Category: Gelora Terkini

Mahfuz Sidik: Anggota Dewan Partai Gelora Dibekali Seni Berkomuniasi dan Seni Pertarungan Agar Jadi Aktor Politik di Daerah

Partaigelora.id-Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfuz Sidik mengatakan, seluruh kader Partai Gelora yang duduk sebagai anggota dewan di kabupaten/kota dan provinsi sudah mendapatlan pemahaman seni berkomunikasi, terutama soal pengelolaan keuangan anggaran di daerah dalam situasi krisis seperti saat ini,

Sehingga anggota dewan dari Partai Gelora dapat mengoptimalisasi fungsi dewanan dalam pemanfaatan program di pemerintahan daerah (Pemda). Bahkan sudah berdialog dan mendapatkan arahan langsung dari Ketua Umum Partai Gelora sekaligus Wamenlu RI Anis Matta.

Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik saat melakukan penutupan Bimtek Nasional ke-2 Aleg Gelora Indonesia di Jakarta, Senin (15/6/2026) sore.

“Saya coba refleksikan dengan pengalaman pengetahuan yang saya dapatkan ketika 15 tahun menjadi anggota DPR RI. Kita perlu memahami bahwa politik itu, memiliki aktor. Dan seorang aktor politik itu, memiliki seni berkomunikasi,” kata Mahfuz Sidik.

Menurut dia, definisi seni berkomunikasi memiliki banyak pengertian, yang selalu harus diperbaharui, termasuk dalam hal pemahaman pengetahuan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan dalam kinerjanya.

“Jadi apabila kita enjalankan peran dan fungsi sebagai anggota legislatif, maka kata kunci yang paling penting adalah pada kemampuan pada kinerja kita dalam menjalankan fungsi atau seni komunikasi,” kata dia.

Hal ini sangat penting di era digital yang penuh disrupsi, dimana kemajuan teknologi komunikasi informasi bisa dengan mudah diakses masyarakat melalui gadget atau gawai. Karena kineja seluruh anggota dewan dapat dipantau secara langsung oleh masyarakat.

“Karena itu pesan saya apapun yang bapak ibu saudara sekalian lakukan sebagai anggota dewan , pastika semua itu terkomunikasikan ke public, terkomunikasikan ke masyarakat luas, terkomunikasikan ke konstituen,” katanya.

Ketua Komisi I DPR 2010-2017 ini berharap agar kader Partai Gelora yang duduk sebagai anggota dewan untuk tidak sekedar asal berkomunikasi, karena akibatnya bisa fatal.

“Jangan berpikir yang paling penting dalam berkomunikasi, tidak ada komunikasi kebohongan. Komunikasikan semua kebenaran dan fakta selama bertugas di dewan,” ujarnya.

Ia meminta seluruh anggota dewan Partai Gelora untuk memiliki akun sosial media baik Instagram, Facebook, Twitter (X) , TikTok dan lain-lain untuk mendukung komunikasi tersebut.

“Kalau bapak/ibu gaptek seperti saya ini, jangan malu untuk punya asisten yang mengelola akun media sosial. Kalau tidak ada anggaran, bisa minta anak atau saudaranya untuk membantu,” katanya.

Diharapkan dengan memiliki akun media sosial, lanjut dia, seluruh ide dan gagasan yang diperjuangkan dapat tersampaikan ke publik dan menjadi kepentingan kolektif bersama.

“Kepentingan bersama atau kepentingan kolektif itu, biasanya tidak dibangun lewat perdebatan di forum, kenceng-kencangan ngomong di microphone di ruang rapat,” katanya.

“Kepentingan bersama itu dibangunnya di luar ruang rapat, di ruang rapat itu itu cuma formalitas sepatunya saja. Di ruang rapat itu, biar kelihatan seru saja, human interst-nya tidak ada,” sambung Mahfuz.

Karena itu, ia menghimbau agar anggota dewan dari Partai Gelora dapat menambah pertemanan dalam politik, jangan hanya satu partai atau satu fraksi, melainkan seluruh partai dan fraksi, termasuk dengan pejabat di daerah.

“Perbanyaklah kawan dalam politik , jalin perkawanan pertemanan dalam politik. Teman kita dalam politik, bukan sebatas teman satu fraksi atau satu paket jadi . Termasuk dengan pejabat kita juga harus berteman,” tegasnya.

Sehingga begitu mendapat aspirasi dari masyarakat atau ide dan gagasan yang diperjuangkan Partai Gelora dapat tersampaikan dengan baik dan akan menjadi keputusan kepentingan kolektif bersama.

“Inilah yang pada akhirnya yang membedakan anggota dewan kita dengan anggota dewan lain. Kita punya akses terhadap sumber-sumber daya lain, demi kepentingan orang banyak,” ujarnya.

Terakhir, anggota dewan Partai Gelora juga perlu memahami seni pertarungan selain seni berkomunikasi. Seni pertarungan atau permainan kekuasaan dimulai dari proses pemilunya.

“Anggota DPRD berkomunikasi dengan struktur di daerah, apakah sampai ada perbedaan pandangan dan sampai dengan terjadi konflik atau tidak. Karena kalau adem ayem, kita juga bingung, karena ini adalah bagian dari power game,” katanya.

Jika dinamika seperti terjadi, maka kader Partai Gelora yang duduk di DPRD harus mempunyai kemampuan untuk mengelola power game ini.

Apabila dinamika ini bisa dikelola dengan baik, maka kepampuan untuk mengelola power game lebih tunggi lagi bisa diselesaikan,” katanya.

Karena itu, kata Mahfuz, DPP melalui Ketua Korbid Pengelolaan Pejabat Publik Hadi Mulyadi akan melakukan pendampingan kepada 73 anggota DPRD yang duduk di kabupaten/kota dan provinsi dari Partai Gelora dalam menghadapi Pemilu 2029.

“Jadi teman-teman semua harus confidance dalam membaca situasi di lapangan. Kita berharap bisa menambah kursi, paling tidak mempertahankan kursi yang ada. Kita yakin dibawah bimbingan Pak Hadi Mulyadi akan lebih fokus. Pak Hadi ini punya pengalaman sebagai anggota DPR, anggota DPRD provinsi dan Wakil Gubernur,” ungkapnya.

Mahfuz menambahkan, Partai Gelora seperti disampaikan Anis Matta selaku ketua umum optimistis pada Pemilu 2029 mendatangkan, tidak hanya kursi di DPRD kabupaten/kota dan provinsi yang bertambah, tetapi juga lolos ke Senayan, mendapatkan kursi di DPR RI.

Jadi Mesin Perubahan Sosial, Anis Matta: Tugas Para Pemimpin Dengarkan Suara Rakyat

Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan partai politik harus kembali menjalankan fungsi sebagai mesin perubahan sosial, bukan sekadar mengikuti arus opini publik.

“Organisasi politik pada dasarnya diciptakan untuk menjalankan misi sebagai mesin perubahan. Tugas para pemimpin adalah mendengarkan suara rakyat,” kata Anis Matta dalam bimbingan teknis (Bimtek) anggota DPRD Partai Gelora di Jakarta, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Anis Matta, tidak semua aspirasi masyarakat dapat diakomodasi. Namun, seorang politikus harus memahami cara berpikir masyarakat agar dapat menghadirkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Ia mengatakan politikus tidak cukup hanya menjadi pengikut kehendak publik, tetapi harus mampu memimpin perubahan melalui gagasan dan tindakan yang memberi arah bagi masyarakat.

“Kalau kita mampu mengikuti atau mengubah persepsi publik, itu baru pemimpin. Kalau kita mampu mengubah cara masyarakat hidup, itu baru partai politik. Kalau hanya mengikuti arus, kita adalah pengikut, bukan pemimpin,” ujarnya.

