Category: Kegiatan

Pentingnya Keberanian Moral dan Bahaya Mempertahankan Kesalahan dalam Perjuangan Politik

Partaigelora.id—Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menegaskan bahwa perjuangan politik tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai spiritual dan pensucian jiwa (tazkiyatun nafs).

Hal tersebut mengemuka dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual yang disampaikan Ketua DPP Koordinator Pelaksana Harian Partai Gelora Indonesia, Rofi’ Munawar dengan tema ‘Keberanian Moral dalam Perjuangan Politik’ pada Selasa (27/10/2026) malam

Dalam pemaparannya, Rofi’ Munawar mengawali kajian dengan merujuk pada doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW agar umat Islam senantiasa berlindung dari delapan penyakit jiwa, termasuk sifat pengecut (al-jubnu) dan bakhil (al-bukhlu).

Menurutnya, sifat pengecut merupakan akhlak tercela yang harus dilawan dengan memunculkan sikap keberanian dalam mengawal perjuangan politik sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

Ia mengatakan, ada tiga fakta penting terkait relevansi pensucian jiwa dalam realitas kehidupan. Pertama menyangkut amal dan resiko pengoran jiwa.

Semakin besar kerja dan amal seseorang, semakin tinggi pula potensi pengotoran jiwa akibat dinamika lapangan.

“Oleh karena itu, ibadah seperti salat, puasa, dan infak sangat dibutuhkan untuk mengimbanginya,” kata Rofi’.

Kedua terkait tidak terpisah dari realitas: Mengutip pandangan ulama kontemporer Dr. Yusuf Al-Qardhawi, ia menegaskan bahwa tazkiyatun nafs bukanlah pelarian ruhani yang menjauh dari realitas sosial-politik.

“Politik adalah bagian dari ibadah dan amal saleh yang tidak boleh ditinggalkan hanya karena dianggap ‘kotor’,” katanya.

Ketiga benteng demoralisasi. Yakni siapa pun, termasuk para pemimpin dan kalangan terdidik, memiliki potensi mengalami demoralisasi.

“Pensucian jiwa berfungsi sebagai benteng mental dan spiritual agar tetap istikamah di jalan kebaikan,” katanya

Baca juga:

Selnajutnya, ada tujuh prinsip keberanian moral perjuangan politik yang menjadi prinsip yang harus dimiliki oleh setiap kader dan pejuang politik.

Pertama, pejuang politik harus memiliki keyakinan kokoh terhadap nilai yang diperjuangkan serta berani merealisasikannya meski menghadapi jalan yang terjal dan penuh tantangan.

Kedua, sorang politisi harus siap menanggung tanggung jawab dan risiko atas setiap keputusan sulit, bukan sekadar mencari keuntungan pribadi semata. Tawakal kepada Allah SWT menjadi kunci ketenangan dalam menghadapi risiko tersebut.

Ketiga mampu mengatasi kelemahan diri (seperti malas dan mudah galau) sekaligus tegar menghadapi tekanan serta resistensi eksternal dari status quo akibat gagasan besar yang dibawa.

Keempat konsistensi membela kaum tertindas—seperti komitmen Partai Gelora terhadap kemerdekaan Palestina—merupakan wujud nyata moralitas politik.

Kelima berani melakukan muhasabah dan autokritik. Sebab, sering kali seseorang mudah mengoreksi pihak lain, tetapi lupa mengevaluasi diri sendiri dan partainya. Keberanian melakukan autokritik adalah fondasi utama perbaikan.

Keenam berani mundur dari sikap yang salah: Karena salah satu penyakit fatal pemimpin politik adalah bertahan pada kesalahan yang berujung pada kesewenang-wenangan (dzulm).  Sebab, keberanian meralat kesalahan dapat menyelamatkan pemimpin dari jurang kejatuhan.

Ketujuh, sebagai puncak keberanian moral, seorang pejuang politik harus siap mengorbankan waktu, harta, dan zona nyamannya demi terwujudnya cita-cita besar bersama, serta tidak menjadi mental ‘penumpang gelap’ yang hanya ingin mengambil keuntungan di atas pengorbanan orang lain.

Dalam kesempatan ini Rofi’ menjelaskan bahwa ketakutan seorang politisi dalam mengambil risiko atau menghadapi tekanan pada dasarnya merupakan indikasi bahwa jiwa yang bersangkutan sedang kotor atau diliputi keragu-raguan.

“Ketika seseorang takut mengambil risiko atas perjuangan politik yang telah diyakini kebenarannya, sebetulnya jiwanya sedang kotor. Keragu-raguan inilah yang melahirkan sifat pengecut, malas, stres, hingga hilangnya keberanian mengambil keputusan besar,” jelas Rofi’.

Oleh karena itu, lanjutnya, tazkiyatun nafs menjadi instrumen penting yang harus ditempuh melalui ibadah ritual dan tilawah Al-Qur’an.

Sebab, pensucian jiwa ini akan menghadirkan ketenangan (ithmi’nan) dan kelapangan dada, sehingga seorang pemimpin memiliki kejernihan berpikir dalam melangkah.

Ia lantas mnyoroti fenomena para pemimpin politik yang enggan mengoreksi diri, Rofi’ mengingatkan bahwa bertahan dalam sikap yang salah demi melanggengkan kekuasaan justru akan menjadi bumerang.

Menurutnya, ketika pemimpin bertahan dalam kesalahan, pandangan mereka akan buram dan kehilangan arah, sehingga kerap mengambil keputusan keliru yang justru mempercepat kerapuhan dan kejatuhan kepemimpinan mereka secara sunatullah.

Kajian spiritual  ini, ditutup dengan pembacaan doa kaffaratul majelis. Diharapkan mampu memberikan pencerahan sekaligus memperkokoh mental dan integritas kader Partai Gelora agar senantiasa memiliki keberanian moral, siap berkorban, dan konsisten memperjuangkan cita-cita besar bangsa.

Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan Tidak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

Partaigelora.id-Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah menyampaikan refleksi perjalanan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka setelah tepat dua tahun dilantik.

Refleksi tersebut disampaikannya dalam acara Kajian Pengembangan Wawasan Kebangsaan bertajuk “Dua Tahun Prabowo Sudah Sesuai Harapan?” pada Jumat (23/10/2026) malam.

Fahri  yang juga Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI ini mengajak kader Partai Gelora dan seluruh elemen masyarakat untuk terus berpikir rasional dan tidak bersikap emosional di tengah dinamika informasi media sosial.

Menurutnya, rasionalitas publik adalah fondasi utama dalam membangun peradaban politik bangsa. Ia menyoroti kritik tajam Prabowo terhadap dominasi neokapitalisme dan kelemahan peran negara pasca-Orde Baru yang memicu ketimpangan ekonomi ekstrem.

“Inti dari pemikiran Presiden Prabowo adalah berakar pada semangat kembali ke Pasal 33 UUD 1945 atau Ekonomi Pancasila,” tegas Fahri Hamzah dalam keterangannya, Minggu (25/10/2026).

Sehingga fokus utama Presiden adalah menutup dua jenis kebocoran besar, yakni kebocoran anggaran birokrasi serta kebocoran sumber daya alam yang selama ini dinikmati pihak luar.

Langkah pengetatan anggaran dan pembentukan kelembagaan yang dilakukan Presiden Prabowo, kata dia, dalam rangka untuk mengontrol penjualan komoditas strategis—seperti sawit dan mineral.

