tidak semua yang kita jaga itu juga bisa jadi nilai inti kita. Jangan sampai karena sudah terbiasa melakukan sesuatu akan menjadi jati diri yang bukan sesungguhnya atau jati diri palsu,” pungkasnya.