Anis Matta menilai perubahan sosial merupakan fungsi penting partai politik yang mulai tergerus akibat praktik politik yang terlalu berorientasi pada modal dan kepentingan elektoral.

Menurut dia, banyak partai politik saat ini lebih berfungsi sebagai kendaraan untuk memasuki kekuasaan sehingga perannya sebagai instrumen transformasi sosial menjadi berkurang.

Ia menegaskan keberhasilan partai politik tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, melainkan juga kemampuan menghadirkan gagasan yang mampu menggerakkan masyarakat.

Anis Matta mencontohkan sejumlah organisasi kemasyarakatan yang berkembang besar meski berawal dengan sumber daya terbatas karena ditopang semangat sukarela dan tujuan perubahan yang kuat seperti Muhammadiyah.

“Kalau kita mampu mengubah cara masyarakat hidup, itu baru partai politik,” kata Anis Matta dalam arahanya kepada 73 Anggota DPRD.

Oleh karena itu, Anis Matta meminta kader Partai Gelora yang duduk sebagai anggota legislatif di DPRD memposisikan diri sebagai pemimpin perubahan di daerah masing-masing.

Ia mengatakan, kader Partai Gelora tersebut, menghadapi tantangan politik yang sama dengan dirinya sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), serta dan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah dalam pemerintahan.

Anis Matta, meminta Partai Gelora yang terpilih sebagai anggota legislatif harus siap menghadapi dinamika politik dan tuntutan publik yang tinggi, sebagaimana yang dirasakan para kader partai yang menjadi bagian dari Kabinet Merah Putih.

“Saudara-saudara sekalian, sebenarnya nasib saudara juga sama dengan saya, dengan Pak Fahri yang sekarang ada di kabinet, yang sekarang sedang diprotes setiap hari, digoyang tiap hari,” kata Anis Matta.

Wamenlu RI ini mengatakan posisi sebagai bagian dari pemerintahan menuntut kemampuan khusus dalam mengelola berbagai tekanan dan kritik yang datang dari masyarakat.

Tantangan tersebut semakin besar ketika kinerja individu dinilai baik, tetapi penilaian publik terhadap pemerintahan secara keseluruhan tidak selalu positif.

“Karena itu ini juga membutuhkan satu keahlian tersendiri untuk mengelola situasi ketika kita ada dalam pemerintahan, tapi pada waktu yang sama kita mungkin secara personal bisa perform, tapi kalau secara keseluruhannya tidak misalnya, itu juga akan jadi masalah,” ujarnya.

Meski demikian, Anis Matta menilai tekanan yang dihadapi pemerintah saat ini tidak hanya terjadi di Indonesia.

Ia menyebut banyak negara tengah menghadapi situasi serupa akibat kondisi global yang penuh ketidakpastian.

“Memang ada situasi makro yang sekarang ini membuat seluruh negara ada dalam situasi yang sama pada dasarnya, yaitu situasi bagaimana bisa bertahan hidup,” pungkas Anis Matta.

Anis Matta Optimistis Partai Gelora Lolos ke Senayan pada Pemilu 2029

Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengaku optimistis Partai Gelora akan lolos ke Senayan pada 2029. Ia yakin jumlah kursi di DPRD akan bertambah dan menjadi basis untuk mendulang kursi di DPR RI.

Hal itu disampaikan Anis Matta dalam arahannya kepada 73 kader yang saat ini duduk di DPRD di berbagai daerah dalam acara Bimtek Nasional ke-2 di Jakarta, Sabtu (13/6/2026) sore.

“Kalau sekarang totalnya ada 73, mudah-mudahan nanti setiap daerah tidak hanya menambah kursi di DPRD, tetapi juga menjadi basis kita mendapatkan kursi di DPR. Insya Allah, anggota legislatif sekarang menjadi pendulang kursi DPR,” kata Anis Matta.

Selain memberikan arahan, dalam kesempatan ini, Anis Matta juga berdialog dengan Anggota DPRD dari perwakilan wilayah Sumatera, Papua, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dari Jawa Tengah, Anis Matta berdialog secara khusus dengan Eni Latifa, Anggota DPRD Batang, anggota dewan paling muda Partai Gelora, berusia 22 tahun.

Anis Matta juga berdialog secara khusus dengan Simianus Wandikbo, Anggota DPRD Papua Pegunungan, peraih satu-satunya kursi ditingkat provinsi untuk Partai Gelora.

Dalam Bimtek tersebut, Anis Matta menegaskan, bahwa anggota dewan Partai Gelora saat ini, merupakan generasi pertama yang akan menjadi fondasi pertumbuhan partai menuju Pemilu 2029.

“Seperti saya katakan, Partai Gelora adalah partai masa depan. Karena itu, saudara-saudara sekalian adalah pilar masa depan Partai Gelora,” tegas dia.

Menurut Anis Matta, Partai Gelora harus menemukan strategi sendiri untuk berkembang dan bersaing secara politik, sebagaimana Iran yang mampu bertahan menghadapi tekanan negara-negara besar meski memiliki keterbatasan sumber daya.

Ia meminta kader Partai Gelora tidak meniru cara kerja partai-partai besar dalam menghadapi Pemilu 2029, tetapi menyiapkan strategi politik yang sesuai dengan karakter partai.

“Kalau Anda ingin mengalahkan partai besar dalam pemilu, tapi cara berpikir kita adalah cara berpikir partai besar, Anda tidak akan pernah menang. Karena Anda tidak akan bisa mengejar mereka dari sisi sumber daya,” kata Anis Matta.

Wamenlu RI mencontohkan Iran yang menurutnya mampu bertahan menghadapi tekanan internasional, karena mengembangkan strategi yang berbeda dari negara-negara lawannya.

Iran dianggap sebagai negara yang memiliki kekuatan relatif kecil, namun dapat bertahan dan berkembang menghadapi tantangan yang lebih besar.

“Jadi idenya yang paling cemerlang adalah karena dia tidak berpikir dengan cara musuhnya berpikir,” ujar Anis Matta.

Menurut dia, kemampuan berpikir kreatif dan keberanian mengambil pendekatan berbeda menjadi faktor penting dalam membangun kekuatan politik baru di tengah persaingan yang semakin ketat.

Anis Matta meminta para kader Gelora memahami pola pikir dan strategi partai-partai besar, namun tidak meniru cara kerja mereka.

“Satu pintu yang kita tutup di sini adalah pahami cara berpikir partai besar, tapi jangan ikuti cara kerjanya. Kita mesti berpikir dengan cara kita sendiri,” katanya.

Anis Matta mengatakan dalam kekuatan politik atau setiap peristiwa besar terdapat tiga faktor utama yang saling berinteraksi, yakni ide, manusia, dan sumber daya.

Menurut dia, ide dan kualitas sumber daya manusia justru menjadi faktor utama dalam membangun organisasi politik.

“Oleh karena itu, yang harus kita perkuat pertama kali dari tiga unsur ini adalah ide dan orang,” katanya.

Anis Matta berharap 73 kader yang duduk di DPRD dan menjadi motor pengembangan partai menuju Pemilu 2029.

“73 kader kita ini yang sekarang ada di legislatif, ini adalah orang-orang yang kita andalkan untuk merumuskan ide bagaimana mengubah yang 73 ini menjadi beratus-ratus dalam Pemilu 2029 yang akan datang. Insya Allah,” ujarnya.

Optimisme tersebut, muncul setelah mendengar pengalaman dan pandangan anggota DPRD Partai Gelora dari berbagai daerah yang telah menjalankan tugas selama hampir dua tahun.