“Dimaksudkan agar hasil kekayaan bumi Indonesia dapat langsung dirasakan untuk pengentasan kemiskinan dan malnutrisi anak-anak,” kata Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019.

Fahri menegaskan, bahwa  gagasan dan niat Presiden Prabowo sangat ideal, namun semua keberlanjutannya sangat bergantung pada institusi pelaksananya agar sampai ke masyarakat.

Sehingga diperlukan penguatan kelembagaan demokrasi, serta pentingnya mengawal sisa masa jabatan pemerintahan dengan pendekatan ilmiah dan berbasis data.

Sebab, di era digital yang dipenuhi oleh interaksi intensif serta kebebasan berpendapat di media sosial, Fahri minta masyarakat mampu menjadi kelompok yang matang, dewasa, dan rasional.

Menurut Fahri, keberlanjutan program-program strategis nasional tidak boleh hanya bergantung pada figur seorang pemimpin yang ideal, melainkan pada keandalan sistem dan kelembagaan negara yang menjalankannya.

Ia menegaskan pentingnya pembagian peran yang seimbang di antara cabang-cabang kekuasaan seperti legislatif harus tetap menjaga independensinya untuk mengawasi eksekusi program-program kesejahteraan yang dijalankan oleh jajaran eksekutif.

Sedangkan yudikatif hadir untuk mengadili dan menyelesaikan sengketa secara adil jika terjadi pelanggaran di lapangan. Sementara masyarakat sipil dan publik, berperan aktif mengontrol serta memanfaatkan perkembangan teknologi.

“Masyarakat sipil tidak perlu ragu untuk mengajukan kritik secara rasional dan berbasis data. Sekarang zamannya teknologi, keterbukaan ini justru membantu Presiden dan pemerintah untuk melakukan perbaikan dari waktu ke waktu,” jelasnya.

Fahri menekankan pentingnya membangun kecerdasan politik dengan melihat setiap persoalan secara holistik.

“Tingkat kecerdasan kita yang baik adalah ketika kita terbiasa membaca cara kerja negara seperti cara kerja sistem. Kita tidak boleh terjebak pada sentimen pribadi, emosi, atau penilaian subjektif like and dislike. Pemimpin atau pejabat bisa datang dan pergi, tetapi kelembagaan itu harus semakin terbuka, kompeten, dan efisien,” ujar Fahri.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini mengajak seluruh elemen masyarakat, baik yang berada di dalam maupun di luar pemerintahan, untuk terus mengedepankan dialog terbuka.

Ia menegaskan bahwa mereka yang berada di pemerintahan tidak boleh menghindar dari diskusi mengenai fakta lapangan, sementara mereka yang menyampaikan kritik diimbau untuk membawanya dengan data yang akurat agar terbangun iklim dialog yang sehat.

“Partai Gelora akan terus hadir sebagai partai berpengetahuan yang menawarkan gagasan dan solusi. Mudah-mudahan perjalanan ke depan semakin positif sehingga seluruh rakyat dapat merasakan kehadiran negara menuju Indonesia yang adil dan sejahtera,” pungkasnya.

Rully Syumanda Minta Penegakan Hukum Kasus Karhutla Lebih Tegas Lagi: Cabut Izin Korporasi yang Terlibat

Partaigelora.id– Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP Partai Gelora Indonesia, Rully Syumanda, menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia sebenarnya bisa diselesaikan hingga zero burning (nol kebakaran) jika ada ketegasan dalam penegakan hukum dan kejelasan rantai komando dalam pemadaman.

Hal tersebut disampaikannya dalam Podcast  Gelora Talks bertajuk ‘Rahasia Di Balik Karhutla: Teknologi Ada, Kenapa Tidak Dijalankan?’ yang dipandu oleh Ketua DPP Koordinator Bidang Kebijakan Publik Sarah Handayani dan ditayangkan melalui kanal YouTube Gelora TV pada Kamis (22/10/2026) malam.

Rully menjelaskan, bahwa meskipun luasan hutan yang terbakar pada tahun 2026 diklaim kurang dari 1 juta hektar oleh Kementerian kehutanan dan Kementerian lingkungan hidup—jauh lebih kecil dibandingkan tahun 1998 (10 juta ha) dan 2015 (6 juta ha). Tetapi dampak kabut asap yang ditimbulkan kali ini jauh lebih parah.

“Asapnya sangat luar biasa sampai ke Banda Aceh dan Jakarta karena yang terbakar saat ini adalah lahan gambut. Gambut itu menyerap air, tetapi kalau airnya lepas dan terbakar, kedalaman apinya bisa mencapai 4 meter di bawah permukaan tanah dan sulit dikontrol,” ujar Rully.

Ia juga menyoroti praktik pembakaran yang kerap dipilih oleh pemegang konsesi lahan maupun masyarakat karena dianggap sebagai cara paling murah untuk merubah dan menurunkan tingkat keasaman tanah gambut agar siap ditanami, ketimbang menggunakan kapur dolomit atau penanganan kimia lainnya.

Rully menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya sudah memiliki modal teknologi yang sangat memadai untuk memantau Karhutla secara real-time, salah satunya melalui sistem satelit SiPongi yang sudah ada sejak era 2000-an.

“SiPongi itu bisa mendeteksi hotspot hingga luasan meter. Kalau titik hotspot muncul, pemerintah tinggal menghubungi pemegang konsesi untuk segera memadamkan. Kenapa ini tidak dilakukan? Padahal teknologinya ada dan struktur komando sampai ke tingkat desa sudah siap,” jelasnya.

Partai Gelora berharap ada perbaikan aturan perizinan bagi perusahaan pemegang konsesi. Selama ini, audit sarana dan prasarana (sarpras) pencegahan kebakaran dilakukan oleh kementerlian lingkungan hidup. Namun, hal itu sering kali baru dilakukan 2 hingga 4 tahun setelah izin konsesi keluar.

Rully menyarankan agar kesiapan sarpras dan organisasi pemadam kebakaran internal perusahaan dijadikan syarat mutlak di awal penerbitan izin dan diberlakukan secara surut (retroactive).

“Kalau perusahaan tidak siap dengan sarpras dan tim pemadamnya, mendingan izinnya dicabut. Jangan sampai izin keluar, land clearing dengan cara dibakar selesai, baru sarprasnya diusulkan,” tegas mantan aktiviuis WALHI ini.

Terkait dampak sosial, Rully mendesak pemerintah untuk memprioritaskan keselamatan dan kesehatan warga di wilayah terdampak seperti Sumatera dan Kalimantan.

Baca juga:

Negara diminta membagikan masker secara masif, menyediakan obat-obatan ISPA gratis, dan mengoptimalkan penanganan di Puskesmas.

Selain itu, ia meminta adanya harmonisasi tata kelola antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan BNPB sesuai Instruksi Presiden (Inpres) No. 3 Tahun 2020.

“Penanganan Karhutla tidak boleh berjalan sendiri-sendiri atau saling lempar tanggung jawab antara pusat yang memegang izin konsesi dan daerah yang menanggung dampak kebakaran,” kata Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP Partai Gelora ini.

Mengenai ancaman gugatan dari negara tetangga akibat kabut asap lintas batas, Rully menilai hal tersebut sebagai peringatan keras bagi Indonesia untuk berani menindak tegas korporasi pelaku pembakaran, termasuk perusahaan berinvestasi asing.

“Tahun depan kita bisa mencapai zero kebakaran. Semuanya tergantung niat dan kemauan untuk menjalankan aturan dan hukum yang ada,” tegasnya.

