Partaigelora.id-Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia melalui Bidang Ekonomi dan Bisnis memberikan panduan strategi pengelolaan keuangan harian keluarga dan arah investasi berkelanjutan.
Partai Gelora menilai pentingnya literasi keuangan keluarga dan perubahan mentalitas dalam mengelola arus kas harian agar dapat diubah menjadi kekayaan bersih (wealth growth).
Program edukasi disampaikan dalam Kajian Pengembangan Kewirausahaan bertajuk ‘Memahami Sumber-Sumber dan Cara Mengelola Pendapatan’ pada Selasa (17/2/2026) malam.
Kajian ini dipandu oleh Ketua Korbid Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora, Muhammad Zuhrif Hudaya, bersama Wakil Ketua Korbid Ekonomi dan Bisnis, Arifin Wicaksono.
Wakil Ketua Korbid Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora Arifin Wicaksono menegaskan bahwa besar kecilnya pendapatan bukan penentu utama kesejahteraan seseorang, melainkan mentalitas dalam mengelola keuangan harian (mikro ekonomi keluarga).
“Berapa pun penghasilan kita, kalau mentalnya belum kaya, pasti akan selalu habis seperti menyiram air di atas pasir. Orang yang bermental kaya selalu mengelola keuangan berbasis anggaran (based on budget), terukur, dan disiplin pada batasan,” ujar Arifin.
Partai Gelora membedah tiga kerangka besar sumber pendapatan masyarakat. Pertama, pndapatan aktif (active income), yaitu Imbal hasil dari kompensasi waktu, tenaga, dan kompetensi yang dicurahkan melalui pekerjaan.
Kedua, pendapatan pasif (passive income), yaitu Hasil pertumbuhan harta atau modal yang diinvestasikan.
Ketriga, pengusaha (entrepreneurship), yaitu kombinasi dari keduanya, di mana seseorang bekerja mengelola bisnis sekaligus menanamkan modal di dalamnya.
Arifin menekankan bahwa kunci utama memperbesar pendapatan dari ketiga segmen tersebut adalah peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.
Baca juga:
Rumus Pengelolaan 10 – 30 – 60
Untuk mengubah pendapatan menjadi kekayaan yang berkelanjutan, DPP Partai Gelora memperkenalkan formulasi pengalokasian arus kas harian secara disiplin saat pendapatan diterima:
- 10% Alokasi Charity (Sedekah & Biaya Sosial): Dipotong di awal untuk zakat, infak, sedekah, serta alokasi social cost (kondangan/kegiatan kemasyarakatan) agar tidak mengganggu pos kebutuhan pokok.
- 30% Alokasi Investasi: Pos khusus pembentukan modal dan pendapatan pasif. Pos ini ditekankan bukan untuk tabungan konsumtif. Investor juga dituntut memahami risk and reward ratio serta siap menghadapi risiko kerugian (totally loose) tanpa mengganggu kebutuhan dapur.
- 60% Alokasi Konsumsi Keluarga: Dialokasikan secara berjenjang mulai dari prioritas utama (kewajiban dapur dan pendidikan anak), prioritas kebahagiaan keluarga, hingga alokasi barang konsumtif.
Waspada Skema Ponzi
Kajian ini juga memberikan catatan kritis mengenai maraknya penipuan investasi bodong berkedok imbal hasil tinggi (ponzi scheme).
Arifin menegaskan pentingnya memahami batas kewajaran Return on Investment (ROI), khususnya bagi investor pemula.
“Investasi yang menawarkan imbal hasil pasti seperti 1 persen per hari atau 5–10 persen per bulan patut dicurigai sebagai skema Ponzi. Investor pemula harus menjadikan suku bunga deposito sebagai acuan dasar. Rentang imbal hasil yang relatif wajar dan sehat berada di kisaran 10 hingga 20 persen per tahun,” jelas Arifin.
Ia mengingatkan masyarakat untuk jeli membedakan antara pengembalian modal (return of capital) dan keuntungan investasi (return on investment).
Pembayaran rutin di bulan-bulan awal investasi sering kali hanyalah pengembalian uang pemodal sendiri sebelum akhirnya macet di tengah jalan.
Melalui program edukasi kewirausahaan rutin ini, DPP Partai Gelora berharap masyarakat dan kader dapat membangun kemandirian ekonomi serta memiliki ketahanan finansial keluarga yang kokoh di tengah tantangan ekonomi global.
Namun, Arifin mengatakan, di tengah dinamika ekonomi modern seperti isu memiliki pekerjaan sampingan (side job) kerap menjadi pilihan masyarakat. Namun, Partai Gelora memberikan pandangan yang berbeda terkait efektivitas strategi tersebut.
Menurut Arifin, mengambil side job justru berisiko memecah konsentrasi dan menghambat pertumbuhan karier utama seseorang. Di era persaingan yang sangat ketat, kunci kesuksesan finansial adalah spesialisasi dan fokus pada satu bidang kompetensi.
“Kuncinya bukan memperbanyak side job, melainkan menciptakan side income. Tetaplah fokus meningkatkan kompetensi pada pekerjaan utama agar pendapatan aktif meningkat. Kemudian, sisihkan sebagian hasil tersebut untuk diinvestasikan agar uang yang bekerja menghasilkan side/passive income,” paparnya.
Partai Gelora menepis pandangan pesimistis bahwa pekerja berpenghasilan pas-pasan atau setingkat Upah Minimum Regionnal (UMR) tidak bisa membangun kekayaan secara halal dan jujur.
Ketua Korbid Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora Zuhrif Hudaya menegaskan bahwa pembentukan kekayaan tidak ditentukan oleh besarnya penghasilan di awal, melainkan kedisiplinan pengelolaannya melalui metode pemotongan di depan (slicing).
“Pembentukan kekayaan tidak ditentukan oleh seberapa besar gaji awal kita, melainkan seberapa disiplin kita menyisihkan anggaran di depan. Jangan menunggu sisa pendapatan untuk diinvestasikan, karena jika menunggu sisa, tidak akan pernah ada sisa. Bahkan dengan pendapatan setingkat UMR sekalipun, pengelolaan yang tepat akan mampu meningkatkan leverage aset keluarga secara bertahap,” kata Zuhrif.
“Tetapi Investasi sejati selalu memiliki unsur ketidakpastian dan risiko. Oleh karena itu, membangun ketahanan ekonomi keluarga harus diawali dengan perbaikan mindset, kedisiplinan alokasi anggaran, dan kewaspadaan terhadap janji manis investasi bodong,” pungkas Arifin Wicaksono.

No comments