“Saya merasa mendapat sumber keyakinan setelah mendengar saudara-saudara semuanya. Kita mempunyai banyak peluang untuk bertumbuh lebih besar pada Pemilu 2029 yang akan datang,” ujar Anis Matta.

Kegiatan Bimtek Nasional ke-2 yang digelar selama tiga hari ini, dikhususkan untuk membahas masalah anggaran dan keuangan daerah bertajuk ‘Penguatan Fungsi Anggota Dewan Partai Gelora dalam Mewujudkan Tata Kelola Keuangan Daerah yang Transparan dan Aspiratif’.

Bimtek yang bertujuan untuk penguatan kapasitas kader menjelang agenda politik mendatang, sedianya bakal dibuka Wakil Ketua Umum Partai Gelora sekaligus Wamen Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah, namun batal karena ada tugas kenegaraan di Dompu, NTB.

Pelaksanaan Bimtek Nasional ke-2 di Jakarta pada Sabtu-Senin, 13-15 Juni 2026, akhirnya dibuka oleh Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelora Rofi’ Munawar.

“Persoalan kita sekarang sama, mau di pusat maupun di daerah, yaitu keterbatasan anggaran. Kita berharap sebagai annggota DPRD untuk memberikan untuk secara aktif memberikan solusi kepada pemerintah daerah,” kata Rofi’ Munawar.

Ketua Pelaksana Bimtek Nasional ke-2 Muhammad Rozai menambahkan, Bimtek ini sengaja digelar untuk meningkatkan kapasitas anggota DPR di tengah kondisi keuangan yang serba sulit menjelang agenda politik nasional selanjutnya.

“Kita (DPP) akan memberikan pendampingan secara khusus agar angggota dewan punya kreatifitas dan kemampuan untuk mengimbangi kondisi saat ini, serta mampu menjawab tantangan di daerah,” pungkas Muhammad Rozai.

Partai Gelora Dorong Pemerintah Percepat Pengembangan Energi Nuklir

Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mendorong pemerintah untuk mempercepat pengembangan energi nuklir sebagai salah salah sumber energi murah, serta mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang kebutuhannya sebagian besar masih berasal dari impor.

“Apa perlu kita bikin senjata nuklir, atau apa perlu kita mengembangkan energi nuklir sebagai satu opsi. Saya kitra sangat perlu,” kata Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal Partai Gelora.

Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Arsitektur Keamanan Baru di kawasan Asia Barat: Paska Perang AS-Israel Vs Iran‘, Jumat (12/6/2026) malam.

Menurut Mahfuz, energi nuklir itu dipergunakan untuk keperluan damai, sebagai salah satu sumber energi yang relatif murah apabila sudah beroperasi nantinya.

“Indonesia punya sumberdaya alam, kita punya uranium. Kita juga pernah punya BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) pada masa Orde Baru dan sudah ada rencana untuk mengembangkan,” ujarnya.

Namun, pembangunannya hingga kini masih menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat, salah satunya karena investasinya yang sangat besar.

“Kalau kita terus bicara pro kontra, tolak menolak, tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun,” katanya.

Sehingga Indonesia sampai sekarang tidak pernah memiliki kemampuan untuk mengembangkan penelitian tentang uranium untuk kepentingan energinya.

“Kalau menurut saya, di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu seperti sekarang. Dimana rantai pasok energi terganggu akibat konflik di kawasan Teluk,” katanya.

Ia berpandangan rantai pasok energi dunia akan tetap terganggu, meskipun perang antara Amerika Serikat dan Israel berakhir.

“Tapi gangguan-gangguan kecil akan tetap ada di Selat Hormuz dan Kawasan Teluk, sehingga tetap akan menggangu pasokan energi dan lain-lain,” katanya.

Baca juga:

Karena itu, di sinilah Indonesia perlu mengembangkan energi nuklir agar tidak tergantung lagi dari negara lain.

Nuklir, kata dia, adalah energi masa depan bagi Indonesia, termasuk negara-negara lain didunia.

Ketua Komisi I DPR 2010-2017 menilai Indonesia punya kapasitas dan kemampuan untuk mengembangkan energi nuklir.

“Sekarang yang perlu dijaga adalah transformasi menjadi senjata nuklir. Itulah perlunya kehadiran Badan Atom Internasional (IAEA), dan Indonesia masuk pintu yang terikat dengan perjanjian itu,” kata dia.

Selain itu, Indonesia perlu belajar dari Iran dan Pakistan dalam pengembangan energi nuklir, sehingga tidak mudah ditekan oleh kekuatan global.

Dengan memiliki nuklir, Indonesia bisa menjadi kekuatan global baru, negara superpower masuk lima besar dunia sejajar dengan Amerika, Rusia, Uni Eropa dan China.

Partai Gelora akan terus memberikan literasi kepada masyarakat mengenai masalah-masalah geopolitik global, termasuk tentang pentingnya pengembangan energi nuklir sebagai salah satu sumber energi masa depan.

“Kita akan terus kita melakukan literasi kepada masyarakat agar mendapatkan pemahaman terhadap masalah-masalah global, sehingga kita lebih mudah memahami situasi domestik,” ujarnya.

Teater Konflik

Dalam kesempatan ini, Mahfuz mengatakan, usai perang di Kawasan Teluk, konflik diprediksi akan berpindah ke Kawasan Indo Pasifik, termasuk di Kawasan Asia Tenggara.

“Teater konflik utamanya nanti ada Kawasan Indo Pasifik, karena Amerika ingin membunuh China dalam tanda kutip,” katanya.

Apabila perang diperluas hingga ke Kawasan Asia Tenggara, khususnya di Selat Malaka, Indonesia bisa jadi akan menjadi korban berikutnya. Sebab, Selat Malaka adalah adalah jalur vital perdagangan dunia dan energi.

Jika kapal-kapal internasional menghindari Selat Malaka, seperti halnya Selat Hormuz di Iran, akan merugikan Indinesia.

Namun, Indonesia masih punya dua selat lain, yaitu Selat Sunda dan Selat Lombok yang bisa dipergunakan.

“Jika kawasan ini jadi wilayah konflik dan ditutup, maka hanya ada dua jalur pelayaran internasional yang bisa di lewati, yakni Selat Sunda dan Selat Lombok. Suka tidak suka, Indonesia akan menjadi pihak yang terlibat dalam konflik,” katanya.

Sehingga Indonesia perlu melakukan penyesuaian perannya di dalam percaturan konflik berskala global melalui berbagai kerjasama internasional.

“Selat Malaka ini halaman rumah kita, maka kita harus mulai merumuskan apa yang harus kita lakukan, skenario seperti apa. Jangan sampai kita jadi korban lagi,” pungkasnya.

Partai Gelora akan Gelar Bimtek II, Khusus Bahas Anggaran dan Keuangan Daerah di Tengah Ketidakpastian Situasi Geopolitik Global

Partaigelora.id- Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia akan menggelar ‘Bimtek II Anggota Legislatif 2026’ bagi 73 Anggota Legislatif (Aleg) DPRD Kabupaten/Kota dan Provinsi, dari Partai Gelora di Jakarta pada Sabtu-Senin, 13-15 Juni 2026.

Bimbingan Teknis (Bimtek) II ini, dikhususkan untuk membahas masalah anggaran dengan tema ‘Penguatan Fungsi Anggota Dewan Partai Gelora dalam Mewujudkan Tata Kelola Keuangan Daerah yang Transparan dan Aspiratif’

Wakil Menteri (Wamen) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah akan membuka pelaksanaan Bimtek II tersebut.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora Mahfuz Sidik mengatakan, Partai Gelora sengaja menggelar Bimtek di tengah situasi dunia yang semakin tidak menentu, yang dapat berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi dan politik nasional.