Rully Syumanda menegaskan bahwa krisis Karhutla yang terus berulang setiap kali memasuki musim kering atau fenomena El Nino seharusnya bisa diantisipasi dengan mudah oleh pemerintah.

Baca juga:

Menurutnya, pemerintah dalam hal ini, kementerian kehutanan dianggap gagal membaca pola musiman yang sudah berlangsung secara konsisten sejak tahun 1998.

“Seorang menteri kehutanan seharusnya sudah bisa melihat kalau ini adalah pola. Ketika masuk El Nino, dia sudah bisa membaca bahwa akan terjadi pembakaran hutan, pasti itu. Karena ini pola yang selalu berulang sejak 1998, harusnya gampang sekali melakukan pencegahan jika kita mau belajar dari masa lalu,” ujar Rully.

 Rully menambahkan bahwa akar permasalahan utama dari Karhutla yang berlarut-larut ini kembali pada keberanian dan komitmen pemerintah dalam menegakkan aturan demi mengabaikan kepentingan korporasi nakal yang meraup keuntungan besar dengan meminimalisir modal lewat cara membakar lahan.

“Gampang sekali sebenarnya. Mau enggak ngelakuin itu? Mau enggak kita menghindari kepentingan-kepentingan konsesi, kepentingan korporat-korporat yang mengambil untung sangat besar dari proses pembakaran ini?” tegas Rully.

Gelora Talks ditutup dengan pernyataan keprihatinan mendalam atas musibah Karhutla yang terus mencederai dan merugikan jutaan masyarakat Indonesia di bumi tropis.

Ketua DPP Korbid Kebijakan Publik Partai Gelora Sarah Handayani mengingatkan bahwa permasalahan lingkungan hidup merupakan bagian dari keseharian dan kebijakan publik yang harus disuarakan bersama.

Kepedulian terhadap lingkungan harus terus disuarakan, agar insiden Karhutla di tahun 2026 ini menjadi musibah pembakaran hutan yang terakhir kalinya bagi Indonesia.

Politisi Harus Kedepankan Kerendahan Hati dalam Berpolitik seperti Prinsip ‘Filosofi Padi’

Partaigelora.id – Partai Gelora Indonesia kembali menggelar program Ngaji Politik dalam Serial Spiritualitas Politik bertajuk ‘Kejar Puncak Amal Tanpa Merasa Paling Berjasa’ yang disiarkan secara langsung melalui berbagai kanal digital resmi partai pada Rabu (21/10/2026) malam.

Hadir sebagai narasumber, Ketua Bidang Syiar dan Dakwah DPP Partai Gelora, K.H. Muhith Ishak, Lc., M.A., yang memaparkan pentingnya integrasi antara nilai-nilai keagamaan dan etika berpolitik di ruang publik.

Dalam kajiannya, K.H. Muhith menyampaikan bahwa tantangan terbesar umat Islam selama bertahun-tahun adalah pemisahan antara ajaran agama dan urusan kehidupan bernegara.

Padahal, merujuk pada pandangan Imam Al-Ghazali, kekuasaan dan agama adalah saudara kembar.

“Melalui Ngaji Politik ini, kita ingin menggerakkan umat dengan semangat integrasi yang kuat. Aktivasi diri umat dalam politik pada mulanya harus didasari panggilan agama, sehingga motivasinya bersifat partisipasi aktif dan substansial, bukan sekadar dorongan transaksional,” ujar K.H. Muhith.

Ia menegaskan bahwa kerja politik merupakan industri gagasan dan ruang ijtihad yang bersifat relatif, serta harus selalu sejalan dengan platform cita-cita kebangsaan sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Umat Islam didorong untuk mengambil peran sebagai pelaku sejarah (fa’il), bukan sekadar penonton.

K.H. Muhith mengingatkan para politisi dan aktivis dakwah agar senantiasa mengedepankan kerendahan hati (tawadu) dalam berpolitik.

Ia mengibaratkannya dengan ‘filosofi padi’—di mana semakin berisi ilmu dan amal seseorang, ia harus semakin menunduk, bukan sombong.

Mengutip Surah An-Najm ayat 32 (fala tuzakku anfusakum), ia menegaskan larangan bagi seseorang untuk menganggap dirinya paling suci atau paling benar.

Baca juga:

Ia juga memperingatkan bahaya menjadikan isu agama, surga, dan neraka sebagai komoditas politik praktis untuk mendiskreditkan pihak lain.

“Jangan sampai surga dikapling menjadi milik kelompok sendiri dan neraka untuk orang lain. Sikap seperti itu adalah kekanak-kanakan dalam beragama. Politik harus dibawa menjadi aktivitas yang menyenangkan, menyatukan, dan mencerahkan, bukan menakutkan atau memecah belah,” tegasnya.

Lebih lanjut, K.H. Muhith berpesan agar politisi berorientasi pada kerja nyata yang dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat luas dalam jangka panjang, bukan sekadar terjebak pada politik pragmatis sesaat seperti ‘serangan fajar’ yang efeknya merugikan rakyat selama bertahun-tahun.

Terkait kekuatan modal atau oligarki dan budaya politik uang (money politics) yang masih mendominasi pemilu di Indonesia, menurut dia,  Islam telah menjelaskan dalam sejarahnya.

Dmana negara maupun dakwah sejak masa Nabi Muhammad SAW telah melibatkan para sahabat kaya raya—seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf—yang mendermawakan hartanya untuk kepentingan umat.

“Oleh karena itu, modal ekonomi sah-sah saja asalkan dikelola secara transparan dan di atas meja untuk kemaslahatan publik, bukan melalui transaksi di bawah meja,” katanya.

Sementara itu, untuk mematahkan mitos bahwa kontestasi politik tidak bisa dimenangkan tanpa modal uang seperti ‘serangan fajar’, K.H. Muhith mengajak para ulama, kiai, dan tokoh masyarakat untuk terus mengubah kesadaran publik secara bertahap.

“Jangan sampai masyarakat tertipu dengan manfaat serangan fajar yang hanya bertahan sesaat, tetapi harus menanggung penderitaan selama lima tahun ke depan. Hubungan antara pemimpin dan rakyat bukanlah hubungan transaksional jual-beli suara, melainkan hubungan amanah dan tanggung jawab,” tegasnya.

K.H. Muhith mengingatkan para politisi agar tidak saling menjatuhkan atau mengklaim diri paling lurus dan paling bersih.  Ia menegaskan bahwa setiap gagasan dalam politik adalah bentuk ijtihad yang bersifat relatif.

Sebab, pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan akal, ibarat orang-orang yang memegang bagian gajah yang berbeda-beda.

Sehingga perbedaan pandangan politik harus disikapi secara dewasa tanpa harus merendahkan pihak lain atau mengkapling surga dan neraka untuk kelompok tertentu.

Melalui program Ngaji Politik, Partai Gelora berharap dapat terus mencetak kader dan masyarakat yang memiliki kesadaran politik tinggi, berakhlak mulia, serta senantiasa mewariskan kebaikan bagi generasi masa depan bangsa.

Seluruh elemen masyarakat dihimbau untuk menjadikan politik sebagai sarana ibadah yang menyenangkan (fun), menyatukan, serta membawa kemaslahatan bagi bangsa, sejalan dengan pandangan bahwa agama dan kekuasaan adalah saudara kembar yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab.

Mengatasi Cognitive Debt, Coach Gunawan Ingatkan Pentingnya Nalar Kritis Manusia di Era AI

Partaigelora.id-Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang pesat telah mengubah berbagai tatanan kehidupan, mulai dari dunia akademis hingga budaya korporasi.