Hal itu dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada para Anggota DPRD dari Partai Gelora, baik yang duduk di kursi legislatif provinsi dan kabupatan/kota mengenai situasi dunia terkini.

Sebab, persoalan yang dihadapi Indonesia juga dihadapi banyak negara lain, karena hal ini merupakan fenomena yang sifatnya global.

Sehingga para Anggota Dewan Partai Gelora memiliki pemahaman terhadap kondisi ini, dan dapat menjelaskan kepada masyarakat tentang situasi yang terjadi, serta apa yang mestinya mereka lakukan.

“Bukan alih-alih kita kemudian ikut memprovokasi masyarakat untuk mengungkapkan kekecewaannya. Alangkah lebih bagusnya kita mengedepankan pendidikan politik yang baik dan memberikan informasi yang positif,” kata Mahfuz Sidik, Kamis (11/6/2026).

Namun, tentu saja dengan tetap membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritiknya , mengungkapkan fikirannya secara terbuka.

“Ini jembatan yang harus dilakukan, yang harus terus dibangun oleh Anggota Dewan, khususnya dari Partai Gelora sekarang ini, ada 73 orang,” ujar dia

Menurut Mahfuz, Bimtek kali merupakan yang kedua digelar, setelah pada sebelumnya dilaksanakan pada 2-5 Oktober 2025.

“Kita nanti akan memberikan banyak wawasan tentang informasi situasi terkini baik di dunia maupun dampaknya secara domestic,” katanya.

Selain itu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gelora juga akan memberikan arahan kepada para Angggota Dewan Partai Gelora mengenai langkah apa yang harus dilakukan di tengah Masyarakat.

“Mereka (Anggota Dewan) adalah perwakilan aspirasi masyarakat diberbagai daerah masing-masing. Dan kita memberikan arahan kepada mereka apa yang semestinya mereka lakukan. Itu target yang ingin dicapai,” tegas Mahfuz.

Ketua Panitia Pelaksana Bimtek II Muhammad Rozai menambahkan, Bimtek II ini merupakan kelanjutan dari Bimtek sebelumnya sebagai upaya Partai Gelora menyiapkan kadernya yang ada di legislatif bisa bekerja profesional dan aspiratif.

Bimtek II, lanjut dia, akan menitik beratkan pada peningkatan kapasitas Aleg dalam pengetahuan teknis dan strategis menghadapi dinamika politik dan tata kelola anggaran.

“Hal ini sangat penting karena perkembangan politik global yang sangat dinamis membawa dampak besar sampai pada keuangan daerah,” kata Rozai.

Dalam Bimtek II para Anggota Dewan Partai Gelora akan mendapatkan beberapa materi penting keuangan daerah dengan narasumber yang berkompeten di bidangnya masing-masing
Salah satu diantaranya adalah Ketua KPU RI Mochammad Afiifuddin akan menyampaikan materi tentang ‘Antisipasi Perubahan dan Kebijakan Pemilu 2029 pada hari kedua pelaksanan Bimtek II, Minggu 14 Juni 2026.

Sementara Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta akan memberikan arahan sekaligus menyampaikan perkembangan mengenai situasi terkini geopolitik global.

Kemudian Sekjen Partai Gelora Mahfuz Sidik akan menutup pelaksanaan Bimtek II yang akan berlangsung selama tiga hari tersebut, pada Senin 15 Juni 2026.

Alya Sidik, Penulis Cilik Baru Indonesia, Luncurkan Tiga Buku Berbahasa Inggris di Usia 9 Tahun

Partaigelora.id-JAKARTA-Jumlah penulis anak Indonesia bertambah dengan munculnya Putri Alya Sidik.. Tidak tanggung-tanggung, pada Selasa 9 Juni 2026, Putri Alya Sidik langsung meluncurkan tiga buku perdananya, tepat di usia sembilan tahun.

Ketiga buku tersebut ditulisnya dalam bahasa Inggris diberi judul: My School is My Second Home, I Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.

Buku tersebut, menceritakan tentang kehidupan kesehariannya, Putri Alya Sidik. Ia berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang hal-hal baik yang semestinya didapatkan dan dijalani oleh anak-anak Indonesia.

“Aku ingin teman-temanku bersemangat dan gembira di sekolah, lebih suka makanan sehat, dan juga melakukan kegiatan yang menyenangkan di luar sekolah,” kata Alya dalam peluncuran bukunya di Hotel Grandkemang, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026).

“Karena aku dan teman-temanku harus menjadi anak Indonesia yang sehat, pintar dan berprestasi,” imbuhnya.

Kemunculan Alya, pelajar Sekolah Dasar Delima School Jakarta sebagai penulis buku cilik di tengah serbuan budaya digital dan media sosial menjadi pengecualian yang unik.

Hal ini diungkapkan oleh Meutya Viada Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Kabinet Merah Putih dalam kata pengantarnya pada buku Putri Alya Sidik.

“Tumbuhnya keberanian Alya untuk menerbitkan buku di usia 9 tahun menjadi hal yang patut diapresiasi dan dirayakan,” kata Meutya.

Menurut dia, hal ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki kreativitas, imajinasi, dan keberanian untuk berkarya sejak dini.

Lebih lanjut Meutya menegaskan bahwa di tengah perkembangan teknologi, membaca dan menulis tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus penting untuk membantu anak-anak berpikir, berkreasi, dan mengenal dunia lebih luas.

Alya yang merupakan putri Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia ini berkeinginan menulis serial buku tentang kehidupan sehari-hari dan diberi label Diary of Alya, dengan target terbit minimal tiga buku baru setiap tahun.

Buku-buku Alya ditulis dengan format berbahasa Inggris, berwarna, bergambar dan dengan dua puluhan jumlah halaman.

“Aku ingin buku ini mudah dibaca dan dibawa oleh teman-temanku, menyenangkan karena banyak gambar dan berwarna, menambah kemampuan bahasa Inggris, serta memberi inspirasi untuk hidup sehat, semangat dan berprestasi,” tutur Alya menjelaskan tentang ketiga bukunya.

Catatan Menarik

Ada catatan menarik dari peluncuran buku perdana Putri Alya Sidik, seorang penulis cilik di Jakarta berusia sembilan tahun yang meluncurkan tiga buah buku dalam bahasa Inggris, dan diberi label serial Diary of Alya.

Adalah banyaknya tokoh-tokoh nasional yang memberikan komentar buku Putri Alya Sidik tersebut. Pengantar buku ditulis oleh Meutya Hafid, Menkomdigi RI, dan komentar dari Wamenlu RI Anis Matta, Prof. Dr. Seto Mulyadi, pakar psikologi pendidikan anak, Prof. Effendi Gazali, Phd, pakar komunikasi politik, serta Inul Daratista, artis dan seorang ibu.

Inul Daratista sendiri sedianya hadir dalam peluncuran tersebut, namun karena kesibukannya sebagai artis, ia batal hadir.
Suami Adam Suseno itu mengirimkan video ulasan pada peluncuran buku Putri Alya Sidik.

Ia memuji Alya sebagai anak hebat dan berprestasi. Bahkan Inul memberikan jempol kepada Alya dalam usia yang sangat belia sudah menulis buku dan meluncurkan tiga buku selaligus dalam peluncuran perdananya.

Karena itu, kehadiran Alya, dianggap menambah deretan nama penulis buku cilik, yang saat ini masih sedikit. Hal ini membuka kembali fakta akan masih rendahnya tingkat literasi di masyarakat Indonesia.

Menurut data UNESCO (2020), Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal tingkat literasi dunia.

Angka minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001, artinya hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang gemar membaca.

Sementara budaya menulis lebih rendah, karena masyarakat Indonesia lebih kuat dalam tradisi lisan (tutur/audiovisual).

Tradisi tutur dan audiovisual semakin berkembang dengan penggunaan meluas teknologi komunikasi.

Menurut data UNICEF (2024), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta orang.

Data Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa 39,71% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, dan 35,57% sudah mengakses internet.

Menteri Komdigi, Meutya Hafid telah mengeluarkan batasan kepada anak-anak dalam menggunakan internet, dan mendorong dikembangkannya budaya membaca dan menulis.

Rendahnya Tingkat Kegemaran Membaca dan Menulis (TGMM) masyarakat juga Prof. Dr. Seto Mulyadi atau Kak Seto dalam ulasan pada peluncuran serial buku Diary of Alya.

Ia menyoroti lima faktor penyebab kondisi ini. Pertama, minat membaca pada anak masih rendah akibat minimnya keteladanan dan dorongan dari orangtua.

Kedua, literasi digital yang pasif, dimana perilaku membaca pada anak bergeser ke media digital yang cenderung bersifat instan dan kurang melqatih kemampuan berfikir kritis.

Ketiga, menulis masih dianggap beban akademis, sebatas menyelesaikan tugas sekolah sehingga kreativitas dan kemampuan menuangkan ide secara bebas tidak terasah.

Keempat, akses buku tidak merata dengan kesenjangan besar di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Kelima, kurangnya peran keluarga dimana membaca belum menjadi kebiasaan sehari-hari di keluarga, dan lingkungan sekitarnya.
Pandangan Kak Seto ini diamini oleg Gregoria Ira, Vice Principal pada Delima School, Jakarta.

Menurutnya, kurikulum sekolah dan buku teks belum mampu menumbuh-kembangkan budaya baca dan menulis pada siswa.

Salah satu penyebabnya adalah serbuan media digital yang lebih menyuburkan budaya tutur atau audiovisual.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Delima School misalnya, memadukan konsep ‘sekolah digital’ dan ‘sekolah konvensional’ dengan pembiasaan pada budaya membaca dan menulis.

“Anak yang terbiasa membaca dan menulis cenderung lebih mudah menyerap materi pelajaran apapun. Membaca dan menulis adalah fondasi paling krusial dalam perkembangan anak.” ungkap Ira.

Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis adalah alat utama untuk membentuk cara anak berfikir, berkomunikasi, dan memahami dunia.

Kecakapan Rendah

Ada catatan menarik dari peluncuran buku perdana Putri Alya Sidik, pelajar ekolah Dasar berusia sembilan tahun dalam bahasa Inggris, dan diberi label serial Diary of Alya.

Dalam laporan Indeks Kecakapan Bahasa Inggris (English Proficiency Index) pada tahun 2025, Indonesia menempati peringkat ke-80 secara global dari 123 negara, dengan skor 471 dan masuk dalam kategori kecakapan Rendah. Di Asia, Indonesia berada di posisi ke-12, tertinggal jauh dari Malaysia dan Filipina.

Hal ini terungkap dalam acara peluncuran buku perdana Putri Alya Sidik, siswi Delima School dan berusia Sembilan tahun, yang telah menulis tiga buah buku dalam bahasa Inggris.

Di labelkan Diary of Alya, ketiga buku tersebut berjudul: My School is My Second Home, I Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.

Menurut Wahyu Kusnadi, guru Bahasa Inggris yang juga editor dari ketiga buku yang ditulis Alya, rendahnya Indeks Kecakapan Bahasa Inggris pada siswa sekolah di Indonesia, khususnya di tingkat dasar, penyebab utamanya bermula dari kebijakan kurikulum.

Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang tidak mewajibkan bahasa Inggris di jenjang SD.

“Pada kurikulum 2013, bahasa Inggris diturunkan statusnya menjadi mata pelajaran pilihan. Akibatnya banyak Sekolah Dasar yang meniadakan pelajaran ini karena keterbatasan sumber daya pengajar,” kata Wahyu di Hotel Grandkemang, Selasa 17 Juni 2026.

Namun, pada kurikulum Merdeka 2025, bahasa Inggris kembali dijadikan mata pelajaran pilihan menuju wajib, yang ditargetkan diimplementasikan secara penuh pada tahun ajaran 2026/2027.

“Namun masa transisi ini masih menyisakan sejumlah kendala,” Jelas Wahyu, yang sudah 17 tahun mengajar bahasa Inggris di Delima School Jakarta.

Dalam mengatasi kendala di atas, Wahyu mendesak pemerintah untuk segera memenuhi kebutuhan tenaga pengajar bahasa Inggris dengan kompetensi standar untuk sekolah jenjang dasar.

“Penyediaan buku-buku bacaan berbahasa Inggris untuk sekolah yang sesuai dan mendukung kurikulum juga sangat penting. Apalagi harga buku bacaan berbahasa Inggris relatif mahal,” tandas Wahyu.

Kehadiran Alya menambah jumlah penulis cilik Indonesia yang menulis buku dalam bahasa Inggris. Di antaranya ada nama Deliang Al-Farabi, Nadia Shafiana Rahma, dan Karinda Susanto.

Menurut Ferris Affan, pegiat dunia pendidikan yang juga Principal Delima School Jakarta, kemunculan penulis seperti Alya didorong oleh tren sekolah dwibahasa (bilingual/international school), akses teknologi media, dan meningkatnya kesadaran orang tua terhadap literasi sejak dini.

“Kami mewajibkan seluruh siswa jenjang dasar untuk menggunakan bahasa Inggris di sekolah, begitupun para pendidiknya. Ini bagian dari upaya meningkatkan Indeks Kecakapan Berbahasa Inggris di kalangan siswa SD.” jelas Feries.

Partai Gelora Bedah Pergeseran Era VUCA ke BANI Bagi Pemimpin di Era Digital

Partaigelora.id- Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora Indonesia, Coach Gunawan, menilai kerangka kerja VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang digunakan selama lebih dari 30 tahun kini sudah tidak memadai lagi.

Ia  menyoroti pentingnya perubahan kerangka berpikir (mindset) para pemimpin dalam menghadapi dinamika global yang makin komplek, kini tidak lagi cukup untuk membaca realitas zaman.

 Menurutnya, percepatan disrupsi kecerdasan buatan (AI) hingga fenomena post-truth menuntut hadirnya peta navigasi baru bagi para pemimpin, yaitu BANI (Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible).

Hal itu disampaikan Coach Gunawan saat mengisi Kajian Pengembangan Wawasan Kepribadian atau Internal Arsitektur Mindset Seri ke-7 bertema ‘Peralihan VUCA ke BANI: Alat Baca Baru untuk Pemimpin di Era Digital’ pada Selasa (9/6/2026) malam.

“Dunia VUCA dulu perubahannya cepat, namun masih bisa dianalisis dan diprediksi. Hari ini, di era BANI, perubahan terjadi secara tidak linier dan masif. Informasi melimpah, namun kejelasan justru memudar,” kata Gunawan.

Coach Gunawan menjelaskan, ada tiga pemicu utama yang merubah lanskap perubahan global dalam beberapa tahun terakhir, yakni adanya Disrupsi AI, Era Post-Truth dan Efek Domino.

Disrupsi AI dipicu Pertumbuhan adopsi teknologi seperti ChatGPT yang menembus 100 juta pengguna hanya dalam dua bulan menggeser berbagai jenis profesi secara mendadak.

Sedangkan Era Post-Truth ada;ah Informasi palsu (hoax) menyebar jauh lebih cepat, merapuhkan mental masyarakat dan membuat kebenaran menjadi makin cair.

Sementara Efek Domino (cascade effect) terjadi akibat sistem global yang sangat saling terhubung membuat gangguan kecil di satu titik langsung berdampak luas pada stabilitas ekonomi dunia.