Meski memberikan kemudahan dan efisiensi, ketergantungan berlebih terhadap AI berpotensi memicu fenomena cognitive debt atau utang pemahaman pada diri manusia.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Manajemen Organisasi Partai Gelora Indonesia, Coach Gunawan, dalam kajian serial Internal Architecture Mindset Series bertajuk ‘Kenapa Kita Bisa Punya Cognitive Debt?’ yang digelar secara daring pada Selasa (20/10/2026) malam.

Dalam pemaparannya, Coach Gunawan menegaskan bahwa kajian Internal Architecture Mindset bukan bertujuan untuk memperdebatkan dampak positif atau negatif AI.

Melainkan untuk melihat secara jujur bagaimana peran AI dapat disinergikan demi mencapai produktivitas dan pencapaian tertinggi manusia tanpa mengikis daya kritis.

Ia menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung menyukai jalan pintas untuk menghemat energi otak.

“Konsep ini sejalan dengan teori psikologi Daniel Kahneman mengenai dua sistem berpikir, di mana otak manusia cenderung memilih keputusan yang paling hemat daya (effortless),” kata Coach Gunawan.

Sebab di era digital, hal ini berlanjut pada cognitive offloading, yaitu menyerahkan sebagian proses berpikir ke alat di luar kepala.

Namun, masalah timbul ketika terjadi cognitive debt—kondisi ketika utang pemahaman menumpuk akibat kerap melompati proses berpikir mendalam.

“Kita mendapatkan jawaban atau dokumen instan yang rapi dan bagus tanpa melewati proses berpikir mandiri. Hasilnya kelihatan meyakinkan, tetapi pemahamannya rapuh,” ujar Gunawan.

Baca juga:

Ia juga menyoroti kasus nyata di mana sebuah firma konsultan internasional yang menyusun dokumen tebal ratusan halaman menggunakan AI, namun kecolongan akibat mencantumkan referensi fiktif yang dihasilkan oleh rujukan tak valid (halusinasi AI).

Hal ini membuktikan bahwa hasil akhir yang tampak sempurna belum tentu didasari oleh pemahaman yang kuat.

Coach Gunawan memaparkan  tiga tanda utama seseorang mulai mengalami tumpukan utang kognitif, yakni pertama refleks otomatis, dimana tanda utama adalah langsung membuka aplikasi AI saat menghadapi tantangan atau ketidaktahuan, sebelum mencoba berpikir sendiri.

Kedua tidak tahan terhadap kebingungan. Seseorang menganggap rasa bingung sebagai masalah atau penyakit, padahal bingung merupakan tahap awal pertumbuhan nalar dan proses pengolahan data di otak.

Ketiga krisis kepercayaan diri, dimana sesoranf mengalami keraguan terhadap pendapat atau keputusan mandiri sebelum mendapatkan konfirmasi atau validasi dari mesin AI.

“Untuk menjadikan AI sebagai mitra kerja (copilot) yang sehat tanpa mengorbankan kapasitas berpikir manusia, maka diperlukan tiga langkah mencicil utang pemahaman,” katanya.

  • Nyalakan Mesin Bertanya: Sebelum bertanya kepada AI, biasakan diri mengajukan pertanyaan Why, What, How, dan What If secara mandiri untuk melatih kognitif.
  • Urai Dulu Baru Terima (Metode Descartes): Jangan murni menelan jawaban AI secara mentah. Bedah setiap informasi, periksa bukti validitasnya, dan cari kemungkinan pengecualian (exceptional cases).
  • Uji Tutup Layar: Setelah mendapatkan jawaban dari AI, tutup layar dan cobalah menjelaskan kembali materi tersebut menggunakan bahasa sendiri selama 60 detik. Jika masih tersendat, berarti materi tersebut belum sepenuhnya dipahami.

“Jadi AI adalah alat bantu dan mitra kerja yang kita latih dan kita arahkan, bukan tempat kita menggantungkan seluruh fungsi berpikir. Pengetahuan adalah sumber daya, dan pemahaman adalah kunci untuk menggunakannya secara efektif, relevan, serta berdampak,” katanya.

Paradoks Informasi

Dalam kesempatan ini, Coach Gunawan menyoroti tantangan era modern yang disebut sebagai era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible).

Ia mengatakan, manusia saat ini dihadapkan pada paradoks, tenggelam dalam lautan informasi (drowning in information), namun haus akan kebijaksanaan dan fokus.

“Banjir informasi yang kontradiktif, ditambah masifnya arus data yang tidak tersaring, kerap memicu cognitive fatigue (kelelahan kognitif), noisy of mind (pikiran berisik), hingga inner turmoil (huruhara batin),” jelasnya

Untuk menyikapi hal tersebut, manusia tidak bisa menolak informasi, melainkan harus menyaringnya menggunakan empat pertanyaan utama (Ultimate Questions):

  1. Relevansi: Informasi mana yang paling related (nyambung) dengan diri kita?
  2. Prioritas Waktu: Informasi mana yang paling penting untuk detik ini (bukan masa lalu atau masa depan)?
  3. Kemudahan: Mana informasi yang paling mudah kita kelola?
  4. Pesan Ilahi: Apa pesan baik atau pelajaran yang dititipkan di balik peristiwa tersebut?

Ia lantas membagikan pengalamannya dalam menggunakan platform AI secara bijak. Ketergantungan atau kecanduan terhadap AI dapat diidentifikasi melalui dua ciri utama.

Yakni merasa tidak percaya diri (tidak PD) tanpa konfirmasi AI, serta merasa tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan teknologi tersebut.

Wakil Sekjen Manajemen Organaisasi Partai Gelora ini menegaskan bahwa kebingungan bukanlah sebuah penyakit atau kondisi patologis, melainkan tanda awal bahwa sistem saraf dan otak sedang bekerja, menganalisis, serta bertumbuh.

“Kalau tidak bingung, berarti otak tidak dipakai. Kebingungan adalah bagian dari cara otak kita mengolah sumber daya,” ujar Gunawan.

Lebih lanjut, ia mengaitkan pentingnya ketahanan mental dengan konsep primal wound (luka dasar). Empati dan resiliensi sejati tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari pergulatan mengatasi luka, duka, dan kebingungan. Orang-orang yang membawa pencerahan adalah mereka yang mampu menemukan cahaya di tengah proses yang tidak mudah.

Ia menilai perlunya sebuah refleksi penting mengenai teknologi dan diri manusia. Dimana sSetiap gawai seperti ponsel pintar atau laptop selalu dilengkapi dengan panduan manual (manual book).

Namun, manusia sering kali melupakan ‘buku panduan’ untuk mengoptimalkan potensi dan cara kerja akal mereka sendiri.

Melalui sinergi yang tepat, AI harus diposisikan sebagai penyedia sumber daya dan pengetahuan pendukung (copilot).

Sementara kendali berpikir kritis, kreativitas, empati, dan kompas moral tetap dipegang penuh oleh akal manusia demi mencapai kehidupan yang lebih produktif dan bermakna.

Mahfuz Sidik Intruksikan Kader Gelora Bantu Korban Asap Karhutla dan Gelar Doa Bersama Minta Hujan

Partaigelora.id-Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik mengatakan, Partai Gelora berkomitmen hadir mendampingi masyarakat yang terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah, khususnya di Sumatera dan Kalimantan.

Mahfuz menginstruksikan seluruh jajaran pengurus, kader, dan simpatisannya di daerah untuk bergerak cepat menyalurkan bantuan kepada warga yang terimbas krisis kabut asap.