Dalam kesemppatan ini, C oach Gunawan merinci empat aspek utama yang mewarnai era BANI, antara lain Brittle (rapuh), Anxious (cemas), Nonlinear (tidak linier), Incomprehensible (melampaui pemahaman).

Brittle adalah kerapuhan tersembunyi pada organisasi maupun individu yang tampak kokoh dari luar, namun rentan hancur saat mendapat tekanan tertentu.

Baca juga:

Adapun Anxious adalah munculnya kelelahan kognitif (decision fatigue) akibat paparan informasi nonstop yang memaksa otak terus berada dalam mode survival.

Selanjutnya Nonlinear adalah terputusnya hubungan sebab-akibat konvensional, di mana aksi kecil bisa menimbulkan dampak destruktif yang tidak sebanding.

Kemudian Incomprehensible adalah kautan data yang berlebihan membuat otak manusia kesulitan memproses gambaran utuh (starving of wisdom).

Kendati begitu Coach Gunawan menegaskan Indonesia tidak perlu membuang energi mengejar ketertinggalan teknologi dengan membuat platform tandingan dari nol, akibat  seperti TikTok hingga Meta (Facebook, X atau Twitter, Istagram dan Thread) dan Google yang kerap memicu adu domba public.

“Gap sejarah dan kapasitas teknologi kita cukup jauh. Kita tidak perlu berperang di arena yang bukan kekuatan kita. Pemimpin peperangan tidak harus selalu paling jago main pedang. Esensi leadership adalah kemampuan mengelola sumber daya yang terbatas untuk menciptakan dampak setinggi-tingginya,” tegasnya.

Namun, Wasekjen Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora ini menyarankan agar masyarakat Indonesia, terutama kader Partai Gelora untuk memanfaatkan platform global yang ada secara cerdas untuk edukasi dan kemaslahatan nasional.

“Menurut saya, ketimbang membuang energi membuat platform media baru, Indonesia justru harus cerdas memanfaatkan platform media global yang sudah ada sebagai alat (user) untuk kemaslahatan, edukasi, dan kemuliaan bangsa,” tegasnya..

Coach Gunawan kemudian mengutip pemikir Islam kelas dunia Ibnu Khaldunyang mengingatkan pentingnya seorang pemimpin memahami dinamika zamannya.

“Ibnu Khaldun pernah menegaskan bahwa pemimpin yang berhasil mengelola zaman adalah pemimpin yang mengerti ruh dari zamannya,” ucap Gunawan.

Cooach Gunawan menekankan pentingnya membangun ketahanan internal (internal response) dan jeda kognitif.

BANI menjadi cermin untuk mengevaluasi respon kognitif, afektif, dan psikomotorik organisasi dalam menghadapi badai perubahan.

Ia menambahkan bahwa akselerasi pembahasan materi BANI ini sengaja dilakukan karena konsep tersebut sudah mulai masuk ke dalam kurikulum perguruan tinggi di Indonesia.

Partai Gelora berkomitmen untuk terus membekali para kadernya dengan alat baca terkini agar tetap relevan dan tangguh secara mental.

Ia menambahkan, pembahasan mengenai BANI ini akan dilanjutkan pada Seri ke-8 bertajuk ‘Seni Berdiri Tegak di Atas Zaman yang Retak’ untuk membekali kader dengan langkah-langkah taktis dalam merespons ketidakpastian zaman.

Partai Gelora Bedah ‘Perang dan Damai’ dalam Perspektif Islam: Dari Strategi Maqasid Syariah Hingga Refleksi Perang Badar

Partaigelora.id-Ketua Divisi Kajian Pemikiran Islam DPP Partai Gelora Indonesia, Abdul Rochim, menegaskan bahwa perdamaian (as-silmu) dan rasa aman (al-aman) merupakan hukum asal serta kondisi normal dalam interaksi manusia menurut pandangan Islam.

Sementara itu, peperangan bukanlah sebuah tujuan, melainkan instrumen darurat yang hanya diizinkan untuk menegakkan keadilan, membela kaum tertindas, menghapuskan kezaliman, serta menjamin kebebasan beragama.

Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan Keislaman bertajuk ‘Perang dan Damai dalam Perspektif Islam: Bagaimana Islam Memandang Konflik Dunia? Antara Esensi Damai dan Hukum Perang’  pada Jumat (5/6/2026).

Dalam pemaparannya, Abdul Rochim mendalami dimensi teknis-filosofis krisis global dengan menekankan pentingnya kalkulasi rasional antara risiko (mafsadah) dan dampak kebaikan (maslahah) berdasarkan kerangka tujuan syariat (Maqasid Syariah).

Abdul Rochim menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan Hadist menempatkan rasa aman sebagai fondasi utama perlindungan hak dasar manusia (jiwa, harta, kebebasan beragama, dan kehormatan).

“Damai adalah basis interaksi, baik antarindividu, masyarakat, maupun negara. Peperangan terjadi ketika situasi normal tersebut terganggu oleh pihak-pihak yang memaksakan kehendak dan melanggar prinsip keadilan,” ujarnya.

“Sejarah Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin membuktikan konfrontasi militer tidak pernah ditujukan untuk perebutan wilayah atau sumber daya, melainkan terbatas pada situasi darurat, pembelaan diri, dan penjaminan kebebasan mendasar,” kata Abdul Rochim.

Ketua Divisi Kajian Pemikiran Islam DPP Partai Gelora ini membandingkan dampak peperangan masa lalu dengan era modern.

Menurutnya, kemajuan teknologi militer saat ini membawa dampak destruktif yang jauh lebih besar dan kompleks. Konflik bersenjata hari ini kerap disetir oleh berbagai motif yang berkelindan, seperti ideologi, kepentingan ekonomi, hingga politik geopolitik.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya membedakan antara perkara ibadah ritual (ta’abbudat) dan muamalah atau politik-militer (al-‘adiyat).

Sebab, urusan militer dan strategi perang-damai masuk dalam kategori ma’qul al-ma’na (dapat dicerna akal dan berorientasi pada maslahat duniawi).

Baca juga:

Ia  berharap petunjuk wahyu harus dipahami melalui Maqasid Syariah serta diturunkan menggunakan instrumen ilmu pengetahuan yang relevan dengan konteks zaman.

Mengutip pemikir Muslim Thaha Jabir Al-Alwani dan Syekh Izuddin bin Abdissalam (Qawaidul Ahkam), Abdul Rochim menganalogikan perang itu seperti gunung es.

Konfrontasi militer di permukaan hanyalah dinilainya sebagai dampak luar dari pertarungan ideologi, perebutan sumber daya, dan geopolitik yang tak kasatmata.Sehingga pengambil kebijakan harus memiliki pertimbangan yang matang.

“Pilihan paling tragis adalah mengambil keputusan dengan pengorbanan terbesar tetapi dampak maslahatnya paling kecil. Rasulullah SAW memilih Perjanjian Hudaibiyah (Sulh Al-Hudaibiyah) justru karena risiko fisik yang dikorbankan amat kecil, tetapi dampak kemaslahatan dan dakwah yang dihasilkan sangat besar,” jelasnya.

Ia juga menggarisbawahi bahwa damai dalam Islam bukan sekadar absennya peperangan atau kondisi “api dalam sekam”, melainkan damai produktif—situasi adil yang memungkinkan setiap individu mengaktualisasikan potensinya.

Terkait stigma negatif global, ia meminta masyarakat membedakan antara din (ajaran agama yang sempurna) dan tadayun (perilaku individu beragama).

Karena ekstremisme lahir dari tadayun yang cacat akibat pemahaman parsial (syubhat), trauma psikologis, maupun faktor emosional.