Intruksikan tersebut ia sampaikan di sela-sela Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik  bertajuk  ‘Perang di Timur Tengah Mereda: Hingga Pemilu Usai? yang digelar secara daring pada Jumat (16/10/2026) malam.

“Kepada saudara-saudara kita yang ada di Kalimantan dan Sumatra yang masih terus berjuang menghadapi kepungan asap, kami menyampaikan rasa keprihatinan dan solidaritas yang mendalam. Kami mendorong seluruh sahabat Gelora di sana untuk terus membantu warga masyarakat dengan apa pun kemampuan yang kita miliki,” ujar Mahfuz dalam keterangannya, Minggu (18/10/2026).

Mahfuz mengajak seluruh kader Partai Gekora dan masyarakat di berbagai daerah untuk berdoa bersama agar segera hujan  dan musibah ekologis akibat karhutla ini dapat segera teratasi.

“Kita berharap pemerintah bisa segera menuntaskan masalah ini hingga ke akarnya. Dan semoga Allah SWT memberikan pertolongan bagi bangsa kita dengan menurunkan hujan yang lebat dan merata, sehingga musibah api dan asap ini bisa segera berakhir,” katanya.

Ia menaruh harapan besar kepada pemerintah pusat maupun daerah agar segera mengambil langkah tegas dan efektif untuk memadamkan titik api serta mengusut tuntas penyebab kebakaran.

Menurut dia, karhutla bukanlah bencana alam baru, melainkan musibah lingkungan yang terus berulang selama hampir 45 tahun sejak 1983.

Ia mencatat sedikitnya tujuh kali peristiwa karhutla berskala sangat besar dengan total luas area yang terbakar mencapai tak kurang dari 16 juta hektare.

Sekjen Partai Gelora ini  menekankan,  bahwa Indonesia—yang memiliki sekitar 60% hutan gambut tropis dunia—seharusnya sudah mampu merumuskan pola kejadian dan solusi sistemik yang efektif agar bencana ekologis ini tidak diwariskan ke generasi mendatang.

“Kita tidak bisa terus berapologi bahwa lahan gambut kita luas. Dari analisis empat variabel—pola waktu, lokasi, luas area, serta tindakan pasca-kejadian—terlihat jelas dari titik panas (hotspot) tingkat kepercayaan tinggi bahwa mayoritas kebakaran besar terjadi di lahan konsesi milik perusahaan,” jelas Mahfuz.

Ia membantah opini yang memojokkan masyarakat lokal atau petani tradisional lewat tradisi tebas-bakar sebagai penyebab utama.

Menurut kajiannya, faktor utama karhutla justru didorong oleh aktivitas korporasi perkebunan maupun industri.

Oleh sebab itu, ia mendesak pemerintah menggunakan otoritas penuh secara tegas untuk menegakkan hukum tanpa terpengaruh oleh kekuatan korporasi.

Terkait rencana diversifikasi energi nasional seperti pengembangan bahan bakar nabati (biofuel), Mahfuz mengigatkan adanya tantangan lingkungan akibat berulangnya bencana karhutla.

Ia menilai industrialisasi lahan hutan untuk proyek energi harus dilakukan secara hati-hati agar tidak memicu pembalasan ekologis maupun tekanan internasional.

“Bencana karhutla harus diselesaikan dulu secara sistemik. Jangan sampai industri energi terus bertumbuh tetapi merusak ekosistem dan menciptakan ketidakadilan lingkungan,” pungkasnya.

Mahfuz Sidik: Konflik Timteng Mirip ‘Permainan Biliar’, Pergerakan Bolanya Ditentukan Trump dan Netayanhu

Partaigelora.id-Ketua Komisi I DPR 2010-2017 Mahfuz Sidik mengatakan, bahwa ketegangan baru di kawasan Timur Tengah (Timteng) yang memicu konfllik antara kelompok Houthi, Arab Saudi dan Yaman dalam beberapa hari terakhir, akibat ada deeskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran.

Deeskalasi tersebut, kemudian yang meningkatkan kembali ketegangan setelah kelompok Houthi melakukan serangan terhadap Arab Saudi.

Perseteruan semakin kompleks karena Houthi memiliki hubungan dengan Iran, sedangkan Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman.

Dalam analisisnya, situasi terkini di kawasan Timteng saat ini sebenarnya sedang mengalami deeskalasi sementara atau tactical break (istirahat taktis) jelang agenda politik penting di Amerika Serikat dan Israel.

Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertajuk  ‘Perang di Timur Tengah Mereda: Hingga Pemilu Usai? yang digelar secara daring pada Jumat (16/10/2026) malam.

“Saya menganalogikan dinamika konflik Timur Tengah layaknya ‘permainan biliar’. Di mana pergerakan bola di atas meja sangat ditentukan oleh dua aktor kunci, yaitu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.,” kata Mahfuz Sidik.

Katrena itu, Mahfuz mengingatkan kembali konsep balance of power yang dirancang Netanyahu pasca-peristiwa 9/11 (serangan 11 September 2001), yakni rancangan Seven Wars in Five Years (tujuh perang dalam lima tahun) untuk mengganti rezim di tujuh negara: Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, dan Iran.

“Perang ketujuh melawan Iran menjadi pertempuran terakhir (the last battle) bagi Netanyahu dan AS. Namun, narasi untuk menghancurkan Iran dalam hitungan hari terbukti menjadi delusi. Kekuatan militer besar AS dan Israel nyatanya tidak mampu menggulingkan rezim Iran secara instan,” ungkap Mahfuz.

Saat ini, kata Sekretariis Jenderal (Sekjen) Partai Gelora, kedua pemimpin tersebut dinilai sedang mengambil tactical break demi mengamankan konsentrasi politik domestik di negara masing-masing.

Baca juga:

Dimana Netayanhu tengah menunggu hasill Pemilu Parlemen Israel pada 27 Oktober 2026, sedangkan Trump berusaha untuk mengamankan pemilihan umum (Pemilu) paruh waktu atau sela pada Selasa, 3 November 2026 agar dapat dimenangkan.

Mahfuz memprediksi hingga Desember 2026, ketegangan di Timteng akan bertahan sebagai frozen conflict (konflik yang membeku), dimana konflik bisa pecah kembali kapan saja, karena belum selesai.

“Karena Amerika Serikat  dan Israel masih dalam proses pembentukan formasi parlemen dan kabinet baru.,” ungkap dia.

Analis Dunia Islam dan Timur Tengah ini menilai kondisi mereda ini diperkirakan berlanjut hingga Maret 2027 seiring masuknya musim dingin di belahan bumi utara.

Di mana konsumsi energi masyarakat Eropa dan AS akan melonjak tinggi, sehingga konflik terbuka riskan sangat memicu kerusuhan sosial di negara-negara Barat.

“Namun kita harus waspada. Mengingat catatan sejarah bahwa momen Ramadan dan Idulfitri kerap digunakan untuk agresi militer, potensi eskalasi besar bisa kembali berulang pada April 2027,” tutur Mahfuz.

Namun, ia mengingatkan,  pemerintah Indonesia agar mewaspadai dampak rambatan (spillover effect) dari dinamika geopolitik Timur Tengah terhadap kondisi ekonomi dalam negeri,  khususnya sektor fiskal dan rantai pasok energi.

“Kita di dalam negeri sedang menghadapi situasi fiskal dan moneter yang serius. Indeks harga saham terus berfluktuasi cenderung menurun, dan defisit APBN memberikan beban utang yang perlu dikelola secara terukur,” ungkap nya.