Abdul Rochim mengatakan, evolusi konflik modern saat ini dimulai dari cyber war, perang kognitif, propaganda media, hingga potensi senjata biologis—serta menyikapi krisis multidimensi seperti wabah penyakit (COVID-19).

Ia menegaskan bahwa akar konflik modern sering kali bukan didasari oleh pencapaian maslahat atau perdamaian, melainkan syahwat ego politik untuk mendominasi

Menurutnya, tidak semua peristiwa kontemporer harus dicari padanan teknisnya secara tekstual di masa Nabi SAW, namun yang terpenting adalah membaca akar motif konfrontasinya.

Untuk menjelaskan motif dominasi global, ia menarik komparasi historis dari peristiwa Perang Badar. Pasukan Quraisy yang dipimpin Abu Jahal dan Abu Lahab tetap bersikukuh menyerang Madinah meskipun kafilah dagang Abu Sufyan telah selamat.

Hal ini menunjukkan bahwa perang kerap meletus bukan demi kemaslahatan, melainkan demi memamerkan kekuatan (show of force) dan ambisi menjadi kekuatan superpower atau “polisi dunia” yang mengnotrol pihak lain.

Ia berpesan agar umat Islam dapat melihat isu perdamaian dan peperangan secara lebih mendalam dan komprehensif.

“Perang dan damai hendaknya tidak dipandang sebatas letupan senjata atau sekadar kesepakatan gencatan senjata, melainkan sebagai konfigurasi kompleks dari motif, strategi, dan perbenturan nilai di baliknya,” kata dia.

Sebab, dalam Islam, etika perang melarang keras penyerangan terhadap warga sipil, wanita, anak-anak, serta fasilitas publik—sebuah batasan moralitas (marja’iyyah) yang sering terabaikan dalam doktrin konflik destruktif modern.

Melalui kajian ini, umat Islam diharapkan mampu melihat isu perang dan damai secara lebih mendalam, jernih, dan komprehensif.

Korbid Ekonomi & Bisnis Partai Gelora Kupas Tuntas Strategi Investasi Emas Bagi Pemula

Partaigelora.id-Ketua dan Wakil Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Partai Gelora Indonesia, Zuhrif Hudaya dan Arifin Wicaksono, membedah strategi kecerdasan finansial melalui investasi komoditas emas dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kewirausahaan bertajuk ‘Cara Cerdas Memulai Investasi Emas untuk Pemula (Kupas Tuntas Skema Komoditas)’ pada Selasa (2/6/2026) malam.

Kajian ini menekankan pentingnya pengalokasian pendapatan secara terstruktur serta pemanfaatan logam mulia tidak hanya sekadar penahan nilai (safe haven), melainkan sebagai instrumen pengungkit (leverage) kekayaan secara produktif.

Wakil Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Partai Gelora Arifin Wicaksono membuka pemaparan dengan mengingatkan kembali pentingnya penganggaran (budgeting) melalui skema alokasi keuangan 60-30-10 (60% konsumsi, 30% investasi, dan 10% tabungan/sosial).

Dari porsi 30% investasi tersebut, komoditas emas batangan (logam mulia) menjadi opsi utama karena memiliki tiga keunggulan strategis:

  • Keuntungan kapital (capital gain): Kenaikan nilai tukar dalam jangka panjang yang konsisten melawan arus inflasi.
  • Likuiditas sangat tinggi: Sangat mudah diperjualbelikan di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi darurat sekalipun.
  • Fungsi agunan (kolateral): Memiliki nilai yang diakui secara global sehingga mudah diterima sebagai jaminan pinjaman lembaga keuangan.

“Emas tidak hanya berfungsi menjaga daya beli, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara cerdas untuk memproduksi aset baru. Namun ingat, emas hanya diam menjaga nilai jika tidak diapa-apakan,” terang Arifin.

Dalam simulasinya, Arifin membandingkan hasil akumulasi aset emas dengan instrumen konvensional seperti deposito dan asuransi pendidikan (eduplan).

Dengan mengalokasikan Rp3 juta per bulan (30% dari asumsi pendapatan Rp10 juta) selama 10 tahun, nilai akumulasi emas secara historis terbukti mampu menghasilkan nilai jauh lebih tinggi dibandingkan bunga deposito maupun hasil investasi asuransi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan skema akselerasi kekayaan melalui pemanfaatan emas sebagai agunan:

  • Momentum peluang: Saat muncul peluang bisnis atau investasi produktif berimbal hasil tinggi, pemilik tidak perlu menjual emasnya.
  • Pencairan cepat dan efisien: Emas digadaikan ke lembaga keuangan Syariah atau Pegadaian dengan nilai pencairan (Loan-to-Value) mencapai 80–90%, tanpa biaya notaris, serta proses administrasi yang cepat.
  • Imbal hasil mengunci aset: Return dari bisnis atau investasi tersebut digunakan untuk mengangsur dan menebus kembali emas yang digadaikan. Hasilnya, bisnis tetap berjalan dan aset emas utuh kembali ke brankas.

 Baca juga:

Sementara itu, Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Partai Gelora Zuhrif Hudaya membagikan pengalaman praktiknya dalam mengelola dan melipatgandakan emas hingga beberapa kilogram melalui metode “berkebun emas”.

Ia merumuskan empat aturan utama dalam berinvestasi emas, yakni kapan membeli, kapan menggandakan, kapan menyimpan dan kapan menjual.

Kapan membeli maksudnya membeli saat ada dana (dari porsi 30% alokasi investasi) tanpa perlu menunda atau menunggu harga turun.

Sedangkan kapan menggandakan dimaksudkan ketika terdapat peluang investasi produktif yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dari biaya gadai.

Lalu, kapan menyimpan adalah siimpan dan diamkan aset selama tidak ada kebutuhan atau peluang produktif, serta kapan menjual dilakukan dalam kondisi kebutuhan mendesak atau darurat (force majeure).

“Status emas yang digadaikan tetaplah milik kita sepenuhnya, berbeda dengan sertifikat aset lain yang beralih status penguasannya ke bank. Melalui skema gadai produktif, kita memegang dua kekuatan sekaligus: penguasaan atas dana tunai dari hasil gadai dan hak kepemilikan atas emas tersebut,” kata Zuhrif.

Zuhrif membagikan tiga strategi utama yang telah ia praktikkannya secara langsung selama lebih dari lima tahun tiga strategi utama yang telah ia praktikkannya secara langsung selama lebih dari lima tahun.

Yakni Skema “Berkebun Emas” (Deret Akumulasi Emas), Strategi Double-Asset: Modal Usaha Tanpa Kehilangan Logam Mulia dan Opsi Sederhana Menggunakan Pinjaman Modal Kerja (KUR)

Zuhrif menjelaskan Skema “Berkebun Emas” dilakukan melaluskema perputaran gadai bertingkat yang mampu melipatgandakan penguasaan aset emas fisik secara signifikan.

Misalamn  pemilik aset  membeli 100 gram emas modal awal, kemudian mengagunkannya ke lembaga gadai resmi untuk memperoleh dana tunai (asumsi Loan-to-Value 90%).

“Dana tunai tersebut kembali dibelikan emas fisik sekitar 90 gram, lalu digadaikan kembali secara berulang hingga membentuk deret penurunan dana,” jelasnya.

Sehingga akan menghasilkkan multiplier efek kekayaan melalui perputaran berturut-turut tersebut, kepemilikan modal awal 100 gram emas dapat mengontrol hingga 1.000 gram (1 kg) emas fisik.

“Maka seiring tren kenaikan (bullish) harga emas jangka panjang, pemilik aset dapat melepas/menjual satuan emas berukuran kecil secara bertahap untuk menutup biaya administrasi, biaya simpan (ijrah), dan menebus kembali emas berukuran besar.