Adapun titik kerawanan utama Indonesia berada pada ketergantungan impor minyak bumi dan gas. Status Indonesia yang kini menjadi net importer energi membuat gangguan pasokan global berdampak langsung pada masyarakat.

“Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di daerah belakangan ini menjadi sinyal peringatan (warning) penting bagi pemerintah. Pasokan energi kita sangat rentan terhadap gangguan geopolitik,” pungkasnya.

Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Marak, Akibat Lemahnya Implementasi UU TPKS dan Perlidungan Korban

Partaigelora.id-Partai Gelora Indonesia kembali menggelar Podcast Gelora Talks bertajuk “UU TPKS Sudah Ada, Mengapa Korban Masih Tak Terlindungi?” pada Kamis (15/10/2026). Dipandu oleh Ketua Korbid Kebijakan Publik DPP Partai Gelora Sarah Handayani, edisi ini menghadirkan Direktur Eksekutif Jalastoria yang juga Ketua Dewan Pers periode 2022–2025, Dr. Ninik Rahayu, S.H., M.H.

Diskusi tersebut membedah maraknya kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan—seperti sekolah, kampus, hingga pondok pesantren—serta menguji efektivitas penegakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).

Dalam pemaparannya, Ninik Rahayu menegaskan bahwa kekerasan seksual di dunia pendidikan terus berulang akibat masih kuatnya cara pandang hierarkis dan ketimpangan relasi kuasa.

Figur otoritas seperti dosen, guru, atau pimpinan lembaga kerap memandang anak didik maupun santri sebagai pihak yang harus tunduk.

“Penyebab utamanya adalah relasi kuasa yang tidak setara. Ketika satu pihak menganggap dirinya subjek yang berkuasa dan pihak lain sebagai objek, di situlah muncul dorongan untuk mengendalikan dan menguasai,” ujar Ninik.

Ninik secara khusus menyoroti adanya penanganan kasus di lembaga pendidikan dan pesantren yang sengaja ditutupi dengan dalih menjaga kehormatan atau nama baik institusi.

Menurutnya, menganggap kejahatan kekerasan seksual sebagai aib yang harus disembunyikan merupakan kekeliruan besar.

“Kekerasan seksual adalah kejahatan kemanusiaan yang melanggar martabat. Tidak boleh ada toleransi, pengampunan, atau impunitas bagi pelaku atas nama agama, kiai, atau nama besar lembaga. Pembungkaman hanya akan membuat kejahatan ini terus berulang,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ninik menguraikan sejumlah hambatan teknis yang dialami korban di lapangan, di antaranya penyelesaian internal yang keliru, proses hukum yang lambat dan beban pembuktian pada korban.

Ketua Dewan Pers periode 2022–2025 ini mengungkapkan,  Satuan Tugas (Satgas) di sekolah atau kampus kerap bertindak melampaui kewenangan dengan memediasi pelaku dan korban, ketimbang merujuk kasus ke lembaga layanan profesional.

Baca juga:

Sedangkan laporan kepolisian sering kali mengendap berbulan-bulan tanpa kepastian, sehingga membuka celah bagi pelaku untuk melaporkan balik korban atas tuduhan pencemaran nama baik.

“Sebab, korban masih sering diinterogasi dengan pertanyaan yang memicu stigma serta pemeriksaan berulang yang memicu trauma berlapis (reviktimisasi), “ kata Direktur Eksekutif Jalastoria ini.

Ninki mengingatkan bahwa UU TPKS telah membawa terobosan hukum penting. Dalam undang-undang ini, keterangan saksi korban yang didukung satu alat bukti sah lainnya sudah cukup untuk pembuktian.

Selain itu, kekerasan seksual ditetapkan sebagai delik umum, sehingga aparat penegak hukum wajib aktif mengusut kasus tanpa membebankan pembuktian kepada korban.

Guna memutus rantai kekerasan seksual di dunia pendidikan, Ninik mendesak perlunya integrasi kurikulum edukasi hak ketubuhan sejak dini, evaluasi standar operasional prosedur (SOP) di setiap sekolah maupun pesantren, serta respon cepat dari aparat penegak hukum dan fasilitas layanan kesehatan/psikologis.

“Kita tidak boleh berhenti hanya pada rasa marah atau prihatin. Yang dibutuhkan saat ini adalah komitmen nyata dari seluruh ekosistem—kementerian, aparat hukum, tokoh masyarakat, hingga pengelola lembaga pendidikan—agar tempat belajar benar-benar menjadi ruang yang aman bagi anak-anak bangsa,” pungkas Ninik.

Sementara Ketua Korbid Kebijakan Publik DPP Partai Gelora Sarah Handayani menegaskan bahwa kekerasan seksual bukanlah isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan ancaman nyata yang bisa terjadi di lingkungan terdekat.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak bersikap apatis atau menganggap remeh potensi bahaya kekerasan seksual.

“Kekerasan seksual itu bukan masalah di sana yang jauh, melainkan persoalan sehari-hari yang mungkin terjadi di sekitar kita. Kita tidak boleh abai, harus paham betul dampaknya, dan mengambil peran untuk menjaga lingkungan kita karena ini menyangkut masa depan anak-anak bangsa,” ujar Sarah.

Lebih lanjut, Sarah menggarisbawahi bahaya dampak jangka panjang berupa trauma psikologis yang sangat sulit dipulihkan pada diri korban.

Menyoroti pentingnya keberanian bersuara, Sarah menyerukan agar masyarakat tidak tinggal diam ketika melihat atau mengetahui adanya indikasi tindakan kekerasan seksual.

“Pokoknya kita tidak boleh diam. Sebagaimana disampaikan Mbak Ninik, kita tidak boleh diam dan tidak boleh berhenti marah, tetapi kemarahan itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk saling melindungi,” tegasnya.

Sarah Handayani menegaskan bahwa penanganan kekerasan seksual di institusi pendidikan tidak bisa dibebankan hanya kepada satu pihak, melainkan membutuhkan komitmen menyeluruh.

Lingkungan pendidikan dituntut untuk membangun sistem pelaporan dan perlindungan yang aman, mutakhir, dan berpihak penuh pada korban.

“Jika kita bicara tentang kekerasan seksual di institusi pendidikan, maka seluruh ekosistem harus bertanggung jawab. Pemerintah, pengelola lembaga, aparat hukum, hingga masyarakat memiliki kewajiban bersama untuk memastikan sistem pelaporan dan perlindungan itu benar-benar berjalan,” ujar Sarah.

Sarah kembali mengingatkan, bahwa isu kekerasan seksual bukanlah masalah asing yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Ancaman ini nyata dan dapat terjadi di lingkungan terdekat, sehingga sikap acuh tak acuh (abai) harus segera dihentikan.

“Kekerasan seksual itu persoalan sehari-hari yang mungkin terjadi di sekitar kita. Kita tidak boleh abai, harus paham betul definisinya, serta mengambil peran aktif untuk memelihara lingkungan yang aman. Trauma yang dialami korban itu sangat berat dan sulit disembuhkan, karena ini menyangkut masa depan anak-anak kita,” tegas Sarah.

Ia beraharap masyarakat untuk tidak bungkam saat menemui atau mencurigai terjadinya praktik kekerasan seksual.

Semua pihak diajak untuk terus membangun kesadaran, memperkuat sistem perlindungan di institusi pendidikan, serta memberikan dukungan penuh bagi korban guna menciptakan lingkungan yang aman dari segala bentuk kekerasan seksual

“Pokoknya kita tidak boleh diam. Sebagaimana yang ditegaskan Mbak Ninik, kita tidak boleh diam, tidak boleh berhenti marah, dan kemarahan itu harus kita wujudkan dalam bentuk langkah nyata serta dukungan penuh bagi perlindungan korban,” pungkasnya.

Politik adalah Jalan untuk Meluaskan Skala Kebaikan dan Mengurus Maslahat Umat

Parrtaigelora.id-Partai Gelora Indonesia kembali menggelar program Ngaji Politik bertajuk “Amal Politik untuk Meluaskan Skala Kebaikan”, yang disiarkan secara langsung melalui berbagai saluran digital resmi partai pada Rabu (14/10/2026) malam.

Hadir sebagai narasumber, K.H. Muhith Ishak, Lc., M.A., Ketua Bidang Syiar dan Dakwah DPP Partai Gelora. Ngaji Politik dalam Serial Spiritualitas Politik ini diselenggarakan Koordinator Bidang Keuamatan DPP Partai Gelora.

Ia memaparkan secara komprehensif bahwa aktivitas dan keterlibatan umat dalam politik sejatinya merupakan panggilan agama untuk mengelola kemaslahatan publik dan meluaskan jangkauan manfaat (anfauhum linnas).

Mengawali pemaparannya, KH Muhith menekankan pentingnya mengikis pemisahan (dikotomi) antara agama dan politik yang telah lama dialami umat Islam.

Padahal kebijkan politik yang dilandasi agama menjadi amal saleh bernilai tinggi yang meluaskan skala kebaikan di tengah bangsa,

“Kerja politik adalah kerja mengurus orang banyak. Ketika dikerjakan dengan benar dan dilandasi niat mendatangkan kemudahan bagi masyarakat, maka kebijakan politik tersebut menjadi amal saleh bernilai tinggi yang meluaskan skala kebaikan di tengah bangsa,” katanya.

Menurutnya, aktivasi dan keterlibatan umat dalam dunia politik seharusnya dimaknai sebagai panggilan agama agar motivasi yang terbangun bersifat partisipatif dan berorientasi pada kemaslahatan, bukan sekadar dorongan transaksional

Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini, yakni munculnya dikotomi atau pemisahan antara nilai-nilai agama dengan berbagai urusan kehidupan, termasuk politik dan kekuasaan.

Melalui Ngaji Politik, Partai Gelora mendorong integrasi nilai keagamaan agar motivasi politik umat bergeser dari sekadar dorongan transaksional menjadi partisipasi aktif yang berlandaskan kesadaran ibadah.

“Semua orang pada dasarnya ingin menjadi orang baik. Dalam Islam, indikator kesalehan dibentuk oleh kekuatan iman dan produktivitas amal saleh. Namun, ukuran keutamaan suatu amal tidak hanya dilihat dari keikhlasan atau bentuk ibadahnya saja, melainkan juga dari impact atau besarnya dampak manfaat yang dirasakan oleh masyarakat luas,” ujar K.H. Muhith.

Ia menegaskan bahwa manusia yang paling dicintai Allah SWT adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya, serta amal yang paling disukai adalah yang menghadirkan kebahagiaan, menghilangkan kesempitan, mengusir kelaparan, dan melunasi beban orang lain.

Baca juga:

Menurutnya, kerja politik merupakan sarana paling efektif untuk mengaktualisasikan pesan tersebut, dalam skala lebih besar, sebagaimana ditegaskan dalam hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ibnu Umar .

“Skala manfaat dari amal individu tentu terbatas. Namun, ketika seseorang masuk ke dalam arena politik dan mengelola kebijakan negara, skala kebaikan yang dihasilkan menjadi sangat luas. Kebijakan publik yang tepat mampu memastikan masyarakat tidak kelaparan, mendapatkan kemudahan hidup, dan terbebas dari kesulitan,” lanjutnya.

K.H. Muhith juga menyitir nasihat historis dari pujangga dan mujahid Abdullah Ibnul Mubarak kepada ahli ibadah Fuddail bin ‘Iyad. Sebab, ddalam Islam, kesalehan seseorang diukur dari integrasi antara iman dan amal saleh.

Namun, keutamaan suatu amal tidak hanya diukur dari aspek keikhlasan dan kesesuaian dengan sunnah (ittiba’), melainkan juga dari impact atau besarnya dampak manfaat yang dirasakan orang lain.

Nasihat tersebut menekankan bahwa peran aktif mengurus serta memperjuangkan kemaslahatan masyarakat (jihad sosial-politik) memiliki kedudukan moral dan spiritual yang sangat tinggi dibandingkan hanya berfokus pada ibadah ritual individual semata.

Ketua Bidang Syiar dan Dakwah DPP Partai Gelora ini mengkritisi pandangan keliru di masyarakat yang memandang politik semata-mata sebagai arena transaksi pragmatis.

Ia menegaskan, bahwa esensi dari keberadaan partai politik dan pejabat publik adalah mengelola kepentingan negara dan rakyat luas, bukan memperkaya diri atau golongannya.

KH Mufith mengkritisi fenomena pergeseran orientasi dalam politik nasional, di mana kekuasaan kerap disalahgunakan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok ketimbang mengurus kemaslahatan publik

“Jika amal individu hanya berdampak terbatas pada diri sendiri atau keluarga, maka kerja politik memiliki dimensi kebaikan yang jauh lebih luas karena menyangkut urusan publik (maslahat ammah).,” katanya.

Ia menilai hubungan agama dan kekuasaan sebagaimana digagas Imam Al-Ghazali, menegaskan bahwa kekuasaan dan agama adalah dua hal yang saling menopang.

“Politik adalah kerja mengurus kepentingan umum (maslahat ammah). Ketika dikerjakan dengan landasan spiritualitas yang benar, setiap kebijakan dan langkah politik akan menjadi ladang amal saleh yang dampaknya dirasakan oleh seluruh rakyat,” pungkasnya.

Terkait maraknya politik pragmatis dan penyimpangan kekuasaan akhir-akhit ini, K.H. Muhith berpandangan bahwa   fenomena pejabat yang egois dan mementingkan kelompok terjadi karena figur tersebut ‘belum selesai dengan dirinya sendiri’.

“Ketika tanggung jawab seseorang naik level—dari individu menjadi suami, ayah, lalu pejabat publik—harusnya tingkat pemikiran dan kapasitas spiritualnya ikut naik. Pejabat yang hanya memperkaya diri atau kelompoknya ibarat seorang kepala keluarga yang egois; lapar sendiri tetapi membiarkan anak istrinya terlantar,” ujar K.H. Muhid.

Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW sendiri tegas menegur sahabat yang beribadah secara berlebihan hingga mengabaikan hak dan tanggung jawab terhadap keluarganya.

Menurutnya, kepedulian dan aksi nyata untuk membantu kesulitan rakyat (mengurus kemaslahatan) memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi, bahkan lebih utama daripada iktikaf sunnah di masjid.

Umat Islam diharapkan juga tidak terjebak pada pencitraan atau sekadar simbol-simbol kesalehan pribadi semata. Meskipun kesalehan dasar merupakan hal wajib bagi seorang muslim, pengelolaan urusan publik yang kompleks membutuhkan kompetensi teknis dan rekam jejak kepemimpinan.