“Kuncinya ada pada momentum kenaikan harga emas yang melampaui biaya simpan gadai. Dari modal awal 100 gram, kita berkesempatan menguasai hingga 1.000 gram aset emas,” papar Zuhrif.

Strategi kedua Strategi Double-Asset menekankan penggunaan emas sebagai jaminan untuk mendirikan unit usaha produktif tanpa harus kehilangan kepemilikan aset dasar. Melalui tahapan operasional, yakni melakukan eksekusi strategi.

Setelah itu melakukan akusisi awal dengan engajukan pinjaman modal, lalu dikonversi seluruhnya menjadi emas batangan fisik.

Selanjutnya pencairan modal dengan menggadaikan sebagian emas untuk mendirikan atau mengalokasikan modal usaha (seperti industri kosmetik dan digital marketing).

Kemudian melakukan cover tahun pertama dengan enjual satuan emas kecil untuk menutupi biaya operasional dan cicilan tahun pertama.

Lalu, cover tahun pertama dengan melakukan langka cicilan gadai sepenuhnya ditutup oleh hasil dividen/keuntungan operasional perusahaan.

“Dalam waktu 5 tahun, pinjaman gadai lunas, emas utuh kembali ke brankas, dan perusahaannya tetap berdiri serta beroperasi menghasilkan arus kas (cashflow),” jelas Zuhrif.

Adapun strategi opsi menggunakan KUR bagi investor pemula atau pelaku UMKM yang belum memiliki kapasitas mendirikan perusahaan, menurut Zuhrif memberikan alternatif menggunakan fasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau pinjaman bank berbunga rendah.

“Dana pinjaman (misal Rp100 juta – Rp500 juta) langsung dikonversikan ke emas batangan. Untuk angsuran bulanan dapat ditutup secara berkala dengan menjual pecahan emas kecil. Dan di akhir masa tenor pinjaman, kenaikan nilai emas diproyeksikan meninggalkan sisa akumulasi modal (margin surplus) yang cukup besar sebagai hak milik penuh,” katanya.

Terkait hal ini, Wakil Ketua Korbid Ekonomi & Bisnis DPP Gelora, Arifin Wicaksono, memberikan catatan kritis terkait mitigasi risiko operasional dari strategi ini

Berdasarkan tren pasar (market trend), skema berkebun emas sangat efektif pada kondisi pasar bullish (tren naik). Jika pasar sedang mengalami koreksi (bearish), investor wajib menyiapkan dana cadangan (buffer fund) untuk menghindari risiko eksekusi agunan.

Sementara soal emas fisik vs emas digital,  Arifin menekankan keunggulan emas fisik dibandingkan emas digital untuk fungsi agunan. Emas fisik memberikan kebebasan penuh (fungible) untuk digadaikan atau dijual di mana saja, sedangkan emas digital cenderung terikat pada ekosistem platform penyedia (provider).

Terakhir mengenao legalitas Lembaga Perbankan/Gadai, ia menyarakan  untuk selalu menggunakan jasa lembaga keuangan milik negara (BUMN/BPD/BSI) atau lembaga gadai resmi terdaftar demi menjamin kepastian hukum dan keamanan agunan.

Potensi Krisis Pupuk dan Ancaman Kelaparan Dunia, Anis Matta: Konflik Timur Tengah Harus Didorong Jadi Zona Pembangunan

Partaigelora.id-Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI sekaligus Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta, mengingatkan bahwa ancaman paling berbahaya dari konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah (Timteng) bukan sekadar kenaikan harga minyak.

Melainkan adalah ancaman krisis pupuk yang berpotensi memicu kelaparan di khususnya kawasan Asia dan terhentinya mobilitas perdagangan dunia.

“Begitu pergerakan terhenti di kawasan ini, seluruh dunia akan menghadapi masalah,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Hal itu disampaikan Anis Matta dalam wawancara eksklusif dalam acara ‘One on One’ bertema ‘Peran Indonesia di Tengah Konflik Global’ di TVOne pada Jumat (29/5/2026).

Menurut Anis Matta, Asia menjadi kawasan paling rentan karena ketergantungan besar terhadap energi dari Timteng.

Asia dengan populasi lebih dari empat miliar jiwa hampir sepenuhnya bergantung pada jalur distribusi yang melewati Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk untuk pasokan pupuk.

Sementara China, India, Asia Tenggara, dan Jepang disebut tidak memiliki sumber daya energi yang cukup, sehingga Selat Hormuz sebagai jalur vital menjadi titik rawan.

“Jadi korban terbesar dari choke point ini adalah Asia, dan ancaman pupuk justru lebih serius disbanding energi,” katanya.

Wamenlu RI Urusan Dunia Islam ini menilai mayoritas di kawasan Asia dan Afrika membutuhkan pasokan pupuk. Kebutuhan pupuk di kawasan ini menjadi krusial untuk menjaga ketahanan pangan.

Namun, impor dari Rusia terkendala sistem pembayaran akibat sanksi internasional.” Kita akan punya masalah nanti masalah pupuk. Dan masalah pupuk ini akan menjadi masalah semua negara di kawasan Asia ini.” katanya.

Anis Matta juga menyoroti Eropa yang tidak memiliki sumber energi memadai, sehingga industri mereka tidak kompetitif ketika harga minyak melonjak.

Karena itu, jika jalur ini tersumbat akibat konflik yang berkepanjangan, maka ancaman kelaparan bukan lagi sekadar skenario terburuk.

“Ancaman jangka menengah adalah kelaparan jika perang terus berlanjut . Saya suka mengatakan kepada teman-teman di Timur Tengah, Anda berperang, kami yang mati,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Indonesia kini fokus pada keamanan pangan. Indonesia , lanjut dia, mendorong perubahan zona konflik menjadi zona pembangunan dengan prasyarat utama yaitu perdamaian.

“Ketidakpastian di Timur Tengah sangat merugikan industri Indonesia karena kenaikan harga minyak membuat produk domestik menjadi tidak kompetitif di pasar global,” katanya.

Anis Matta mengungkapkan, Indonesia saat ini berperan aktif melalui forum multilateral seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), PBB, dan forum BRICS untuk menyuarakan perdamaian.

Diplomasi Indonesia, kata Anis Matta, dilandasi oleh prinsip politik luar Negeri ‘bebas aktif’. Artinya Indonesia tidak berpihak pada kekuatan besar manapun. Namun tetap aktif berperan dalam menciptakan perdamaian serta menyelesaikan konflik internasional.

“Prinsip ini mendorong Indonesia untuk ikut terlibat dalam forum-forum multilateral, membangun dialog antarnegara, serta menolak segala bentuk penjajahan sesuai amanat Pembukaan UUD 1945,” jelasnya.

Diplomasi Indonesia juga menempatkan kepentingan kemanusiaan dan pembangunan sebagai prioritas, mendorong kerja sama Selatan-selatan.

Solusi damai dilakukan melalui forum dialog, dan penguatan jaringan internasional tanpa kompromi terhadap kedaulatan nasional.

Secara bilateral, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI juga tetap menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mendorong terciptanya sejumlah nota kesepahaman awal.

Indonesia, menurut dia, tengah menjajaki kerja sama investasi pupuk dengan Laos, serta negara-negara Timur Tengah seperti Yordania, Maroko, dan Aljazair yang memiliki kapasitas produksi pupuk dan punya fosfat banyak.

“Timur Tengah ini merupakan jantung energi dan logistik dunia, terutama melalui titik-titik krusial seperti Selat Hormuz dan Bab El Mandab yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa,” pungkas Anis Matta.

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X