“Kalau mobil kita rusak, yang kita cari adalah montir yang ahli, bukan sekadar imam salat. Kesalehan pribadi itu bagus dan menenangkan, tetapi indikator keberhasilan pejabat ditentukan oleh akurasi diagnosa dan kemampuan menyelesaikan masalah rakyat sesuai kewenangannya,” tegasnya.

Ia mengkritik kecenderungan politisi yang mendadak rutin mendatangi rumah ibadah jelang pemilu demi meraih simpati massa, namun tidak memiliki gagasan serta kemampuan konkret untuk mengelola pemerintahan secara efektif.

KH Muhith juga secara tegas menolak narasi politik saling menghancurkan maupun permusuhan permanen dalam ranah publik.

“Dalam Islam dan tradisi Pancasila, perang atau konflik keras adalah jalan terakhir. Politik itu ranah ijtihadi (pemikiran), mirip dengan dinamika pertandingan olahraga. Maka adab yang diajarkan adalah kompromi (was-sulhu khair) melalui musyawarah dan mufakat, bukan dengan cara menghancurkan lawan,” tambahnya.

Mengakhiri kajian Ngaji Politik, K.H. Muhith kembali menegaskan pesan Rasulullah SAW dan para ulama terdahulu bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar.

Agama merupakan fondasi tempat bertumpu, sementara kekuasaan politik adalah benteng penjaganya. Jika salah satu hilang, maka bangunan kehidupan bermasyarakat akan runtuh dan sirna.

Partai Gelora Siap Cetak Pengusaha Baru Lewat Program ‘Nusantara Bisnis Academy’

Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mendorong mendorong lahirnya para wirausahawan baru sekaligus memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua Korbid Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora Muhammad Zuhrif Hudaya dan Wakil Ketua Korbid Arifin Wicaksono dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kewirausahaan bertajuk ‘Start Your Business: Langkah Awal Menjadi Pengusaha Sukses’ pada Selasa (13/10/2026) malam.

Dalam pemaparannya, Zuhrif Hudaya menegaskan bahwa program pengembangan ekonomi ini dirancang untuk menyasar dua kelompok sasaran utama, baik dari kalangan kader, pengurus, maupun masyarakat umum.

“Pertama, kita menyasar individu yang belum memiliki bisnis agar mereka tahu bagaimana langkah awal memulainya. Kedua, bagi mereka yang bisnisnya sudah berjalan—sekecil apa pun itu,” kata Zuhrif dalam keterangannya, Kamis  (15/10/2026).

Menurut dia, bisnis yang sudah berjalan akan diarahkan dan dilakukan pendampingan agar usahanya tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga melesat, tumbuh, kuat, dan memiliki dampak jangka panjang.

Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan untuk mendorong lahirnya wirausahawan baru, Partai Gelora meluncurkan program ‘Nusantara Bisnis Academy’.

“Program ini disiapkan sebagai wadah pembinaan, ekosistem pembelajaran, serta jejaring komunitas bagi para pebisnis di seluruh Indonesia,” katanya.

Wakorbid Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora, Arifin Wicaksono, menambahkan pentingnya penguatan kompetensi fundamental dalam mengelola sebuah bisnis.

Menurutnya, potensi kesuksesan berbisnis di Indonesia sangat terbuka lebar seiring semakin mudahnya perizinan usaha dan besarnya peluang pasar.

“Memulai bisnis memang butuh keberanian, tetapi keberanian saja tidak cukup tanpa didasari konsep dan ilmu pengetahuan yang memadai. Sering kali pengusaha terjebak pada keahlian teknis semata—seperti hanya jago jualan atau jago produksi—tetapi lemah dalam tata kelola keuangan dan organisasi,” terang Arifin.

Baca juga:

Nusaantara Bisnis Academy, kata dia,  hadir untuk melengkapi para pelaku usaha dengan ilmu fundamental bisnis, mulai dari penguatan riset pasar (market), pengembangan produk, manajemen keuangan, hingga tata kelola sumber daya manusia (SDM) agar siap melakukan peningkatan skala usaha (scale up).

Program ini mendapatkan antusiasme peserta dari berbagai daerah yang menyampaikan studi kasus dan peluang bisnis di wilayah masing-masing.

Muhammad Zafar Henan dari DPW Partai Gelora Maluku, misalnya, mengangkat potensi bisnis perantara logistik BBM untuk transportasi antarpulau di Ambon, serta peluang pengembangan lahan seluas 1,5 hektar untuk proyek rumah subsidi.

Sementara itu, Khairul Baki dari DPD Jayapura, Khairul Baki mengatakan, bahwa berbisnis di Indonesia merupakan sebuah keputusan ‘nekat’ dan butuh keberanian tersendiri.

Pasalnya, akan membutuhkanan cost atau biaya yang tinggi, dimana wilayah Indonesia berpulau-pulau terutama di Papua. hingga membuat rantai distribusinya menjadi panjang dan tidak mudah.

Selain itu, birokrasi perizinan yang rumit, pajak tinggi, belum lagi biaya tak terduga atau ‘pungutan liar’ yang kerap dikeluarkan menimbulkan ekonomi biaya tinggi,  membuat pengusaha-pengusaha lokal harus berpikir dua kali.

Sebab, modal yang mereka miliki kecil, sehingga kalah bersaing dengan pengusaha bermodal besar, terutama asing, sehingga menurunkan mereka orientasi untuk berbisnis. Bagi daerah ini merupakan masalah serius.

“Makanya pengusaha-pengusaha di Indonesia ini kan cuma berapa juta saja dari apa namanya jumlah total keseluruhan penduduk Indonesia. Maka berbinis itu, sebuah keputusan dan keberanian. Rumit birokrasinya, susah untuk ekspansi  dan tinggi pajaknya. Ini menurunkan oientasi orang mau berbisnis,” kata  Khairul Biki.  

Menanggapi hal ini, Ketua Korbid Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora  Zuhrif Hudaya mengatakan, bahwa pihaknya akan terus memberikan pengetahuan mengenai kompetensi bisnis dan fundamental usaha, termasuk juga memberikan materi-materi pelatihan investasi.

“Jika sebelumnya kita belajar bagaimana investor harus memiliki kompetensi, kini saatnya para pelaku bisnis (entrepreneur) juga ditempa agar memiliki kompetensi yang sepadan. Apabila dua hal ini dipadukan dan saling berkolaborasi, insyaallah bisnis yang kita bangun bersama akan mampu menggerakkan roda perekonomian bangsa,” tegas Zuhrif

Wakorbid Bisnis dan Ekonomi Arifin Wicaksono mengungkapkan, Korbid Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora sudah membuat kurikulum ‘Nusantara Bisnis Academy’ dan akan membawanya ke dalam format pelatihan tatap muka (offline) di berbagai wilayah.

Ia juga menyampaikan bahwa pendampingan teknis dan penyusunan strategi bisnis akan jauh lebih presisi dan efektif apabila dilakukan melalui interaksi langsung serta konsultasi mendalam (assessment).

“Banyak pertanyaan dan kasus menarik dari daerah yang memerlukan analisis data serta strategi yang presisi. Melalui program Nusantara Bisnis Academy, kelak kita bisa bertemu langsung secara offline untuk membedah fundamental bisnis, mulai dari riset pasar, tata kelola keuangan, hingga pengembangan organisasi,” ujar Arifin.

Partai Gelora berharap inisiatif berkelanjutan ini tidak hanya mencetak pengusaha-pengusaha baru yang tangguh, tetapi juga membangun ekosistem saling bantu antar-pebisnis di seluruh wilayah Indonesia demi mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat.

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X